
Edgar terbangun saat merasa tidak nyaman dengan tubuh nya. Merasa leengket dan gerah karena dia tadi lupa berganti pakaian ataupun mandi. Edgar memindahkan tangan istri nya yang tengah memeluk nya. Dia turun dari ranjang, menoleh sebentar ke arah istri nya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Dia tersenyum, saat melangkah kan kaki Edgar merasa menendang sesuatu yang ternyata tas Dewi. Diraih nya tas itu tapi karena resleting yang terbuka membuat isi di dalam tas itu keluar berceceran diatas lantai.
Dengan segera Edgar merapikan nya lagi memasukkan nya kembali ke dalam tas istri nya. Aktivitas nya terhenti saat meraih sebuah kartu nama.
"Sari K. Permadana" ucap nya lirih.
"Bagaiman bisa Dewi mendapatkan kartu nama Tante Sari. Apa mereka pernah bertemu?" Tanya nya dalam hati, ia meletakan kartu nama itu di atas nakas. Lalu berjalan ke arah kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan rasa lengket di tubuhnya akibat peluh.
Sudah hampir jam tiga pagi, tapi Edgar belum bisa memejamkan matanya. Di raih nya lagi kartu nama itu lalu menoleh ke arah istrinya yang masih nyenyak di dalam tidur nya.
"Wi,, sayang bangun,," panggil Edgar lembut membangunkan istri nya, ia tidak bisa tenang kalau tidak mendapat jawaban segera dari istri nya.
Melihat istri nya yang masih setiap di alam mimpinya, Edgar menggoyangkan tubuh Dewi pelan. Berharap dengan cara ini bisa membangunkan istri nya.
Dan benar saja dalam beberapa menit ada pergerakan dari istri nya.
Dewi duduk bersandar dengan tangan yang sesekali masih menutup mulutnya karena menguap.
"Ada apa mas?" Tanya nya.
"Ini kamu dapat kartu nama ini dari mana?" Menunjukan kartu nama itu di depan istrinya. Rasa penasaran yang memenuhi otak nya membuatnya terpaksa membangunkan istri nya di jam segini.
Degh--
Dewi terkejut, seketika kantuk yang menghiasi wajah bantal nya menghilang seperti tersapu angin.
"A-aku tadi siang mengantar Risa ke rumah sakit dan bertemu ibu nya." Jawab nya dengan gugup.
"Benarkah? Kamu bertemu Risa?" Tanya Edgar antusias dibalas tatapan sendu dari istrinya.
"Risa sedang di rumah sakit, dan kalau aku mau menjenguk nya lagi aku bisa menanyakan nya lewat mama nya."
"Ayo kita temui Risa sekarang!" Seru Edgar yang langsung meraih jaket dan kunci mobil nya.
"Mas apa kamu tidak terlalu bersemangat untuk bertemu Risa, lihat jam itu!" Sindir Dewi yang langsung menarik selimut nya kembali tidur, jujur saja dia merasa kesal dan kecewa atas reaksi berlebihan suami nya.
"Padahal aku sudah tahu ini akan terjadi kan? Kenapa aku masih saja merasa sedih?. Hei hati ayo tegar lah!" Gumam nya dalam hati sambil berusaha untuk tertidur kembali.
Sementara Edgar yang sudah berdiri menenteng jaket di lengan nya pun menatap jam di dinding kamar nya, ia menghela nafas berat. Terlalu bersemangat akan bertemu Risa membuat nya tidak mempedulikan perasaan istri nya. Di taruh nya lagi jaket dan kunci mobil nya.
__ADS_1
Naik ke atas tempat tidur, mendekat kan diri pada tubuh istri nya yang tidur membelakangi nya.
"Sayang, kamu marah?" Tidak ada jawaban dari istri nya.
Tapi dia bisa merasakan jika istri nya belum tidur.
"Maafkan aku."
"Sayang, kamu sudah tidur?" Mengintip istri nya yang telah mememjamkan mata.
"Tidurlah sayang, maafkan aku ya."
Edgar mengelus rambut istri nya, mencoba menenangkan Dewi.
***
Edgar dan Dewi sudah berada di depan ruang rawat VVIP.
"Masuklah mas, pasti Risa sangat senang bertemu dengan mu." Ada rasa pedih dan sakit dihatinya saat mengatakan itu. Tapi ia tidak bisa berlaku egois saat ini.
