Albern & Lily

Albern & Lily
First Night


__ADS_3

Acara pernikahan Albern dan Lily ditutup dengan makan malam bersama di kediaman utama keluarga Brylee, yaitu kediaman Nyonya Ginna. Para kerabat dekat yang hadir tampak memenuhi meja makan besar di rumah tersebut yang biasanya kosong. Hanya Robbin saja yang menjadi perwakilan dari pihak pengantin perempuan karena Evan dan Carissa telah kembali ke Singapura sejak sore hari. Ada urusan penting berkaitan dengan rumah sakit yang tidak bisa diundur sehingga kedua orang tua Lily itu pun tak bisa menunda kepulangan mereka sampai besok.


Namun begitu, suasana makan malam tetap menyenangkan. Restu yang telah dapatkan sepenuhnya dari Evan dan Carissa, membuat Lily tak merasa buruk sedikit pun meski kedua orang tuanya itu mesti pulang cepat. Lagipula, sosok Robbin cukup membuat suasana menjadi segar. Sepupu Lily itu mampu mencuri perhatian orang-orang dari keluarga Brylee yang biasanya sulit untuk dibuat terkesan. Waktu pun berlalu tanpa terlalu disadari berkat Robbin, sampai akhirnya semuanya pamit undur diri karena malam telah semakin larut.


"Ma, Pa, kami ke kamar duluan. Lily sepertinya sudah sangat kelelahan," pamit Albern pada kedua orang tuanya saat para tamu undangan telah pulang.


Aaron dan Zaya mengiyakan, sehingga Albern pun langsung membawa Lily ke salah satu kamar di kediaman Ginna yang menjadi kamar pengantin mereka. Tak dia pedulikan kata-kata olokan dari Zivanna yang cukup membuat telinga memerah.


"Kak, tidak apa-apa kita masuk duluan? Mama, Papa dan Kak Zi, kan, masih di ruang keluarga." Lily bertanya setelah mereka telah berada di dalam kamar. Dia merasa sedikit tidak enak pada mertua dan iparnya itu.


"Tidak apa-apa. Acaranya juga sudah selesai. Aku sudah gerah, mau mandi," sahut Albern.


"Aku juga sudah gerah, sih."


"Mau mandi bersama?" tanya Albern sambil tersenyum jahil.


Terang saja Lily langsung membeliakkan matanya mendengar itu, sehingga Albern tak bisa menahan tawa.


"Aku bercanda. Aku mandi duluan, ya. Setelah itu baru kamu," ujar Albern kemudian sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Lily masih terlihat membeku di tempat. Dadanya bergemuruh tak menentu karena candaan yang Albern lontarkan sebelumnya. Entah kenapa, di sudut hatinya yang paling dalam, ada sedikit perasaan kecewa karena kalimat menggoda yang diucapkan oleh Albern tadi ternyata bukan sungguhan.


"Astaga, Lily. Kotor sekali isi kepalamu," gerutu Lily pada dirinya sendiri. Dia pun berinisiatif membersihkan make up di wajahnya terlebih dahulu, lalu menyiapkan pakaian ganti untuk Albern dan untuk dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Albern keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Dia tampak mengenakan bathrobe dengan rambut yang setengah basah. Aroma sabun yang harum dan segar langsung menguar dari tubuh lelaki itu, membuat Lily kembali terkesiap.


"Kamu tidak jadi mandi?" tanya Albern melihat Lily hanya mematung di tempatnya.


"Ah, iya," sahut Lily dengan agak tergagap. Buru-buru dia bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Malu rasanya kedapatan memandangi Albern yang hanya mengenakan barthrobe saja. Apalagi kalau sampai Albern tahu apa yang ada di kepalanya saat ini. Perempuan itu tengah membayangkan sesuatu yang ada di balik bathrobe yang Albern kenakan sampai dadanya berdesir hebat.


"Astaga, ada apa dengan kepalaku? Kenapa pikiranku jadi oleng begini?" rutuk Lily sambil menghantukkan kepalanya di dinding kamar mandi beberapa kali. Setelah itu, dihelanya nafas panjang beberapa kali agar desiran di dadanya sedikit berkurang.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup tenang, Lily pun akhirnya menanggalkan pakaiannya dan mengguyur tubuhnya dengan air dari shower. Sensasi segar langsung terasa, membuat pikiran mesumnya tadi menjadi agak buyar. Setelah beberapa saat, dia pun selesai membersihkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe juga seperti Albern tadi.


