
Ketegangan masih berlanjut sampai sekarang. Apalagi antara Bu Novi dan ayu masih saling menatap tajam.
"Begini saja, bagaimana kalau kita tanya dengan Dewi. Kalau Dewi mau ikut pulang bersama ibu dan ayu ya tidak apa-apa." Pak Cakra yang sejak tadi diam mengambil alih karena jika membiarkan istri nya terus bicara akan membuat suasana kian canggung.
Edgar melirik Dewi di samping nya, begitupun ayu yang juga Menatap adik nya. Dewi yang berada di tengah-tengah menjadi bingung sendiri.
"Ayo wi, ikut aku pulang. Disini kamu tidak dihargai suami mu. Setelah ini bisa saja Edgar menyakitimu lagi, melihat berita yang terpampang di seluruh sosial media saja membuat ku geram. Apalagi wanita itu mantan pacar nya." Sinis ayu, tatapannya menghujam seperti panah tepat menusuk dada Edgar.
Glek- Edgar menunduk tak membantah semua ucapan ayu. Memang benar ia menyakiti hati istrinya berulang kali. Tapi saat ini jujur ia benar-benar menyesal.
"Berita itu tidak benar yu, Risa yang menyebarkan berita hoax itu. Edgar di jebak." Bela Bu Novi.
"Sebelum berita itu tersebar, Edgar pun pernah menuduh Dewi berselingkuh dengan Erik. Bahkan Edgar sendiri sempat meragukan bayi yang ada di kandungan Dewi. Dan membuat Dewi terpaksa melakukan tes DNA yang beresiko untuk bayi nya. Suami macam apa putra anda ini?"
"Jaga bicara mu!" Sentak Bu Novi. Tak terima anak nya dituduh sembarangan.
"CUKUP!" Sentak Edgar, suara nya meninggi memenuhi seluruh rumah nya.
Semua orang yang ada di ruang tamu terdiam, menatap Edgar yang sedang mengatur nafas nya.
"Mba ayu benar ma, itu semua salah Edgar. Dan soal tes DNA juga benar adanya."
Bu Novi tersentak mendengar penuturan putra nya, terduduk lemas di kursi Bu Novi mengatur nafas nya yang terasa tercekat.
Dewi yang menonton perdebatan antara kakak dan mertua nya merasa kaget. Perut nya terasa keram.
Edgar yang melihat Dewi meringis seperti menahan sakit segera duduk.
"Kenapa sayang?" Tanya Edgar panik, melihat Dewi yang terus memegangi perut nya.
"perut ku rasanya Keram mas." Lirih Dewi menahan rasa tak nyaman di perut bagian bawah nya.
Tatapan Semua orang sekarang tertuju pada ibu hamil 8 bulan itu.
"Ayo ke rumah sakit." Edgar yang terlampau panik langsung menggendong istri nya tanpa mempedulikan semua orang.
"Pak Rudi!" Panggil Edgar dengan suara keras.
Pak Rudi lari tergopoh-gopoh dari arah gerbang saat namanya di serukan dengan keras.
"Ya gar." Jawab pak Rudi saking panik nya pria tua itu tidak memanggil secara formal.
"Pak cepat ambil mobil! istri ku kesakitan" Edgar yang panik tidak bisa berfikir apa-apa.
Di dalam mobil Edgar terus menenangkan istri nya. "Cepat pak!" Titah Edgar.
"Sabar sayang" ucapan nya melembut saaat menenangkan sang istri.
"Tidak perlu khawatir mas, mungkin ini hanya keram biasa. Sakitnya hanya sedikit" Dewi mencoba menenangkan suaminya yang panik.
"Tidak ada kram biasa, kalau sakit ya sakit tidak ada yang sedikit!" Seru edgar.
__ADS_1
"Cepat pak!" Titah Edgar lagi pada pak Rudi.
Dewi hanya terdiam, ia memikirkan mertua, kakak dan ibu nya yang ada di rumah. Semua ini terjadi karena sikap yang ia ambil. Andai ia bersabar sedikit lagi dan tidak pergi mungkin perdebatan antara kakak dan mertua nya tidak akan terjadi.
***
Sampai di rumah sakit, Edgar segera menggendong istri nya menuju ruangan dokter yang di pilih Edgar secara khusus sebulan yang lalu.
"Bagaimana dok?" Tanya Edgar saat sang dokter sedang sibuk memainkan alat di atas perut istri nya.
"Semua sehat dan baik-baik saja. Bu Dewi hanya kelelahan dan syok." Dokter duduk di kursi dan menyerahkan hasil USG pada Edgar.
Edgar dan Dewi bernafas lega, syukurlah tidak ada apa-apa pada bayinya.
Setelah menebus obat dan vitamin, Edgar dan Dewi pulang. Sampai dirumah kedua nya di sambut semua orang yang masih sigap menunggu.
"Bagaimana? Apa baik-baik saja?" Tanya Bu Novi khawatir.
"Baik-baik saja ma." Jawab Dewi lembut tersenyum menatap mertua nya yang bernafas lega.
Dewi berjalan menghampiri ayu yang juga nampak bernafas lega.
Ayu tertegun saat tiba-tiba adik nya memeluk nya.
