
Di gedung perkantoran yang megah, tampak laki laki sedang marah marah dengan seseorang yang berada di seberang telepon.
"Ini sudah empat bulan, tapi sampai sekarang kamu tidak bisa menemukan nya! Ku beri waktu seminggu lagi kamu harus bisa menemukan nya!"
Tut... Tut...
Edgar membanting ponsel nya di atas meja kerja nya dengan kasar.
Menghempaskan tubuhnya dikursi ia meremas rambut nya kuat.
"Kamu dimana sayang..." Gumam nya
pelan.
Sudah beberapa bulan anak buah nya mengelilingi ibu kota mencari keberadaan Dewi, tapi hasil nya tetap nihil. Istri nya belum ketemu sampai sekarang. Bahkan ibu nya merahasiakan keberadaan Dewi.
Selama di Singapura menemani Risa, Edgar tidak bisa fokus. Pikirannya dipenuhi dengan istri nya. Hingga hanya satu bulan disana ia memutuskan kembali ke Indonesia. Tapi saat kembali ia tidak menemukan istri nya.
Edgar sudah mendatangi rumah Bu Dian, tapi Bu Dian enggan memberitahu keberadaan Dewi.
"Sudah lah gar, jangan menganggu Dewi lagi. Ibu tidak rela kamu menyakiti putri ibu. Kamu sendiri yang mengambil keputusan itu dan Sekarang terima resiko nya." Ujar Bu Dian ia menyerahkan selembar surat kehadapan Edgar.
Edgar meraih kertas itu dan membacanya dia terkejut mengetahui surat itu adalah surat gugatan yang dilayangkan oleh Dewi.
Sebelum memutuskan tinggal di Bandung Dewi menyempatkan diri untuk mengurus gugatan nya pada Edgar jika sewaktu waktu Edgar mencari nya.
Deg ...
"Saya tidak mau berpisah dengan Dewi Bu, saya mencintai nya." Tegas Edgar menolak permintaan Bu Dian.
"Itu permintaan Dewi sendiri, ibu tidak ikut campur dalam keputusan Dewi mengenai gugatan itu. Sebagai seorang ibu , ibu hanya mendukung semua keputusan Putri ibu. Asalkan itu yang terbaik dan membuat nya bahagia. Maafkan ibu." Ujar Bu Dian dia tidak bisa melakukan apa apa.
Hatinya juga sakit saat mendengar keluh kesah dari pernikahan yang di alami putrinya. Melihat putri nya yang menangis di pelukan nya hati nya ikut merasakan sakit.
"Saya tahu ini semua kesalahan saya, saya pantas mendapatkan hukuman ini, tapi saya mohon Bu saya tidak mau berpisah dari Dewi. Saya menyesal Bu, Saya sangat mencintainya." Edgar berlutut di hadapan Bu dian dengan punggung yang bergetar.
__ADS_1
Melihat Edgar yang sampai berlutut padanya Bu Dian membantu Edgar untuk duduk.
"Pulang lah, tenangkan dirimu. Kamu baru sampai disini pasti tubuhmu masih lelah setelah melakukan perjalanan. Jika kalian masih berjodoh pasti Tuhan mempertemukan kalian lagi." Ujar Bu Dian mencoba memberi pengertian pada Edgar.
Bu Dian menatap nanar saat mobil Edgar mulai menjauh dari rumah nya.
Edgar baru tersadar dari lamunan nya saat pintu ruangan nya dibuka dengan kasar oleh Dava.
"Gar, ada masalah di cabang Bandung. Malik menggelapkan uang dan sekarang tidak diketahui keberadaannya." Jelas Dava saat sudah berada di depan Edgar.
"Suruh anak buah ku mencari keberadaan Malik sampai ketemu! Aku akan memeriksa nya sendiri nanti malam. Kamu urus pekerjaan ku disini."
Setelah beberapa jam melakukan perjalanan Edgar sudah sampai di swalayan milik nya. Ia memeriksa laporan keuangan yang di berikan Malik. Benar saja laporan itu tidak sama dengan hasil penjualan.
Edgar memutuskan mengawasi swalayan nya, ia tidak sengaja melihat satu keluarga yang sedang berbelanja dengan anak mereka.
Edgar tersenyum, dia membayangkan andai saja ia tidak mengambil keputusan yang salah pasti saat ini ia tengah berbahagia dengan istri nya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Hanya penyesalan yang tersisa sekarang. Dan ia akan mencoba memperbaiki nya.
Edgar berjalan jalan sebentar ditemani orang kepercayaan nya mengelola swalayan selain Malik, dia adalah Galuh. Saat berjalan ke arah depan dari kejauhan Edgar tidak sengaja melihat Dewi yang sedang mendorong troli ditemani seorang perempuan.
