
Pagi pagi sekali Edgar sudah berada di jalanan kota kembang itu, ada rapat penting mengenai pembangunan swalayan di Banten. Merogoh hp di kantong jas nya, Edgar mengetik pesan untuk istri nya.
Beberapa menit berlalu menunggu balasan pesan dari istri nya, pria berpakaian rapi itu hanya bisa menelan kecewa saat mendapati centang biru saja tanpa balasan pesan.
"Kenapa seperti nya kamu ingin sekali pisah dengan ku walaupun aku sudah melakukan berbagai cara untuk membujuk mu?. Apa tidak ada kesempatan lagi untuk ku?"
Edgar memandang ka arah luar jendela sambil memijit pelipis nya. Kepala nya terasa sedikit pusing, tadi malam pria itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Berbekal sarapan sepotong roti, pria 28 tahun itu berharap rapat hari ini berjalan lancar sesuai rencana.
Di dalam ruangan yang kedap suara, para staf perusahaan dan investor sedang fokus dengan persentasi yang di tunjukan langsung oleh sang pemilik perusahaan.
Selesai presentasi, Edgar kembali duduk di kursi nya. Tampak pria itu memijit pelipis nya. Rasa pusing semakin menjalar di kepala nya. Pergerakan Edgar tak luput dari perhatian perempuan cantik dengan seragam kantor nya yang duduk manis mengamati pergerakan nya. Ia sudah menebak jika tadi malam pasti ada perang diantara Edgar dan istrinya.
Tidak sia-sia usahanya kemarin yang mendatangi Dewi di cafe nya.
Flashback on
"Ada hal apa sampai datang ke cafe ku Risa?" Tanya Dewi pada perempuan cantik di depan nya yang baru saja melepas kaca mata hitam nya dengan angkuh.
"Buru buru sekali, apa tidak ada minum untuk ku. Aku terbiasa minum kopi saat pagi." Ucap Risa dengan tersenyum, tapi Dewi bisa melihat senyum nya mengandung arti lain.
"Tunggu sebentar." Dewi bangun dari duduk nya menuju pantry, mmebuat kopi yang di minta Risa. Secepat kilat ibu hamil itu kembali duduk di hadapan Risa.
Risa meminum kopi nya, lalu matanya menatap ke arah perut Dewi.
"Aku penasaran apa itu benar anak Edgar atau laki laki lain?"
"Jaga ucapan mu!" Sentak Dewi, ia tahu Risa menemui nya pasti ada maksud yang tersembunyi. Dan perkataan Risa kali ini menyulut emosi nya.
"Ups, aku kan hanya bertanya. Kamu tidak perlu Semarah itu Dew." Risa tersenyum santai. Ia bisa melihat sekesal apa ibu hamil di depan nya ini.
"Apa kamu tidak ada kegiatan lain selain mengganggu ku?" Ketus ibu hamil itu.
"Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku disini hanya mencari jawaban atas rasa penasaran ku." Risa mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tas nya. Ia letakan foto itu di depan Dewi.
Dewi meraih foto itu, ia terhenyak saat melihat foto dirinya bersama Erik dulu saat Dewi memutuskan untuk tinggal di Bandung. Memang rumah yang di tempati Dewi dicarikan oleh Erik. Tapi Dewi membayar nya sendiri. Ia membelalak kan matanya saat melihat foto yang terakhir, foto yang menunjukkan dirinya dan Erik di depan rumah sakit. Erik yang mengelus perut buncit Dewi tercetak jelas di foto itu.
__ADS_1
Dewi menggebrak meja dengan nafas memburu.
"Apa maksud semua ini? Kamu memata-matai ku?"
Terlihat perempuan di hadapan Dewi menyunggingkan senyum licik nya. "Itu tidak penting. Jadi apa tebakan ku benar? Bayi itu bukan anak Edgar"
"Ini anak mas Edgar, semua foto itu tidak seperti itu!. Dan mas Edgar percaya kalau anak ini anak kita." Sentak Dewi,
Dewi memicingkan mata saat mendengar gelak tawa dari bibir Risa. "Kalau Edgar melihat foto ini, apa dia akan tetap percaya?"
"Pasti! Aku hamil sebelum mas Edgar ke Singapura. Aku jamin ini anak kami." Tegas Dewi. Ia tidak pernah berhubungan dengan laki laki lain selain semua nya. Tapi yang ada dipikirannya saat ini. Darimana Risa mendapatkan foto itu.
