Albern & Lily

Albern & Lily
Demi Sebuah Restu


__ADS_3

Lily akhirnya memberitahukan pada mama dan papanya jika dia bersedia melanjutkan kuliahnya di luar negeri, tapi tentu saja dengan sejumlah syarat. Salah satunya adalah jika dirinya telah menyelesaikan kuliah dan berhasil mewujudkan impiannya, maka tak ada lagi alasan bagi kedua orang tuanya untuk tak memberikan restu pada hubungannya dan Albern.


Evan menyetujui syarat dari Lily, tapi tentu dia juga punya syarat yang mesti Lily penuhi juga. Selama masa kuliahnya, Lily dan Albern harus break dan tak boleh berhubungan sama sekali. Hal itu dikarenakan Lily tak akan fokus pada kuliah dan cita-citanya jika masih melakukan komunikasi dengan Albern. Begitulah yang Evan yakini.


Awalnya Lily menolak mentah-mentah peraturan sepihak yang dibuat oleh papanya itu. Namun pada akhirnya, gadis itu sadar jika dirinya tidak bisa mundur lagi. Dia tak punya pilihan selain pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya dan meraih cita-citanya tanpa berhubungan dengan Albern sama sekali, untuk sementara. Lily pasrah. Apapun yang akan terjadi pada dirinya dan Albern serta bagaimana hubungan mereka kelak, semuanya dia serahkan pada Tuhan saja. Biarlah waktu yang menjawab akan seperti apa akhir dari kisah cintanya bersama Albern nanti.


"Wah, papamu kejam juga, ya. Masa kamu dan Kak Al benar-benar tidak boleh berhubungan sama sekali." Zivanna berkomentar saat Lily menceritakan syarat yang diajukan papanya jika dirinya ingin mendapatkan restu.


"Ya mau bagaimana lagi. Kalau aku tidak menyetujuinya, pergi kuliah ke luar negeri pun akan sia-sia saja. Papa tetap tidak akan memberikan restunya padaku. Sedangkan aku tidak punya cukup keberanian untuk kawin lari dengan Kak Al," sahut Lily dengan setengah putus asa.


"Lagipula tidak mungkin Kak Al mengambil tindakan ekstrim seperti itu. Bagaimanapun, nama baik keluarga tetap harus dijaga. Kalau Kak Al sampai nekat membuat skandal yang mencoreng nama baik keluarga sekaligus menggoncang perusahaan, bisa-bisa papaku mengeluarkan dia dari kartu keluarga," ujar Zivanna lagi.


"Papamu sepertinya tidak mau mengambil resiko. Tidak akan ada gunanya menguliahkanmu jauh-jauh ke luar negeri jika kamu masih tetap berhubungan dengan Tuan Muda. Yang ada kamu malah asyik berhubungan dengan Tuan Muda dan tak ingat dengan tujuanmu jauh-jauh ke luar negeri. Bukan tidak mungkin, kan, Tuan Muda datang ke sana diam-diam untuk menemuimu. Pada akhirnya, kalian hanya sedang berpindah tempat kencan saja." Kali ini Darrel yang berkomentar. Seperti biasa, sahabat Lily yang satu ini selalu punya pemikiran lain. Mungkin karena dia sendiri yang berjenis kelamin laki-laki di antara mereka bertiga, jadi dia akan melihat setiap hal dari sudut pandang yang berbeda.


"Berlebihan sekali. Aku juga tahu batasan, tidak mungkin sampai mengorbankan kuliahku demi untuk hal seperti itu," sanggah Lily takn terima.


"Oh, ya?" Darrel justru terlihat meragukan pernyataan Lily.

__ADS_1


"Iyalah, mana mungkin aku membiarkan kuliahku berantakan," sahut Lily lagi.


"Lalu, kalau misalkan kamu sedang ada kelas, tapi tiba-tiba Tuan Muda datang menemuimu dan mengajakmu pergi ke suatu tempat, kira-kira kamu bakal menolak ajakan Tuan Muda untuk mengikuti kelasmu atau bolos masuk kelas dan pergi bersama Tuan Muda?" tanya Darrel.


