
Zivanna membiarkan Lily menumpahkan semua kegundahan yang memenuhi hatinya. Tak ada yang mampu ia ucapkan untuk menghibur gadis itu. Hanya tangannya saja yang mengusap punggung Lily, berusaha untuk menenangkan sebisa mungkin.
Cukup lama Lily menangis dalam pelukan Zivanna, sampai akhirnya gadis itu lebih tenang dan mengurai pelukannya.
Darrel menyodorkan botol air mineral yang didapatnya entah dari mana, membuat Lily agak tertegun ke arah botol tersebut.
"Minum dulu, supaya lebih tenang," ujar Darrel.
Lily pun akhirnya menerima botol air mineral tersebut dan membuka tutupnya, lalu menenggak isinya beberapa tegukan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Zivanna kemudian.
Lily mengangguk pelan. Sebenarnya dia merasa agak malu saat menyadari sudah menangis di hadapan Zivanna dan Darrel, bahkan ada beberapa mahasiswa lain juga yang melihat dari kejauhan. Sebelumnya tak pernah Lily sampai menangis di hadapan orang lain seperti ini. Tapi apa mau dikata, saat ini hari dan perasaannya benar-benar sedang terasa kacau.
"Kalau sudah merasa lebih baik, sekarang kamu dengarkan aku, Lily. Kali ini jangan hanya pakai perasaanmu saja, tapi juga pakai pikiranmu," ujar Zivanna lagi.
Lily terdiam dan menghela nafasnya. Ia tahu jika Zivanna pasti akan membujuknya untuk pergi ke luar negeri sesuai dengan yang diinginkan oleh kedua orang tuanya.
"Apa kamu ingin hubunganmu dengan Kak Al mendapatkan restu dari kedua orang tuamu?" tanya Zivanna kemudian.
Lily tak langsung menjawab.
"Tentu saja," gumam gadis itu setelah terdiam selama beberapa saat.
"Jika memang begitu, kamu harus menuruti keinginan orang tuamu, Lily. Tampaknya hanya itu yang bisa membuat kakakku diterima oleh Mama dan Papamu," ujar Zivanna lagi.
Lily mengangkat wajahnya cepat dan menatap Zivanna dengan agak tak setuju.
"Aku tahu ini berat untukmu dan juga Kak Al, tapi apa kamu punya cara lain agar orang tuamu menyetujui hubunganmu dengan Kak Al? Tidak ada, kan?"
__ADS_1
Mulut Lily hendak terbuka untuk melemparkan kalimat sanggahan, tapi urung dia lakukan, itu karena yang dikatakan Zivanna benar adanya. Tidak ada cara untuk membuat kedua orang tuanya merestui hubungannya dengan Albern, kecuali ia setuju untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Tapi masalahnya, Lily tak yakin, apakah dia sanggup melakukan itu? Bisakah dia memenuhi harapan kedua orang tuanya?
Dulu Lily memang mempunyai impian yang sangat besar. Menjadi seorang perempuan hebat yang bersinar dan menginspirasi banyak orang. Tapi semua impian itu tiba-tiba sirna begitu saja saat ia sudah menjalin hubungan dengan Albern, seolah tak masalah ia tak menjadi apa-apa asalkan bisa tetap berada di sisi lelaki itu. Benarkah perasaannya yang terlampau besar terhadap Albern melemahkan dirinya dan perlahan membuatnya kehilangan jati diri?
"Lily, kamu dengar aku, kan?" tanya Zivanna sembari menyenggol lengan gadis itu.
Lily sedikit terkejut. Suara Zivanna seketika membuyarkan lamunannya.
"Heh, diajak bicara malah melamun," gerutu Zivanna.
"Darrel." Kali ini Lily memanggil Darrel.
Darrel yang sedari tadi hanya diam menyimak tampak melihat ke arah Lily.
"Apa?" tanyanya menanggapi.
"Jika seandainya saat ini kamu yang ada di posisiku, kedua orang tuamu memintamu untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, apakah kamu akan menurutinya?" tanya Lily kemudian dengan raut wajah serius.
Diam-diam Zivanna juga menunggu jawaban Darrel. Meskipun sebenarnya jawaban pemuda itu sudah dapat ia tebak, tapi tetap saja Zivanna ingin mendengar jawaban dari pacarnya itu sekali lagi.
"Tentu saja aku menuruti keinginan kedua orang tuaku," jawab Darrel akhirnya.
Secara bersamaan Lily dan Zivanna memandang ke arah Darrel dengan tatapan yang ... entahlah, sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ya, meskipun Zivanna sudah menduga jawaban itu yang akan Darrel katakan, seperti saat sebelumnya ia bertanya, tapi tetap saja ia jadi merasa agak kesal karena Darrel terkesan tidak sedih sama sekali meskipun mereka berpisah.
