
Albern kembali melajukan mobilnya, lalu berhenti di sebuah taman di tepi danau. Dia mengajak Lily menikmati pemandangan di sekitar taman sembari Lily menghabiskan sarapan supernya.
Sekilas Albern menoleh kearah Lily. Senyum cerah tampak terus mengembang di bibir gadis itu. Senyum yang selalu bisa membuat jantung Albern berpacu dengan sangat tak terkendali. Ah, setelah bertahun-tahun lamanya, bagaimana bisa perasaan itu tidak pernah berubah. Perasaan yang hangat, penuh dan hampir membuncah setiap kali berdua saja dengan Lily seperti ini.
Tanpa sadar tangan Albern terulur hendak menyentuh wajah Lily lembut, tapi urung dia lakukan.
Mata Lily menatap balik ke arah Albern dengan mulut yang terisi penuh oleh kentang goreng. Sesekali pipi Lily bergerak karena dia sedang mengunyah. Astaga, jangan bilang jika Albern akan merasa ilfeel dengan apa yang dilihatnya saat ini. Yang lelaki itu rasakan justru sebaliknya. Semakin absurd tingkah Lily, maka akan semakin menggemaskan gadis itu di mata Albern. Bahkan saat ini pun Albern harus menahan diri setengah mati agar tak memeluk Lily. Dia tak boleh menyentuh gadis itu sedikit pun sebelum mereka memiliki ikatan resmi.
"Kak Al mau?" Tanya Lily sambil menyodorkan kentang goreng di tangannya. Melihat Albern yang terus memperhatikannya makan makanan itu, membuat Lily mengira jika Albern juga ingin memakannya.
Sontak Albern tertawa kecil sambil menggeleng.
"Tidak, aku masih kenyang." Tolak Albern.
"Lalu, kenapa Kak Al terus melihat aku seperti itu? Biasanya kalau ada orang yang terus melihat kearah orang yang sedang makan, itu artinya orang itu mau minta makanannya tapi malu." Ujar Lily lagi.
Sekali lagi Albern tertawa. Andai Lily tahu jika Albern sedang menahan agar tak melakukan hal yang tak semestinya.
"Makanmu berantakan, aku hanya sedang melihat ada yang menempel di dekat bibirmu," kilah Albern sambil kembali menunjuk wajah Lily.
Lily terkesiap dengan sambil menatap Albern dengan agak gugup.
Haiissh, apa-apaan? Biasanya 'kan Albern yang dibuat Lily tersipu, kenapa sekarang jadi terbalik. Wajah Lily tiba-tiba terasa memanas hingga sampai ke telinganya. Jangan bilang jika saat ini dia sedang merona dengan mulut dipenuhi oleh kentang goreng. Benar-benar sangat memalukan.
Cepat-cepat Lily melihat ke arah lain, lalu segera menghabiskan kentang goreng ditangannya sembari sesekali meneguk minuman soda berukuran jumbo. Sedangkan burger dan es krim cone vanilla-nya sudah lebih dulu tandas.
Dan setelah beberapa saat, sarapan berat itu pun selesai juga. Untung saja tidak ada drama suara sendawa nyaring dari mulut Lily, hingga gadis itu tidak harus menanggung malu di hadapan Albern.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Tak begitu lama mereka berkendara, Albern dan Lily sampai ke tujuan utama. Mobil Albern berhenti di pinggiran kota, tepatnya di sebuah villa dengan halaman luas dan di tanami berbagai macam pohon dan tanaman.
Lily memperhatikan beberapa tanaman yang terlihat agak asing dimatanya sambil mengikuti Albern. Seorang perempuan paruh baya langsung menyambut kedatangan mereka dan mengantarkan masuk kedalam villa.
__ADS_1
Dalam hati Lily bertanya-tanya, kenapa Albern membawanya kemari?
Lalu tibalah mereka di depan sebuah ruangan. Perempuan paruh baya tadi pun undur diri setelah tiba di ruangan tersebut.
