Albern & Lily

Albern & Lily
Will You Marry Me?


__ADS_3

Kondisi Ginna di hari-hari selanjutnya tampak membaik, tapi tentu itu hanya dilihat dari permukaan saja karena fungsi organ perempuan renta itu sudah mengalami begitu banyak masalah. Kata sembuh adalah hal yang hampir mustahil bagi sang nyonya besar. Obat-obatan yang terus diberikan padanya hanyalah untuk mengurangi rasa sakitnya saja, tidak berefek pada kesembuhan sama sekali. Untuk terus bertahan hidup saja Ginna harus terus menggunakan alat penunjang kehidupan. Salah satunya adalah selang oksigen.


Namun begitu, Ginna bisa diajak berkomunikasi dan bisa sesekali pergi ke taman rumahnya dengan menggunakan kursi roda. Bisa dibilang, keadaan Ginna jauh lebih baik sejak kedatangan Lily, meskipun penyakit terus menggerogoti tubuhnya. Terlebih Albern juga telah mengatakan jika dia akan segera menikah. Hal itu tentu membuat semangat hidup Ginna menjadi jauh lebih besar daripada sebelumnya. Ginna bertekad untuk menjadi lebih kuat, setidaknya sampai sang cucu melaksanakan pernikahan.


Mengenai tanggapan keluarga Brylee sekembalinya Lily setelah menghilang selama tujuh tahun, mereka memang tak memberikan sambutan yang begitu hangat untuk gadis itu, terutama Zivanna. Mungkin Zivanna marah karena Lily memutus kontak dengannya dan benar-benar tak mengabarinya sedkit pun selama tujuh tahun ini. Alhasil, dia terus bersikap dingin setiap kali bertemu dengan Lily. Begitu juga dengan Aaron. Mereka tak menolak Lily, tapi juga tak begitu menyambut kehadiran Lily. Hanya Zaya saja yang masih bersikap sama dan memperlakukan Lily dengan lembut.


Lily sendiri tak masalah dengan semua itu. Dia pikir, wajar saja Zivanna dan Aaron merasa kesal padanya karena dirinya sudah membuat Albern harus menderita cukup lama. Hal itu juga sedikit banyak mempengaruhi kondisi Ginna hingga menjadi separah sekarang. Bagi Lily, mereka semua tak menentang hubungannya dengan Albern, itu sudah lebih dari cukup. Lily percaya, lama-kelamaan sikap Zivanna dan Aaron akan mencair dan seperti dulu lagi. Hanya menunggu waktu saja, semuanya akan menjadi seperti semula.


Hari itu, Lily dan Albern baru saja menyurvei beberapa lokasi yang akan dibangun sebuah pabrik guna memproduksi obat-obatan mereka nanti. Kontrak kerjasama telah ditandatangani, sehingga proyek besar mereka sudah mulai dikerjakan. Tak tanggung-tanggung, Brylee Group dan BrushHealt Company akan bekerjasama selama lima tahun ke depan. Hal itu membuat Lily akan menetap di Indonesia selama proyek berlangsung dan menyerahkan urusan di New York pada Robbin, sepupunya yang juga wakilnya di perusahaan.


Setelah hampir seharian mendatangi lokasi satu persatu, akhirnya mereka pun sampai di lokasi terakhir yang harus di survei. Dan lokasi kali ini memiliki pemandangan yang cukup indah karena di sekitarnya masih begitu asri. Lily bahkan bisa mendengar suara gemercik air yang berasal dari sungai yang ada tak jauh dari sana. Suasananya juga begitu sejuk karena masih dikelilingi banyak pohonpohon besar.


"Sedang apa di sini?" Suara Albern sedikit mengejutkan Lily.


Lily menoleh dan mendapati Albern telah berdiri di dekatnya sambil membawa dua botol minuman dingin.


"Kak Al bikin kaget saja." Lily sedikit menggerutu.


