
Rembulan sudah meninggi, jalanan masih tampak ramai. Risa yang baru saja masuk kedalam rumah nya dikejutkan oleh pangilan papanya dari ruang keluarga.
"Darimana kak?" Tanya pak Hardi memandang putri nya yang hendak naik tangga.
Risa memutar badannya menghadap pak Hardi yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Cuma jalan jalan pa," jawab Risa.
"Kemana?" Tanya pak Hardi yang sebenarnya sudah tahu anaknya pergi kemana.
"Bandung."
"Bertemu Edgar?. Papa tahu Edgar sedang dibandung mengatasi cabang perusahaan nya yang sedang bermasalah. Kamu menemui nya kak?." Pertanyaan yang dilontarkan pak Hardi sekarang lebih mengintimidasi.
"I...iya." jawab Risa gugup.
"Kamu mau mendekati Edgar lagi sekarang?"
Risa mencengkram tali tas nya, dadanya berdegup kencang saat melihat pak Hardi bangkit dari duduk nya dan berjalan menghampirinya.
"Risa mau merebut Edgar kembali. Dulu Risa pisah sama Edgar karena Risa sakit. Dan sekarang Risa sudah sembuh. Risa mau berjuang kembali merebut cinta Risa." Jelas Risa yang mendapat gelengan tanpercaya dari pak Hardi. Padahal dia berharap papa nya itu mau membantu nya.
"Kalau saja sekarang Edgar masih lajang, papa pasti mengizinkan usaha mu ini. Tapi sekarang keadaan nya sudah berubah kak, Edgar sudah punya istri dan sebentar lagi punya anak. Kamu tidak bisa melakukan ini." Tutur pak Hardi lembut mengusap lembut kepala putrinya.
Risa mundur beberapa langkah, "tapi ini tidak adil untuk Risa!. Dulu Risa sakit dan membuat hubungan Risa dan Edgar putus. Apa salah nya sekarang Risa berjuang kembali?" Risa merasa kali ini papanya tidak akan mendukung nya.
"Bukan kah perpisahan mu dengan Edgar itu keinginan mu sendiri? Kamu sendiri yang memutuskan hubungan dengan Edgar. Kenapa sekarang kamu menyesali nya?" Pak Hardi menatap putrinya dengan tatapan tak percaya.
"Kalau dulu kamu jujur dengan Edgar soal penyakit mu, pasti Edgar mau menerima mu. Bahkan Membawamu berobat kemanapun asal kamu sembuh. Bukan nya papa tidak tahu sebesar apa cinta Edgar padamu dulu. Kamu minta dunia ini pasti juga akan diberikan Edgar. Tapi itu DULU!" tegas pak Hardi menekan kata dulu agar menyadarkan Risa.
"Risa tidak peduli! Risa yakin Edgar masih menyimpan sedikit cinta untuk Risa. Kalau Risa berusaha dengan keras, pelan pelan Edgar pasti kembali pada pelukan Risa!" Kekeh Risa dengan percaya dirinya.
Terdengar gelak dari pak Hardi, Risa memicingkan mata. Tidak ada yang lucu tapi kenapa papanya malah tertawa.
"Kamu yakin kak? Atau kamu tidak menyadari?, Selama di Singapura Edgar memang ada disana merawatmu tapi dia menjaga jarak. Pikiran dan hatinya ada pada istri nya." Memang selama di Singapura menemani Risa, Edgar selalu tidak fokus. Dia sepanjang hari menghubungi istri nya tapi selalu tidak tersambung. "Belum ada satu bulan Edgar sudah kembali ke Jakarta. Meninggalkan mu pada papa dan mama. Edgar mencintai istri nya. Biarkan ia menebus kesalahan nya pada istri nya. Jangan merusak kebahagiaan yang sekarang baru dirasakan Edgar dan Dewi!" Imbuh pak Hardi.
__ADS_1
Risa terkejut, ia baru menyadari jika papanya mengetahui semua nya bahkan kehamilan istri Edgar.
"Darimana papa tahu semua itu?"
"Kamu tidak perlu tahu papa tahu darimana, yang terpenting sekarang. Menjauhlah dari Edgar dan dewi, jangan jadi perusak kebahagiaan orang lain kak!" Tegas pak Hardi.
"Risa tidak peduli, Risa akan melakukan apapun agar Edgar mau kembali pada Risa. Dan papa tidak boleh ikut campur!" Teriak Risa suaranya menggema di udara.
Ia berlari menaiki tangga menuju kamar nya. Sedangkan pak Hardi mengeram kesal. Memikirkan Bagaimana lagi cara agar menyadarkan putri nya.
