
Sang Surya sudah menunjukan cahaya nya, menyinari pagi menyejukkan dikota kembang itu. Jalanan masih tampak sepi hanya ada beberapa orang yang mungkin mendapatkan sift pagi.
Edgar terbangun lebih dulu dari istri nya, mengingat pertempuran nya tadi malam pria itu tersenyum. Istri nya tadi malam entah mengapa lebih agresif dan mendominasi tubuh edgar. Mungkin karena hormon kehamilan nya atau rasa rindu yang membuncah. lihat lah sekarang bibir nya sudah mengecup seluruh wajah istri nya. Terlihat geliyatan pelan dari tubuh polos tanpa sehelai benang itu yang sangat sempurna menurut Edgar.
Dewi membuka mata dan pandangan pertama yang dilihat nya adalah wajah suaminya yang tengah tersenyum memandang nya. Merasa malu di pandangi seperti itu Dewi menarik selimut sampai menutupi wajahnya tapi terlambat Edgar sudah mencegah nya.
"Kenapa malu sayang? Tadi malam saja kamu lebih banyak ambil tindakan." Edgar terkekeh geli saat otak nya teringat kembali pada sikap menggoda istrinya semalam.
"Mas, jangan seperti itu aku malu."
"Tapi aku suka sikap mu semalam sayang." Edgar mendekatkan wajah nya pada wajah Dewi. " Sexy dan menggoda" bisik nya pada telinga istrinya.
Hembusan nafas nya membuat Dewi bergidik geli. "Aww!" Pekik Dewi saat Edgar tiba tiba menggigit telinga nya.
"Kamu menggemaskan sekali sayang, aku jadi ingin memakan mu lagi kan" pria itu tersenyum menyeringai.
"Sudah pagi mas, ayo bangun pasti Bu asih dan kinan sudah berada di dapur." Dewi bangkit dari tidur nya dan duduk. Ia lupa jika sekarang tubuhnya tidak ada penutup sama sekali seperti bayi baru lahir.
Mata Edgar terbelalak, bibir nya tertarik ke atas melihat gundukan keajaiban dunia itu terpampang jelas di depan matanya.
Dibawah sana junior nya sudah berdiri tegak, menyesak ingin keluar dari dalam celana boxer nya.
"Kamu sengaja menggoda ku sayang?"
Dewi mengkerut kan dahi bingung, dia mengikuti arah mata suaminya, dia tersentak buru buru menutup tubuh bagian depan nya dengan selimut. Tapi tangan Edgar sudah mencegah nya.
"Jangan di tutup, sepertinya lebih besar dari dulu ya wi. Lebih sexy dan menggoda." Edgar menyentuh gundukan kenyal itu meremas sebentar membuat istrinya mengeluarkan lenguhan menggoda. Tatapan nya turun pada perut istrinya tempat anaknya meringkuk dengan nyaman. "Enak sekali dia saat lahir pasti dia akan merebut mu dariku." Edgar memandang perut buncit istrinya, mengelus sebentar dan mengecup nya. Tangan Dewi terulur mengelus kepala Edgar.
"Dengan putramu sendiri kamu tidak boleh iri mas" ucap Dewi tersenyum.
Edgar mendongak mensejajarkan tubuhnya duduk disamping istrinya. Di peluknya tubuh mungil yang sedikit berisi itu. Pandangan mereka bertemu Edgar mengecup bibir istrinya, melu*matnya dengan lembut tapi itu hanya bertahan sebentar Edgar memasukan lidah nya *******, meraih rongga mulut nya dengan rakus. Ia melepaskan ciuman nya saat istrinya sudah mulai kehabisan nafas. Nafas mereka terengah-engah.
"Apa boleh sekali lagi?" Pinta Edgar dengan suara parau nya, wajahnya berubah menjadi menggemaskan,Dewi tidak tega jika menolaknya. Ibu hamil itu tersenyum dan mengangguk membiarkan suaminya melakukan nya sekali lagi.
__ADS_1
Edgar turun lidah nya menyusuri dua gundukan kenyal milik istrinya, mengecapnya pelan, menggigit nya kecil. Mata Dewi terpejam menikmati semua perlakuan Edgar. Tapi dia merasa lain luma*Tan Edgar terasa lebih rakus dan posesif. Seperti tidak mau jika ada orang lain yang merebutnya darinya.
"Kamu iri dengan putramu sendiri saat dia saja bahkan belum lahir kedunia mas." Batin Dewi dalam hati.
Dewi mende*sah tubuhnya bergetar saat merasai sesuatu dibawah sana diobrak Abrik. Tanpa sadar dia menekan kepala suaminya agar lebih dalam menyusuri inti tubuhnya dibawah sana. Edgar yang mengerti jika istrinya akan mendapat puncak kenikmatan nya membuat gerakan lidahnya lebih lincah.
