Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 67


__ADS_3

Semalaman Dewi tidak bisa tidur. Ia memilih untuk menelepon Erik. Ia harus berbuat sesuatu agar suaminya tidak marah lagi padanya. 


Dalam panggilan pertama, telepon tidak di Jawab. Dewi berusaha memanggil Erik lagi dan dalam dering kedua panggilan itu di jawab dari seberang. 


"Ya wi, ada apa? Kenapa tengah malam menelepon?" Suara serak Erik memenuhi kamar yang di tempati Dewi. 


"Mas ..." Panggil Dewi, ia bingung mau memulai pembicaraan darimana. 


"Ya wi, aku mendengar mu."  


"Mas Edgar mengetahui pertemuan kita tadi siang. Dan dia cemburu padamu mas. Apa aku boleh meminta padamu untuk tidak menemui ku lagi?. Bahkan saat kita tanpa sengaja bertemu bisakah tidak menyapaku dan berpura-pura tidak mengenal ku."  


Erik yang terkejut langsung duduk dari tidur nya dan bersandar pada sandaran tempat tidur. 


"Kamu tidak apa apa wi?, Apa yang terjadi? Apa Edgar memarahimu?" Tanya Erik dengan khawatir 


"Tidak mas, mas Edgar hanya memintaku untuk menjauh dari mu. Dia mengira kalau aku menjalin hubungan gelap dengan mu." Bohong Dewi. 


Erik menghela nafas pelan, "darimana Edgar tahu?" Tanya Erik, pria dengan muka bantal itu memilih berfikir menggunakan logika. Tidak mungkin Edgar tiba tiba mengetahui pertemuan tanpa sengaja antara dirinya dan Dewi. 


"Ada seseorang yang mengirimkan foto beserta video pada mas Edgar mas. Video nya terpotong sampai waktu mas Erik yang tiba-tiba memeluk ku." Suara Dewi terdengar bergetar. 


"Maafkan aku wi, kalau aku tidak ceroboh ini semua tidak akan terjadi."  


"Jadi mas, apa bisa mulai sekarang kita tidak usah saling mengenal. Menjauhlah dariku mas .. apapun yang terjadi tolong pergi dariku."  


"Baiklah, aku akan menjauh dari mu jika itu permintaan mu. Diandra Dewi." 


Panggilan itu di putus Erik setelah ia mengatakan kata itu. Mendapati kenyataan yang seperti itu. Erik tidak bisa menahan tangis nya. hatinya hancur, ia rela tidak bisa memiliki wanita yang di cintai asalkan ia masih bisa tetap dekat dan menjaga. tapi secercah harapan itu pupus seiring tangisan nya. Laki laki pemimpin dari ribuan orang itu tampak kacau tidak seperti biasanya saat ia dengan tegas memberi perintah.


Selama ini sudah berusaha membuang perasaan nya pada Dewi, nyatanya hati tidak bisa berbohong. Erik tidak bisa membuang perasaan itu pada Dewi. wanita sederhana yang sanggup menggetarkan hati nya saat pertama kali bertemu. senyuman menyejukkan yang tersimpan dari wajah cantik nya sanggup membuat seorang Erik Gunawan jatuh sejatuh-jatuhnya.


sekarang dia sedang menikmati sakit hati nya, rasa hancur dan kecewa nya pada takdir yang sudah di haruskan tuhan untuk nya. ingin berharap sedikit saja ia tidak sanggup.


Malam semakin bergerak menuju pagi. Tapi masih terdengar tangisan getir dari salah satu kamar di kediaman mewah Salim Gunawan. 


*** 


Malam berlalu, pagi pun menjemput dengan harapan baru. Semoga semua kembali seperti sedia kala. 


Pukul 05.00 Dewi yang sudah tidak bisa tidur memilih menyibukan diri di dapur. Ia akan membuatkan nasi goreng kesukaan suaminya. 


"Semoga hari ini mas Edgar kembali seperti semula." Gumam Dewi yang sibuk membolak-balikan nasi di penggorengan. 

__ADS_1


Sekitar pukul 07.00 Dewi yang tengah membuat jus dikejutkan oleh kedatangan Edgar di meja makan. 


"Mas aku sudah membuatkan nasi goreng kesukaan mu. Sarapan dulu sebelum ke kantor." Ucap Dewi sembari menuangkan jus ke dalam gelas. 


"Ana buatkan saya kopi tanpa gula." Titah Edgar pada ana yang sedang mencuci piring. Dengan segera gadis itu membuatkan kopi yang di minta Edgar. 


Dewi yang berada di samping ana seperti tidak terlihat. Pertanyaan yang ditujukan pada suaminya pun tidak di jawab. Edgar mengabaikan nya. 


"Mas nanti siang aku akan membuatkan mu ayam kecap. Aku akan ke kantor mu siang ini." Dewi mencoba mengajak bicara Edgar sambil menyiapkan sepiring nasi goreng untuk sang suami. 


"Mas sarapan mu" Dewi mempersilahkan. Ia bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. 


Tidak ada jawaban dari Edgar, ia menatap nasi goreng itu Dengan tatapan datar. 


"Mas kamu mau di bikinkan sambal juga tidak? Aku akan belajar ngulek dengan ana dan ..." 


Dewi tidak melanjutkan perkataan nya saat Edgar bersuara. 


"Ana, tolong habiskan makanan nya. Aku tidak bisa memakan nya. Kalau kamu tidak mau bisa di kasihkan pada pak Rudi atau Danu. Dan kalau mereka juga tidak mau di buang saja tidak apa-apa." Titah Edgar pada ana yang diam mendengarkan dengan wajah bingung. "Dan bilang padanya jika tidak perlu membuatkan ku sarapan. Tidak perlu memasak. Aku akan memesan makanan dari luar. Dari pada tidak di makan lebih baik tidak usah memasak." Imbuh nya. 


