Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 76


__ADS_3

Beberapa menit saling duduk berhadapan di sebuah restoran, Edgar memandang pak Hardi dengan tatapan menelisik. 


"Saya tahu, anda pasti tahu dimana keberadaan istri saya. Kenapa anda melakukan itu semua om?" Tanya Edgar to the point. Lebih memilih memanggil om seperti dulu. 


Pak Hardi tertawa, lalu ia menyesap kopi sebentar. Membuang pandangan nya ke arah luar.  


"Aku hanya membantu Dewi untuk segala keputusan yang telah di ambil nya. Kalau aku tidak melakukan nya pasti aku tidak akan pernah melihat seorang Edgar Permana putra bisa berpenampilan seperti sekarang ini kan?" Pak Hardi menyindir tampilan Edgar, memang sejak istri nya pergi meninggalkan nya. Pria itu berpenampilan berantakan dan tidak rapi berbeda seperti kebiasaan nya. 


"Saya serius om. Dimana istri saya?" Tanya Edgar dengan jengah. 


"Kenapa terburu-buru? Apa sekarang rasa kehilangan sudah menguasai semua hatimu?" Pak Hardi tersenyum sinis. 


Edgar diam, ucapan pak Hardi memang benar adanya. Ia merasa sangat kehilangan sang istri. 


"Tapi ini semua terjadi karena Risa om, putri anda!"  


"Aku tahu semua ini terjadi karena ulah putri ku. Tapi bukankah kesalahan terbesar ada padamu?. Kamu sendiri yang memilih tidak percaya pada istri mu. Kamu melukai hati nya dengan menuduh nya berselingkuh. Cemburu membutakan mata mu. Padahal kalau sedikit saja kamu bisa mengontrol emosi mu, semua ini tidak akan terjadi. Bukankah seharus nya kamu berkaca pada masa lalu, dulu istri mu ada di posisi itu. Melihat suaminya mementingkan wanita lain. Sekarang tuhan memberi mu pelajaran, apa rasanya ditinggal Dewi beserta bayimu?" Pak Hardi sengaja berkata menohok. 


Edgar masih terdiam. 


"Untung saja kamu cepat menyadari nya dan menyesali semua nya. jadi aku tidak perlu berlama-lama menyembunyikan keberadaan istri mu. Istri mu berada di rumah teman ku. Tenang saja, Dewi dan bayi nya baik baik saja." Terang pak Hardi.  


Ucapan pak Hardi membuat Edgar sedikit lega mendengar keadaan istri dan bayi nya. 


"Tolong beritahu saya dimana istri saya berada om." Pinta Edgar, tulus. 


"Tentu saja tapi dengan satu syarat." 


*** 


Beberapa hari kemudian. 


Dewi yang baru pulang dari rumah tetangga berjalan kaki bersama Danan. Ibu hamil itu menginginkan kelengkeng. Dan dia mendapat kan nya. Dengan hati yang tersenyum senang. Ibu hamil itu menenteng satu ikat kelengkeng yang ia petik sendiri. 


Ya kelengkeng itu ia petik dari rumah tetangga, karena tetangga baik hati memberi buah manis itu geratis. Beberapa Minggu berada di sini, Dewi sudah kenal dan akrab dengan beberapa tetangga. 


"Bahagia sekali seperti nya Dew?" Tanya Danan menoleh pada Dewi, ibu hamil itu menolak saat Danan menawari agar kelengkeng itu ia saja yang bawa. 


"Memang seperti ini rasanya mas, kalau saat hamil terus menginginkan sesuatu dan langsung mendapat kan rasa bahagia nya berkali-kali lipat." Jawab ibu hamil itu tersenyum sumringah. 


Danan yang melihat wajah ceria Dewi ikut merasa bahagia, melihat senyum nya membuat dadanya semakin berdebar. 


"Dew, mau duduk disitu dulu?" Tawar Danan menunjuk sebuah bangunan kecil dari kayu di pinggir sawah. Terlihat sungai kecil di bawah nya untuk mengaliri sawah. 


"Boleh"  


Danan membantu Dewi duduk di atas gubuk itu karena agak terlalu tinggi hingga membuat wajah mereka berdekatan, Dewi bisa merasakan hembusan nafas Danan yang dekat sekali dengan nya. Hingga mata mereka saling menatap satu sama lain. 


Entah kenapa Danan ingin sekali mencium bibir wanita di depan nya, wanita yang baru pertama kali ia temui dan berhasil membuat dadanya berdegup kencang. Waktu terasa berhenti. Danan memajukan bibir nya pada bibir Dewi. 

__ADS_1


Saat bibir pria itu hampir menempel, Dewi yang sadar lalu memalingkan wajah nya. 


"Ah maaf dew, aku bukan bermaksud untuk .." 


"Sudahlah mas," ucap Dewi menghentikan perkataan Danan. 


Beberapa menit mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.  


"Dew" 


"Mas" 


Berbarengan mereka saling memanggil. 


"Kamu dulu mas," ucap Dewi. 


Danan mengangguk " Dew, kalau suami mu nanti menceraikan mu. Datanglah padaku, Aku siap menerima mu dan bayi mu." 


Deg-- ucapan Danan membuat Dewi tersentak. 


