
Edgar yang sudah sampai di rumahnya langsung berlari menaiki tangga. Tanpa mempedulikan ana yang ingin memberitahu sesuatu padanya. Dia tidak sabar bertemu istrinya. Dibukanya pintu kamar dengan keras. Istrinya tidak ada didalam kamar. Membuka kamar mandi tapi tidak ada juga. Dengan segera ia berlari ke lantai bawah menghampiri ana yang sedang mengganti vas bunga dengan bunga yang baru.
"Ana! Kemana istriku?" Tanya Edgar ngos ngosan karena berlari dari atas kebawah.
"Nona sedang keluar tuan." Jawabnya gemetar.
"Kemana?"
"Saya tidak tahu tuan!" Ana terlihat takut saat melihat raut wajah Edgar.
Pandangan Edgar teralihkan pada bunga yang dipegang ana.
"Ganti bunga diseluruh rumah ini dengan bunga mawar! Minta uang pada Bu asih untuk membelinya!" Perintahnya pada ana. Ana yang mendengar itu langsung mengangguk.
Edgar berlari tunggang langgang menuju gerbang. Dia berhenti di depan pos satpam. Terlihat Danu dan pak Rudi sedang bermain catur dengan ditemani kacang kulit.
Melihat majikan nya datang mereka segera berdiri dan membungkukan badan memberi hormat.
"Kenapa kamu disini? Istriku kemana?" Tanya nya tidak sabaran. Saat melihat Danu bersama pak Rudi berarti istrinya pergi keluar sendiri. Fikiran fikiran negatif bermunculan di kepalanya.
"Nona sedang keluar pak." Jawab Danu gemetar melihat tatapan tajam majikannya.
"Kenapa kamu tidak mengantarnya?"
"Nona melarang saya mengantarnya pak. Nona memilih naik ojek online yang dipesan nya." Tertunduk.
"Apa! Bagaimana kamu bisa membiarkan itu..."
Edgar berhenti ketika ada panggilan masuk di ponsel nya.
"Ya hallo dav. Ada apa?"
"Cepat kerumah sakit sekarang. Istrimu kecelakaan!!"
__ADS_1
"Apa!"
"Ya Tuhan bagaimana bisa!"
Edgar langsung berlari menuju mobil nya melajukan nya dengan cepat keluar dari perumahan.
Danu dan pak Rudi sama panik nya dengan Edgar. Khawatir terjadi sesuatu dengan nonanya. Lebih khawatir lagi jika nanti dia dipecat dari pekerjaannya karena membiarkan majikan nya keluar tanpa sopir.
"habis lah aku!" gumam Danu sambil menepuk jidat nya. ia tidak sanggup membayangkan jika nantinya ia di pecat. bahkan lebih buruk dari itu, dia harus jauh dengan pujaan hati nya.
Edgar mengumpat kesal kala terjebak lampu merah. Menekan klakson mobil berulang ulang sampai pengendara yang lain juga tampak mengumpat nya. Merutuki nya dengan cacian dan umpatan kasar. Edgar tidak peduli di pikiran nya hanya dipenuhi bagaimana dengan keadaan istrinya.
"Sial! Kenapa lama sekali!"
Sesaat lampu merah sudah berubah warna. Edgar segera menancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berebut jalan dengan pengendara lain. Tak jarang kendaraan lain akhirnya mengalah dan berjalan dipinggir kala mendengar klakson dari mobil Edgar.
"Bertahan lah sayang, jangan tinggal kan aku.!"
"Kamar mawar no 2 dimana sus?. Atas nama Diandra Dewi." Tanyanya saat di depan meja resepsionis.
"wanita yang kecelakaan tadi ya pak, dari sini naik kelantai tiga. Belok ke kekiri kamar nya berada di deretan sana pak." Ucap wanita yang berpakaian perawat itu.
Edgar segera berlari ke arah tangga dengan tubuh gemetar. Takut pada kenyataan yang akan dihadapinya. fikiran fikiran negatif muncul di waktu yang tidak tepat, membuat nya tambah frustasi. ia Berlari cepat menuju ruangan yang di tunjukan perawat tadi padanya.
Brak..
Edgar membuka pintu ruangan dengan keras. Segera berlari menghampiri seseorang yang tubuhnya sudah di tutupi dengan kain putih.
"Dewi jangan tinggal kan aku sayang. Aku salah selama ini. Tolong maafkan aku."
"Pak anda siapa?" Tanya seseorang yang berada dibelakang Edgar.
Tapi Edgar tidak peduli sama sekali. Dia masih saja menangis. mengguncang kan tubuh tak berdaya di atas brangkar.
__ADS_1
"Sayang bangun, aku janji tidak akan membuat mu menangis lagi. Aku janji tidak akan mendiamkan mu lagi." Menggoyangkan tubuh yang terbaring didepan nya.
"Aku janji tidak akan mencari Risa lagi. Tidak! Bahkan aku tidak akan mengingat nya lagi." Menangis tersedu sedu.
Orang yang di belakang nya hanya membatin. "Hah jadi dia selingkuh dan sekarang menyesal telah menyia-nyiakan istrinya. huh! Rasakan itu!"
Edgar merasa bahunya ditepuk seseorang, tapi dengan cepat dia menepisnya.
"Jangan ganggu aku. Aku ingin berbicara dengan istriku!"
"Edgar!" Teriak dava yang menyibakkan tirai pemisah antara ranjang pasien.
Edgar menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
"Kenapa kamu disana dav. Istriku ada disini."
"Hei kemari bodoh! Itu orang lain bukan istrimu. Istrimu disini." Ujar Dava dengan ucapan yang ditekan. melirik orang di belakang Edgar seperti nya itu keluarga orang di atas ranjang.
Dengan tangan gemetar Edgar membuka penutup kain itu. Dia terkejut ternyata itu bukan istrinya. Dia menoleh ke belakang terlihat keluarga pasien itu sedang menangis dan heran.
"Maaf pak Bu. Saya kira ini istri saya. saya turut berbela sungkawa." Ucap Edgar pada keluarga itu.
"terimakasih orang asing, huhu"
Edgar berlalu melangkahkan kaki ke arah Dava. ia masih menoleh sebentar ke arah keluarga itu.
"Kau bodoh sekali! Makanya lain kali pastikan dulu agar tidak malu seperti itu." Ujar Dava ia tergelak keras tidak bisa menahan tawanya.
Edgar tidak menggubris Dava dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu dia duduk dikursi samping istrinya. Memandang dengan tatapan sendu pada Istrinya yang masih berbaring dengan mata terpejam.
"Apa yang terjadi padanya dav?" Tanya Edgar tanpa menoleh pada Dava. Tatapan matanya masih menatap pada istrinya dengan kepala yang diperban. mengusap pipi istri nya lembut.
Dava menceritakan semua yang terjadi pada Edgar. Dengan di buat dramatis sedikit. Agar laki laki bodoh di depan nya ini semakin menyesal.
__ADS_1