Sang Surya sudah mulai meninggi, tapi sepasang suami istri itu seperti melupakan aktifitas lain yang harus dilakukan hari ini.
Bu asih dan Kinan yang sudah berada di ruang makan saling bertanya-tanya.
"Kenapa mba Dewi dan mas Edgar belum keluar juga Bu?" Tanya Kinan pada Bu asih yang sedang mengaduk segelas susu hamil untuk Dewi.
"Mungkin masih tidur kin." Jawab Bu asih santai, padahal ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana. Ia juga pernah muda tentu saja dia peka atas alasan apa sampai jam segini sepasang suami istri belum keluar dari kamarnya.
"Apa aku bangunkan saja ya Bu" ujar Kinan lagi, membuat Bu asih menghentikan aktifitasnya.
"Tidak usah, nanti juga keluar sendiri."
"Tapi ini sudah siang Bu, masa belum bangun juga. Apa yang dilakukan di dalam kamar Sampai sesiang ini ya Bu? Apa jangan jangan ..."
Merasa kesiangan, Kinan akhirnya memilih berangkat lebih dulu. Setelah berpamitan dengan Bu asih ia beranjak keluar rumah. Tapi baru sampai di halaman rumah langkah nya terhenti saat melihat wanita cantik berjalan dengan anggun nya ke arah nya.
***
Risa duduk di ruang tamu setelah di izin kan masuk kedalam rumah. Puas mengamati sekeliling rumah Dewi, Risa terhenyak saat melihat Edgar keluar dari kamar nya dengan penampilan biasa, dan rambut yang masih acak-acakan.
"Walau baru bangun tidur kamu masih saja terlihat tampan sekali gar."
Sejenak larut dalam lamunan nya, kesadaran Risa kembali saat Edgar mulai membuka suara.
"Dari mana kamu tau rumah Dewi?" Tanya Edgar singkat dengan wajah datar nya yang tanpa ekspresi tapi tidak melunturkan ketampanan calon ayah itu. Ia duduk di kursi seberang Risa.
"Dari papa, aku yang menggantikan papa menangani proyek di Banten." Jawab Risa, ia bersusah payah membujuk papanya agar menyetujui ia menangani proyek pembuatan cabang swalayan di Banten.
__ADS_1
"Kamu bisa datang di kantor saja tidak perlu kesini." Edgar menoleh ke arah pintu kamar nya. Takut takut istrinya akan bangun dan melihat Risa di sini.
Ya memang Dewi langsung meringsek tidur lagi setelah pergulatan mereka berdua tadi. Mungkin ia kelelahan.
"Ah, aku kesini bukan untuk membahas proyek kita. Aku kesini untuk memberi ini." Risa menyodorkan paper bag di atas meja. " Biasanya ibu hamil suka sekali dengan mangga muda." Risa tersenyum.
Edgar mengernyit ada angin apa sampai Risa dengan suka rela memberi mangga muda untuk istri nya. "Terimakasih"
"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Risa, gadis itu menyesap sedikit teh yang di buatkan Bu asih tadi.
"Aku berangkat agak siang,"
Risa mengangguk "Dewi belum bangun?"
"Belum, dia masih tidur." Edgar menoleh ke arah pintu kamar nya lagi.
"Apa tidak ada keperluan lagi, kalau tidak bisakah kamu pergi sekarang. Aku khawatir Dewi bangun dan melihat kita berdua disini."
Hati Risa seketika mencelos, sakit tapi tak berdarah. Edgar mengusir nya demi Dewi. "Kamu mengusirku?"
"Bukan maksud ku begitu. Tapi aku hanya khawatir. Dewi sedang hamil sekarang, apa yang dilihatnya biasa bisa menjadi sebalik nya dipikiran nya. Dia lebih sensitif." Pinta Edgar, wajah nya memelas seperti orang ketahuan selingkuh dirumah sendiri.
Bukan hanya itu, di kehamilan nya. Dewi juga berubah menjadi lebih agresif dan tidak malu malu menunjukan apa yang dirasakan nya. Edgar tersenyum saat mengingat betapa hot nya Dewi tadi pagi. Perut nya yang sudah besar menambah kesan sexy. Begitulah menurut Edgar.
Melihat wajah memelas Edgar akhirnya Risa memilih undur diri. Saat sedang melangkah tiba tiba kakinya tersandung badan nya jatuh ke belakang dan Edgar refleks menangkap nya. Pandangan mereka bertemu. Sampai mereka berdua sadar saat ada seseorang memanggil nama Edgar.
"Mas .."
_
_
_
__ADS_1
_
halo semua, boleh minta semangat nya nggak. tolong vote, like, dan komen nya agar author rajin updet tiap hari ya .. ❤️