Edgar menatap istri nya dengan tatapan sendu ada rasa tidak tega saat melihat istrnya yang menunduk, di kecupnya kening sang istri.
"Kita masuk sama-sama" menggandeng tangan istri nya.
"Ingat, cinta dan hati ini seutuhnya milik mu wi. Jangan memikirkan hal-hal yang negatif. Tunggu disini dan jangan kemana-mana." Pinta Edgar dengan penuh penekanan.
"Ya mas." Balas nya tersenyum.
"Aku titip hp ku sebentar ya, aku tidak akan lama. Hari ini ada jadwal penting dikantor." menyerahkan benda pipih itu pada istri nya.
Lalu Edgar masuk kedalam ruangan, melihat pak Hardi yang duduk di sofa dengan tangan yang memegang koran harian.
"Edgar" panggil pak Hardi yang langsung berdiri dari duduk nya. "Bagaimana kamu bisa tahu Risa di rawat disini?" Imbuhnya.
"Saya tidak bisa menjawab nya sekarang om, tapi saya minta izin apa boleh saya mengobrol berdua saja dengan Risa di sini?"
"Tapi Risa masih tidur," menunjukan lewat lirikan matanya.
"Saya akan menunggu nya." Ucap Edgar tersenyum. Pak Hardi pun mengangguk, menepuk bahu Edgar pelan lalu keluar dari ruangan.
__ADS_1
Edgar menatap wanita yang masih memejamkan mata dengan wajah tirus dan pucat nya. Edgar terus menatap wajah Risa yang selama ini di cari nya dan dirindukan nya.
Dengan perlahan Edgar mendekat dan mengusap lembut pipi tirus itu. Sang empu pun terbangun saat merasa ada orang yang menyentuh nya.
"Edgar!" Seru Risa saat melihat laki laki yang selama ini dirindukan nya sekarang berada di depan nya.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Risa "ah pasti karena istrimu ya" imbuhnya dengan tersenyum.
Degh..
"Jadi kamu sudah tahu kalau Dewi itu istriku?"tanya Edgar tak percaya.
"Iya dia sendiri yang bilang padaku. Kami tidak sengaja bertemu di mall kemarin." Cerita Risa
"Dia baik sekali, waktu memilih baju kita tidak sengaja menyentuh baju yang sama,dia mengalah dan memberikan baju yang dipilihnya duluan untuk ku. Dan sekarang dia mengizinkan suami nya untuk menemui ku"
Risa menyentuh tangan Edgar "apa dia mencintaimu? Maksud ku apa kalian saling mencintai?"
" Bagaiman keadaan mu sekarang?" Tanya Edgar mengalihkan pembicaraan.
"Aku baik baik saja hanya rambutku mulai rontok akibat kemoterapi." Tunjuknya pada kepala nya yang ditutupi tupluk.
"Tidak apa-apa kamu masih terlihat cantik." Puji Edgar menyemangati Risa agar tidak khawatir.
"Benarkah? Tidak perlu berbohong padaku. Aku tahu aku sangat jelek sekarang."
Edgar tersenyum mengusap lembut pipi Risa. "Kamu masih tetap cantik seperti dulu di mataku"
Risa yang mendengar itu langsung tersenyum.
"Maaf," ucapnya lirih " maaf waktu itu aku tidak berkata jujur padamu."
"Sudah, aku sudah memaafkan mu. Itu sudah tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah kesehatan mu. Kamu harus semangat melawan penyakit mu." Ucap Edgar menyemangati.
"Apa sekarang aku boleh egois?" Tanya Risa menatap lekat pada Edgar. " Apa aku sekarang bisa memintamu untuk terus berada disisi ku? Aku tahu kamu selama ini masih mencintai ku dan tidak mencintai istri mu kan?" Memeluk Edgar dengan tubuh lemah nya.
"Apa maksud mu sa?"
"Lihat lah, baju yang dipakai Dewi itu baju kesukaan ku. Tas dan sepatu yang dipakainya itu juga termasuk. Kamu hanya menganggap Dewi sebagai pengganti ku karena dia mempunyai kesamaan dengan ku kan gar?"
__ADS_1
Deg..
Perkataan Risa berhasil mengejutkan hati gadis yang baru saja masuk dari pintu ruangan vvip itu.