
Mendengar perkataan Dava emosi Edgar membuncah, dia berdiri lalu mencengkram kerah kemeja Dava.
"Kamu tidak tahu sepenting apa dia bagiku, jadi jaga ucapan mu!" Bentak Edgar.
Dava tersenyum sinis sama sekali tidak menunjukan rasa takut nya.
"Tapi ucapan ku benar kan! Atas alasan apapun dia itu sudah meninggal kan mu, mencampakkan mu dengan sepihak!"
Edgar melepas cengkraman nya pada kemeja Dava. Dia kembali duduk disofa mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gar, coba lihat Dewi dari sisi yang lain. Lihat ketulusan nya. Dia berusaha minta maaf padamu walaupun itu bukan kesalahannya. Istri mana yang tidak sakit hati kalau tau suaminya masih mengharapkan mantan kekasih nya."
Dava kembali mengingat kan kala melihat Edgar yang sudah sedikit tenang.
"Tapi aku sampai sekarang masih mengingat nya, belum sanggup melupakan nya. Dia masih ada di hatiku." Ucap Edgar tertunduk.
"Aku juga tidak ingin menyakiti Dewi, aku mencintai nya. Tapi bayangan Risa selalu memenuhi pikiran ku sampai Dewi sepertinya tersisih kan dari sana." Makin tertunduk semakin dalam.
"Cobalah selalu fokus kan dirimu dengan Dewi gar, lihat dia. Lihat dia dari sisi yang lain. Lihat senyum nya saat dia tertawa bersamamu. Lihat perlakuan nya terhadap mu. Lihat ketulusan nya. Dia itu wanita baik baik. Aku berani menjamin." Ujar Dava dengan lantang, ya dia berani menjamin Dewi wanita yang baik baik dan tidak pernah tersandung masalah yang buruk dalam hidup nya.
Wanita sederhana dengan senyum manis di bibir nya itu tidak hanya cantik saja di wajah tapi juga di hati nya. Setiap pekan Dewi selalu berbagi pada pengamen jalanan, pengemis, dan orang yang tidak mampu lain nya. Soal asmara pun gadis itu tidak pernah pacaran, dan hanya memiliki satu orang teman dekat yaitu Erik. Andai saja Dewi tidak menjadi istri Edgar, Dava pasti akan menjadi orang pertama yang akan merebut hatinya.
Edgar hanya terdiam mencerna semua perkataan Dava.
"Sekarang Dia belum tahu alasan mu marah hanya karena ia ingin mengganti bunga itu, ini belum terlambat. Aku harap kamu sudah bisa mendapat jawaban sebelum kamu memberitahu soal Risa padanya." Tegas Dava, keprofesionalan nya dalam bekerja lenyap hanya karena kesal dengan sikap laki laki yang menjadi atasan nya ini.
"Minta maaf lah padanya sepulang kerja nanti. Aku sudah membereskan semua keperluan mu untuk bulan madu. Tatap lah dia gar." Ucap Dava lalu berjalan keluar meninggalkan Edgar yang duduk terdiam.
Di ruangan nya Dava memainkan bolpen di jemari nya, mengerikan benda itu pada meja.
"Kenapa aku seperti penasehat hubungan saja, padahal aku kan belum menikah. Sial! Kasihanilah aku author, Carikan aku kekasih juga ya" gumam Dava,
__ADS_1
***
Senja sudah menampakan sinar ke emasan nya menghangat kan setiap sudut kota ini. Merasuk kedalam jiwa dan pikiran menenangkan setiap kegelisahan, rasa lelah pada setiap penghuni semesta ini.
Mobil Edgar yang dikendarai Dava sudah masuk ke halaman rumah nya saat hari sudah gelap, berhenti tepat di depan pintu.
Dava menghentikan Edgar kala ia hendak keluar dari mobil.
"Gar ingat perkataan ku tadi!"
Edgar tidak menjawab, dia keluar dari mobil lalu masuk kedalam rumah nya mengabaikan teriakan Dava yang terus memanggil nya.
