Albern & Lily

Albern & Lily
Sebuah Keyakinan


__ADS_3

Melihat Asisten Dhani yang hanya terdiam dan tak bisa menjawab pertanyaan Lily, Zivanna pun menjadi semakin yakin jika Albern ada di dalam ruangannya. Gadis itu menerobos maju dan mengetuk-ngetuk pintu ruang kerja Albern dengan agak kasar.


"Kak Al! Kakak ada di dalam, kan? Buka pintunya, Kak! Lily ada di sini dan ingin bertemu dengan Kakak. Dia akan segera pergi, Kak Al!" Zivanna memanggil-manggil Albern dengan agak berteriak. Seumur hidupnya, tak pernah dia berbicara pada kakaknya dengan meninggikan suara seperti itu.


Tak ada jawaban apapun dari dalam ruangan tersebut, seakan Albern memang tidak ada di sana. Namun baik Lily maupun Zivanna, keduanya sangat yakin jika Albern sebenarnya ada dan sedang mendengarkan dari dalam.


"Kak Al, please. Apa yang Kakak lakukan sekarang benar-benar bukan sesuatu yang pantas untuk Kakak lakukan. Kak Al sendiri yang membuat Lily menyetujui keinginan papanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Lalu kenapa saat Lily mau berangkat sekarang, Kakak malah bersembunyi seperti anak kecil yang sedang merajuk? Kakak sungguh tidak mau bertemu dengan Lily dan mengucapkan selamat jalan?" tanya


Zivanna lagi dengan lantang. Gadis yang biasanya selalu anggun itu kali ini amat emosional.


"Nona, saya mohon jangan seperti ini. Nona bisa menarik perhatian dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang kantor," ujar Asisten Dhani berusaha untuk menenangkan Zivanna.


"Apa peduliku dengan penilaian orang-orang di sini?!"


"Tentu saja itu penting, Nona. Kalau sampai romur tidak baik tentang Nona menyebar, itu bisa membuat reputasi Nona menjadi buruk." Sekali lagi Asiten Dhani mengingatkan.


"Sudah aku bilang, aku tidak peduli. Kalau tidak mau aku membuat keributan di sini, cepat suruh Kak Al keluar!" Zivanna tampak bersikeras. Gadis yang biasanya sangat menjaga tata krama itu sampai tak peduli lagi pada reputasinya.


"Nona, saya mohon, tolong kembali saja. Tuan Muda benar-benar sedang rapat. Kalau Nona tidak percaya, tanyakan saja pada semua sekretaris yang ada di sini," ujar Asisten Dhani meyakinkan. Para sekretaris yang ada di sana pun mengiyakan ucapan lelaki itu.


"Bohong! Kalian pikir aku ini anak kecil yang bisa kalian bohongi seperti ini?" Zivanna malah terlihat marah.


Lily yang melihat hal itu pun menjadi khawatir. Dia takut Zivanna menjadi lepas kendali dan benar-benar membuat keributan jika mereka tak segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Kak Zi, sudahlah. Kak Al sepertinya benar-benar sedang rapat," ujar Lily kemudian sambil meraih tangan Zivanna.


Terang saja Zivanna langsung menoleh ke arah Lily dengan agak membeliak.


"Kamu percaya kalau Kak Al sedang rapat?" tanya Zivanna dengan agak keheranan.


Lily tak langsung menjawab. Sebenarnya dia juga merasa sangat yakin kalau Albern ada di dalam ruangannya. Tapi jelas sekali lelaki itu tidak mau menemuinya. Lebih lama berada di tempat ini hanya akan membuat masalah saja, karena jika sampai Zivanna membuat kekacauan di kantor di sini karena dirinya, hal itu tentu tidak akan bagus untuk mereka berdua.


"Kalau Kak Al ada di dalam, tidak mungkin dia tidak mau keluar, kan?" Lily balik bertanya sambil berusaha untuk tersenyum. Jelas sekali ada kepahitan yang berusaha dia sembunyikan di balik senyumannya itu.


"Lebih baik antarkan aku pulang saja, Kak. Nanti kalau terlambat, aku bisa ketinggalan pesawat," pinta Lily lagi dengan nada ironi.


"Tapi, Lily ...."