"Galuh, kamu bisa kembali keruangan mu. Aku ada urusan sebentar. Kalau Malik sudah ketemu segera hubungi saya." Ujar Edgar pada Galuh disampingnya.
"Baik pak, saya permisi" pamit Galuh yang langsung pergi menjauh dari atasan nya itu.
Edgar mengikuti perempuan yang mirip dengan istri nya, sampai pada wanita itu berpisah dengan teman nya itu menuju rak yang berisi berbagai macam susu.
Edgar menajamkan mata nya memastikan penglihatan nya tidak salah, benar itu istrinya!. Tapi seketika ia tampak heran dan bertanya-tanya saat melihat Dewi hendak mengambil susu hamil.
Deg ...
Sedari tadi mengikuti istri nya, Edgar baru tersadar saat matanya melihat ke arah perut Dewi yang membuncit. Bahkan perut itu sudah tampak besar.
"Apa Dewi hamil?, Bodoh bodoh, suami macam apa kamu gar. Istri sedang hamil kamu tidak menyadari nya!" Gumam nya memaki dirinya sendiri. Ingatan nya beralih pada saat ia curiga dengan kelakuan Dewi yang memegangi perut dan sering marah marah.
Saat melihat Dewi kesusahan mengambil susu di rak atas, Edgar menghampiri nya.
__ADS_1
"Mas" ucap Dewi saat melihat Edgar di depan nya. Bisa dilihat nya istrinya sangat terkejut dengan kedatangan nya.
" Syukurlah aku menemukan mu. Aku merindukan mu sayang. Apa kamu baik baik saja?." Tanya Edgar lembut, menatap dalam mata istri nya.
Dewi tersentak, tubuhnya seketika gemetar ia tak menyangka bertemu Edgar di tempat ini. Laki laki yang dirindukan dan di benci nya blsaat ini berada dihadapan nya. Entah mengapa rasa rindu nya berganti. Berganti Rasa kecewa yang selama ini ia pendam. Rasa itu bertambah saat melihat kehadiran Edgar di depan nya. Saat tangan kekar suaminya hendak memeluk nya Dewi buru buru menghindar. Dengan segera Dewi berjalan cepat menjauhi Edgar, ia tidak peduli walaupun belum mendapatkan susu nya.
Dengan berjalan cepat dewi menghampiri Kinan dan mengajak nya segera pulang.
"Kinan ayo kita pulang." Dewi menggandeng tangan Kinan mengajak nya menuju kasir.
"Kenapa mba? Mba sudah dapat susu nya?" Tanya Kinan yang tidak mengerti kenapa Dewi buru-buru mengajak nya pulang. Gadis itu tampak bingung tangan nya mendorong troli ke arah kasir.
Dewi tidak menjawab ia memberi beberapa lembar uang pada Kinan untuk membayar total belanjaan. Untung saja tidak terlalu panjang antrian.
Saat berjalan menuju mobil yang dipesan nya online terdengar Edgar memanggil-manggil nama nya tapi Dewi tidak peduli dan terus berjalan. Disini yang terlihat kebingungan hanya Kinan. Gadis itu menengok kebelakang.
"Mba itu dipanggil orang dibelakang, dia ngejar kita mba." Ucap Kinan yang masih berjalan cepat mengikuti langkah Dewi.
"Sudah abaikan saja Kinan."
"Tapi mba jangan cepat-cepat jalan nya, ingat mba lagi hamil." Gadis muda itu tampak khawatir saat melihat Dewi yang berjalan cepat apalagi Dewi sedang hamil. Kinan khawatir dengan kandungan Dewi. Kejadian saat awal kehamilan Dewi yang sering mengeluarkan flek berlarian memenuhi pikiran nya. Bagaimana ia yang setiap saat nya menemani Dewi memeriksa kandungan.
Mendengar peringatan dari kinan Dewi tersadar dan berhenti untuk mengatur nafas nya lalu mengelus perut nya sebentar.
"Maafin mama ya nak." Ucap nya pada bayi nya.
Dewi dan Kinan sudah berada di dalam mobil.
Sedangkan Edgar hanya berdiri menatap sendu mobil yang ditumpangi Dewi sudah keluar dari parkiran.
Edgar menatap kantong plastik besar di tangan nya yang berisi susu hamil yang tidak jadi di ambil Dewi tadi. Bahagia sudah bertemu istri nya tapi mereka malah berakhir main kejar-kejaran seperti ini. Istri nya tidak mau melihat nya.
"Selamat menikmati kebodohan mu gar"
Edgar tersenyum getir, lalu berjalan menuju mobil nya.
__ADS_1
Dia tahu ini kesalahan nya, wajar saja istri nya menunjukan sikap seperti itu. Laki laki itu pun sadar diri. Perempuan mana yang rela melihat suami nya lebih memprioritaskan orang lain bahkan orang itu mantan kekasih nya.