"Terimakasih ya mba, mba Ayuk adalah kakak terbaik di dunia ini. Tapi, Dewi memilih untuk tetap disini mba. Bersama suami Dewi. Mas Edgar sudah meminta maaf dan menyesali perbuatan nya. Mungkin ini ujian di pernikahan Dewi dan Dewi harus bisa melewati ini semua." Tutur Dewi sesaat setelah menguraikan pelukan nya.
Ayu masih terdiam, ia tadi melihat bagaimana panik dan sigap nya Edgar saat Dewi merasa kesakitan.
Ayu menoleh pada Bu Novi, "maaf atas sikap saya tadi nyonya." Ayu menunduk dan langsung di peluk oleh Bu Novi.
"Saya juga salah. Malah saya kagum padamu yu, kamu kakak yang hebat. Tolong maafkan sikap saya juga."
Dan akhir nya semua orang di ruang tamu itu tersenyum lega.
***
Di sebuah restoran cepat saji, Alana dan Dava tampak berbicara serius tentang pekerjaan.
"Oke sudah selesai." Ucap Dava menutup maps biru di hadapan nya.
Dava memperhatikan Alana yang tampak murung saat membalas pesan.
"Apa ada masalah la?" Tanya Dava.
"Tidak ada pak, hanya masalah keluarga." Alana tersenyum dan meminum lemon tea sampai habis.
"Lemon tea itu tidak salah la, kenapa kamu jadikan pelampiasan kekesalan mu?" Dava terkekeh melihat Alana yang meminum lemon tea sampai suara nya terdengar nyaring.
"Eh, maaf pak" alanan tersenyum canggung.
"Ada apa ? Kamu bisa bercerita padaku. Di luar kantor anggap saja kita teman. Dan satu lagi jangan panggil aku pak. Aku bukan Edgar." Dava tergelak pelan.
__ADS_1
Alana tersenyum, ragu-ragu ia berfikir mau menceritakan masalah nya atau tidak.
"Kalau kamu tidak mau cerita tidak apa-apa, saya akan bercerita dulu." Ujar Dava menegakan duduk nya.
Alana terkesiap, ia memandang pria di depan nya dengan tatapan penuh tanda tanya. Tidak biasanya Dava terbuka tentang masalah nya. Dan sekarang Alana merasa jadi wanita spesial yang terpilih untuk mendengar kan cerita dari seorang Dava Mahendra. Pria tampan yang jadi idola kedua di kantor nya setelah Edgar menikah.
"Aku merasa malu sebenarnya, tapi aku akan menceritakan nya agar hatiku sedikit lega."
Alana menyimak.
"Aku di jodohkan mama ku." Ucap Dava memulai cerita nya.
"Uhuk uhuk.."
Dava yang melihat Alana terbatuk segera memberi air minum nya.
"Kamu tidak apa-apa la?" Tanya Dava khawatir.
"Tidak apa-apa pak, eh dav" alana meralat ucapan nya saat mendapat tatapan dari Dava.
"Kenapa kamu terkejut mendengar aku di jodohkan?. Ah pasti itu memalukan ya .. aku sebenarnya juga malu sih. Ini bukan yang pertama. Sudah kesekian kalinya mama ku menyuruhku kencan buta seperti ini." Dava menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Bagaimana menurut mu? Apa aku harus menemui wanita yang di pilihkan mama ku?" Tanya Dava meminta pendapat.
Alana tampak berfikir, ia sendiri sebenarnya juga menghadapi masalah yang sama dengan Dava. Mama nya menyuruhnya untuk bertemu anak dari teman nya. Puluhan chat masuk dengan kalimat yang sama.
"Kamu harus menemui nya la, dia ini anak teman mama yang paling tampan dan mapan. Kamu pasti suka. Mama mohon.."
Begitulah isi chat dari mama nya Alana.
"La..." Dava mengibas-ngibaskan tangan nya di depan Alana yang malah melamun.
"Eh iya.." alana tersadar dari lamunan nya.
"Bagaimana menurut mu?" Tanya Dava lagi.
"Kalau menurut saya, tidak ada salah nya untuk menemui nya. Bisa saja nanti perempuan ini sesuai dengan kriteria kak Dava. Jodoh tidak ada yang tahu kan." Alana menyemangati.
Dava yang mendengar dirinya di panggil kak menjadi tersipu, memalingkan wajah ke samping. Dava mengatur debaran di dadanya.
"Oh begitu ya, kalau tidak sesuai dengan kriteria ku bagaimana?"
"Ya bisa mencari yang lain lagi kak," jawab Alana santai.
"Kalau kamu, mau tidak jadi istriku?"
Deg-- Alana tersentak, ia sampai menjatuhkan sendok nya di meja. Pipi nya memerah tapi mengingat seorang Dava yang mengatakan itu membuat nya tidak bisa percaya begitu saja.
"Kakak bisa saja becanda nya." Alana terkekeh melanjutkan makan nya dengan tenang.
Dava memperhatikan setiap gerakan dari wanita di depan nya kini. Ia juga terkejut dnegan ucapan nya sendiri yang dengan enteng mengatakan akan menjadikan alana sebagai istri.
__ADS_1