Langkah Lily terhenti saat menyadari Albern tengah duduk di atas tempat tidur sambil menatap ke arahnya lekat. Lelaki yang telah resmi menjadi suaminya itu tampak telah mengenakan piamanya, tapi ternyata itu tak membuat kepala Lily bisa berpikir dengan benar. Tatapan mata Albern lagi-lagi menimbulkan desiran halus yang membuat tubuh Lily meremang tanpa alasan.


"Aku ... mau memakai ini dulu," ujar Lily sembari meraih gaun tidurnya yang sebelumnya telah dia siapkan dia atas tempat tidur.


"Mau memakainya di mana?" tanya Albern saat melihat Lily hendak masuk kembali ke dalam kamar mandi.


"Ya?"


Albern terlihat berusaha menahan tawa.


"Pakai di sini saja. Tidak perlu ke kamar mandi," ujar Albern dengan sedikit menggoda.


Mata Lily kembali melebar dengan pipi yang sedikit memerah. Tampak dia menelan ludahnya dengan dengan agak kesusahan.


"Di sini?" tanyanya meyakinkan.


Mau tak mau, Lily akhirnya melakukan seperti yang Albern katakan. Dia mengenakan gaun tidurnya di hadapan lelaki itu, tentu saja dengan dada yang bergemuruh semakin tak karuan. Setelah itu, Lily duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Sesekali tampak dia kembali menghela nafas panjang. Berusaha untuk sedikit meredam gemuruh yang sejak tadi tengah dia rasakan.


"Mau sampai kapan kamu duduk di sana?" tanya Albern.


Sekali lagi Lily agak tergagap dibuatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup perempuan itu, dia merasa sangat gugup berhadapan dengan Albern.


"Kenapa wajahmu kelihatan tegang begitu?" tanya Albern lagi.


"Aku tegang?" Lily meraba-raba wajahnya sendiri.


"Tidak, kok. Siapa yang tegang?" kilahnya.


Albern tertawa kecil, lalu mengisyaratkan Lily untuk mendekat padanya.

__ADS_1


"Kemarilah," pinta Albern.


Lily mengangguk pelan. Dia akhirnya bangkit dan melangkah ke arah suaminya itu.


"Duduk di sini," pinta Albern lagi sambil menepuk tempat di sampingnya.


Lagi-lagi Lily patuh. Dia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Albern.


"Sejak kita masuk ke kamar ini, kamu melamun terus. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Albern sambil menarik tubuh Lily agar lebih merapat padanya.


"Tidak ada," sahut Lily cepat.


"Tidak ada?" Albern memeluk Lily dari belakang dan merebahkan kepala Lily di dadanya.


Terang saja Lily kembali terkesiap dibuatnya. Dadanya yang sejak tadi sudah bergemuruh tak menentu, kini terasa semakin tidak karuan.


"Lalu kenapa kelihatannya ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Albern sambil membelai rambut Lily dan memberikan kecupan ringan pada pucuk kepala istrinya itu.


Lily masih tak menjawab. Tubuhnya bergetar hebat hingga rasanya sulit untuk membuka mulut.


"Apa karena ini malam pertama kita, makanya sekarang kamu memikirkan sesuatu?" Sekali lagi Albern bertanya. Kali ini suaranya terdengar setengah berbisik di telinga Lily.


Pipi dan telinga Lily langsung memanas mendengar apa yang Albern ucapkan barusan. Belum lagi cara Albern mengatakannya yang begitu sen_sual.


"Kak Al, apa-apaan, sih?" gumam Lily sambil menyembunyikan wajahnya.


Albern kembali tertawa sembari menghadapkan tubuh Lily padanya. Dirangkumnya wajah perempuan yang baru dinikahinya itu dengan kedua tangannya. Tanpa bisa ditahan, Albern pun menghujani setiap jengkal wajah Lily dengan kecupan lembut.


"Sekarang kamu istriku. Kita boleh melakukan apa saja yang sebelumnya tidak boleh dilakukan," bisik Albern lagi dengan suara rendah dan berat.


"Kak Al ...," gumam Lily. Hanya itu yang bisa dia katakan karena saat ini dadanya bergemuruh dengan hebat.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2