"Eh?" Lily terlihat mengatup mulutnya seketika sembari sedikit menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali. Meskipun terdengar mudah, tapi pada kenyataannya yang pertanyaan yang diajukan Darrel barusan sangat sulit untuk dia jawab. Benar-benar sebuah pilihan yang sulit


"Sudah terlihat dengan jelas kenapa papamu meminta supaya kamu tidak berhubungan dengan Tuan Muda terlebh dahulu selama kamu berkuliah di luar negeri. Itu karena kamu masih sangat labil, belum terlalu bisa mengendalikan diri. Jika di luar negeri kamu masih berhubungan dengan Tuan Muda, hampir bisa dipastikan kuliahmu bakal berantakan," ujar Darrel lagi.


"Sembarangan. Tidak akan sampai separah itu, Darrel. Jika bukan aku yang tahu batasan, tapi setidaknya Kak Al yang lebih tahu. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang berpotensi merugikanku. Dia pasti tidak akan membiarkan aku mengabaikan kuliahku." Lily masih menyangkal.


"Siapa yang tahu. Mungkin memang benar seperti itu, tapi papamu kelihatannya tidak berpikir demikian. Sepertinya beliau masih belum terlalu percaya pada Tuan Muda. Mungkin saja syarat kalian mesti break selama kamu kuliah di luar negeri adalah cara papamu untuk melihat kesungguhan Tuan Muda padamu. Jika Tuan Muda mampu melewatinya dan tetap menunggumu sampai akhir, berarti Tuan Muda memang benar-benar mencintaimu dengan setulus hati."


"Walaupun memang agak sulit diterima, tapi aku rasa yang dikatakan Darrel tadi ada benarnya juga. Mungkin ini memang cara papamu untuk menguji kesungguhan Kak Al." Zivanna menimpali.


"Tapi tetap saja, hal itu agak kejam," tambah Zivanna lagi dengan setengah bergumam.


Lily menghela nafasnya dalam. Meskipun mungkin benar apa yang dikatakan oleh Darrel tadi, tapi tetap saja sulit baginya menerima jika dirinya harus break dengan Albern. Dia tak sanggup membayangkan menjalani hari-harinya tanpa berkomunikasi sama sekali dengan lelaki itu. Di sisi lain, dia juga takut perasan Albern padanya akan menjadi memudar karena hal itu.

__ADS_1


Tapi sekali lagi, tak ada yang bisa Lily lakukan selain menerima apa yang disyaratkan oleh papanya jika ingin kedepannya hubungannya dengan Albern mendapatkan restu. Kali ini Lily merasa seperti sedang bertaruh besar-besaran. Dia hanya berharap apa yang dikhawatikannya tidak menjadi dan hubungannya dengan Albern masih akan tetap berlanjut.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Kak Al? Apa dia sudah tahu syarat yang diajukan oleh papamu itu?" tanya Zivanna.


Lily mengangguk. Dia memang sudah menceritakan hal itu pada Albern, dan Albern menerimanya begitu saja tanpa ada protes sedikit pun. Sebenarnya hal itulah yang membuat hati Lily saat ini menjadi agak risau. Dia takut diamnya Albern menandakan jika saat ini lelaki itu sudah mulai menyerah pada hubungan mereka.


"Lalu bagaimana dengan reaksi Kak Al?" tanya Zivanna lagi.


"Biasa saja. Kak Al tidak ada masalah dengan syarat yang diajukan oleh Papaku," jawab Lily dengan agak tak bersemangat.


Zivanna terdiam selama beberapa saat, tampak sedang berpikir .


"Aku yakin ini juga tidak mudah untuk Kak Al, tapi dia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapanmu. Kak Al pasti tidak ingin membuatmu merasa semakin buruk, Lily," ujar Zivanna akhirnya, berusaha menghibur Lily.


Lily mengangguk. Hatinya sedikit lebih tenang mendengar apa yang Zivanna ucapkan tadi.


"Tidak usah khawatir. Aku sangat mengenal seperti apa Kak Al. Jika dia sudah berjanji, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menepatinya meskipun dia harus berkorban. Kak Al itu seperti papaku, sangat teguh memegang janji. Jadi yang perlu kamu lakukan adalah belajar dengan baik dan wujudkan cita-citamu. Jangan buat Kak Al menunggu terlalu lama. Oke?" Zivanna berusaha memberi tersenyum.

__ADS_1


Lily berusaha membalas senyum Zivanna dan mengangguk sekali lagi. Tampaknya dia memang harus melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Zivanna tadi demi untuk sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hubungannya dengan Albern, sebuah restu.


Bersambung ....


__ADS_2