Albern & Lily

Albern & Lily
Harus Banyak Memberikan Contoh


__ADS_3

Puas menertawakan Zivanna dan Darrel, tubuh Lily terasa lemas. Sedangkan dua orang yang ditertawakan tampak memasang wajah kesal.


"Hei, kenapa wajah kalian cemberut seperti itu? Harusnya kalian bahagia karena sudah mendeklarasikan hubungan sebagai calon partner hidup," ujar Lily masih dengan menahan tawa.


"Sekali lagi kamu tertawa, aku tarik rambutmu sampai botak." Ancam Zivanna.


"Ih, takut!" Lily pura-pura bergidik.


"Dasar!" Zivanna melengos dengan wajah cemberut.


Lily kembali terkekeh. Perhatiannya kemudian beralih pada Darrel yang sedari tadi hanya terdiam.


"Tapi, Darrel. Awas saja kalau sudah berhasil jadi Hokage nanti kamu sampai mengabaikan Kak Zi." Lily masih dalam mode bercanda.


Raut wajah Darrel sedikit berubah, hingga Lily kembali tertawa dibuatnya. Pemuda itu selalu malu jika disinggung tentang cita-cita masa kecilnya yang ingin menjadi seorang Hokage.


"Sudah aku duga, kalau dia sampai tahu, pasti akan begini ...," desah Zivanna dengan nada putus asa.


Sekali lagi Lily tertawa. Selain merasa lucu dengan cerita Zivanna dan Darrel yang sekarang sudah resmi menjalin hubungan, ia sebenarnya senang dan juga surprise. Lily tak menyangka saja jika akhirnya kedua orang ini mengalami kemajuan juga. Lily dapat melihat mereka saling menyukai bahkan sejak jaman mereka suka mencuri mangga dulu.


"Baiklah, baiklah ... aku tidak akan menertawakan kalian lagi." Lily menghentikan tawanya dan berusaha sekuat tenaga agar tak tertawa lagi.


"Jangan khawatir, aku akan jadi pendukung kalian nomor satu." Ujar Lily lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Zivanna kembali melengos. Baru Lily yang tahu saja sudah begini, entah bagaimana nanti kalau orangtuanya dan orangtua Darrel yang tahu. Ah, Zivanna tak sanggup membayangkan akan seberapa malunya ia nanti.


"Hei, Darrel. Pita suaramu bermasalah, ya? Atau kamu sedang sariawan?" Lily menyenggol sedikit kaki Darrel dengan menggunakan kakinya.


"Tidak." Jawab Darrel singkat.


"Terus kenapa kamu diam saja dari tadi?"


"Memangnya aku harus bicara apa?" Darrel balik bertanya.

__ADS_1


Lily berdecak. Bahkan Albern yang terkenal dingin terhadap perempuan saja, sekarang bersikap pada Lily dengan sangat manis. Apa-apaan dengan sikap Darrel sekarang?


"Darrel, aku mau tanya, tapi kamu harus jawab dengan jujur di depan Kak Zi." Ujar Lily kemudian dengan nada lebih serius.


"Tanya apa?"


"Sekarang kalian berdua sudah berkomitmen seperti halnya aku dan Kak Al. Tapi sebenarnya kamu merasa senang tidak, sih?" Tanya Lily kemudian.


Terus terang dia penasaran dengan apa yang Darrel rasakan saat ini, pasalnya pemuda itu tampak masih memperlihatkan raut wajah datar seperti biasanya. Entah dia merasa senang atau tidak, hanya Tuhan saja yang tahu.


"Senang." Jawab Darrel singkat.


Senang katanya? Ada, ya, orang senang ekspresinya datar seperti itu?


"Apa kamu menyukai Kak Zi?"


"Suka." Lagi-lagi hanya jawaban singkat.


"Kak Zi, selamat berjuang," gumam Lily akhirnya sembari menepuk pundak Zivanna dengan segenap rasa simpatinya. Tak habis pikir dia, bagaimana bisa Zivanna yang cantik sempurna dan punya segalanya itu cinta mati pada kanebo kering seperti Darrel, sampai-sampai dia pernah menolak pernyataan cinta dari seorang pemuda tampan yang merupakan pewaris sebuah perusahaan besar, salah satu mitra bisnis papanya.


