Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 51


__ADS_3

Edgar sudah tidak sabar lagi ingin bertemu anak dan istrinya, begitu menemukan ruangan yang di maksud Edgar menerobos masuk tanpa peduli ada beberapa pasang mata yang menatap nya. 


Edgar menghentikan langkah nya, ditengah tengah ruangan matanya menyapu sekeliling. Ia tertegun sejenak saat melihat ruangan ini ternyata banyak penghuni nya. Dengan tatapan kesana kemari mencari keberadaan istri nya, ia bisa bernafas lega saat ada perawat yang membuka tirai pemisah dan memperlihatkan istri nya yang sedang terbaring di atas kasur perawatan. 


Dengan mengangguk pelan pada perawat yang selesai memeriksa istri nya, laki laki dengan wajah cemas itu berjalan mendekati istri nya. 


"Sayang" panggil nya pelan. 


Dewi yang masih dengan wajah mengantuk menoleh ke arah suaminya yang sudah meraih tangan nya. Dia harus terpaksa bangun saat perawat memeriksa nya tadi. 


"Apa yang terjadi?" Tanya Edgar lagi pada Dewi yang masih belum sadar akan keterkejutan nya melihat kedatangan suaminya. 


"Apa kalian baik baik saja?" Edgar menatap Dewi lalu pandangan nya turun ke perut buncit ibu hamil itu, tangan Edgar sudah berada di atas perut Dewi, mengelus nya dengan lembut. 


"Waktu bangun tidur aku keluar flek." Suara serak itu membalas pertanyaan Edgar. 


"Bagaimana bisa? Apa kamu kelelahan?" 


"Semalam aku tidak bisa tidur sampai subuh, baru tidur beberapa menit aku sudah terbangun lagi. Mungkin dedek nya protes mas." Jelas ibu hamil itu wajahnya menunduk menatap perut nya. 


"Kenapa tidak bisa tidur, apa kasur mu kurang nyaman?. Aku akan mengganti nya dengan yang baru agar kamu bisa tidur dengan nyaman." Edgar tersenyum meraih anak rambut Dewi dan menyelipkan nya di belakang telinga. 


Dewi menggeleng, ia tampak ragu akan menceritakan alasan sebenarnya kenapa ia sampai tidak bisa tidur. 


Tapi laki laki itu tampak nya sangat peka sekarang. 


"Ternyata bukan kasur ya, sampai sekarang kamu masih saja tidak mau terbuka dengan ku."


"Apa ada yang mengganggu pikiran mu?"  


Tanya nya "katakan saja." Imbuhnya tersenyum. 


Dewi menggeleng lagi, ia menatap air putih di atas meja. Edgar yang sejak tadi memperhatikan istri nya pun juga merasa peka. Di raih nya gelas itu lalu membantu Dewi minum. 


Edgar mengedarkan pandangannya ke sekeliling. 

__ADS_1


"Kenapa memilih kamar seperti ini? Pasti tidak nyaman kan, banyak pasien lain pasti kamu tidak bisa beristirahat dengan tenang. Aku akan meminta suster memindahkan mu ke ruangan yang lebih nyaman." 


Dewi meraih tangan Edgar saat laki laki itu sudah berdiri hendak melangkah kan kakinya. 


Edgar menoleh ke arah istri nya. 


"Aku mau disini saja mas, aku sengaja memilih kamar ini bukan karena aku tidak bisa menyewa ruangan yang lebih bagus. Tapi aku mempunyai pertimbangan ku sendiri." Cegah Dewi dengan wajah memelas nya. 


"Apa itu?" 


"Kalau disini, aku ada teman nya mas. Kalau bosan aku bisa mengobrol dengan tetangga sebelah. Lihat lah kamar mandi nya juga tidak terlalu jauh." Tunjuknya pada arah pojokan ruangan itu "kalau terjadi sesuatu ... aku bisa meminta bantuan mereka. Kalau sendirian aku khawatir ..."  


"Aku akan menemani dan menjagamu disini" potong Edgar yang sudah mengerti arah pembicaraan istri nya. 


Tampak Edgar tengah mendorong Dewi yang duduk di kursi roda, akhir nya ia berpindah kamar. Edgar melakukan nya sendiri berjalan melewati koridor rumah sakit menuju ruang perawatan yang dipilih nya ditemani perawat yang berjalan di belakang nya. 


Tampak wanita berseragam itu mengulum senyuman saat sesekali mendengar perhatian berlebihan yang di tunjukan Edgar pada Dewi. 


Sampai di dalam ruangan yang sudah di siapkan perawat, Edgar membantu istri nya bangun dari kursi roda. 


Dewi menggeleng "tidak perlu mas, ranjang sudah di depan mata aku bisa naik sendiri." Ya memang ibu hamil itu baik baik saja hanya saja bayi nya yang sedikit protes karena ibu nya tidak tidur dengan baik. 


