Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 54


__ADS_3

Menempuh jarak sekitar 30 menit, calon ayah dan ibu itu sampai di sebuah wisata yang menampilkan pemandangan alam di sekeliling nya. Udara yang sejuk walau hari sudah siang. Tampak para pengunjung yang juga sedang menikmati hari liburan mereka Dengan sanak saudara.


"Hati hati sayang" tangan Edgar terulur membantu istri nya yang tengah hamil besar itu turun dari mobil. Dikehamilan nya yang sudah besar ini membuat nya tidak bisa leluasa bergerak.


"Terimakasih mas" ucap Dewi tersenyum pada Edgar. Perhatian kecil yang diberikan suaminya sudah bisa melambungkan hati nya. Bukan kah seperti itu, rasanya bahagia sekali jika suami sangat perhatian pada istri nya.


Setelah membeli tiket, Edgar dan Dewi berjalan berkeliling. Menikmati indah nya sudut lain kota Bandung. Puas berjalan-jalan Edgar mengajak Dewi beristirahat.


Ia tidak mau Dewi kelelahan dan berdampak pada bayi nya yang entah sedang apa di dalam sana.


"Minum dulu sayang" Dewi langsung menyambar botol berisi air mineral yang diberikan Edgar. Ibu hamil itu meneguk air sampai habis setengah botol.


Edgar yang melihat itu langsung panik, "pelan pelan wi, nanti kamu bisa tersedak!"


"Hehe, aku haus mas." Dewi malah cengengesan tidak mempedulikan kepanikan Edgar.


Dengan tersenyum kecut Edgar mengelus pipi Dewi. "Kalau haus atau lapar bilang sayang"


"Disini sejuk ya mas, pemandangan nya bagus." Ungkap Dewi netranya masih menikmati pemandangan yang di sajikan tempat itu. Tempat yang bersih, tanaman yang tertata rapi, dikelilingi pohon yang menjuntai Dengan rindang nya sangat menyejukkan mata.


"Kamu suka?" Tanya Edgar.


Dewi mengangguk, "suka mas, sangat."


"aku akan membawa mu ke tempat seperti ini lagi lain waktu kalau setiap hari aku tidak bisa. Kamu harus banyak istirahat dan aku harus bekerja." Tukas Edgar.


Mereka berdua duduk di sebuah bangku kayu yang tersedia. Saling bercengkrama, bertukar cerita. Sesekali tertawa saat bernostalgia mengingat kenangan masa lalu mereka. Sampai bunyi dering hp terdengar, menghentikan acara ngobrol suami istri itu.


Edgar meraih hp di dalam saku celana nya. Ia menoleh pada istrinya sebentar saat sebelum nya melihat nama Risa terpampang di layar depan hp nya.


"Risa, apa aku boleh mengangkat nya wi?" Ucap Edgar memberitahu, kalau ia langsung menerima panggilan itu takut nya membuat Dewi salah paham. Sungguh, sekarang yang terpenting bagi Edgar hanya istri dan calon anak nya. Tidak ada sedikit pun nama Risa di dalam hatinya bahkan bayangan nya saja tidak.


Dewi mengangguk, walaupun hatinya merasa langsung di sergap perasaan was was dan tidak nyaman. "Angkat saja mas."


Edgar mengangguk lalu menggeser tombol hijau ke atas, menerima panggilan Risa yang sejak tadi berdering memekakkan telinga.


"Ya sa," jawab Edgar, ia terus memandang Dewi, was was jika istri nya marah atau tidak nyaman.


"Aku sedang di Bandung dan pergi menikmati wisata disini. Aku tidak sengaja melihat mu dan Dewi. Tapi aku tidak yakin apa itu beneran kamu." Jawab Risa.


"Aku memang sedang jalan jalan bersama Dewi."


"Aaa, coba menengok ke belakang gar, aku di restoran lurus mengahadap ke arah mu."


Edgar langsung memutar badan nya menoleh ke belakang, Dewi juga refleks mengikuti arah mata Edgar.

__ADS_1


Deg ..


Edgar menoleh ke arah istri nya, dada nya berdegup kencang sekarang saat melihat tatapan sendu istri nya. Tatapan itu, tatapan yang pernah dilihat nya dulu saat istri nya cemburu pada Risa. Dan sekarang seperti di hantam bola panas ini terjadi lagi pada wanita yang sama lagi.


***


Sekarang disini lah mereka, duduk berhadapan hanya di pisahkan meja saja.


"Bagaimana kabar mu wi, ah aku baru tahu kamu sedang hamil. Sudah besar ya, berapa bulan?" Tanya Risa berbasa basi,


"Aku baik baik saja, sudah 6 bulan. Bagaimana kabar mu?" Jawab Dewi, ia menelisik wanita di depan nya ini. Masih sama cantik nya, jika tidak tahu mungkin orang lain akan menganggap nya tidak pernah terkena penyakit kanker sebelum nya.


"Ah aku baik, aku dinyatakan sembuh oleh dokter beberapa bulan lalu. Maaf ya gar sudah merepotkan mu, aku sangat berterimakasih atas waktu dan biaya yang kamu keluar kan untuk ku."


Melihat tatapan Risa pada suami nya, Dewi bisa menilai jika wanita itu masih menyimpan perasaan pada suami nya. Dewi menoleh pada Edgar,


"Itu bentuk tanggung jawab ku, caraku menebus salahku karena sudah salah paham dan tidak mencari tahu dulu penyebab kamu pergi dulu. Hiduplah dengan baik kedepan nya sa, semoga mendapatkan laki laki yang baik." Jawab Edgar menjawab dengan pilihan kata yang tidak akan membuat istrinya salah paham.


