
Hampir satu jam bertarung di ruang persalinan, Dewi sudah hampir kehabisan tenaga. Mengatur nafas, mendorong bayi nya untuk keluar berulang kali. Dewi sepertinya hampir menyerah.
Beristirahat sejenak Dewi bisa melihat raut tegang di wajah tampan suaminya.
"Ayo Bu, saat merasakan sakit dorong bayi nya sekuat tenaga." Ucap dokter memberi semangat pada Dewi yang terlihat lemas
Dewi mengangguk, ia meremas lengan suaminya dengan kuat.
"Ayo sayang, semangat sedikit lagi!" Edgar memberi semangat pada sang istri. menghadiahkan kecupan di pelipis Dewi yang penuh peluh.
Sejenak lupa dengan rasa sakit di perut nya, Edgar mengernyit ketika rasa sakit itu datang lagi saat ia melihat Dewi yang tengah berusaha mendorong bayinya untuk keluar.
"Ayo semangat bu' kepala nya sudah terlihat!" Tampak beberapa suster menyemangati diujung tempat tidur.
"Semangat sayang" Edgar masih terus menyemangati walau dengan suara tertahan. Rasa mulas di perut nya bertambah.
Tapi Ia tidak mungkin membiarkan Dewi berjuang sendirian dan memilih untuk ke toilet. Walaupun rasa sakit tidak hanya terasa dari perut nya tapi juga dari lengan nya yang terasa perih saat di remas oleh sang istri yang sedang mengejan, edgar bisa merasakan kuku-kuku Dewi menancap di kulit nya.
Pandangan Edgar terfokus pada Dewi yang mengeram, mendorong bayi nya dengan sekuat tenaga yang tersisa. Pria itu tertegun, tidak bisa membayangkan rasa sakit yang kini sedang dirasakan istri nya. Mata nya tiba-tiba memerah terharu dengan perjuangan istri nya.
Ini pengalaman pertama bagi Dewi, tentu saja Edgar tahu ini tidak mudah untuk istri nya. Wanita yang belum genap 23 tahun itu rela menjadi istri dan melahirkan keturunan nya walau dengan bertaruh nyawa.
Air mata yang sejak tadi di tahan Edgar akhirnya tumpah ruah juga saat melihat bayi merah keluar dan menangis dengan kencang di tangan sang dokter.
"Oek...oek...oek.."
Tangisan bayi terdengar begitu kencang menggema di seluruh ruangan.
Edgar menunduk, mencium dahi Dewi yang sedang mengatur nafas nya setelah berjuang tadi.
"Terimakasih sayang, terimakasih" Edgar mengecup seluruh wajah istri nya dengan rasa haru dan bahagia.
"Bayi nya laki-laki, sehat dan sempurna." Dokter bersuara " selamat ya pak, Bu"
Mendengar itu, tangis Dewi pecah. Ia mengulurkan tangan nya ke arah bayi nya yang sedang di bersihkan oleh beberapa perawat.
"Mau peluk" ucap Dewi di sela tangisan nya. Wanita cantik yang wajah nya di hiasi peluh itu tak sabar melihat putra nya yang selama ini meringkuk di dalam rahim nya.
Edgar mengusap rambut istri nya berulang.
"Iya sebentar ya Bu, bayi nya di bersihkan dulu." Dokter menjawab sembari tersenyum.
Setelah bayi nya dibersihkan dan di timbang, Tampak perawat berjalan menghampiri Dewi dan Edgar.
"Ini pak, Bu bayi nya tampan sekali. Dengan berat 3.300. gram"
Perawat menaruh bayi mungil itu di atas dada sang ibu. Membiarkan nya mencari tempat asi nya bersumber.
Dewi memeluk erat bayi laki-laki nya, dikecupnya ubun-ubun sang putra dengan rasa haru bahagia.
Tampak Edgar melakukan hal yang sama tapi dengan tangan yang sejak tadi meremas perut nya.
Dewi yang menangkap ekpresi tidak biasa di wajah suami nya lantas bersuara.
" kamu kenapa mas?"
"Ma-af sayang, perut ku rasanya mulas sekali. Aku harus ke toilet dulu." Edgar berlari keluar ruangan. Mengabaikan putra nya yang tengah mengecap mencari-cari di dada ibunya.
Rasa sakit perut nya sudah tidak bisa di tahan lagi.
Saat melihat istrinya berjuang tadi, ia masih bisa menahan nya. Tapi saat melihat putra nya sudah keluar, ia merasa lega dan bisa meninggalkan mereka untuk ke toilet.
Dewi dan semua orang yang berada di dalam ruangan hanya menggelengkan kepala dan mengulum senyuman melihat tingkah Edgar yang mengundang tawa.
***
Dewi tertidur pulas saat sudah di pindahkan di ruang perawatan. Sedangkan Edgar tidak bisa tidur, ia masih betah memandangi wajah putra nya di dalam ponsel.
