Albern & Lily

Albern & Lily
Bahasa Kalbu


__ADS_3

Zivanna menatap nanar ke arah Darrrel tanpa bisa mengatakan apapun. Kenyataan yang dipaparkan lelaki itu padanya benar-benar tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dia sungguh tak pernah berpikir jika Darrel akan mempersiapkan itu semua untuk melamarnya.


"Darrel, aku ...." Zivanna hendak mengatakan sesuatu, namun tertahan di tenggorokannya.


"Aku sudah mengatakan semuanya, tapi tentu aku tak bisa memaksamu jika kamu memang tak sudi lagi melanjutkan hubungan kita. Sebenarnya, selama ini aku juga selalu bertanya-tanya, apa yang kamu lihat dariku sampai kamu memilihku menjadi pasanganmu. Aku selalu takut kalau kamu sebenarnya tidak terlalu sadar dengan apa yang kamu lakukan. Aku takut suatu hari kamu tersadar kalau aku tidak memiliki apa-apa, lalu menyesal telah memilihku." Darrel bergumam sembari menghela nafasnya dengan agak berat.


"Tidak, Darrel. Tolong jangan berkata seperti itu," ujar Zivanna.


"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya dan yakin padaku, makanya sekarang aku membawa orang tuaku untuk melamarmu. Tapi kalau kamu tidak bisa mempercayaiku, aku tidak bisa memaksamu, Zi. Aku memang tidak bisa seperti para lelaki kelas atas itu, yang tidak perlu terlalu berjuang untuk memberikan kenyamanan untukmu. Bahkan hanya untuk melamarmu saja, aku harus membuatmu menunggu begitu lama. Aku tahu, ini memang salahku ..."


"Tidak, Darrel. Aku yang salah, Maafkan aku." Tangis Zivanna pecah seketika. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah salah sangka terhadap kekasihnya ini.


Zivanna kira Darrel tidak serius dengannya, sehingga terus mengulur-ngulur waktu saat dirinya hendak meminta kepastian kapan hubungan mereka akan diresmikan. Tidak terpikirkan oleh gadis itu jika Darrel sedang berjuang sekuat tenaga karena ingin memberikan yang terbaik untuknya.


"Maafkan aku, Darrel. Aku salah karena telah meragukanmu," ujar Zivanna lagi dengan agak terisak.


Darrel tak menjawab, tapi tangannya terulur dan mengusap lembut kepala Zivanna. Entah kapan persisnya di jatuh cinta pada gadis ini, tapi kini rasanya dia tak sanggup jika harus menjalani harinya tanpa Zivanna. Darrel tak pernah membayangkan dunia di mana Zivanna tak bersamanya. Saat Zivanna mengatakan hendak mengakhiri hubungan dan membuka diri pada lelaki yang menyukainya, dunia Darrel benar-benar terasa akan runtuh.


"Aku yang minta maaf. Aku yang tidak bisa memberimu kepastian sampai membuatmu khawatir sendiri," gumam Darrel kemudian.


Isakan Zivanna semakin menjadi mendengar suara Darrel barusan yang begitu lembut. Kini dia merasa benar-benar jahat dan egois karena telah berpikir Darrel hanya mempermainkannya saja.


Darrel menghela nafasnya sekali lagi. Diusapnya lagi kepala Zivanna dengan lembut dan dibiarkannya gadis itu menumpahkan semua kegundahannya. Hingga akhirnya, Zivanna pun mulai bisa menguasai dirinya lagi.


"Jadi bagaimana? Kamu tetap mau mengakhiri hubungan kita?" tanya Darrel.


Seketika Zivanna membeliak dan memukul lengan Darrel bertubi-tubi. Tentu saja Darrel hanya membiarkannya saja sambil sedikit menipiskan bibirnya.

__ADS_1


"Kan kamu sendiri yang bilang," ujar Darrel dengan sedikit menggoda.


"Kamu bilang tidak mau, kan?" Zivanna tak mau kalah. Dia sedikit kesal dan memasang muka cemberut. Bisa-bisanya lelaki yang biasanya datar dan minim ekspresi ini menggodanya di saat-saat seperti ini.


