Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 46


__ADS_3

"kenapa aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari ku ya wi" ujar Edgar dengan tegas, menelisik wajah istri nya. 


"Aku tidak menyembunyikan apapun!" Elak dewi 


"Ayolah katakan saja, aku tahu kamu sedang berbohong padaku kan. Aku tidak akan marah" 


"Aku ... Aku tidak apa apa. Oh ya bagaimana keadaan Risa?" Ujar Dewi mengalihkan pembicaraan lalu memalingkan wajahnya, untung lah suami nya tidak sadar dan tidak berfikiran sampai kesana. Dewi merasa belum saat nya ia memberitahukan tentang kehamilan nya. Ia akan memberitahukan nya saat sudah memastikan Edgar tidak lagi memprioritaskan Risa . 


"Keadaan nya tidak ada perubahan malah semakin memburuk, maka dari itu aku minta kamu pulang ya. Bersabar lagi sedikit saja wi ..." Edgar memegang tangan Dewi, sesaat ia dikejutkan dengan dering ponsel nya.  


"Ya halo Tante," tanya Edgar berbicara dengan orang di seberang.  


"Apa!, Baiklah aku segera kesana Sekarang."   


"kenapa, ada apa?" Tanya Dewi ikut panik saat melihat suami nya yang gusar. 


"Ayo kita ke Singapura sekarang, Risa semakin droph dan kritis." Ajak Edgar yang langsung menarik paksa tangan Dewi. 


Dewi tertegun menghentikan langkah nya dan sekuat tenaga menghempaskan tangan Edgar dengan kasar. 


"Aku tidak mau ikut! Aku mau disini saja ."  


Tolak Dewi dengan wajah yang merah padam mendapati kenyataan suami nya masih saja peduli dengan Risa dan sekarang memaksa nya untuk ikut dengan nya. 


Edgar menatap nanar wajah istri nya yang sedang mengatur nafas. 


"Kenapa sekarang kamu menjadi seperti ini? Susah menurut dan gampang meledak-ledak seperti ini. Dimana Dewi yang selama ini ku kenal penurut?" 

__ADS_1


Dewi hanya diam menunduk, meremas jemari nya yang menjuntai. mengatur nafas berulang kali karena Edgar menarik nya dengan paksa dan membuatnya sedikit berlari tadi. 


"Apa yang sudah laki laki itu tanam di otak mu dan membuat mu seperti ini hah!?" Mengingat kejadian kemarin yang dilaporkan anak buah nya amarah Edgar kembali tersulut.  


Dewi mendongak menatap wajah suami nya yang kini sedang menatap nya dengan tajam. Tangan Dewi terkepal menahan emosi. 


"Kenapa membahas mas Erik? Dia selama ini yang membantuku saat aku sedang kesusahan. Dimana saat itu mas Edgar hah?" Tanya Dewi dengan sinis, " aaa,,mas Edgar kan sedang merawat wanita yang dicintai." Dewi tersenyum getir menatap keatas berusaha mencegah genangan air yang siap meledak kapan saja di ujung matanya. 


Edgar terkejut melihat sikap Dewi, istrinya yang lembut dengan penuh pengertian sekarang berubah menjadi singa kelaparan, siap menerkam apa saja yang ada di depan nya. 


"Aku bingung dengan kamu wi, pertama aku sudah memutuskan untuk tidak mencari keberadaan Risa tapi kamu malah mempertemukan ku dengan nya. Dan kedua saat aku merawat nya yang sedang sakit kamu malah marah seperti ini. Apa mau mu sebenarnya?" Edgar meremas rambut nya dengan kasar, tidak mengerti dengan apa yang di mau oleh istri nya. 


"Aku hanya meminta kamu untuk menyelesaikan urusan kalian yang belum selesai. Tapi kamu melewati batasan mu." Ujar Dewi menatap Edgar yang berkacak pinggang di depan nya. 


"Batasan apa? Apa aku salah merawat nya yang sedang sakit parah dan tidak tahu kapan maut akan merenggut nya?, Kamu yang diberi kesehatan seperti ini cobalah mengalah sedikit saja." Edgar memegang kedua bahu Dewi mencoba memberi istri nya pengertian. 


"Sebagai seorang suami apa pantas membohongi istri nya?" Tanya Dewi dengan sinis menatap tajam suami nya. 


Edgar memicingkan mata, mencerna kemana arah pembicaraan istri nya. 


"Kamu berbohong pada istri mu, bilang ada masalah di pekerjaan nyatanya itu semua bohong kan!" Suara Dewi meninggi rasa sesak di dada nya membuat nya perlu mengatakan semua nya. Ia menghempaskan tangan Edgar yang masih bertengger dibahunya dengan kasar. 


"Kamu menemani Risa dirumah sakit kan? Iya kan?" Tuding Dewi pada Edgar. 


Deg ... 


Edgar tertegun, darimana Dewi tau semua ini. Edgar memang sengaja menyembunyikan nya dari Dewi agar istri nya tidak merasa sakit hati tapi sekarang istri nya sudah tahu. 

__ADS_1


"Kamu anggap apa aku hah!" Amarah, kekecewaan dan ketidak berdayaan berada di dalam suara Dewi. 


Air mata yang sejak tadi ditahan nya sekarang sudah meledak, tumpah ruah dipipi nya yang sedikit menggembul itu. 


Melihat istri nya yang menangis hati Edgar terasa teriris, dia sadar selama ini sudah mengabaikan istri nya. Perlahan Edgar mendekat ke arah istri nya, menangkup kedua pipi yang basah itu mengusap nya pelan menghampus aliran air mata yang sepertinya tidak mau berhenti. 


"Sudah ku bilang jangan marah dan emosi seperti ini, kepala mu bisa pusing nanti sayang." Ucap Edgar lembut tersenyum tulus pada istrinya. 


Dewi masih diam saja, masih sesenggukan dan mengatur nafas. Beberapa saat berlalu Dewi sudah mulai tenang sekarang. 


"Masalah tadi aku bisa memberi penjelasan padamu nanti. Sekarang ikut aku ya, kita ke Singapura sekarang. Risa membutuhkan ku wi." Edgar amsih saja membujuk istri nya, berharap istrinya bisa mengerti sekarang.  


Tapi nyatanya tidak, emosi Dewi tersulut kembali mendengar Edgar yang tidak menyerah membujuk nya untuk ikut.  


"tapi aku juga membutuhkan mu!"


Dewi mundur beberapa langkah, menatap suami nya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sedangkan edgar yang ditatap istri nya seperti itu hanya bisa menatap heran. 


"Ayo wi, Dava sudah membelikan tiket untuk kita. Kita tidak punya banyak waktu lagi" kesabaran Edgar sudah habis, ia harus berangkat sekarang.  


"Aku tidak mau!" Tolak Dewi. 


"Baiklah jika kamu tidak mau ikut, tunggu aku disini. Setelah semua nya membaik aku pasti akan menjemput mu." Tutur Edgar yang berjalan meninggalkan Dewi di belakang nya. 


"Kalau kamu tetap pergi, aku tidak mau melihat mu lagi!" Teriak Dewi yang seketika berhasil membuat langkah Edgar terhenti. 


Edgar menoleh kebelakang " kalau kamu tidak mau melihat ku lagi, aku yang akan membuat mu menatap ku."  

__ADS_1


__ADS_2