"Apa kamu tidak lelah mengganggu rumah tangga ku? Apa kamu belum puas atas semua yang kamu lakukan!. Kita sama-sama perempuan, kenapa kamu tega menghancurkan kebahagiaan perempuan lain?" Tanya Dewi dengan dingin.
Risa tersenyum sinis,"kamu yang merebut Edgar dariku. Kalau tidak ada kamu pasti saat ini Edgar sudah bersama ku. Kamu itu penghalang di antara hubungan kami!"
"Bukan kah kamu sendiri yang meninggalkan mas Edgar dengan alasan sakit mu?. Kenapa kamu tidak sadar diri jika kamu sendiri lah penyebab hancur nya hubungan mu" Dewi menatap dalam mata wanita di depan nya ini, tampak Risa mengepalkan tangan di bawah meja.
Mengatur emosi nya Risa kembali menunjukan wajah santai. "Ya memang dulu aku yang meninggalkan Edgar karena aku sakit. Tapi sekarang aku sudah sembuh dan akan kembali merebut Edgar dari mu."
Risa bangun dari duduk nya, ia memandang Dewi dengan sinis.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Tegas Dewi ia ikut berdiri dari duduk nya.
"Ingat wi, cinta pertama itu susah di lupakan. Aku yakin Edgar pasti masih mempunyai rasa pada ku. Dan lagi pula dia bilang padaku akan menikahi ku setelah anak mu lahir."
"Apa?"
Risa tidak menjawab keterkejutan Dewi, ia keluar dari cafe Dewi dengan angkuh nya.
Flashback off.
Kembali ke ruangan nya sendiri, Edgar memilih membaringkan tubuh nya di sofa. Satu tangan nya dengan pelan memijit pelipis nya. Bayangan pertengkaran dengan istri nya tetiba hinggap di kepala nya. Mendesah frustasi Edgar dikejutkan dengan ketukan pelan dari pintu ruangan nya.
"Masuk!" Perintah Edgar, ia sudah menebak jika itu pasti Galuh yang ia minta membawakan segelas jahe hangat untuk menetralkan rasa pusing nya.
__ADS_1
Edgar membuka mata saat merasai yang datang bukan Galuh, suara feminim dari hills itu menggema di ruangan nya. Ia terhenyak dan mendudukan diri nya saat tahu Risa lah yang datang. Perempuan cantik itu berjalan cepat ke arah nya dengan membawa nampan ditangan nya.
"Air jahe untuk mu, dan spesial sandwich buatan ku." Ucap Risa menaruh nampan itu di atas meja.
"Kenapa ada di sini sa?" Edgar melirik pintu " dimana Galuh?"
"Aaa, Galuh sedang mengantar para investor ke lobi depan." Jawab Risa.,
Edgar mengangguk, calon ayah itu meraih segelas jahe hangat dan meminum nya.
"Apakah enak?" Tanya Risa dengan wajah sumringah.
"Enak." Jawab Edgar singkat.
"Wahh, itu aku yang membuat nya. Berarti aku berhasil ya. Coba juga sandwich nya gar." Ucap Risa menyodorkan satu potong sandwich di depan mulut Edgar.
Dengan tangan kanan nya, Edgar meraih sandwich itu. "Biar aku makan sendiri"
Dengan menelan kecewa, Risa mengangguk. "Apa kita ke dokter saja gar. Aku akan menemani mu." Usul Risa.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat sebentar saja." Tolak Edgar. Ia tidak mau berhubungan lebih dekat dengan Risa yang bisa membuat hubungan nya dengan Dewi semakin rumit. Masalah kemarin saja belum kelar. Edgar tidak mau membuat masalah baru lagi. Ia mau hubungan nya dengan Risa hanya sekedar partner di proyek nya kali ini.
"Kamu boleh keluar sa." Ucap Edgar.
Mendengar perkataan Edgar seketika jati Risa mencelos.
"Apa kita bisa makan siang. Memang aku sudah memutuskan untuk move on. Tapi kita bisa menjadi teman kan?"
"Maaf kan aku, aku tidak bisa. Aku tidak mau Dewi menjadi salah paham lagi. Kita hanya sekedar partner kerja. Setelah proyek ini selesai, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal sebelum nya!"
-
-
-
__ADS_1