
Albern sedikitnya terperangah mendengar kata-kata tentang Lily yang terlontar begitu saja dari mulut Zivanna. Antara memuji tetapi juga terdapat kalimat celaan sekaligus. Sepertinya, adik kesayangannya ini punya begitu banyak keluhan terhadap Lily.
Detik berikutnya, Albern seolah tersadar akan sesuatu. Ya, fakta jika kemungkinan besar Lily mendengar kata-kata Zivanna karena sepertinya dia masih berada di balkon. Entah bagaimana ekspresi gadis ajaib itu mendengar kata-kata Zivanna tadi.
"Terlepas dari semua hal menjengkelkan tentang Lily, dia adalah orang yang selalu menemaniku, entah itu saat aku sedang senang ataupun sedang sedih. Lily akan selalu ada dan tak pernah meninggalkan ku." Suara Zivanna kembali terdengar.
"Karena itulah, Kak. Jika Kak Al sudah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Lily, jangan pernah berpikir untuk berpaling pada perempuan lain. Jika Kak Al sampai menyakiti Lily, persahabatan kami yang akan menjadi taruhannya." Tambah Zivanna lagi.
Albern tampak menghela nafasnya.
"Kenapa kalian begitu khawatir dengan kehadiran Briana? Apa dia sejenis nenek sihir yang berbahaya?" Tanya Albern kemudian.
Zivanna menautkan kedua alisnya. Siapa yang di maksud Albern dengan kalian?
"Tidak kamu, tidak Lily, kenapa merasa begitu takut jika Briana akan membuatku tergoda. Kalian pikir aku lelaki murahan?" Albern sedikit menggerutu.
"Lily? Kapan Kak Al bertemu Lily?" Tanya Zivanna dengan agak heran. Pasalnya dia lihat Albern tidak kemana-mana sejak pulang dari kantor.
"A-aku baru saja menelponnya tadi." Cepat-cepat Albern berkilah meski dengan agak terbata.
Zivanna sedikit menautkan kedua alisnya. Entah kenapa Kakaknya ini bersikap sedikit aneh, seperti ada yang sedang dia sembunyikan.
"Lily tidak marah karena Kak Al tidak memberitahukan tentang keberangkatan Kakak ke New York?" Tanya Zivanna lagi.
"Dia marah, tapi aku sudah membujuknya."
__ADS_1
Lagi-lagi Zivanna dibuat bingung. Setahunya, jika Lily sudah marah, maka akan butuh lebih dari sekedar kata-kata bujukan untuk merayunya agar tak marah lagi. Benarkah gadis itu tidak lagi merajuk dengan hanya sekedar di telpon oleh Albern? Tidak terdengar seperti Lily yang Zivanna kenal.
"Dia tidak marah lagi hanya karena Kak Al sudah membujuknya melalui telpon? Jika benar seperti itu, berarti sekarang dia sudah jinak." Gumam Zivanna, seakan bergumam pada dirinya sendiri.
Albern kembali terperangah mendengar kata-kata Zivanna. Bagaimana bisa adiknya yang biasanya sangat santun ini menjadi begitu semena-mena terhadap gadis pujaannya. Entah dendam apa yang sebenarnya disimpan Zivanna pada Lily selama ini, sehingga sekarang ia tampak sedang menumpahkan seluruh keluh kesahnya meski hanya dengan tersirat. Pasti Lily sering membuat Zivanna merasa jengkel, tapi Zivanna tak kuasa untuk marah dan hanya bisa menyimpan rasa jengkelnya itu saja.
Jelas disini Zivanna yang menderita, tapi bisa-bisanya Albern justru tersenyum tipis mengingat semua tingkah polah Lily. Ah, mungkin itu yang disebut anak jaman sekarang dengan istilah bucin.
"Kalau begitu, aku ucapkan selamat untuk Kak Al, karena sudah berhasil menjadi pawang Lily." Tambah Zivanna lagi.
Albern sedikit membeliakkan matanya.
"Zi?"
"Aku permisi dulu, Kak." Ujar Zivanna sambil berlalu dari hadapan Albern dan menghilang di balik pintu.
Albern memandangi sejenak pintu ruang kerjanya, sebelum akhirnya dia tersadar akan sesuatu. Albern segera membuka kembali jendela kearah balkon dan melihat ke luar. Dia tak menemukan keberadaan Lily dan Darrel di sekitar balkon. Tampaknya gadis itu sudah pergi.
