
Sekitar setengah jam Dewi sampai di cafe. Menatap sekeliling waktu memasuki cafe itu, mencari teman nya yang ternyata sudah duduk di kursi dekat jendela.
"Sudah lama mi?" Tanya Dewi setelah mendudukkan dirinya di kursi.
"Belum kok wi, mungkin 10 menit yang lalu." Jawab Mia tersenyum.
"Aku langsung jelasin tugas kamu ya mi." Kata Dewi yang diangguki oleh Mia.
Sekitar satu setengah jam Dewi menjelaskan apa saja tugas Mia di kedai nya. Harus nya tidak selama itu tapi karena dibarengi dengan obrolan santai, penjelasan pun menjadi agak lama.
Dewi melihat pergelangan tangan nya, sepertinya ini sudah terlalu kesiangan untuk belanja kebutuhan jualan nya. Apalagi dia punya janji makan siang dengan Edgar. Laki laki yang belum genap 24 jam jadi pacar nya itu.
"Mia aku langsung pamit ya, kalau ada yang mau kamu tanyain, besok saja dikedai ya. Aku buru buru soal nya." Ucap Dewi sambil memasukan ponsel nya kedalam tas.
"Mau kemana wi?" Tanya Mia ingin tahu.
"Aku mau belanja kebutuhan kedai yang sudah menipis."
"Aku boleh ikut nggak, sekalian bantuin kamu?" Tawar Mia. Melihat Dewi yang terburu buru dia berfikir mungkin Dewi punya acara lain yang lebih penting.
"Boleh. Yuk" ajak Dewi . Yang langsung memesan taxi online.
Setelah taxi yang dipesan sudah datang, mereka berdua langsung naik dan menuju ke swalayan.
***
Dewi menunggu di depan swalayan dengan menenteng 2 kantong tas disisi kanan dan kiri tangan nya.
Menunggu sang pujaan hati yang tadi memberitahu ingin menjemputnya.
Tak lama tampak mobil warna putih berhenti di depan nya.
Dewi tersenyum ketika melihat Edgar turun dari mobil nya.
"Maaf ya wi agak lama, ada kerjaan sedikit tadi." Ujar Edgar sembari meraih 2 kantong belanjaan yang di bawa Dewi. Memasukan nya kedalam mobil.
Didalam mobil Edgar tersenyum menatap Dewi disamping nya. Dewi yang merasa Edgar menatap nya menjadi salah tingkah sendiri . Perlahan Edgar mencondongkan tubuh nya mendekati Dewi.
Cup --
Dewi terkejut, pipi nya seketika memerah saat Edgar mencium bibir nya. Lagi.
Deg
deg -
dada nya terasa bergemuruh. Ini kedua kali nya Edgar mencium nya. Yang pertama tadi malam saat ia menerima perasaan Edgar padanya. Dia masih tidak dapat menyembunyikan keterkejutan nya .
Menghirup nafas perlahan, mengeluarkan nya dengan perlahan juga.
__ADS_1
Edgar mengernyitkan kening nya. Tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Dewi.
"Kenapa wi sedang ada masalah?"
Tanya Edgar menatap lekat Dewi.
"Tidak mas," jawab Dewi menoleh sebentar lalu memalingkan wajah nya ke jendela mobil. Malu . Itu yang dirasakan nya saat ini.
Edgar yang mulai mengerti arti dari sikap Dewi pun bertanya.
"Kamu belum pernah berciuman sebelum nya?"
"Belum mas." Jawab Dewi menundukkan wajah nya malu malu.
"Berarti kemarin malam itu ciuman pertama kamu?" Tanya Edgar lagi.
"I .. iya "
Edgar tersenyum, ada rasa bahagia dan bangga di dalam hati nya. Ternyata dia yang pertama menyentuh bibir ranum itu.
Setelah saling diam Edgar segera melajukan mobil nya. Tidak ada obrolan apapun setelah itu.
***
Beberapa saat mobil yang dikendarai Edgar melaju cepat ke sebuah restoran mewah dipusat kota.
Dewi menatap kagum restoran itu. Biasanya dia hanya dapat menatap dari kejauhan, melewati nya saat menuju ke kedai nya di depan taman kota.
