Albern & Lily

Albern & Lily
Kekhawatiran Zivanna


__ADS_3

Zivanna menatap Darrel dengan ekspresi yang sulit dijabarkan. Antara syok dan juga tak percaya. Albern dan Lily adalah dua orang sosok yang menurutnya tak mungkin melakukan hal-hal seperti itu.


"Kamu yakin Kak Al dan Lily melakukan itu?" ulang Zivanna lagi.


Darrel mengangguk, tapi kali ini dengan sedikit ragu. Dia mulai mempertanyakan pemikirannya sendiri.


"Kalau memang seperti itu, aku sendiri yang akan menegur mereka. Ini tidak bisa dibiarkan!" seru Zivanna kemudian.


"Zu, tunggu ...." Darrel menahan ujung lengan baju Zivanna. Saat ini, pemuda itu tampak semakin ragu.


"Apa mungkin aku salah lihat, ya?" gumam Darrel tak yakin.


"Apa?" Zivanna menoleh sembari menautkan kedua alisnya.


"Yang kulihat saat itu, bayangan mereka menyatu ...," ujar Darrel lagi dengan agak menggantung.

__ADS_1


Zivanna terdiam. Ikut merasa bingung.


"Untuk memastikannya, aku harus bertanya langsung pada mereka berdua," ujar Zivanna.


"Apa perlu sampai seperti itu? Lily dan Tuan Muda pasti akan langsung mengira kalau aku mengadu padamu."


Zivanna terdiam sejenak.


"Tapi kalau memang benar mereka sampai melakukan hal itu, bisa gawat. Ini tidak bisa dibiarkan. Apa yang kamu lihat itu hanya boleh dilakukan olah pasangan yang sudah menikah. Sedangkan Kak Al dan Lily, mereka baru berencana untuk menikah suatu hari nanti," ujar Zivanna dengan risau.


Darrel terdiam mendengar penuturan Zivanna.


Embusan napas panjang terdengar dari mulut Darrel. Sepertinya, apa yang dia saksikan saat itu bukanlah hal yang sepele.


"Sejujurnya, aku merasa tidak nyaman saat melihat Lily juga karena merasa tidak enak. Setiap bertemu dengannya, aku jadi ingat bayangan yang aku lihat malam itu. Entah mereka benar-benar melakukan hal yang seperti itu atau aku hanya salah lihat, yang jelas, aku merasa tidak enak saja," ujar Darrel akhirnya mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Jalan satu-satunya, aku mesti memastikan sendiri apa yang mereka lakukan," ujar Zivanna kemudian dengan penuh tekad.


"Apa itu tidak terlalu ikut campur, Zi? Tuan Muda kan jauh lebih dewasa. Lily juga tidak bisa lagi dibilang anak kecil," sahut Darrel.


"Masalahnya, ini demi nama baik keluarga. Kamu pasti pernah dengar sejarah pernikahan mama dan papaku. Makanya, sekarang Mama sangat ingin agar anak-anaknya menjalin hubungan yang sehat. Kami tidak diperkenankan melakukan hal tak senonoh sebelum menikah," ujar Zivanna lagi.


Sekali lagi, Darrel terdiam. Tentu saja dia tahu seperti apa dulu kedua orang tua Zivanna menikah. Memang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan kepada anak cucu. Pantas saja jika saat ini Zaya-mamanya Zivanna- tak ingin anak-anaknya mengulang cerita yang serupa. Kecelakaan karena sebuah insiden saja terdengar memalukan, apalagi kecelakaan karena kesengajaan.


"Ayo, kita kembali ke kampus. Kamu tidak perlu khawatir. Nanti aku akan cari cara supaya bisa menginterogasi Lily dan Kak Al tanpa melibatkanmu. Yang jelas, aku harus memastikan mereka berdua tidak melakukan yang tak seharusnya," ujar Zivanna.


Mau tak mau, Darrel mengangguk mengiyakan ucapan Zivanna. Di sudut hatinya yang paling dalam, dia mulai merasa resah. Takut kalau-kalau yang dilihatnya malam itu hanya kesalahpahaman saja. Lily dan Albern tak melakukan seperti yang terlihat. Ya. Mudah-mudahan saja seperti itu.


Darrel sungguh berharap Lily tetap gadis polos seperti yang dikenalnya selama ini. Dia tak rela jika temannya itu menjadi gadis liar yang sanggup melakukan hal terlarang hanya karena sedang kasmaran. Cinta bukanlah alasan untuk melakukan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan.


Bersambung ...

__ADS_1


Tetap like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2