"Mas" 


Danan menatap dalam Dewi di samping nya. "Aku akan dengan tulus menerima mu dan bayi mu. Aku serius Dew. Aku mempunyai perasaan lebih terhadap mu." 


"Tapi mas, aku masih belum..." 


Dewi terdiam, ia memandang Danu dengan perasaan bingung. 


"Selama aku mengenal mu, aku tahu kamu pria yang baik mas. Kamu bisa mendapatkan wanita yang baik juga untuk mu. Bukan seperti ku. Sebentar lagi statusku akan berubah..." 


"Aku tidak peduli Dew. Aku akan merima mu dengan perasaan bahagia tanpa mempedulikan status mu. Aku mencintai mu Diandra Dewi." Ucap Danan dengan tegas. 


"Tapi aku tidak bisa mas, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku belum bisa menentukan apa-apa." Dua bulir air mata jatuh membasahi pipi ibu hamil itu. 


"Disaat suamiku lebih mementingkan wanita lain. Tapi kamu malah memperlakukan ku dengan sangat baik. Kamu menuruti semua keinginan ku. Aku merasa tidak pantas untuk mu." 


"Dew.." Danan memegang erat tangan Dewi. 


"Kamu berhak bahagia, jangan terpaku pada masa lalu. Bayi mu butuh seorang ayah. Kamu harus menata masa depan mu demi bayi mu."  


Ibu hamil itu semakin terisak, segera Danan memeluk tubuh bergetar Dewi. 


"Aku janji akan membahagiakan mu, saat kamu sudah siap membuka hati. Aku berharap nama ku yang pertama mengisi hati mu." 


*** 


Edgar yang baru sampai di bandara mencari-cari orang yang menjemput nya. Ya akhir nya pak Hardi memberitahu keberadaan Dewi pada Edgar. Ia sudah meminta teman nya untuk menjemput Edgar di bandara. 


Menunggu orang yang menjemput nya Edgar terkejut saat ada seseorang memanggil nya. 

__ADS_1


"Pak Suryo" gumam Edgar pelan, matanya terus mengamati langkah kaki pria yang semakin berjalan mendekat padanya. 


"Mas Edgar apa kabar?" Tanya pak Suryo setelah berada di depan Edgar. 


"Baik pak, bapak apa kabar?" 


"Saya baik mas." 


"Pak Suryo sedang menjemput seseorang ?" Tanya Edgar. 


"Benar mas, mari ..." ucap pak Suryo mempersilahkan Edgar mengikuti nya. 


Edgar bingung dengan ucapan pak Suryo, ia masih berdiri mematung sampai pak  Suryo menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Edgar yang kebingungan. 


"Ayo mas mobil saya ada di sebelah sana." 


Edgar bingung " saya pak?" Tanya nya  menunjuk dirinya sendiri. 


" Ya mas, mari" jawab pak Suryo lagi. 


Edgar yang masih kebingungan hanya menurut dan mengikuti pak Suryo di belakang nya. 


 di dalam mobil yang melaju pak suryo menceritakan semua nya pada Edgar. Tentang pak Hardi yang memintanya untuk menjemput Dewi di stasiun sampai meminta nya untuk membuat Dewi mau tinggal dirumah nya. Awal nya pak Suryo terkejut saat pak Hardi mengirim foto wanita yang harus ia jemput, dan ternyata foto itu adalah foto Dewi. Pengantin baru yang dulu ia pandu untuk berbulan madu di kota Yogya. 


Tak lama setelah pak Hardi meminta tolong padanya, pak Suryo mendapat telefon dari Dewi yang juga meminta tolong padanya agar di jemput. Sungguh kebetulan sekali. 


"Awalnya saya juga kaget mas saat ternyata nak Dewi yang harus saya jemput." Ucap pak Suryo tanpa menoleh pada Edgar, pria tua itu menatap lurus pada jalanan. 


Mendengar panggilan pak Suryo pada Dewi yang memanggil nya nak, bisa di pastikan hubungan pak Suryo dan Dewi pasti sudah dekat bak keluarga. 


"Lalu bagaimana keadaan istri ku pak?" Tanya Edgar. 


"Selama ini baik-baik saja semua nya. Hanya kadang sering melamun." Jawab pak Suryo yang seketika membuat hati Edgar mencelos.  


Ia tahu, itu semua karena dirinya. Hingga membuat Dewi terus kepikiran dan bersedih. 


"Jadi bapak teman nya pak Hardi?" Tanya Edgar penasaran. 


"Ya, saya dan Hardi dulu satu desa, bahkan kami satu sekolah saat SD dan SMP sampai akhirnya Hardi pindah ke ibukota mengikuti kedua orang tua nya yang punya bisnis disana." Terang pak Hardi. 


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan kota Yogya dengan segala keistimewaan nya. 


Dewi dan danan sampai di depan rumah, Danan menatap bingung saat mobil pak Suryo berada di halaman dan tampak di teras sedang mengobrol dengan seseorang. 


"Apa ada tamu mas?" Tanya Dewi di sebelah Danan, masih menenteng seikat kelengkeng di tangan kanan nya. 


Saat sampai tepat di depan rumah Dewi terkejut saat mengenali tamu yang sedang berbincang dengan pak Suryo dan Bu sri. 


"Mas Edgar ..."

__ADS_1


__ADS_2