Albern & Lily

Albern & Lily
Kesempatan


__ADS_3

Saling mencintai?


Carissa tertegun sambil menatap Lily dengan tatapan tak percaya. Benarkah Albern juga memiliki perasaan yang sama terhadap Lily?


"Tolong jangan minta aku meninggalkan Kak Al, Ma. Kami sudah saling berjanji untuk selalu bersama. Kak Al tidak mau menikah dengan perempuan selain aku, dan aku juga begitu. Aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengan Kak Al, aku tidak bisa hiks...hiks..." Lily terisak sambil kembali memeluk pinggang Carissa.


Carissa tampak mencerna kata-kata Lily sambil menautkan kedua alisnya.


"Albern juga mencintaimu?" Tanya Carissa sambil merenggangkan pelukan Lily dan menatap kembali putrinya itu.


Lily mengangguk mengiyakan.


"Kak Al bilang, dia sudah lama memendam perasaannya padaku. Dia tidak bisa memendamnya lebih lama lagi karena takut aku akan menjalin hubungan dengan orang lain. Kak Al juga berniat untuk menemui Mama dan Papa secara langsung untuk melamar ku, tapi aku menolaknya karena takut hal itu justru membuat Papa menjadi marah." Jawab Lily dengan pelan.


Carissa kembali terdiam sembari menghela nafasnya. Perempuan paruh baya itu tampak sedang berpikir dan menimbang-nimbang. Awalnya Carissa ingin meminta Lily segera mengakhiri hubungannya dengan Albern karena merasa jika perasaan Lily hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi jika benar mereka saling mencintai, maka ceritanya akan berbeda. Tampaknya situasi ini akan menjadi sedikit rumit.


"Lily, apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan tadi? Albern benar mencintaimu juga?" Tanya Carissa lagi meyakinkan.


"Kalau Mama tidak yakin, Mama bisa bertanya sendiri pada Kak Al. Mama pasti akan mendapatkan jawaban yang sama dengan yang Mama dengar tadi. Kak Al tidak akan berbohong padaku, Ma. Dia bukan orang seperti itu."


Carissa kembali terdiam.


"Kami saling mencintai dan ingin membangun masa depan bersama-sama. Tidak bisakah Mama merestui hubungan kami?" Lily bertanya dengan air mata yang mengalir deras di kedua belah pipinya.


"Lily..." Carissa memandang Lily dengan perasaan yang bercampur aduk. Tidak pernah sebelumnya Lily memohon sesuatu dengan sangat mengiba seperti ini.


"Sebenarnya kenapa Mama dan Papa sangat tidak menyukai Kak Al. Apa salah Kak Al, Ma? Dia sangat baik. Meskipun dia punya segalanya, tapi dia tidak pernah menggunakan semua itu untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Dia juga tidak pernah sekalipun bermain perempuan meski banyak perempuan yang melemparkan diri padanya. Aku sangat yakin dia akan jadi lelaki yang setia seperti Papa. Kenapa aku tidak boleh menjalin hubungan bersama Kak Al? Kenapa?" Lily melepas pelukannya pada Carissa, lalu menutupi wajahnya yang beruraian air mata dengan telapak tangannya sendiri.


Gadis itu tersedu dengan sangat memilukan.


Sekali lagi Carissa menghela nafasnya. Dia jadi teringat bagaimana terpukulnya dia dulu saat kedua orangtuanya memaksa dirinya berhenti mendekati Aaron. Meski perasaannya tak berbalas, rasanya sangat sulit bagi Carissa untuk menjauh dari lelaki itu. Lalu bagaimana dengan Lily sekarang. Mereka bahkan memiliki perasaan yang sama dan sudah menjalin hubungan. Haruskah dia bersikeras agar putrinya ini tetap meninggalkan Albern?

__ADS_1


Jika Carissa melakukan itu, entah kenapa rasanya dia akan menjadi ibu paling kejam sedunia. Tapi jika Lily tetap berhubungan dengan Albern, bagaimanakah caranya untuk memberi tahu Evan dan meyakinkan suaminya itu, mengingat selama ini Albern meninggalkan kesan yang kurang baik di mata Evan. Meski Carissa sendiri tidak tahu dimana letak 'kurang baik' putra Aaron itu.


Astaga, kenapa sekarang rasanya Carissa seperti sedang memakan buah simalakama. Semuanya jadi serba salah.


"Tolong beri kami kesempatan, Ma. Aku akan buktikan jika Kak Al bersungguh-sungguh padaku. Tolong biarkan kami terus menjalin hubungan." Lily kembali bersuara setelah berhasil meredakan tangisnya.


"Sayang, kenapa kamu jadi sedih sekali seperti ini?" Carissa melunak. Dihapusnya air mata Lily yang sesekali masih jatuh ke pipinya.


"Mama yang jahat, bagaimana bisa Mama menyuruhku mengakhiri hubungan, aku kan menjalin hubungan dengan kak Al baru beberapa hari." Lily kembali mewek dan tersedu-sedu.


"Ya ampun..." Carissa kembali menghapus air mata Lily sambil menggelengkan kepalanya. Dia tampak menahan senyum melihat tingkah putrinya itu.


"Kalau Albern melihat kamu bertingkah seperti ini, apa dia masih tetap menyukaimu?" Tanya Carissa dengan sedikit menggoda.


"Mama..." Bukannya mereda, tangis Lily justru semakin menjadi.


Carissa pun membawa putrinya itu ke dalam pelukannya. Diusapnya kepala Lily dengan lembut sambil tersenyum tipis dengan tatapan yang agak menerawang.


"Dasar anak cengeng." Gumam Carissa.


Lily terdiam. Tapi tiba-tiba dia mendongak ke arah Carissa saat menyadari akan sesuatu.


"Menjadi pendamping orang hebat, kamu juga harus menjadi hebat, Lily. Jika Albern punya pasangan yang cengeng dan manja, bukankah itu akan cukup merepotkan untuknya?"


Seketika Lily membeliakkan matanya dengan raut wajah tak percaya.


"Jadi Mama merestui hubunganku dengan Kak Al?" Tanyanya dengan mata berbinar.


Carissa terdiam sejenak.


"Mama mencoba untuk percaya dengan pilihan dan keputusanmu. Mama memberi kesempatan pada Albern untuk menunjukkan kesungguhannya padamu. Mama harap kalian tidak mengecewakan Mama." Jawab Carissa kemudian.

__ADS_1


Lily membeku sejenak, sebelum akhirnya kembali memeluk Carissa erat.


"Terima kasih, Ma. Lily sayang Mama..." Gadis itu kembali pada mode manjanya.


Tangan Carissa kembali terulur membelai pucuk kepala putri semata wayangnya itu. Dalam hati dia berharap jika apa yang dilakukannya saat ini adalah hal yang benar. Semoga saja Evan tidak terlalu marah saat mengetahui dia diam-diam mendukung hubungan Lily dan Albern.


"Tapi, Ma..." Lily kembali mengurai pelukannya dan kembali mendongakkan wajahnya pada Carissa.


"Tapi apa?" Tanya Carissa.


"Papa." Lily bergumam lirih.


"Bagaimana dengan Papa? Aku takut Papa marah saat tahu aku dan Kak Al menjalin hubungan. Aku harus bagaimana?" Lily bertanya dengan agak takut.


Carissa terdiam sejenak.


"Papamu pasti akan marah saat dia tahu nanti. Tentu saja itu resiko yang mesti kamu dan Albern tanggung. Justru Mama ingin melihat sejauh mana kesungguhan kalian berdua menghadapi situasi itu. Ingat Lily, tidak ada hubungan yang lancar-lancar saja. Setiap hubungan pasti akan ada ujiannya masing-masing."


Lily tertegun dengan ekspresi wajah yang tak terlukiskan.


'Aku pikir Mama akan membantuku meyakinkan Papa." Gumamnya Lirih.


"Itu tergantung nanti. Mama juga harus melihat dulu sejauh mana Albern akan memperjuangkan mu." Carissa bangkit dari duduknya dan menatap Lily sejenak.


"Anggap ini kesempatan yang Mama berikan pada Albern untuk meyakinkan Mama. Mama harap dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Ujar Carissa lagi sambil membalik badannya.


"Segeralah mandi dan turun ke bawah, sebentar lagi waktunya makan malam."


Carissa keluar dari kamar Lily, meninggalkan Lily yang tampak masih mencerna kata-katanya barusan. Tak lama kemudian, Carissa tampak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2