Entah apa yang Zivanna harapkan dari Darrel. Bahkan meski mereka sudah menjalin hubungan sekalipun, mungkin tak banyak perubahan dari cara Darrel dalam memperlakukan Zivanna, mengingat betapa payahnya pemuda itu dalam berekspresi.


Ah, terkadang cinta memang hadir dengan segala keanehannya. Semua yang dianggap orang tak masuk akal akan menjadi sesuatu yang wajar jika sudah menyangkut urusan cinta. Seperti halnya Lily yang jatuh cinta pada Albern sejak belia dan berusaha untuk terlihat sebagai seorang perempuan bagi lelaki yang jelas jauh lebih dewasa darinya, meski saat itu tak ada jaminan sedikitpun Albern akan melihat kearahnya.


Begitu pula dengan Zivanna saat ini. Memendam perasaan sejak lama dan menolak setiap cinta yang disodorkan padanya hanya untuk pemuda datar seperti Darrel. Bahkan saking datarnya ekspresi pemuda itu, Lily bahkan pernah menganggapnya seorang vampir saat pertama mereka bertemu dulu.


Tapi mungkin itulah pesona Darrel yang membuat Zivanna tak mampu berpaling. Bagaimanapun mereka menjalani hubungan percintaan itu, Lily hanya berharap jalan mereka akan indah pada waktunya.


Notifikasi sebuah pesan membuyarkan pikiran Lily. Albern bertanya lewat pesan singkat, dimana dia harus menjemput Lily. Lily pun membalas pesan singkat itu dengan mengirimkan alamat kafe tempatnya kini berada.


Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah datang dan berhenti di pelataran kafe. Pintu penumpang mobil tersebut terbuka, dan turunlah seorang lelaki yang masih mengenakan pakaian kerjanya. Lelaki yang selalu terlihat mempesona dalam setiap kesempatan, tak terkecuali kali ini.


Albern turun dari mobilnya. Ia masuk ke dalam kafe dan langsung menemukan meja tempat Lily berada.

__ADS_1


"Kak Al." Lily melambaikan tangannya.


Albern tersenyum dan langsung melangkah cepat ke arah Lily, bersamaan dengan Lily yang bangkit dari duduknya.


Lily langsung berhambur ke arah lelaki itu, lalu berhenti tepat di depan Albern.


"Ayo, kita langsung ke salon sekarang," ajak Albern.


"Kak Al tidak mau minum dulu?" tanya Lily.


"Tidak. Kita langsung pergi saja."


"Oh, baiklah." Lily mengacungkan jempol dan membenahi sedikit penampilannya.


"Eh, tapi Kak Zi?" Lily menahan lengannya yang ditarik Darrel.


"Zi punya mobil sendiri, sopirnya sudah menunggu. Lagipula ada Darrel yang menemaninya." Ujar Albern.


"Ah, iya, benar." Lily tersenyum semeringah.


"Kak Zi, aku duluan, ya." Lily melambaikan tangannya pada Zivanna, dibalas Zivanna dengan melambaikan tangannya juga, meski dengan agak malas.


Zivanna melihat ke arah Albern dengan sedikit mencebik. Kakaknya itu sekarang sudah tak memperhatikannya lagi semenjak katanya punya calon istri. Sepertinya setelah ini dia akan mengadu pada mamanya. Untung saja perempuan yang menjadi calon istri Albern itu Lily, jadi Zivanna masih bisa memaklumi. Coba saja kalau itu perempuan lain, ia pasti akan protes keras pada Albern.


Zivanna memandang kepergian Lily dan Albern hingga keduanya menghilang dari pandangan.


"Kamu juga mau pergi ke salon, kan? Ayo." Darrel yang telah lebih dulu bangkit.


Zivanna memandang sekilas ke arah Darrel, lalu mengangguk. sungguh tak ada manisnya sedikit pun sikap pemuda itu.


Sebuah kenyataan pun kini Zivanna sadari. Sepertinya saat dirinya benar-benar menikah dengan Darrel nanti, dirinya mesti banyak memberikan pemuda itu contoh.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2