
"lalu untuk apa Dewi menemui mu?" Tanya Edgar datar.
"Aku juga tidak tahu. Ditelfon dia bilang mau minta tolong padaku. Tapi aku juga tidak tahu mau minta tolong apa."
Edgar menghela nafas sebentar, netranya menatap keseliling ruangan tersebut.
"Kenapa kamu memilih tempat seperti ini!? Memang kamu pikir aku tidak sanggup membayar ruangan yang VVIP hah?" Marah lagi setelah kesadaran nya kembali.
"Hei, tunggu dulu penjelasan ku. ruangan VVIP sedang di siapkan. Jadi nunggu dulu disini sementara. Kalau sudah sadar baru dipindah keruangan lain."
"Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit yang lebih bagus. Aku khawatir padanya. Kenapa dia belum bangun juga?" Memegang erat tangan istrinya, memberi kekuatan. Dia sedikit frustasi sekarang.
"Rumah sakit ini yang paling dekat. Tenang lah."
"Permisi.. saya periksa dulu keada'an pasien ya." Ucap salah satu perawat yang datang membawa cairan infus baru.
"Suster kenapa istri saya belum bangun juga?" Tanya Edgar yang tidak sabaran.
"Masih pengaruh obat pak" jawab perawat itu dengan santai.
Setelah kepergian perawat Edgar menyuruh Dava untuk pulang. Tapi Dava tidak mau.
Siang berlalu, hari pun berganti sore. Tapi Dewi masih enggan membuka matanya. Dia masih terlelap Edgar dengan setia menemaninya. Tangan laki laki itu tidak pernah lepas dari sang istri.
Edgar menatap Dewi, disentuh nya pipi itu. Rasa bersalah semakin menyeruak kala merasakan pipi istri nya yang sedikit tirus. Selama sebulan ini Dewi memang tidak teratur pola makan nya. Dia hanya memikirkan bagaimana caranya mempertemukan Edgar dengan Risa.
di usap nya pipi nya perlahan, Edgar mengabsen semua kesalahan yang telah di perbuat nya terhadap istri nya.
selama ini selalu menyakiti hati istrinya, tidak mempedulikan nya, bahkan meluapkan kesalahan pada istri nya padahal itu bukan kesalahannya.
Edgar tersenyum saat merasakan pergerakan kecil dari jemari tangan nya, Dewi menggerakkan kepala pelan,matanya tampak berkedut dan mengerjap beberapa kali sampai akhirnya terbuka.
__ADS_1
"Sayang kamu bangun." Edgar bangun dari duduk nya dan mendekatkan wajahnya pada Dewi. Wanita itu masih lemah kala ingin mengeluarkan suara.
"Mas.." kata pertama yang terucap setelah sadar. Dia bisa melihat wajah sang suami dihadapan nya walau masih samar.
"Ya sayang, kamu membutuh kan sesuatu?" Edgar mencondongkan tubuhnya agar bisa mendengar jelas permintaan istri nya.
"Mi..num mas" ucap Dewi lemah.
Edgar dengan segera meraih gelas disamping nya. Membantu Dewi minum dengan sedotan.
"Aku dimana mas?" Bisik Dewi lemah, tidak bertenaga.
"Ini di rumah sakit sayang. Kamu.. kamu kecelakaan." raut penyesalan terlihat jelas di wajah laki laki itu.
"Kamar ini sempit sayang, aku akan meminta perawat memindah kan mu. Pasti tidak nyaman ya.Sebentar ya aku tinggal dulu." Mencium tangan istrinya lembut,menoleh pada Dava yang duduk di sofa memberi tugas lewat sorot mata. Dafa yang mengerti langsung mengangguk. lalu berlari keluar memanggil perawat.
Beberapa menit perawat datang dan segera memindahkan Dewi ke kamar VVIP rumah sakit ini.
Edgar mengangguk, lalu mendekati istrinya lagi.
"Mas maafkan aku, aku tidak bisa menemukan keberadaan Risa." Sesal dewi. Dia berencana mendatangi Dava untuk meminta tolong mencari keberadaan Risa. Tapi kenyataan saat membuka mata adalah dia terkulai lemas disini.
"Sstt.. jangan bicara lagi sayang. Maaf kan aku." Menciumi tangan sang istri lalu membenamkan wajahnya pada pundak sang istri. Dewi bisa melihat punggung bergetar suami nya.
"Maafkan aku yang selama ini menyakitimu. Maafkan aku atas kebodohan ku. Aku tidak akan mencari keberadaan Risa lagi. Aku tidak akan mengingat nya lagi. Aku hanya akan mencintai istriku"
"Aku mencintai mu sayang." Edgar mendongak menatap sang istri dengan berurai air mata yang sudah membasahi wajah nya.
Deg..
Kata kata yang selama ini di tunggu Dewi akhirnya keluar juga dari bibir Edgar. Dewi terharu sampai meneteskan air matanya. Dia bahagia sekali.
__ADS_1
"Aku juga mencintai mu mas."
Edgar memeluk erat tubuh lemah istri nya.
"Kamu boleh menghukum ku wi, kamu boleh memukul ku. Lakukan saja asal kamu jangan meninggalkan ku." Mengusap lembut pipi Dewi.
"Bahkan jika aku mempunyai beribu kesempatan untuk menyakitimu, aku tidak akan melakukan nya mas." Lirih Dewi tersenyum menatap suaminya.
***
Selama seminggu Dewi dirawat dirumah sakit. Dia meminta Edgar agar tidak memberitahu keadaan nya pada ibunya atau mertuanya.
Hari ini Dewi sudah diperbolehkan oleh dokter untuk pulang.
"Sebentar sayang aku akan menebus obat mu." Ucap nya pada Dewi yang duduk di kursi roda.
"Ya mas."
Setelah selesai Edgar menghampiri istrinya lagi.
"Kamu istirahat ya, aku akan bicara sebentar dengan Danu dan pak Rudi." ujar Edgar saat Mereka sudah sampai dirumahnya.
"Ana, Bu asih" panggil Edgar pada asisten rumah tangga nya.
Saat melihat ana dan bu asih menghampiri nya, Edgar menyerahkan tas yang berisi pakaian dirinya dan Dewi saat dirumah sakit.
"Tolong antar istri ku ke kamar, aku kedepan sebentar."
Ana dan Bu asih memapah Dewi untuk ke atas.
"Pelan pelan saja nona." Ujar Bu asih saat menaiki tangga.
__ADS_1