Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 23


__ADS_3

Dewi membangunkan suaminya untuk segera mandi, lalu dia menyiapkan pakaian kerja suaminya setelahnya dia turun kebawah hendak membuatkan makanan kesukaan suaminya sebagai ucapan maaf karena masalah bunga kemarin. Ya semalaman Edgar mendiamkannya hingga dia merasa bersalah. 


"Non biar ibu saja yang memasak." Ucap Bu asih. Saat melihat Dewi yang sudah berkutat didapur sepagi ini. 


"Tidak usah Bu, Dewi ingin memasak makanan kesukaan mas Edgar." Ucapnya tersenyum. 


"Kalau begitu ibu bantuin potong sayur nya non." 


"Iya boleh Bu biar cepat." Ujar Dewi menyetujui. 


Bu asih dengan cekatan mengupas wortel dan sayuran lain nya lalu mencucinya. 


Setelah semua masakan selesai Dewi menghidangkan nya diatas meja. 


Beberapa menit kemudian terlihat Edgar dengan terburu-buru menuruni tangga. 


"Sarapan dulu mas" ujar Dewi menghampiri suaminya. 


"Aku sarapan dikantor."ujar Edgar yang langsung berjalan keluar rumah menghampiri Dava yang sudah siap siaga disamping mobil. Tidak mempedulikan istrinya yang berdiri mematung menatap kepergian nya. 


Bu asih yang melihat kejadian itu hanya menghela nafas, dia merasa kasihan pada majikanya tapi tidak berani ikut campur atas Masalah yang sedang terjadi pada pasangan suami istri itu. 


Dewi melangkahkan kaki nya dengan lesu. Menatap semua hidangan dimeja dengan tatapan nanar. Seketika dia tersenyum lalu mengambil kotak makan di rak. Menata nasi serta lauk pauk yang dibuat nya tadi kedalam kotak. 


"Aku akan mengantarkan makanan ke kantor suami ku Bu. Tolong dimasukan dalam tas ya. Setelah itu aku akan kembali bekerja,  Aku ke atas sebentar ya Bu." Ucapnya langsung berlari menaiki tangga sambil mengepalkan tangan ke udara. 


"Semangat Dewi" 


Didalam mobil Dewi tersenyum menatap tas yang berisi bekal untuk suami nya. 


Dia berharap kali ini Edgar memaafkan nya. 


Setelah sampai didepan perusahaan suaminya, Dewi turun dari mobil masuk ke dalam kantor suaminya lalu berjalan ke arah resepsionis.  


Wanita yang berdiri dibelakang meja resepsionis itu segera berdiri saat melihat Dewi yang berjalan menghampirinnya. Membungkukan badan memberi hormat. Dia jelas tahu siap istri atasan nya karena pada hari pernikahan atasan nya dia datang menghadiri. 


"Nona Dewi ada yang bisa saya bantu?" 

__ADS_1


Tanya wanita itu sopan. 


"Aku ingin menemui suamiku tapi aku tidak tau dimana ruangan nya." Ucap Dewi tersenyum malu malu. 


"Ruangan Presdir ada dilantai paling atas nona, mari saya antar." Ucap wanita itu. 


 Dava baru saja keluar dari lift tatapan nya tertuju pada wanita yang sedang berbicara dengan bagian resepsionis. Dengan segera dia menghampirinya. 


"Nona Dewi." Panggil nya. 


Dewi menoleh kebelakang menatap Dava yang berjalan cepat ke arah nya. 


"Anda ingin menemui tuan Edgar? Mari saya antar" mempersilahkan Dewi mengikutinya ke arah lift khusus presdir . 


Didalam lift Dava melirik Dewi disamping nya yang membawa tas kecil. Dia tersenyum penuh arti. 


"Ini ruangan tuan Edgar nona, silahkan masuk."  


Dewi mengangguk, dia terdiam menatap pintu ruangan Edgar. Menghela nafas sebentar menyiapkan keberanian. 