Albern keluar melalui jendela yang sama dengan yang dilalui Lily tadi. Dia agak terkesiap saat berada di pagar balkon dan melongokkan kepalanya ke bawah. Seketika Albern menjadi khawatir. Kamar dan ruang kerjanya berada di lantai dua, cukup tinggi jika harus melompat dari balkon menuju ke bawah. Dia jadi bertanya-tanya, bagaimana caranya Lily dan Darrel naik kemari, kemudian turun lagi? Bahkan dengan bantuan tali untuk memanjat pun akan sulit, apalagi dengan tangan kosong.
Untuk kesekian kalinya Albern dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkat Lily. Gadis itu benar-benar lihai dalam hal mengejutkan dan membuat orang terperangah.
Tapi kemudian, ponsel Albern berdenting karena ada sebuah pesan masuk. Ternyata itu adalah pesan dari Lily yang mengatakan jika dia dan Darrel sudah dalam perjalanan pulang dengan menggunakan taksi.
Albern menghela nafas lega. Segera dia mengetik pesan balasan agar Lily tak mengulangi apa yang dilakukannya malam ini. Dan pesan Lily pun masuk lagi, mengatakan jika dia akan muncul secara tiba-tiba dihadapan Albern kapanpun Albern tak memberinya kabar.
__ADS_1
"Ck.., benar-benar sulit diatur." Albern berdecak sembari memandangi layar ponselnya. Tapi sejurus kemudian lelaki itu tersenyum tipis karena kembali teringat manisnya Lily saat berada dalam pelukannya tadi.
Albern menggeleng, berusaha membuang fantasi tentang Lily di kepalanya. Jika terus begini, dia semakin tak bisa menahan diri dan ingin cepat-cepat menikahi gadis muda itu. Lily benar-benar telah membuat Albern jatuh ke dalam pesonanya dan membuat Albern hampir gila.
Sementara itu, di dalam sebuah taksi, Lily terlihat asyik dengan ponselnya sambil terus tersenyum sendiri. Tak ia pedulikan Darrel yang menatapnya dengan tatapan aneh.
Sesekali Lily terkikik geli dengan wajah yang memerah, membuat Darrel sedikit bergidik melihat tingkahnya. Tapi kemudian, Darrel sedikit terkesiap saat teringat apa yang dia lihat dan dengar di balkon kamar Albern tadi.
Awalnya Darrel melihat bayangan Lily mendekati Albern. Itu saja sudah membuatnya kaget bukan kepalang. Lalu ditambah lagi saat melihat bayangan kepala Albern dan kepala Lily menyatu. Darrel semakin terkejut dibuatnya. Dia jadi teringat sebuah film fantasi tentang alien yang pernah ditontonnya. Film itu menampilkan adegan dua orang yang ternyata adalah alien tiba-tiba menjadi satu dan berubah menjadi makhluk yang menyeramkan. Darrel masih kecil saat menonton film itu, dan ia sampai tak bisa tidur setelah melihatnya.
Lalu tadi, Lily dan Albern seperti sedang mengingatkan kembali trauma masa kecil Darrel dengan membuat bayangan tubuh serta kepala menyatu. kemudian, setelah beberapa saat menyaksikan bayangan mengerikan itu, Darrel melihat bayangan itu bergerak-gerak, terutama di bagian kepala mereka yang menyatu. Terdengar juga suara decapan dan sedikit *******.
Darrel pun langsung menyadari jika itu bukanlah seperti adegan film yang pernah ditontonnya, dimana dua manusia menyatu, lalu berubah menjadi alien. Ini adalah adegan yang lebih menyeramkan daripada itu, dua manusia yang menyatu demi untuk menciptakan manusia yang baru.
Darrel pun berusaha untuk menghentikan kegilaan Lily dengan berdehem kuat, agar dua manusia yang sedang menyatu itu kembali terurai menjadi dua manusia yang utuh lagi, tanpa ada manusia baru yang tercipta. Padahal, yang dilihatnya hanyalah bayangan Lily dan Albern yang terlihat menyatu karena arah cahaya, bukan karena tubuh mereka benar-benar berdempetan. Imajinasi Darrel saja yang terlalu tak terbatas.
Pikiran Darrel pun terus berputar pada ingatannya tadi dengan mata yang masih menatap Lily tajam.
"Lily, aku tahu kamu agak bandel. Tapi aku tidak menyangka kamu seperti itu..." Darrel akhirnya bergumam dengan nada yang agak berbeda. Entah kenapa, ia terdengar sedikit kecewa. Kecewa karena sebuah kesalahpahaman yang tak mampu dia ungkapkan.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1