"Sepertinya dia mirip sekali dengan ku, benar kan. Foto waktu aku bayi juga seperti ini." Edgar mensejejerkan antara foto bayi nya dan foto dirinya sendiri saat bayi yang ia ambil dari akun sosial media sang mama. Ia terkekeh geli saat melihat tak ada perbedaan di antara kedua foto itu.
" Aksara lingga Permana putra. Ya, bagus kan. Aku memikirkan nama itu saat di Yogya." Lirih Edgar tersenyum saat berhasil mengingat nama yang sudah ia siapkan untuk putra pertama nya.
__ADS_1
"Mas, kamu tidak tidur?" Suara Dewi memecah keheningan pagi.
Edgar tersentak, mengalihkan pandangan nya dan tersenyum menatap wanita cantik yang terkulai lemas di tempat tidur.
"Pagi sayang, bagaimana keadaan mu? Apa masih ada yang terasa sakit?" Edgar mendekat ke arah Dewi dan menghadiahkan kecupan di dahi. "Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
Dewi menggeleng,"tidak mas, aku hanya haus."
Setelah menerima dan meminum gelas berisi air putih dari tangan suami nya, Dewi kembali bersuara.
"Kamu tidak tidur mas" tanya Dewi, mengulang pertanyaan nya tadi.
"Aku tidak bisa tidur sayang, putra mu itu sangat tampan dan membuatku tidak bisa tidur." Jawab Edgar.
"Dia putra mu juga mas" ucap Dewi ketus.
Edgar terkekeh dan kembali mengecup dahi sang istri. "benar, dan lihat ini. Aksara seperti reinkarnasi ku sayang."
Edgar menunjukan 2 foto bayi yang di jadikan satu di hadapan istri nya.
"Wah benar, kalian berdua mirip sekali mas." Dewi tertegun, memandang 2 foto bayi mungil di dalam ponsel suaminya.
"Eh tunggu." Dewi menoleh pada Edgar " aksara?" Tanya nya.
"Ya sayang, nama putra kita Aksara lingga Permana putra" ucap Edgar menyerukan nama putra nya dengan bangga.
"Setahuku kamu tidak punya darah Jawa kan mas. Kenapa bisa tahu nama itu?"
"Papa ku asli Jawa sayang. Dia lahir di solo. Kakek nenek ku juga orang solo." Terang Edgar membuat Dewi terkejut.
"Benarkah?. Kenapa aku tidak tahu."
Edgar menggeleng," sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah tahu. Oh ya, aku belum mengabari keluarga kita sayang. Biarkan mereka datang saat kita sudah di rumah saja."
Dewi mengangguk, ia hendak memejamkan matanya kembali tapi kata-kata suami nya membuat matanya membelalak.
"Tadi nya aku mau menamai putra kita dengan gabungan nama kita sayang. Tapi setelah aku bolak balik tidak ada yang cocok. Wied, gardew, wigar, dan terakhir Degar kenapa tidak sekalian Degan saja!" Edgar kesal sendiri saat mengucapkan semua nama itu.
Deg-- jantung Dewi berdetak dengan cepat saat melihat suaminya berbalik badan dan menatap ke arah nya dengan tatapan tak biasa.
"Terimakasih sudah mau kembali padaku lagi. Terimakasih atas hadiah terindah yang kamu berikan, putra kita. Aksara lingga Permana putra. Aku mencintai mu Diandra Dewi." Edgar memeluk istri nya erat.
Dewi yang merasa terharu mengusap punggung suami nya lembut.
***
Dua hari di rawat di rumah sakit, pada hari ketiga Dewi sudah di perbolehkan pulang. 45 menit menempuh perjalanan dari rumah sakit ke arah rumah nya. Edgar terharu memandang Dewi yang duduk di samping nya dengan menggendong sang putra. Mobil mereka memasuki perumahan elit yang baru ia huni satu bulan ini.
5 menit memasuki kawasan perumahan, mobil Edgar berbelok dan berhenti di depan rumah 2 lantai dengan halaman yang luas. Danu memarkirkan mobil berjejeran dengan beberapa mobil yang juga terparkir disana.
Bibir ibu muda itu merekah saat menatap orang-orang yang berdiri di depan teras rumah menyambutnya. Ada kedua mertua nya dan juga adik ipar nya. Ada pula ibu dan kakak serta Lily sang keponakan.
Dan juga Dava dan Alana yang berdiri tak jauh dari mereka.
Duduk di ruang kelurga dengan Edgar di samping nya.
Dewi menatap bayi nya yang kini dikuasai oleh Bu Novi, tampak Lily yang sangat antusias. Beberapa kali mencolek pipi gembul aksara dengan gemas.
"Bunda, adik Aksa lucu sekali. Aku juga mau adik bayi bunda." Lily bersuara, berbicara pada bunda nya yang berjalan menghampiri nya.