"Samakan saja dengan punya mas edgar." Jawab Dewi.
"Ya sudah. 2 spagethi dan 2 jus jeruk , yg satu jangan terlalu manis jus nya" ujar Edgar menyerahkan buku menu kepada pelayan yang berdiri disamping mejanya.
Pelayan pun mengangguk, berjalan menuju pantry.
"Bukan nya tadi kamu sama teman kamu wi?" Tanya Edgar lembut. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari Dewi.
"Sudah pulang duluan mas." Jawab Dewi.
Edgar mengangguk, tidak mau bertanya lebih yang bukan urusan nya. Setelah nya tidak ada obrolan apapun. Mereka saling diam. Dewi yang terlihat mengatur nafas, ingin mengutarakan sesuatu sepertinya.
"Mas..." panggil Dewi , memecah kesunyian.
"Ya.." jawab Edgar lembut. Menunggu apa yang akan dikatakan Dewi selanjutnya.
" Ibu bilang mas Edgar terlalu tinggi buat Dewi." Ucap Dewi terbata.
"Maksud nya?" Edgar mengernyitkan kening nya tidak mengerti.
"Mas Edgar kan anak orang kaya, sedangkan Dewi anak orang yang sangat sederhana. Apa orang tua mas Edgar tidak mempersalahkan status Dewi?" Ucap nya menunduk. Takut akan jawaban yang nantinya membuat nya terluka.
__ADS_1
"Orang tua ku tidak pernah mempermasalahkan status, materi orang wi. Bagi mereka semua nya sama. Yang membedakan hanya hati nya." Ucap Edgar meraih tangan Dewi menggenggamnya.
Mendengar ucapan Edgar menjadi angin segar untuk Dewi. Setidak nya hatinya menjadi sedikit lega. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya masih ada keraguan yang entah sampai kapan bisa menghancurkan kepercayaan dirinya.
Edgar yang menyadari keraguan Dewi pun berkata
"Minggu depan aku ajak bertemu orang tua ku ya wi. Sekalian membahas pernikahan kita."
Seketika perkataan Edgar membuat Dewi terkejut. Bagaimana tidak, baru saja kemarin malam mereka menjalin cinta. Dan sekarang sudah membahas pernikahan.
Apa ini mimpi? Kebaikan apa yang selama ini aku lakukan sehingga sekarang aku mendapatkan sosok mas Edgar yang sangat baik akan menjadi suamiku?. Batin Dewi dalam hati.
"Apa tidak terlalu cepat mas?" Dewi memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak. Aku sudah lama mengagumi mu. Jauh sebelum aku datang ke kedai mu" jawab Edgar tegas.
"Baiklah" ucap Dewi tersenyum menatap Edgar.
***
Saat hari mulai sore Bu Dian yang baru saja selesai menyapu teras depan. Saat hendak masuk ke dalam rumah ia menghentikan langkahnya ketika melihat mobil memasuki halaman rumah.
Dewi keluar dari dalam mobil. Disusul Edgar yang membawa 2 kantong tas belanjaan yang tadi di beli Dewi.
Edgar Tersenyum melihat Bu Dian lalu mencium tangan nya.
" Sore Bu, saya Edgar kekasih anak ibu . Dewi" sapa Edgar.
"So..sore " ibu Dian masih tidak mengerti, tatapan nya beralih pada Dewi. Meminta penjelasan lewat sorot matanya.
"Ayo masuk mas " ajak Dewi pada Edgar mengabaikan kode dari ibunya yang meminta penjelasan.
"Eh iya mari masuk nak Edgar" ucap Bu Dian terbata.
Mereka duduk di ruang tamu . Edgar duduk di sofa berhadapan dengan Bu tari.
Tak lama terlihat Dewi keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi 3 teh dan beberapa cemilan dipiring.
Menaruh nya di meja lalu meletakan teh di depan Edgar.
"Silahkan diminum mas" ucap Dewi tersenyum.
"Terimakasih wi" ujar Edgar seraya membalas senyuman Dewi .
Mereka terdiam cukup lama sampai Edgar bersuara .
"Kedatangan saya kemari ingin meminta izin pada ibu untuk menikahi Dewi Putri ibu"
Deg--
__ADS_1
Bersambung...