
Edgar keluar dari mobil saat sudah sampai di pelataran rumah sakit. tanpa menunggu mobil di parkir dengan benar oleh sang sopir, pria yang masih memakai setelan kerja itu melenggang masuk ke dalam rumah sakit.
Berlari menuju lift dengan terburu buru calon ayah itu tidak mempedulikan semua orang yang menatap ke arah nya. Pikiran nya saat ini hanya ruang Arjuna no 6. Tempat istri nya sedang berjuang dan menahan sakit demi melahirkan putra nya.
Brak- pintu di buka dengan keras, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan menatap padanya.
Senyum tersungging dari wanita yang berbaring meringkuk di brangkar saat melihat kedatangan Edgar.
"Mas..." Panggil Dewi lirih, sedetik kemudian ia mengernyit menahan sakit yang tiba-tiba datang.
Edgar menghampiri istri nya. Bu aish yang sejak tadi berada di samping Dewi pun menyingkir. Mempersilahkan Edgar untuk menyemangati istrinya. dipegang nya erat tangan sang istri dan mengecup kening nya.
"Ya sayang aku disini." Edgar tertegun, saat matanya menangkap ekpresi istrinya yang tengah menahan sakit. ia tahu istrinya sekarang sedang berjuang menahan sakit yang konon katanya rasanya seperti 20 tulang patah bersamaan.
"Sakit mas, akh.." pekik Dewi saat kontraksi menghampirinya kembali.
"Ya sayang, sabar ya sebentar lagi buah hati kita lahir." Edgar menempelkan pegangan tangan nya dengan sang istri ke pipi nya.
Tangan satunya yang bebas mengelus perut besar istrinya yang bentuk nya sudah tidak karuan. " Cepat lahir ya sayang, jangan buat mama mu susah." Kecupan berlabuh di perut besar istrinya.
Bu asih dan pak Rudi yang duduk di sofa mengulum senyuman. Pasangan suami istri itu merasa terharu. Mengingat perjalanan cinta Edgar dan Dewi selama ini tidak mudah. Banyak rintangan yang harus di lewati keduanya. Tapi ia bisa bernafas lega melihat pemandangan di depan nya saat ini.
"Mas mama dan ibu tidak dikabari?" Di saat sakit mereda, Dewi berusaha menyampaikan.
"Nanti saja sayang, setelah bayi nya lahir."
3 jam berlalu, pembukaan Dewi baru bertambah satu menjadi pembukaan 5. Ibu hamil itu mengatur nafas nya saat rasa sakit menyerang. Di pandanginya sang suami yang masih setia duduk menemani nya.
Tangan ibu hamil itu terulur dan berlabuh pada kepala sang suami. Di usap nya lembut.
"Mas istirahat saja, pasti lelah kan." Ucap Dewi saat melihat suaminya sedang berusaha menahan kantuk nya.
"Hmm, tidak sayang aku tidak mengantuk." Elak Edgar, tapi wajah nya tidak bisa berbohong. Raut wajah kelelahan dan mata yang memerah menjadi bukti pria itu sedang mengantuk.
"Aku tidak apa-apa mas. Nanti kalau sakit nya datang lagi aku akan membangunkan mu."
"Baiklah, aku akan tidur sebentar sayang. Kalau sudah sakit lagi panggil aku. Aku tidur di sofa ya.." ucap Edgar, sebelum beranjak ke sofa ia menyempatkan mencium kening istrinya sekilas.
Waktu sudah menunjukan 01:30 dini hari saat Dewi merasakan serangan yang luar biasa pada perut nya. Sakit yang melebihi sebelumnya, membuat Dewi tidak kuasa menyerukan nama suaminya.
"Mas.." lirih dewi setelah merasa cairan merembes dari inti tubuhnya. Ia sedang berdiri berpegangan pada brangkar.
Berjalan tertatih-tatih dan berpegangan pada tembok. Dewi menghampiri suaminya yang terlelap di sofa.
"Mas" panggil dewi, ini memang pengalaman pertama baginya. Tapi ia bisa merasakan kalau ini adalah saat nya sang putra lahir.
__ADS_1
"Mas.."
"Mas Edgar..."
"Mas.."
"Argh!.." Dewi memekik menahan sakit yang rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Edgar tersentak dan langsung terduduk, pria yang masih mengantuk itu menguap beberapa kali mencoba mengembalikan kesadaran nya.
"Ya sayang ada apa?" Tanya Edgar dengan suara serak nya.
Edgar menghampiri istrinya yang membungkuk berpegangan pada sofa. Menahan rasa luar biasa yang menyerang perutnya.
"Mas air ketuban nya sudah keluar, mungkin dedeknya sudah mau keluar mas." Lirih Dewi ia mencengkram pinggang Edgar dengan kencang.
Edgar terkejut, tanpa basa basi ia berlari keluar ruangan. Mencari keberadaan perawat atau suster yang tengah berjaga.
Tapi baru sampai beberapa langkah dari pintu kamar istrinya. Pria itu berhenti dan menepuk jidat nya dengan keras saat mengingat sesuatu.
Berjalan cepat kembali masuk ke ruangan istri nya, membuat sang istri yang masih berpegangan pada ranjang mengernyit heran. Tapi matanya mengikuti arah Edgar berjalan. Dan ia juga baru sadar saat sang suami memencet bel di atas tempat tidur nya guna memanggil perawat.
