
Seminggu berlalu, Dewi mulai membiasakan diri. Melakukan aktivitas nya seperti dulu sebelum menikah.
Kini ia sudah berada di kedai bersama Mia dan Tina pegawai baru nya yang di tugaskan membantu Mia saat dirinya sudah menikah.
Mia yang melihat Dewi sudah bisa tersenyum pun ikut bahagia. Ia tidak bisa berbuat apa apa atas keputusan yang sudah di ambil Dewi. Yang bisa dilakukan nya hanya menjaga dan menghibur Dewi.
Menjelang sore, mobil hitam yang mewah sudah terparkir di depan kedai nya.
"Wi, ayo kita cari mangga keinginan mu. Di taman ada yang berbuah. Aku sudah memeriksa nya tadi." Ajak Erik, sebelum nya Dewi bilang pada Mia ingin sekali makan mangga. Tapi Mia tidak tahu dimana mendapatkan mangga muda itu karena ini bukan musim nya. Alhasil dia menanyakan nya pada Erik. Dan Erik menyuruh Dion untuk mencari buah mangga itu. Erik memastikan sendiri dimana tempat yang di tunjukan Dion padanya.
"Benarkah mas?" Tanya Dewi antusias. mata ibu hamil muda itu berbinar cerah, secerah matahari.
Erik mengangguk, senyum tersungging dari wajah tampan nya itu saat Melihat wanita yang di cintai nya bahagia karena usahanya.
Beberapa menit mobil yang dikendarai Erik sudah terparkir di pinggir taman pinggiran kota itu.
Dewi menatap penuh damba pada buah mangga yang menggantung di atas pohon. tanpa sadar mulutnya mengecap.
Dia menoleh pada Erik, "bagaimana cara mengambil nya mas?" Tanya nya. Pandangan nya kembali teralihkan ke atas pohon yang menjulang tinggi itu.
"Tenang saja wi aku akan memanjat nya untuk mu." Jawab Erik dengan percaya dirinya menatap pohon mangga didepan nya.
"Memang nya mas Erik bisa manjat?" Tanya Dewi lagi.
Erik menggeleng " tapi akan aku coba wi." Ujar nya meyakinkan Dewi.
Erik mulai mencoba memanjat pohon itu dengan susah payah. Tapi belum dari setenagh pohon itu ia panjat. Dia sudah turun lagi.
"Aku menyerah wi, susah sekali ternyata memanjat pohon." Ujar Erik dengan nafas naik turun.
__ADS_1
Erik tidak tega saat melihat wajah sedih Dewi, ibu hamil itu menelan Saliva saat melihat mangga yang masih tergantung dipohon nya.
***
Setelah beberapa menit, akhir nya mereka berdua duduk di rerumputan dengan beberapa mangga di depan nya. Erik mengupaskan mangga untuk Dewi.
"Bapak tadi hebat banget ya wi, bisa manjat pohon secepat itu. Berapa lama belajar nya ya?" Tanya Erik, ia menatap kagum saat bapak tukang kebun tadi memanjat pohon dengan sangat mudah dan cepat. Sedang kan dirinya sudah beberapa kali manjat tapi tetap gagal juga.
"Itu sudah keahlian nya kali mas." Jawab Dewi asal. Matanya masih memandang mangga yang tengah di kupas Erik dengan tidak berkedip.
Menyadari Dewi yang terus menatap mangga di tangan nya Erik mengupas cepat mangga itu.
"Silahkan dimakan bumil." Ujar Erik mengulur kan mangga itu di depan bibir Dewi.
Dengan cepat Dewi membuka mulut dan melahap mangga itu dari tangan Erik.
"Hmm ... Enak mas." Ujar nya sambil menguyah.
"Ini mas Erik coba juga dong." Dewi mengulurkan mangga itu di depan bibir Erik. Erik menggeleng, membuat Dewi sedih karena ditolak. Tidak tega melihat Dewi sedih Erik langsung melahap potongan mangga itu.
Dia mengernyit merasai rasa asam dari mangga itu.
"Sshhh ... Asam sekali wi." Ujar nya langsung meraih air mineral di samping nya meneguk nya dengan cepat.
Dewi yang melihat kelakuan Erik malah tertawa dengan keras.
"Hahaha ... Mas Erik lucu sekali. "
Erik tersenyum menatap lekat Dewi di depan nya.
__ADS_1
"Kamu sudah memberitahu Edgar tentang kehamilan mu wi?" Tanya Erik penasaran.
"Belum mas. Sudah beberapa hari dia tidak menghubungi Ku. Dan hari ini ada beberapa panggilan darinya tapi tidak aku angkat." Jelas Dewi, wajah cantik nya meredup saat membahas tentang suaminya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
Dewi terdiam sebentar "aku akan merawat bayi ku sendirian, aku sudah lelah berjuang sendiri selama ini. Sedangkan mas Edgar tidak peduli padaku dan hanya mempedulikan Risa. Aku merasa tersisihkan mas." Dewi mengusap kasar pipinya yang basah.
Erik hanya mengangguk, ingin rasanya ia merebut posisi Edgar. Tapi Dewi selalu menolak nya. di peluk nya tubuh gadis itu erat , tangan nya mengusap punggung Dewi yang bergetar.
***
Hari sudah gelap, Dewi pulang di antar Erik. Saat ia masuk kehalaman rumah nya ia melihat mobil Edgar terparkir disana.
Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam rumah nya, benar saja laki laki yang beberapa hari ini mengacuhkan nya sedang duduk di ruang tamu nya.
"Darimana saja kamu sayang?" Tanya Edgar menatap tajam pada istri nya. seolah hendak menerkam.
"Ada urusan sebentar tadi. Kenapa mas Edgar datang kesini?" Tanya Dewi, ia masih berdiri dengan menenteng plastik yang berisi mangga.
"Aku pulang tapi tidak melihat istri ku di rumah. Lalu aku datang kesini, dan ternyata istri ku juga sedang tidak ada.".
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih"