
"Mama..." Lily bergumam lirih dengan raut ketakutan. Ekspresi wajah Carissa yang tenang meski mengetahui dia pergi bersama Albern tak serta-merta membuat Lily merasa lega. Mamanya ini tampak seperti sedang bersiap menyemburkan amarahnya, layaknya gunung berapi yang siap meletus dan memuntahkan lahar panas.
"Ceritakan pada Mama, atau Mama akan memberi tahu Papa jika hari ini kamu tidak belajar bersama Zivanna dan Darrel." Carissa kembali berujar dengan sedikit mengancam.
"Jangan, Ma. Jangan!" Sontak Lily langsung menggenggam tangan Carissa dengan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng beberapa kali, mengisyaratkan jika dia tidak mau Mamanya sampai menceritakan hal itu pada Evan, Papanya.
"Kamu sudah mulai pandai membohongi Mama dan Papa, ya." Gumam Carissa lagi.
"Ampun, Ma. Aku juga tidak suka membohongi Mama dan Papa. Aku terpaksa..." Lily berusaha terlihat memelas agar Mamanya tidak marah.
"Terpaksa? Memangnya siapa yang memaksamu untuk berbohong? Apakah Albern?" Tanya Carissa.
"Bukan, Ma. Bukan. Kak Al tidak pernah memintaku untuk berbohong. Dia juga tidak pernah memaksakan apapun padaku." Lily menyanggah dengan cepat. Tentu saja dia tidak ingin lelaki pujaannya dianggap buruk oleh Mamanya sendiri.
"Berarti kamu berbohong pada Mama dan Papa tidak dengan terpaksa, melainkan dengan suka rela dan penuh keikhlasan." Carissa menyimpulkan.
"Bu-bukan begitu, Ma..." Lily kehabisan kata-kata dibuatnya. Gadis ini memang bisa berkelit pada siapa saja, tapi tidak dihadapan Sang Mama. Tidak ada yang lebih memahami Lily dibandingkan Carissa, karena Lily sendiri adalah cerminan dari sosok Carissa di masa lalu.
"Jadi?" Carissa seolah sedang menunggu penjelasan Lily lebih lanjut.
"Kak Al mengajakku jalan, lalu aku mengiyakannya..." Lily akhirnya mulai bercerita walaupun dengan sedikit ragu.
"Mengajakmu jalan?" Ulang Carissa.
Lily mengangguk mengiyakan.
"Kenapa dia mengajakmu jalan?" Tanya Carissa lagi.
Lily terdiam sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Carissa.
"Kami... sebenarnya kami menjalin hubungan .... Bukan pacaran, sih, tapi kami berjanji akan menikah ...." Ujar Lily dengan nada lebih rendah daripada sebelumnya.
"Apa? Kalian menjalin hubungan dan berjanji akan menikah?" Carissa tampak terkejut mendengar pengakuan Lily barusan.
Lily mengangguk dengan sedikit ragu.
"Bagaimana kalian bisa seperti itu? Bukankah anak itu adalah duplikat Aaron? Bagaimana mungkin dia tertarik dengan hal-hal seperti ini?" Carissa tampak bertanya pada dirinya sendiri dengan kening yang sedikit berkerut.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Carissa tidak langsung marah begitu mengetahui Lily ternyata berbohong tentang mengerjakan tugas kuliah hari ini. Dia merasa jika yang Lily lakukan sekarang persis seperti yang dulu dia lakukan. Seorang gadis muda berjiwa bebas yang tak ragu merealisasikan apa yang diinginkan hatinya dan mengekspresikan dengan jujur setiap perasaan yang dirasakan.
Carissa tahu jika putrinya ini menyukai Albern sejak lama, sama dengan halnya dulu dia menyukai Aaron. Dan Carissa juga tak berusaha membunuh perasaan Lily karena beranggapan suatu hari nanti Lily pasti akan menyadari dengan sendirinya jika Albern bukanlah sosok yang bisa diharapkan, seperti halnya Carissa yang akhirnya move on dari Aaron dan hidup bahagia bersama Evan.
Tapi bagaimana bisa sekarang mereka justru menjalin hubungan. Apa jangan-jangan Lily memainkan sebuah trik untuk menjerat Albern? Oh, astaga! Sejauh itukan Lily bertindak?
Tanpa sadar Carissa membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Sedangkan Lily tampak melihat Mamanya itu dengan tatapan bingung.