"Ah baiklah." Ucap Risa tersenyum kecut. Pandangan nya beralih pada Dewi.


"Apa jenis kelamin anak mu wi, apakah perempuan? Dulu Tante Novi pernah bercerita padaku kalau menginginkan cucu perempuan. Karena kedua anaknya laki laki." Tanya Risa, ada seringai tipis dari bibir yang terbalut lipstik tipis itu.


"Dia laki laki, mama tidak mempedulikan apa gender cucu nya. Yang terpenting dia mempunyai cucu." Jawab Edgar mengambil alih, ia melihat sekilas tatapan sendu istri nya tadi.


"Ah laki laki ya, cepat sekali tiba tiba sudah besar ya gar, padahal kamu jarang dirumah dan beberapa bulan lalu baru kembali ke Jakarta. Topcer ya.. "


Edgar yang melihat perubahan wajah istri nya segera bergerak cepat menenangkan, ia meraih tangan Dewi yang mengepal, di genggam nya tangan istri nya itu.



"Dewi sudah hamil saat sebelum aku ke Singapura," ucap Edgar membela istri nya. Menoleh ke arah istri nya Dengan senyum yang menenangkan. Seakan berkata aku percaya padamu.


Risa yang melihat tatapan Edgar pada istri nya tersenyum kecut. Seakan iri dengan perlakuan Edgar pada Dewi. Dulu Edgar tidak pernah memandang nya dengan tatapan seperti itu. Tapi Risa segera berubah ekpresi, mencoba bersikap biasa saja.


Beberapa jam berbincang dengan Risa, Edgar dan Dewi memutuskan untuk pulang. Suami istri itu sudah berada di dalam mobil.


Edgar mencondongkan tubuh nya ke arah Dewi, memasangkan sabuk pengaman. Dalam posisi seperti ini tentu saja wajah mereka berdekatan. Edgar bisa melihat jelas ekpresi istri nya yang menyimpan perasaan gelisah.


"Aku percaya pada mu sayang, jangan dipikirkan perkataan Risa tadi. Fokus saja pada dirimu dan kehamilan mu. Selain itu biar aku yang mengurus semua nya." Edgar mengusap lembut pipi istri nya, mencium sekilas bibir mungil istri nya sebelum ia kembali pada kursi kemudi.


"Ya mas," jawab Dewi singkat.


Mobil yang dikendarai Edgar melaju dengan kecepatan sedang. Ia sesekali melirik Dewi di samping nya.


Entah apa yang dipikirkan ibu hamil itu, wajah nya tampak gelisah.

__ADS_1


"Mas" panggil Dewi pelan.


"Hmm kenapa sayang,?" Edgar menjawab tanpa menoleh pada Dewi, ia fokus pada jalanan yang tampak sedikit macet karena lalu lalang wisatawan. Ia harus melajukan nya pelan pelan jika kendaraan di depan nya maju, atau ia harus tiba tiba mengerem saat mobil di depan nya berhenti.


"Risa masih cantik ya, dia tidak seperti sedang sakit" ucap Dewi, ia melihat badan nya membandingkan pada tubuh Risa yang masih bagus walaupun gadis itu digerogoti kanker sebelum nya.


Entah mengapa saat bertemu Risa tadi, hatinya merasa gelisah. Ada rasa was-was dan khawatir jika nanti nya Edgar memilih bersama Risa lagi. Entah karena hormon kehamilan yang membuat nya punya fikiran seperti itu.


"Kamu lebih cantik sayang," jawab Edgar, dia jujur dari hatinya. Memang ia merasa jika Dewi lebih cantik dari Risa. Dan yang terpenting ia mencintai nya.


Ucapan Edgar sekilas menenangkan hati Dewi, tapi tidak lama. Rasa insecure nya lebih mendominasi.


"Apa benar? Lihat lah, badan ku sudah tidak langsing lagi."


Edgar menyunggingkan senyum di bibir nya. Ia tahu saat ini istri nya sedang tidak percaya diri. Istrinya sedang cemburu.


"Itu bagus." Jawab Edgar singkat.


"Maksud mas Edgar aku beneran gendut?" Dewi mengerucutkan bibir nya, merasa kesal Dengan jawaban sang suami yang berarti membenarkan jika ia tidak langsing lagi.


"Astaga, memang benar-benar serba susah ya bicara dengan ibu hamil. Mood nya naik turun. Jadi serba salah."


"Tidak sayang, kamu terlihat lebih sexy. Apalagi dada mu. Lebih besar dan menggoda." Edgar mengedipkan sebelah matanya, menggoda istri nya.


"Dasar mesum!" Dewi refleks menutup dada nya dengan kedua tangan.


Edgar tergelak, "kamu lebih sexy dari Risa sayang, lebih .. lebih montok. Sedangkan kan Risa tidak ada tonjolan apapun. " Ujar Edgar mengeluarkan jurus merayu nya.


"Mas, kamu body shaming!" Seru Dewi, menatap tajam Edgar.


"Astaga perubahan apalagi ini! Tadi merasa lebih jelek dari Risa. Sekarang di puji malah menudingku body shaming."


Edgar menepuk jidat nya dengan keras. Refleks Dewi menahan tangan Edgar.


"Kenapa di pukul keras, nanti jidat mas Edgar jadi lebar!"


Edgar menghela nafas kasar, ia memilih diam tidak meladeni Omelan Dewi padanya.


-


-


-


-

__ADS_1


*


__ADS_2