Albern membuka ruangan tersebut dengan menggunakan sidik jarinya, lalu menggandeng tangan Lily masuk kesana. Lily mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dengan tatapan terpukau.
"Kak Al, ini ruangan apa?" Tanya Lily.
"Ini laboratoriumku." Jawab Albern.
Sejak kecil Albern memang sangat menyukai sains, seperti Papanya. Bedanya, jika Aaron terpaksa meninggalkan minat dan bakatnya demi meneruskan perusahaan, Albern justru sangat di dukung oleh Aaron. Meski harus menempuh pendidikan bisnis, Albern tetap bisa belajar sains, meski tidak secara formal. Aaron bahkan menghadiahkannya sebuah laboratorium dan seorang ilmuwan sebagai guru privat diulang tahunnya yang ketujuh.
"Ini adalah tempatku biasa menghabiskan waktu luang. Sebelumnya tidak ada yang pernah kuajak masuk kesini selain guru privatku." Ujar Albern lagi sambil mengenakan jas lab yang tersedia, lalu memakaikannya juga pada Lily.
Lily hanya terpaku sambil menatap Albern dengan sedikit bingung.
"Ingin tahu bagaimana rasanya menjadi ilmuwan?" Tanya Albern.
Lily tak langsung menjawab. Dia memandang Albern selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.
Lily mengikuti Albern mendekati sebuah meja panjang yang di penuhi alat dan tabung-tabung yang berisi berbagai cairan berwarna-warni.
"Jadi, tanaman yang ada di halaman tadi itu hasil dari eksperimen Kak Al?" Tanya Lily.
Albern mengangguk.
"Pantas kelihatan aneh." Gumam Lily.
Albern tersenyum. "Bukan aneh, tapi unik," ralatnya.
Albern pun mulai melakukan eksperimennya, mencampur beberapa tetes cairan pada sebuah tabung kecil sehingga cairan tersebut berubah warna menjadi ungu pekat. Lalu cairan itu Albern masukan kedalam alat penyuntik, dan langsung disuntikkan pada buah tomat segar.
__ADS_1
Seketika Lily terperangah dengan mata melebar saat melihat buah tomat yang baru agak menguning itu seketika berubah menjadi ungu cerah. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat ada buah tomat berwarna ungu. Lily sangat takjub dibuatnya.
"Apa setelah ini tomatnya masih bisa dimakan?" Tanya Lily penasaran.
"Tentu saja, bahkan begitu warnanya berubah menjadi ungu, kandungan nutrisinya menjadi jauh lebih banyak daripada sebelumnya." Jawab Albern.
"Wah ...." Lily semakin takjub hingga tanpa sadar membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Kak Al jenius." Senyum Lily mengembang dengan mata yang berbinar. Gadis itu menatap Albern dengan tatapan kagum yang tak terlukiskan.
Namun sejurus kemudian, Lily tampak menahan tawanya.
"Tapi Kak Al, aku jadi membayangkan cairan tadi disuntikkan pada tubuh Kak Al. Mungkinkah Kak Al akan berubah jadi ungu juga?" Tanya Lily kemudian.
"Mungkin."
Lily terkikik geli.
"Kalau lelaki bertubuh hijau namanya Hulk, lalu kalau yang bertubuh ungu namanya apa?"
Albern sedikit tertegun melihat tawa Lily yang begitu cerah.
"Tidak tahu. Kamu yang bertanggung jawab memberinya nama." Jawab Albern dengan mata yang lekat menatap ke arah Lily.
Lily terlihat masih tersenyum. Senyum itu, entah bagaimana selalu berhasil membuat Albern terpukau.
"Aku mencintaimu, Lily ...." Albern bergumam lirih, membuat Lily langsung menatap ke arahnya.
"Jika saja memungkinkan, rasanya aku ingin kita menikah secepatnya."
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️