Edgar menaiki tangga berlajan ke arah kamar nya. Ucapan Dava masih tercetak jelas di kepalanya. Setelah sampai didepan kamarnya Dia membuka pintu pelan keadaan didalam kamar gelap hanya ada sedikit cahaya dari arah luar karena gorden yang sedikit terbuka.
Dia menatap istrinya yang berbaring dikasur, mendekati istrinya berjongkok dihadapan istrinya. Menyibak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, menyembunyikan nya dibelakang telinga.
Edgar menatap wajah Dewi dengan sendu. Dia merasa bersalah atas sikap nya tadi.
Makin dalam menatap wajah tenang istrinya saat tidur dia semakin merasa bersalah saat tersadar mata yang bengkak di wajah istri nya. Dia tahu pasti istrinya menangis tadi.
"Maaf kan aku" ucap Edgar lirih. "Kamu pasti sedih sekali tadi ya."
Puas memandangi wajah istrinya,Dia berjalan ke arah ruang pakaian. Masuk ke dalam kamar mandi mengguyurkan air pada tubuhnya yang lengket penuh dengan keringat.
Saat sudah selesai dia keluar tampak lampu sudah menyala, lalu menatap istrinya yang ternyata sudah terbangun dan duduk disisi ranjang.
"Mas aku minta maaf. Maaf kalau kedatangan ku sudah membuat mu tidak nyaman tadi." Ucap Dewi tertunduk meremas jari dipangkuanya, dia tidka berani menatap mata suami nya. Bentakan suami nya tadi masih teringat jelas.
Edgar tertegun, masih terdiam di tempat nya. Dia yang harus nya meminta maaf pada istrinya, tapi malah istrinya Yang meminta maaf padanya sekarang.
Dava benar, dia harus melihat sisi lain dari Dewi. Inilah sisi lain istrinya, tetap meminta maaf tidak peduli walaupun itu bukan kesalahannya.
__ADS_1
Dewi yang merasa tidak mendapatkan jawaban dari Edgar akhirnya berucap.
"Aku buatkan minum dulu mas."
Dewi baru saja melangkah pergi tapi Edgar sudah menarik tangan nya, membawanya kedalam pelukan.
"Maafkan aku, aku salah. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu padamu."
Dewi hanya terdiam, sampai beberapa menit berlalu ia menatap wajah suaminya ketika Edgar melepas pelukan nya.
"Maaf sayang."
Mendengar ucapan suami nya Dewi langsung menghambur memeluk Edgar dengan erat.
Edgar mengusap kepalanya, mencium pucuk kepala istrinya.
Perasaan nya merasa lega seketika. Edgar menangkup pipi istrinya menghadiah kan ciuman diseluruh wajahnya.
Ciuman yang awal nya lembut kini menuntut lebih jauh. Edgar Menuntun istrinya menuju ranjang tanpa melepas ciuman di bibir istrinya. Membaringkan nya di kasur, dia mulai melepas semua pakaian yang dikenakan istrinya sampai tidak ada yang tersisa. Mencium nya lagi Menyentuh semua tubuh istrinya tanpa terkecuali.
Melihat istrinya yang sudah terlena dengan belaian nya ia berganti melepas pakaian nya sendiri.
Terdengar erangan dari keduanya sebelum kegiatan panas itu terhenti.
Setelah selesai dengan urusan nya, edgar mencium kening istrinya tersenyum menatap istrinya yang tertidur.
"Sayang kamu sudah tidur?"
Tidak ada jawaban, istrinya benar benar terlelap karena kelelahan meladeni keinginan nya.
Edgar menusuk nusuk pipi istrinya dengan jari.
__ADS_1
"Kenapa kamu imut sekali." Merasa Gemas sendiri.
Lalu ia ikut berbaring disamping istrinya, memeluknya erat tubuh mungil sang istri yang menghangatkan itu. tanpa terasa ia pun ikut terlelap.