Zivanna menghela nafasnya. Dia sangat tahu apa yang sedang Lily rasakan saat ini. Meski berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tapi terlihat jelas kesedihan dan kekecewaan di wajah gadis itu. Tampaknya jika Zivanna bersikeras untuk berada di sana lebih lama lagi, hal itu malah akan membuat Lily semakin bersedih.


"Baiklah," ujar Zivanna kemudian.


Dapat Zivanna lihat, Asisten Dhani dan para sekretaris bawahannya menghela nafas lega. Tentu saja Zivanna langsung memberikan tatapan nyalang pada mereka semua hingga mereka jadi kembali kikuk dibuatnya.


"Asisten Dhani," panggil Lily sebelum dia benar-benar pergi dari sana. Gadis itu terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya.


"Tolong berikan ini pada Kak Al," ujar Lily sambil menaruh sebotol multivitamin yang tadi diambilnya dari dalam tas ke genggeman Asisten Dhani. "Bilang pada Kak Al, saya pamit. Jangan lupa jaga kesehatan."

__ADS_1


Asisten Dhani tertegun selama beberapa saat sebelumnya akhirnya mengangguk mengiyakan. Dalam hati sebenarnya dia sendiri juga merasa tidak tega melihat raut wajah Lily saat ini.


Setelah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan pada Asisten Dhani, Lily pun permisi dengan sopan dan meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Zivanna dari belakang.


"Lily, kamu baik-baik saja?" tanya Zivanna saat mereka berdua telah kembali masuk ke dalam mobil.


Lily hanya menoleh sambil tersenyum, kemudian mengangguk mengiyakan. Dia berusaha untuk baik-baik saja padahal sebenarnya hati dan perasaannya terasa remuk redam. Dia sungguh ingin sekali memandang wajah Albern untuk yang terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi, tapi rupanya itu tidak bisa dia lakukan.


Entah apa yang Albern rasakan saat ini hingga tak mau menemui Lily. Mungkin lelaki itu juga sedih. seperti yang Lily rasakan saat ini, atau mungkin marah dan kecewa karena mereka harus berpisah meskipun awalnya dia setuju. Entahlah, yang jelas Lily tak bisa menyalahkan Albern jika sekarang lelaki tak ingin bertemu dengannya.


Hanya saja, Lily sungguh tak bisa menahan rasa sedihnya lebih lama lagi. Meski telah berusaha untuk membuat dirinya terlihat baik-baik saja di hadapan kedua sahabatnya, pada akhirnya air matanya tetap saja jatuh tanpa bisa dicegah. Pertahanan Lily runtuh sudah bersamaan dengan tangisnya yang pecah begitu saja.


Darrel menoleh ke arah Lily dan bertanya tentang kondisi Lily lewat isyarat pada Zivanna. Hanya gelengan pelan yang bisa Zivanna berikan sebagai jawaban jika saat ini Lily sedang sedih luar biasa. Gadis itu juga memerintahkan sopir pribadinya untuk segera membawa mereka ke kediaman orang tua Lily.


"Tidak apa-apa, Lily. Kamu dan Kak Al hanya berpisah sementara. Kalian nanti akan bertemu kembali dengan situasi yang lebih baik," hibur Zivanna sambil memeluk Lily yang kini tengah menangis tersedu.


Lily tak menjawab. Dia terus menangis menumpahkan perasaan sedihnya di pelukan Zivanna. Dia ingin meyakini jika perpisahannya ini adalah awal dari cerita manisnya kelak. Sekarang dia memang harus terluka dan menangis sedih karena harus berpisah dari Albern. Namun, kelak air matanya hari ini akan berganti dengan kebahagiaan dan rasa bangga yang tak bisa diukur dengan apapun.


"Kak Al akan benar-benar menungguku, kan, Kan Zi?" tanya Lily di sela isakannya.


"Iya, tentu saja. Kak Al sudah menunggumu selama dua puluh satu tahun. Tidak akan masalah baginya menunggu beberapa tahun lagi," sahut Zivanna.


Lily masih terisak di pelukan Zivanna, namun hatinya merasa jauh lebih lega. Meskipun sebenarnya yang terjadi di masa depan masih menjadi sebuah misteri, tapi setidaknya dia memiliki sebuah keyakinan yang bisa menjadi modal untuknya berjuang selama beberapa tahun ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2