
Pernikahan yang di impikan setiap wanita adalah menikah dengan laki-laki yang di cintai nya, dan juga laki laki yang mencintai nya. Hari ini adalah hari pernikahan Edgar dan Dewi. Mereka sudah sah menjadi suami istri sekarang.
Terlihat dalam gedung hotel sudah berhias dengan sangat megah. Para tamu sudah berdatangan dan menikmati hidangan yang telah disajikan.
Wajah bahagia nampak jelas di wajah kedua mempelai yang sedang menyalami para tamu.
Dewi terlihat sangat cantik memakai gaun putih nya. Sedangkan Edgar terlihat sangat tampan dengan jas putih nya.
Saat semua orang tampak bahagia merayakan pernikahan ini. Di salah satu meja terlihat satu orang yang sedari tadi memasang wajah murung nya menatap kedua mempelai disana.
Wajah yang menunjukan sakit hati yang mendalam itu menunduk menyimpan semua kesedihan di balik wajah tampan nya.
"Sekarang kamu sudah menjadi milik orang lain. Apa aku bisa melepaskan mu dengan mudah sekarang?."
Tolong kalau saja ada yang punya cara menyembuhkan luka di hatinya. Pasti dia akan membeli nya berapapun harga nya.
Karena tidak sanggup terus menerus berada disana Erik memutuskan untuk keluar gedung tanpa mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Dia memilih Mencari ketenangan untuk hati nya.
Mia yang dari tadi memperhatikan Erik berjalan mengikuti Erik yang sudah keluar dari gedung.
Di cari nya disekeliling taman didepan gedung tapi tidak menemukan sosok Erik.
Dia berjalan kesana kemari sampai akhir nya ia melihat laki laki itu duduk dikursi taman dengan Menundukkan kepalanya.
"Ketemu! Syukur lah kamu tidak melakukan hal yang buruk."
Saat baru dua langkah mia ingin menghampiri Erik. Dia terkejut saat Erik memegang sebuah pisau kecil di tangan kanan nya.
Mia berlari cepat sampai sepatu yang dipakai nya terlepas. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya khawatir pada Erik yang mencoba bunuh diri.
"Hei apa yang kamu lakukan! Lepaskan pisau itu! Berikan padaku sini!" Mia memegangi tangan Erik mencoba merebut pisau yang berada ditangan nya.
Erik terus saja memberontak, dia menghindari agar pisau itu tidak melukai Mia yang saat ini menarik narik tangan nya.
"Hei apa yang kamu lakukan! Kamu bisa terluka! Jangan menarik tangan ku!"
__ADS_1
Mereka berdua terus berebut pisau kecil itu sampai akhir nya pisau itu melukai tangan Mia. Hanya goresan sedikit tidak perlu khawatir.
"Aww!! Darah! Huwaa... Tangan mu berdarah!" Ucap Mia panik. Berteriak teriak.
"Hei sadarlah! Tangan mu yang terluka bukan tangan ku!!" Teriak Erik menggoyang goyangkan bahu Mia.
"Apa!" Mia menoleh pada lengan nya. Dia tersadar jika yang terluka adalah tangan nya. Dia langsung terduduk lemas dikursi.
Bokong nya merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.
Dia langsung berdiri dari duduk nya.
"Apa ini?" Mengangkat plastik putih yang ternyata berisi apel.
"Itu apel! Kamu lihat? Aku sedang mengupas apel. Memang apa yang kamu pikirkan?" Menunjukan apel ditangan kirinya Berteriak marah.
"Ma .. maaf aku kira kamu akan bunuh diri dengan pisau itu seperti drama Korea yang Ku tonton." Ucap Mia memegangi tangan nya yang berdarah. rasa perih baru terasa sekarang saat ia sudah mulai fokus dan tenang. sedikit darah mengalir pada pergelangan tangannya.
"Memang nya kamu kira aku segila itu hingga mau bunuh diri!"
"Tunggu sebentar, asisten pribadi ku akan membelikan obat untuk luka mu itu!" Ucap nya datar.
"Tidak usah! Lagian ini hanya luka kecil." elak Mia.
"Diam lah disini sampai Dion datang. Jangan cerewet!" Kesal lagi.
Setelah beberapa menit akhir nya Dion datang dengan menenteng plastik ditangan nya. Menyerahkan pada Erik. Dia segera menjauh saat melihat Erik menggerakkan tangan nya. artinya menyuruh nya untuk pergi.
"Kemarikan tangan mu!" Perintah Erik pada Mia.
"Tidak usah biar aku sendiri saja!" Ucap nya mencoba merebut obat itu tapi Erik mencegah nya.
"Kamu itu cerewet sekali. Tinggal menurut apa susah nya sih!"
Erik menarik paksa tangan Mia dan Mia pun akhirnya menurut. mengamati yang dilakukan Erik. dengan telaten Erik meneteskan obat dan menutup nya dengan kain kasa.
__ADS_1
Deg..
Mia terus memandangi Erik, dadanya tiba tiba terasa berdebar.
"Sudah!" Ucap Erik setelah selesai mengobati tangan Mia.
"Eh.. terimakasih."
Erik menatap kaki Mia yang tidak memakai sepatu. Mengernyitkan kening. Mia sedang mengenakan dress selutut jadi kaki nya terlihat dengan sempurna.
"Kau berlari kesini sampai tidak sadar melepas sepatu mu hanya demi merebut pisau ku!" Ucap Erik menoleh pada Mia di samping nya.
Seketika Mia mengalihkan pandangan nya,
"Hei, aku kan hanya takut kamu bunuh diri tadi. Seharus nya kau berterimakasih padaku!" Ucap Mia dengan kesal.
"Memang apa yang ada di otak mu itu! Pikiran mu buruk sekali. Sudah lah sebaik nya kamu masuk." Ucap Erik yang langsung pergi meninggalkan Mia yang duduk terpaku menatap kepergian nya.
"Huh! Sudah dua kali dia meninggalkan ku seperti ini! Dasar kulkas dua pintu!"
tak jauh dari sana, Dion yang sedari tadi melihat interaksi antara Erik dan Mia pun menyunggingkan senyuman.
Mia berdiri dari duduk nya tatapan nya tertuju pada Dion, Dion tersenyum lalu Menundukkan kepala nya dan berlalu pergi menyusul Erik.
"huh lihat itu! asisten nya saja ramah dan tampan sekali. beda sekali dengan tuan nya yang dingin itu!" gumam Mia lalu ia mencari sepatu nya yang terlepas tadi.
.
.
.
.
Terimakasih
__ADS_1