Saat masih termenung, muncul Bu sari dari dalam rumah menghampiri pak Hardi.
"Ada apa pa? Kenapa Risa berteriak seperti itu?" Tanya Bu sari, wanita paruh baya itu masih memeluk guling dia sudah terlelap tadi dan terbangun saat mendengar teriakan putri nya. Debgan segera ia meloncat dari tempat tidur dan keluar melihat apa yang terjadi.
"Putri mu susah dikasih tahu. Dia mau merebut Edgar dari istri nya." Pak Hardi memijit pelipis nya yang sedikit pusing.
"Biarkanlah pa, asal itu membuat Risa bahagia. Dia baru sembuh turuti saja permintaan nya" ucap Bu sari yang langsung mendapat tatapan tajam dari pak Hardi.
"Kamu! Jangan pura-pura tidak tahu atas kejadian beberapa tahun lalu, gara gara kesalahan ku dan membuat Dewi mejalani kehidupan yang sulit selama ini!"
"Nyawa tidak bisa di bandingkan dengan uang bahkan kekuasan SAR!. Bujuk putri mu, jangan biarkan dia merusak kebahagiaan yang baru dirasakan oleh Dewi. Kalau sampai itu terjadi, kamu yang akan aku salahkan!" Tegas pak Hardi menunjuk pada istrinya berlalu masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Bu sari tampak berfikir, melihat punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.
***
Saat tengah malam Edgar terbangun karena tenggorokan nya terasa kering. Dia meraih gelas yang berisi air di meja samping tempat tidur dan meneguk nya sampai habis. Saat hendak kembali tidur Edgar terpana dengan wajah cantik istri nya yang sedang terlelap. Wajah cantik dan manis itu mampu membuat dadanya bergemuruh.
"Aku sangat mencintai mu wi, terimakasih sudah bertahan sampai saat ini. Aku janji akan selalu mencintai mu dan memprioritaskan mu." Ucapnya pelan memandang wajah istrinya dnwgan penuh kasih sayang.
Entah kenapa hatinya tergerak dan mencium istrinya.
Terlihat geliyatan pelan dari gadis itu lalu matanya mengerjap pelan dan terbuka. Ia tersentak saat di depan nya sudah ada wajah Edgar yang tersenyum memandang nya.
__ADS_1
"Kenapa bangun mas?" Tanya Dewi, ia malu di tatap suaminya seperti ini.
"Aku merindukan mu sayang, bolehkah aku minta itu ..." Tanya Edgar ragu ragu.
"Tadi dokter bilang boleh, jadi kenapa masih bertanya mas?" Ucap Dewi pelan lalu memalingkan wajahnya. Jujur saja ia juga rindu dengan dekapan hangat suaminya. Sentuhan lembut suaminya.
Merasa mendapat lampu hijau, Edgar mendekatkan wajahnya. Mengecup bibir mungil itu.
Kecupan itu berubah menjadi ******* yang menuntut. Tangan Edgar sudah bergerilya. Masuk kedalam baju dan Menyentuh dua benda kenyal keajaiban dunia itu.
Terdengar lenguhan pelan dari bibir istri nya. Membuat tubuh Edgar semakin membara menuntut lebih. Dengan cekatan dia sudah membuka semua pakaian yang di pakai istri nya. Dan sekarang membuka pakaian yang melekat ditubuh nya sendiri.
Dengan hati hati, pria itu mencium setiap inci tubuh istri nya. Menyalurkan gelenyar-gelenyar yang mengalir dalam tubuh. Dewi yang sudah terlena dengan sentuhan yang diberikan nya suaminya hanya bisa memejamkan mata menikmati semua nya.
"Ahh.." desa*han pertama lolos dari bibir mungil istrinya. Membuat Edgar tambah bersemangat. Ia kembali mencium bibir istri nya sebelum memulai penyatuan nya.
Malam semakin larut, sepasang suami istri itu masih bergelut di atas kasur. Menyalurkan semua rasa yang dulu sempat hilang. Berbagi kehangatan dan berbagi peluh untuk mencapai puncak kenikmatan.
Pergelutan itu selesai saat Terdengar erangan dari keduan nya saat mereka sudah mencapai puncak kenikmatan itu.
Tapi Edgar Masih belum rela mencabut junior nya.
Dengan tersenyum ia memandang wajah istrinya yang dipenuhi peluh, mengusap nya pelan.
"Terimakasih sayang" ucap Edgar mencium kening istrinya. Dewi hanya membalas dengan senyuman, tenaga nya habis.
Terdengar lenguhan dari bibir mungil istrinya saat ia melepas penyatuan itu. Dia bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
-
-
-
__ADS_1
-