"Maaf sayang, karena panik aku jadi tidak bisa berfikir." Edgar merutuki kebodohan nya sendiri. "Kenapa aku keluar ruangan ya, padahal disini tinggal memencet bel." Edgar menggeleng.
"Apa sakit sekali wi?" Tanya Edgar, pria itu mengernyit saat pinggangnya di remas dengan sangat kuat oleh sang istri.
"Sshh,, sa,,sakit nya.. ti..dak.. terki..Ra.. mas. Argh!" Kembali Ibu hamil itu meremas pinggang suaminya saat rasa sakit tak ada jeda.
Benar saja, tak lama suster wanita memasuki ruangan nya dengan cepat.
Suster itu mengulum senyuman saat melihat Dewi merintih memeluk pinggang sang suami.
"Ada apa pak , Bu?" Tanya sang suster tersenyum ramah.
"Istriku seperti nya sudah mau melahirkan sus. Katanya sakit nya tidak terkira." Ucap Edgar dengan polosnya mengulang ucapan sang istri tadi.
Suster mengerti, " baiklah Bu, ayo berbaring dulu. Saya akan memeriksa nya." Ucap sang suster membantu Dewi berbaring di brangkar.
Suster itu memeriksa cairan yang merembes sampai kaki Dewi.
"Sssh.. sakit mas" Dewi merintih memegang erat lengan suaminya saat rasa sakit bertubi-tubi dan tanpa jeda menyerang nya.
Edgar menelan Saliva dengan susah melihat istrinya yang menahan sakit. Entah kenapa pria itu merasa perutnya juga ikutan mulas.
Melepaskan tangan istrinya Edgar bersuara dengan suara tertahan "sebentar sayang, perutku tiba-tiba mulas." Pria itu berlari menuju kamar mandi. Tidak mempedulikan suster yang menatapnya heran.
__ADS_1
"Sabar ya Bu, saya akan panggilkan dokter. Sudah waktunya melahirkan."
Tak lama suster itu keluar ruangan memanggil rekan kerja nya yang lain. Dewi ditinggal sendirian. Ia menatap kamar mandi dengan kesal. Saat sakit menyerang, suaminya malah ke kamar mandi.
***
Dewi sudah merbahkan diri di atas brangkar dan siap di dorong keluar kamarnya menuju ruang persalinan oleh suster yang memeriksa nya tadi.
"Sus tolong panggilkan suamiku. Dia masih berada di dalam kamar mandi sejak tadi." Dewi berkata lirih menoleh ke arah pintu kamar amndi yang masih tertutup rapat dan hening. Ia mau suaminya ikut Dengan nya, Dewi tidak mau berjuang sendirian.
Salah satu suster pun menurut dan berjalan menuju kamar mandi.
Edgar yang sedang di dalam kamar mandi meremas perut nya. Perutnya terasa mulas tapi dari tidak mengeluarkan apapun. Ia menoleh pada pintu saat terdengar pintu di ketuk dari luar dan seorang wanita memnaggilnya.
"Pak, pak.. apa masih lama. Ibu Dewi akan di pindah ke ruang persalinan." Ucap sang Suster sambil mengetuk pintu berulang.
Mendengar itu Edgar segera merapikan celananya kembali dan membuka pintu. Mengabaikan rasa mulas diperutnya yang tak kunjung hilang.
Melewati begitu saja suster yang berdiri di dekat pintu, Edgar menghampiri istrinya.
"Ya sayang."
"Kamu ngapain mas lama sekali!" Kesal Dewi.
"Maaf sayang, perutku mulas sekali."
Edgar berjalan mensejajari brangkar dan memegang erat tangan Dewi untuk menyemangati.
"Hanya buang air besar kenapa lama sekali mas." Ibu hamil itu masih sempat-sempatnya mengomel.
"Maaf sayang, melihatmu kesakitan perutku juga ikut mulas. Tapi saat di kamar mandi malah tidak ada yang keluar satu pun. Aku merasa di prank sayang." Edgar mengeluh, disaat seperti ini perutnya ikut-ikutan mulas dan tak mau bersahabat.
Beberapa suster yang mendengar keluhan Edgar mengulum senyuman sambil menggelengkan kepala.
Dewi sudah tidak bisa menyimak, kontraksi yang di rasakan nya kian dahsyat. Ia hanya bisa menggenggam erat tangan suaminya. Berusaha menyalurkan rasa sakit yang kian mendera tanpa jeda.
"Mas, jangan tinggalkan aku sekalipun perutmu merasa tercabik-cabik. Aku tidak mau ditinggal sendirian mas." Pinta Dewi lirih, menggigit bibir menahan sakit.
"Ya sayang" jawab Edgar, ia memegangi perut nya sendiri. Rasa mulas juga melandanya. Tapi saat merasakan genggaman Dewi yang kian kuat, Edgar tidak tega melihat Dewi menahan sakit.
.
Satu bab lagi, kisah ini akan benar-benar berakhir. Silahkan pindah di novel ku yang satunya jika masih ingin melihat karyaku.
Terimakasih semua ❤️
__ADS_1