"Hati hati" Edgar menuntun Dewi naik ke tempat tidur. 


"Pak, Bu saya permisi. Kalau ada apa-apa bisa menekan tombol di sebelah kiri. Kalau darurat bisa langsung memanggil perawat yang sedang berjaga di depan." 


Edgar mengangguk dan mempersilahkan perawat itu keluar. Saat tertinggal berdua ruangan tiba tiba di terpa hening. Kedua nya hanya saling pandang dengan pikiran masing masing. Suasana menjadi canggung, suami istri yang baru saja bertemu setelah beberapa bulan terpisah itu masih terdiam. Dewi menarik selimut sampai ke bahu nya. 


"Istirahat saja wi" Edgar memandang pergelangan tangan nya waktu sudah menunjukan 23: 15 malam. 


"Kalau membutuhkan sesuatu panggil saja, aku tidur di sofa" tunjuk nya pada arah sofa panjang tak jauh dari tempat tidur. 


Edgar melepas jaket nya sembari merebahkan diri. Tidur terlentang memandang langit langit kamar, pikiran nya mengembara pada saat hari hari Nya bersama Dewi sebelum Risa hadir di antara kedua nya. Ikatan pernikahan yang tadi nya bahagia sekarang menjadi asing bahkan hampir saja hancur. Istri nya melayangkan surat cerai di depan mata nya. 


Itu semua karena kesalahannya, kesalahan yang lahir beralaskan rasa kemanusiaan lebih memilih merawat Mantan kekasih nya. Sampai sampai pria itu lupa ada yang lebih penting yang harus di prioritaskan. Istrinya, bahkan sekarang ada calon buah hati mereka berdua yang tengah meringkuk di dalam rahim sang ibu. 

__ADS_1


Pria itu menghela nafas dengan berat, dia menyesali semua nya. Masih berharap Dewi mau meneruskan rumah tangga dengan nya. 


"Wi, apa benar sudah tidak ada cinta sedikit pun untuk ku?" Tiba tiba Edgar bersuara. Ia tahu istri nya belum tidur dari suara pergerakan tempat tidur. 


Deg -- 


Dewi berbalik melihat ke arah Edgar yang terlentang di atas sofa dengan satu tangan nya menopang kepala nya menjadikan nya bantal dan satu nya menutupi matanya. 


"Aku kecewa pada mu mas, maaf." Suara Dewi terdengar pelan.  


Edgar menoleh ke arah istri nya, ia tahu luka yang di torehkan pada istri nya terlalu dalam sampai membuat wanita itu berani melayangkan surat cerai di depan matanya. Ia pernah terluka sedalam ini juga, mencintai terlalu dalam, hingga luka itu berdarah dan sulit untuk sembuh lagi. 


"Selama ini aku sudah berusaha menyembuhkan luka di dalam hatiku karena keputusan mu dulu. Tapi sampai sekarang aku belum bisa menyembuhkan nya. Aku kecewa padamu mas ... Selama beberapa bulan ini yang menguatkan ku hanya anak ku. Aku harus tetap kuat demi diri nya." Dewi menghentikan suara nya sebentar " dan Sekarang aku takut kamu akan mengambil nya dari ku." 


Deg-- Edgar tersentak ia bangun dari tidur nya. Duduk di sofa memandang istri nya yang sudah sesenggukan. Edgar berjalan mendekat duduk di samping istri nya, hati nya seketika mencelos mendengar pernyataan istri nya. 


Direngkuh nya tubuh ibu hamil itu, di bawanya ke dalam pelukannya. Tidak ada penolakan yang ditunjukan wanita itu yang ada malah tangan nya memeluk erat tubuh suami nya. 


"Maaf, maaf kalau perkataan ku ternyata membuat mu kepikiran. Rupanya Kamu menganggap serius omongan ku kemarin ya." Edgar memeluk erat tubuh istri nya, di kecupnya berulang kali pucuk kepala istri nya. 


Dewi masih saja sesenggukan, beberapa menit berlalu pelukan yang tadi nya erat sudah melemas. Edgar merebahkan tubuh istri nya dengan hati hati. 


Menatap dalam wajah istri nya yang tertidur, jemari nya mengusap lembut wajah istri nya tak lupa menghadiahkan kecupan di kening hidung dan bibir. 


Sang empunya hanya menggeliat pelan saat merasa bibir suami nya lebih lama menempel di bibir nya. 


Sebelum beranjak dari ranjang istri nya Edgar sekali lagi menatap wajah teduh istri nya. 





__ADS_1


Hai aku arah senja, terimakasih sudah mau membaca novel ku. Maaf jika ada kata atau kalimat yang masih salah dalam penulisan. Kalian bisa follow ig ku @titindewy . Terimakasih . Semoga kita selalu di limpahkan kebahagiaan dari segala penjuru. 


__ADS_2