Dava yang melihat Dewi hanya terdiam lantas mengambil alih, mengetuk pintu pelan. 


"Maaf tuan, ada nona Dewi kemari." Ucap Dava. 


Edgar mendongak menatap Dava lalu berganti menatap Dewi dibelakang Dava. 


Dewi tersenyum saat melihat suaminya menatap nya. 


"Mas aku membawakan bekal untuk mu. Tadi kamu tidak sempat sarapan kan." Mengeluarkan kotak bekal itu dari dalam tas menaruh nya diatas meja kerja Edgar. 


"Bawa pulang saja. Aku sudah sarapan tadi." Ucap Edgar cuek melirik kotak bekal itu sekilas lalu kembali fokus pada berkas didepan nya. 


"Dav, antar istriku keluar dari sini!"perintah Edgar tegas. 


Dava terkejut. 


"Gar..."  

__ADS_1


" Antar orang yang se'enaknya ini keluar sekarang!" Mulai meninggikan suaranya. 


Dewi yang mendengar teriakan suami nya Menundukkan kepala tidak berani beradu pandang dengan suaminya, lalu ia meraih kembali kotak bekal itu dengan tangan gemetar dan memasukan nya kedalam tas.  


Berjalan ke arah Dava,  


"Aku akan pulang dav, kamu tidak perlu mengantar ku. Sopir rumah juga masih ada di bawah." Ujar nya dengan suara bergetar. 


"Saya antar sampai bawah nona. Mari" 


Dewi berjalan terlebih dahulu, Dava menoleh ke arah Edgar sebentar lalu berjalan menyusul Dewi. 


Sesampainya didepan lift Dewi menoleh pada Dava,  


"Sampai sini saja dav." 


"Tapi nona" cegah Dava. 


"Kamu kembali bekerja saja, aku pulang dulu." Dewi tersenyum menatap Dava menyembunyikan rasa sedih nya lalu masuk kedalam lift.Dava yang tau arti dari senyuman majikan nya itu merasa kasihan. Menatap pintu lift sampai tertutup baru dia kembali ke ruangan Edgar. 


Dava membuka pintu ruangan edgar dengan kasar, melihat Edgar yang duduk disofa sambil memijit pelipis nya. Dia tidak peduli. 


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bersikap seperti itu pada istri mu?" Bertanya kesal melupakan status laki laki didepan nya ini sebagai atasan nya. 


"Jaga batasan mu dav!" Ucapnya dingin. 


" Ayolah gar, kamu tidak kasihan melihat istri mu yang sangat sedih atas perlakuan mu tadi!"  


"Dia yang pertama membuat ku marah!" Ketusnya. 


"Tapi apa sampai kamu memperlakukan nya seperti itu. Dia jauh jauh mendatangimu karena khawatir kamu belum sarapan tadi! Kurang baik apa lagi dia?" Dava terlihat kesal sekarang. 


"Dia ingin mengganti bunga aster dirumah tadi! Dia tidak tahu sepenting apa bunga itu untuk ku!" Mulai meninggikan suaranya. 


"Apa!" 


"Astaga Edgar apa yang ada dipikiran mu itu? Hanya karena masalah bunga kamu sampai mengacuhkan dan berteriak padanya seperti tadi. Ya Tuhan ... Kamu ini salah makan apa sih!" Kesal sendiri. 

__ADS_1


"Risa itu sudah meninggalkan mu. Itu sudah menjadi keputusan nya sendiri! Kamu ini tidak tahu malu sekali masih mengharapkan nya!" Cerca Dava, ingin sekali ia memukul laki laki di depan nya ini. 


"Kalau aku jadi kamu, aku akan melepaskan seribu orang seperti Risa demi satu orang seperti Dewi!" Ketus Dava menatap tajam Edgar yang masih duduk di sofa. 


__ADS_2