"Ya sayang, nanti ya. Sekarang adik Aksa dulu ya." Ayu meminta izin pada Bu Novie untuk gantian menggendong Aksa.
Tampak Lily yang berjalan mengikuti langkah snag bunda menuju sofa di dekat nenek nya.
"Tampan sekali." Bu Dian yang sejak tadi menunggu giliran, menatap sang cucu dengan kagum.
"Mirip dengan ku kan Bu?" Edgar menimpali ucapan sang mertua dengan percaya dirinya.
Bu Dian mengangguk dan mengalihkan pandangan nya pada sang cucu.
"Om edgar memang tampan , tapi adik Aksa lebih tampan dan lucu." Gadis kecil 6 tahun itu berceloteh.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar perkataan Lily lantas tertawa.
Dava menoleh pada Alana di samping nya, menatap gadis cantik yang tengah memandang aksara dengan kagum.
"Jangan iri, beberapa bulan lagi kita akan menikah. Aku akan membuatkan nya satu untuk mu. Tenang saja." Bisik Dava, membuat Alana langsung menoleh padanya.
"Jangan sembarangan kak, kakak lupa dengan perjanjian yang sudah kamu bikin sendiri." Alana memperingatkan.
Dava menciut, ia baru teringat dengan perjanjian itu. Perjanjian yang berhasil membuat Alana mau menerima lamaran nya.
"Tapi kalau kamu mau, aku bisa merobek perjanjian itu." Ucap Dava terkekeh.
Alana segera menyikut perut dava," jangan macam-macam kak!"
Edgar yang melihat Dava dan Alana tengah berbisik menjadi penasaran.
"Kalian berdua ini kenapa?"
Deg-- pertanyaan Edgar membuat smeua orang yang berada di dalam ruangan itu menatap ke arah Dava dan Alana.
Alana yang salah tingkah tidak bisa menjawab apapun. Ia hanya menunduk dan beberapa kali melirik Dava.
Gadis cantik sekertaris Edgar itu tersentak saat Dava meraih tangan nya dan mengajak nya berdiri. Alana melirik tangan Dava yang merangkul pundak nya.
"Kami 3 bulan lagi akan menikah!" Ucap Dava.
Seketika membuat semua orang membelalak.
"Serius dav!?" Edgar yang tak percaya ikut berdiri dari duduk nya.
***
Saat semua orang sudah pulang, Dava dan Dewi juga aksara masuk ke dalam kamar.
Dengan perlahan Dewi membaringkan Aksa di atas kasur yang sudah di sediakan Bu asih.
Ibu muda itu tersenyum saat Aksa menggeliyat karena ulah tangan nya yang gemas mencolek pipi gembul sang putra
"Dia tampan seperti ku kan?" Tanya Edgar yang tiba-tiba sudah menjatuhkan dagunya di pundak sang istri.
Dewi melirik suaminya, ia bisa merasakan belitan tangan Edgar erat dipinggang nya.
"Ya mas, aksara tampan seperti mu." Ucap Dewi.
Edgar tersenyum, ia menghadiahkan kecupan di dahi sang istri.
"Terimakasih sayang. Aku mencintai mu."
Suasana menjadi hangat kala Edgar menempelkan bibirnya pada bibir sang istri, ******* nya dengan lembut dan penuh cinta. Beberapa menit meikmtai ciuman nya, mereka berdua melepaskan tautan bibir saat terdengar rengekan Aksa dan sedetik kemudian berubah menjadi tangisan.
Dewi segera menggendong snag anak dan menyusui nya.
Edgar memandang aksara yang tengah mengecap.
"Mengganggu saja, lihat lah wi. Dia iri padaku, sengaja menangis saat kita sedang berciuman." Omel Edgar.
"Sifat nya sama seperti kamu mas." Dewi terkekeh saat melihat ekpresi kesal sang suami.
"Kemari mas." Pinta Dewi pada Edgar. Dan Edgar segera mendekat.
"Kamu tidak akan tergantikan, aku mencintai mu mas." Dewi menghadiahkan kecupan di bibir sang suami.
Perasaan Edgar melembut dan ia memeluk istri nya. Mengusap lembut kepala Aksa dengan kasih sayang.
THE END.
terimakasih sudah mengikuti cerita AKU VS MASALALU SUAMIKU. Ini adalah akhir cerita. tidak ada kelanjutan dari cerita ini, kisah Dewi dan edgar berakhir disini. bisa saja aku melanjutkan kisah anak nya tapi aku masih belum ada waktu. aku akan melanjutkan novelku yang terhenti.
yang berjudul PERJALANAN CINTA BINTANG. ini juga di Noveltoon. klik saja foto profilku dan akan muncul judul ini.
sekali lagi. terimakasih semua. terimakasih atas semangat dan apresiasi nya. sampai jumpa di karya ku yg lain.
__ADS_1