"Lily, katakan pada Mama yang sejujurnya, apa yang sudah kamu lakukan sampai Albern setuju untuk menikah denganmu suatu hari nanti? Apa kamu melakukan sesuatu yang memalukan?" Tanya Carissa dengan agak panik.
Sekali lagi Lily menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku tidak melakukan apapun." Jawab Lily.
"Benarkah?" Carissa tampak tak percaya.
"Kak Al sendiri yang menyatakan perasaannya padaku."
"Albern menyatakan perasaannya padamu?" Carissa terlihat semakin terkejut.
Carissa ternganga dengan sangat takjub.
"Albern mengatakan hal seperti itu padamu?" Tanya Carissa.
Lily hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mamanya itu.
"Astaga, sulit dipercaya..." Carissa bergumam tanpa sadar.
Lily masih memperhatikan Carissa dengan agak bingung. Alih-alih marah dan menghukumnya, Mamanya ini justru terlihat takjub dan tak percaya, seakan sedang menyaksikan fenomena bulan terbelah dua.
"Tapi, Ma. Mama sebenarnya tahu dari mana aku jalan dengan Kak Al hari ini?" Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Lily akhirnya menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran sejak tadi.
Carissa tampak terhenyak dari segala pemikiran yang memenuhi kepalanya. Dipandangnya Lily dengan pandangan yang sedikit menyeramkan.
"Mama melihat sendiri kalian berbelanja di supermarket. Acara reuni Mama tadi diadakan tak jauh dari sana. Begitu acara selesai, Mama pergi ke supermarket itu karena ada yang mau Mama beli. Dan ternyata Mama menangkap basah putri Mama ini sedang berbelanja dengan seorang lelaki dewasa, padahal tadi pagi dia minta diantar untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah."
Lily tertegun dan langsung menunduk. Dia tidak menyangka jika apa yang dilakukannya hari ini akan dipergoki oleh oleh Mamanya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Ma..." Ujar Lily lagi dengan agak memelas.
"Lily, apa yang kamu lakukan tadi sungguh tidak baik. Membohongi Mama dan Papa adalah tindakan yang sangat tidak terpuji. Apa kamu mau menjadi anak durhaka?"
'Eh?'
Lily sedikit membeliakkan matanya mendengar penuturan Carissa barusan. Bisa-bisanya Mamanya ini berkata sama seperti Zivanna. Lily jadi bertanya-tanya, sebenarnya definisi anak durhaka itu seperti apa, sih? Masa hanya berbohong saja dia sudah disebut anak durhaka.
"Ampun, Ma. Aku tidak mau jadi anak durhaka. Aku anak paling patuh sedunia. Jangan kutuk aku jadi batu seperti Malin Kundang, Ma..." Lily langsung berhambur memeluk pinggang Carissa.
'Astaga, anak ini...' Carissa hampir saja tak bisa menahan tawanya. Sudah usia dua puluh satu tahun, bagaimana bisa dia masih takut dikutuk menjadi batu seperti saat dia kecil dulu. Terkadang putrinya yang cerdas dan juga cerdik ini memang akan mengeluarkan pemikiran konyol dan ajaib. Persis seperti Carissa sendiri saat belia dulu. Itulah yang membuat Carissa seringkali maklum dengan segala tingkah polah Lily, meski kadang putrinya itu memang agak nakal.
"Lily, jika kamu tidak mau Mama bercerita tentang kebohonganmu tadi pada Papa, kamu harus melakukan sesuatu." Ujar Carissa kemudian.
Lily mengurai pelukannya, lalu mendongakkan wajahnya pada Carissa.
"Melakukan apa?" Tanya Lily harap-harap cemas.
Carissa mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala Lily.
"Segera akhiri hubunganmu dengan Albern." Pintanya lembut.
"A-apa?" Lily menatap Carissa dengan tatapan tak percaya.
"Albern bukanlah sosok yang sederhana, Nak. Kamu akan menemui banyak kesulitan jika berada disampingnya. Mama dan Papa tidak ingin hidupmu kelak menderita. Lupakan janji kalian untuk menikah suatu hari nanti." Carissa kembali mengusap pucuk kepala Lily.
Lily menggelengkan kepalanya dengan airmata yang tiba-tiba saja jatuh tanpa permisi.
"Aku tidak mau, Ma. Aku tidak bisa." Lily menyeka air matanya, namun kembali jatuh lagi membasahi pipinya.
"Kami saling mencintai ...."
Bersambung...
Mama Carissa jangan kejam2 ih. Ntar anaknya frustasi terus gantung diri di pohon cabe, gimana?
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1