"Kamu sendiri yang bilang begitu, terus kenapa kamu yang marah?" goda Darrel lagi.


"Tidak lucu, Darrel." Zivanna mendengkus sembari membuang muka ke arah lain.


Sudut bibir Darrel sedikit terangkat melihat wajah Zivanna. Sekali lagi diusapnya pucuk kepala Zivanna dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Zi," gumam Darrel lirih.


Tubuh Zivanna membeku seketika. Baru kali ini dia mendengar Darrel mengungkapkan perasaannya.


"Zivanna, aku mencintaimu. Itu kan yang ingin kamu dengar?" ujar Darrel lagi.


Kali ini Zivanna tidak tinggal diam. Dia mendekat pada Darrel dan hendak berhambur ke arah lelaki itu. Tapi kemudian ....


"Zivanna!"


Sebuah suara yang cukup lantang membuat Zivanna meloncat ke belakang, gagal memeluk Darrel. Untunglah, dia tidak jadi kelepasan.


"Ma-Mama?" Zivanna bergumam dengan agak terbata.


"Jadi ini yang kalian sebut dengan membicarakan sesuatu?" tanya Zaya tajam sembari berjalan mendekati Zivanna dan Darrel.


"Ti-tidak, Ma. Aku dan Darrel memang hanya sedang bicara," ujar Zivanna membela diri.

__ADS_1


Zivanna melirik ke arah Darrel dengan agak panik. Tapi rupanya bukan hanya Zivanna yang merasa begitu, Darrel pun kelihatannya sama. Padahal mereka belum sempat melakukan apapun.


Zaya melipat kedua tangannya sambil membuang napas kasar, sebelum akhirnya mendekati sang putri.


"Masuk!" perintah Zaya sembari menyeret Zivanna menjauh dari Darrel.


Zivanna yang masih dalam mode terkejut dan panik, hanya bisa mengikuti sang mama dengan pasrah. Tapi beberapa langkah kemudian, Zaya menghentikan langkahnya sejenak dan kembali menoleh ke arah Darrel.


"Kamu juga masuk, Darrel! Apa aku mesti mengatakan pada kedua orang tuamu kalau pembicaraan tentang pernikahan kalian dibatalkan?" tanya Zaya pada Darrel dengan tak kalah tajam.


"Ja-jangan, Tante. Saya masuk sekarang," sahut Darrel sambil bergegas meninggalkan tempat itu. Dia melangkah cepat melewati Zaya dan Zivanna, sehingga masuk lebih dulu ke dalam kediaman keluarga Brylee.


"Ayo!" Zaya kembali menarik tangan Zivanna dan menyeret anak gadis kesayangannya itu masuk ke dalam juga.


Setiba di ruang keluarga, Zaya kembali mengubah raut wajahnya menjadi lembut seperti biasa. Dia membimbing Zivanna untuk duduk, sebelum dia sendiri juga duduk di samping sang suami. Terlihat Darrel juga sudah duduk di antara kedua orang tuanya.


"Sudah selesai bicaranya?" tanya Aaron pada Zivanna.


"Iya, Pa," sahut Zivanna pelan. Dia melirik sekilas ke arah Zaya, takut kalau mamanya itu mengadukan apa yang terjadi di luar sana.


"Memangnya apa yang kalian bicarakan berdua di luar sana? Bukannya lebih baik bicarakan langsung saja di sini?" Kali ini Kara, mamanya Darrel yang bertanya.


"Mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting. Saking pentingnya, sampai memakai bahasa kalbu," ujar Zaya sambil kembali melirik tajam ke arah Zivanna.


Darrel yang mendengar itu langsung meraih cangkir teh yang tersaji di hadapannya dan meneguk isinya hingga tandas. Sedangkan Zivanna pura-pura melihat binatang terbang melintasi wajahnya dan menepuk binatang tersebut. Tentu saja hal itu membuat Aaron dan kedua orang tua Darrel menjadi sedikit bingung sekaligus heran. Sayang, tak ada yang membuka mulut untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2