"Semudah itu kamu setuju?" tanya Lily tak percaya.
"Memangnya kenapa? Hanya kuliah saja, kan? Tidak sampai menghabiskan waktu seumur hidup," jawab Darrel dengan tanpa perasaan sama sekali, walaupun sebenarnya jika dipikir-pikir yang dikatakannya itu memang benar. Seberapa lama memangnya waktu yang dihabiskan untuk kuliah?
Zivanna memalingkan wajahnya. Darrel tidak mempertimbangkan sama sekali jika jawabannya itu akan membuat gadis itu kesal atau tersinggung, bahkan mungkin marah. Dia selalu mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dengan jujur tanpa beban. Ya, seperti itulah Darrel, pemuda datar yang sangat tidak peka dan tak pernah memikirkan perasaan Zivanna, yang anehnya mampu membuat Zivanna tak mampu berpaling. Jika ada yang mesti disalahkan, salahkan saja dirinya sendiri yang jatuh cinta pada pemuda seperti itu.
__ADS_1
"Darrel, apa sungguh kamu tidak merasa berat sedikit pun berpisah dari Kak Zi? Atau jangan-jangan kamu tidak memiliki perasaan sama sekali jadi tidak paham bagaimana rasanya berpisah dari orang yang kamu cintai, walaupun cuma sementara." Lily sedikit kesal karena Darrel terkesan menganggap remeh yang apa dirasakannya saat ini.
Zivanna sendiri tampak membeku. Entah kenapa ucapan Lily tadi begitu menghujam tepat di jantungnya. Itu seakan sama seperti Darrel tidaklah memiliki perasaan apa-apa padanya. Ah, jika sudah begini, dada Zivana jadi terasa sesak. Momen manis bersama pemuda itu saat tadi mereka berada di sudut kampus yang sepi, entah kenapa semuanya jadi menguap begitu saja.
"Ini bukan masalah punya perasaan atau tidak, tapi tentang mencari solusi dari permasalahan yang ada. Jika memang kedua orang tuaku meminta aku untuk kuliah di luar negeri bukan bertujuan memisahkan aku dengan Zi, tapi untuk membuat aku pantas bersanding dengannya, kenapa aku harus menentang. Mereka kan bukannya ingin menyusahkan aku, tapi sedang membantuku menemukan sebuah solusi." Darrel menjawab dengan mantap.
Lily terdiam, berusaha mencerna kata-kata Darrel barusan, begitu pun dengan Zivanna.
"Ya walau pun begitu, tetap saja berat melakukannya, Darrel. Tidak bisa segampang itu, kecuali kalau kita tak memiliki perasaan apapun terhadap orang yang ditinggalkan," kilah Lily.
"Tentu saja berat, tapi berat bukan berarti tidak bisa, kan? Lebih baik berjuang dan menderita di awal tapi berakhir dengan manis, daripada manis di awal tapi akhirnya tragis," jawab Darrel lagi.
Lily kembali terdiam. Sejujurnya dia tahu jika yang dikatakan Darrel sangat benar, tapi dia masih tak bisa menerima semua itu. Dia tak mau pergi jauh dari Albern apapun alasannya.
"Aku tidak bisa, Darrel ... Aku rasanya tidak sanggup melakukan itu ...," gumam Lily kemudian dengan nada putus asa.
"Aku pasti akan benar-benar tersiksa kalau harus pergi meninggalkan Kak Al," tambah Lily lagi.
Zivanna menghela nafasnya, sedangkan Darrel tampak berdecak sebal.
"Hish, katanya cinta, tapi kenapa tidak punya kekuatan begini?" gerutu Darrel. Terang saja Lily dan Zivanna serentak melihat ke arah pemuda itu dengan raut wajah heran.
"Kamu pernah dengar pepatah orang-orang, kan? Cinta itu butuh pengorbanan. Aku tidak terlalu paham soal cinta-cintaan seperti kalian, tapi aku yakin maksudnya adalah yang sekarang ini sedang kamu hadapi," ujar Darrel.
Sekali lagi Lily dan Zivanna hanya bisa melihat ke arah Darrel dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Pemuda itu memang sangat tidak peka, tapi yang ia katakan selalu saja benar.
Bersambung ...
Yang mau marah sama emak, silakan.
__ADS_1
Yang mau nimpuk juga silakan. Emak sibuk ikut daily di pf sebelah sebulan ini, jadi ga ada waktu buat Albern & Lily. Semoga besok2 bisa up lagi.
Kangen kalian semua, serius.