Deg--dewi menelan Saliva. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Semua ucapan Edgar pada ana tapi ditujukan padanya. 


"Mas .." Dewi mencoba merengkuh lengan Edgar tapi dengan kasar di hempaskan oleh suaminya. 


Edgar baru saja membuka pintu rumah saat Dewi berjalan cepat ke arah nya. Ibu hamil itu ingin sekali berlari mengejar tapi perut besar nya tidak memungkin kan untuknya berlari. Dewi tidak bisa bersabar lagi, ia harus meluruskan semua nya. Ia tidak bisa membiarkan emosi Edgar berlarut-larut. 


"Mas apa kita bisa bicara?"  


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan nyonya. Tida perlu menjelaskan apapun padaku. Foto dan video itu sudah menunjukan segala nya dan membuat ku mengerti apa yang sedang terjadi." Edgar memgang gagang pintu dengan keras. Emosi nya kembali tersulut saat teringat isi rekaman itu. 


"Mas maafkan aku. Apa yang mas inginkan?. Aku akan menurut." Dewi masih mencoba bersabar. 


Terdengar helaan nafas Edgar sebelum kembali bersuara "jangan menampakan wajah mu lagi di depan ku. Aku muak padamu!" Kalimat Edgar terdengar penuh penekanan. 


"Mas jangan seperti ini, tidak enak di lihat orang lain mas." Dewi menoleh pada ana yang sibuk membersihkan meja makan. ia yakin ana mendengar pembicaraan nya, Edgar berbicara dengan suara keras.


"Kalau merasa tidak enak, sebaiknya menjaga jarak dariku. Aku sekuat tenaga menahan agar tidak memukul mu,wi. Kalau bisa aku akan membuang mu ke jalanan dan kamu bisa kembali pada Erik. Bukankah kamu mencintai nya?" 


Edgar menutup pintu dengan kencang, membuat ibu hamil itu tersentak.  


*** 


Siang hari, Dewi merealisasikan perkataan nya pagi tadi. 

__ADS_1


Ia sudah sampai lobi perusaahan Edgar dengan di antar Danu sang sopir. 


Berjalan menuju lift, tak jarang Dewi menyambut sapaan para karyawan suami nya. 


Dewi tersenyum menatap rantang di tangan kanan nya. Akhir nya dia bisa mengulek sambal walaupun berantakan. Tapi ia cukup bangga pada dirinya. 


Sampai di depan ruangan Edgar, Dewi bertemu dengan Lala yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di mejanya. 


Melihat sang istri bos, Lala menyambut Dewi dengan sopan. Tapi hati nya was-was saat teringat di dalam ruangan tidak hanya ada Edgar. 


"Selamat siang Bu dewi, mau bertemu bapak?" Tanya Lala berbasa-basi. 


"Ya la, apa suamiku ada di dalam?" Tanya Dewi. 


"Ada Bu tapi ..." Ucapan Lala terhenti kala Dewi langsung menerobos masuk ke dalam ruangan suaminya. 


Betapa terkejut nya dia saat Edgar tidak sendiri di dalam ruangan nya. Ada Risa juga. Mereka berdua sedang menikmati makan bersama. Hati Dewi semakin sakit saat melihat tangan yang menggantung di depan mulut suami nya. Risa sedang menyuapi suami nya. 


Edgar mengabaikan kedatangan istri nya,, ia menerima suapan dari Risa. Seketika membuat Risa melambung senang. Karena sejak tadi usahanya membujuk Edgar tidak berhasil. Dan sekarang saat istri nya ada di depan nya Edgar dengan sukarela menerima suapan dari tangan nya. 


Dewi berusaha menyingkirkan gejolak di hati nya, ia berjalan menghampiri suami nya. 


"Mas, aku membawakan mu makan siang." Dewi mengabaikan tatapan kesal Risa. Ia dengan cekatan menata rantang itu di meja depan Edgar. 


Tidak ada jawab dari Edgar, pria itu berdiri dari duduknya dan kembali ke kursi kebesaran nya. Dewi menatap Edgar dengan tatapan sendu. 


"Gar makan siang mu belum habis." Ujar Risa. 


"Taruh saja di situ sa, aku ingin berbicara dengan istri ku. Kamu bisa keluar sekarang. Nanti aku akan menyusul di ruang meeting." Titah Edgar, mau tidak mau Risa pun menurut. Ia sudah bahagia saat mengetahui hubungan Edgar dan Dewi tidak baik baik saja. 


Selepas kepergian Risa, hening menerpa ruangan Presdir. Sampai pada akhir nya Edgar bersuara. 


"Bukan kah aku sudah memperingati mu untuk tidak menampakkan wajah mu di hadapan ku?" Ujar Edgar tanpa menatap ke arah istri nya. 


"Mas ..." Dewi berjalan menghampiri suami nya tapi perkataan Edgar menghentikan langkah nya. 


"Berhenti!" Titah Edgar, ia menatap Dewi dengan tatapan tajam. 


"Jangan pernah mendekati ku, kamu bisa pulang sekarang, wi." Titah Edgar dengan suara dingin. 


"Tapi mas, aku ..." Dewi tidak melanjutkan perkataannya saat Edgar menjawab telepon. 


"Ya saya akan kesana sekarang." Tanpa mempedulikan istri nya. Edgar berjalan keluar ruangan mengabaikan panggilan istri nya. 

__ADS_1


__ADS_2