Albern tersenyum dan menyerahkan sebotol minuman dingin pada Lily, lalu yang satunya dia buka dan dia tenggak sendiri. Lily pun melakukan hal yang sama karena dirinya kebetulan memang sedang merasa haus.


"Sepertinya lokasi ini yang cocok untuk dijadikan pabrik," ujar Albern.


Lily mengangguk setuju.


"Aku baru mau bilang," ujarnya sembari kembali menyesap minuman dingin yang Albern berikan tadi.

__ADS_1


"Kalau lokasi pabrik sudah ditentukan, pembangunannya bisa segera dimulai." Albern kembali bergumam.


Lagi-lagi Lily kembali mengangguk.


"Untunglah semuanya berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala berarti. Awalnya aku sempat merasa khawatir karena proyek pertama kami dulu banyak sekali mendapatkan masalah," ujar Lily.


"Itu karena kamu belum menemukan partner yang tepat seperti sekarang," sahut Albern dengan santainya.


Mau tak mau Lily tertawa mendengar itu.


"Lama-lama aku kagum dengan kenarsisan Kak Al."


"Aku bukan narsis. Memang begitu kenyataannya." Albern menyangkal.


"Iya, baiklah. Sekarang aku memang telah menemukan partner yang luar biasa. Dan aku harap, partnerku sekarang tidak hanya bisa diajak bekerjasama dalam bisnis saja, tapi juga dalam hal lain." Lily akhirnya mengiyakan dengan agak berseloroh.


"Baiklah, sepertinya pembicaraan ini sudah tidak profesional lagi," sahut Lily.


"Justru karena sangat profesional, aku bilang seperti itu," kilah Albern.


"Terserah Kak Al sajalah," ujar Lily pasrah.


Albern hanya terkekeh menanggapi.


Pembicaraan Albern dan Lily seketika berhenti saat seorang pemandu yang mengantarkan Albern dan Lily berkeliling tadi kembali datang mendekati keduanya. Tak lama kemudian, asisten pribadi keduanya juga datang mendekat dan memberitahukan jika waktu kunjungan mereka telah berakhir. Mereka berdua akhirnya kembali menuju mobil dengan membawa hasil survei yang memuaskan.

__ADS_1


"Cari alasan agar kamu tidak perlu pulang dengan menggunakan mobilmu," pinta Albern setengah berbisik di telinga Lily.


Lily tampak mengerutkan keningnya.


"Lalu langsung masuk ke mobilku," tambah Albern lagi sambil memperlihatkan senyumnya.


Tentu saja senyuman Albern membuat Lily tak berdaya. Dia pun melakukan seperti yang Albern katakan padanya. Gadis itu mencari alasan agar sopir dan asiaten pribadinya kembali terlebih dahulu menggunakan mobil yang membawanya datang tadi, sedangkan dia langsung masuk ke dalam mobil Albern. Rupanya lelaki itu juga telah menyingkirkan sopir dan asistennya hingga dia dan Lily hanya berdua saja di dalam mobil tersebut.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Lily penasaran saat Albern telah melajukan mobilnya.


"Rahasia. Kalau aku beritahu, jadi bukan kejutan lagi namanya," elak Albern.


Lily pun berusaha untuk bersabar dan tak bertanya lagi. Setelah memakan waktu beberapa saat, tibalah mereka di tepi sebuah danau yang memiliki pemandangan tak kalah indah. Albern menghentikan mobilnya di sana da mengajak Lily turun. Hari sudah sangat sore sehingga matahari sudah mulai turun di ufuk barat, menyisakan bias keemasan di permukaan air danau.


"Indah sekali," gumam Lily takjub.


Albern tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Lelaki itu tiba-tiba saja berlutut di hadapan Lily dengan bertumpu dengan satu kakinya, membuat Lily agak melebarkan matanya karena terkejut.


"Lily, maaf karena aku tidak tahu apa ini sesuai dengan keinginanmu atau tidak. Aku juga tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaanku padamu dengan benar. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku sungguh berharap kamu menjadi satu-satunya perempuan yang berdiri di sampingku dalam keadaan apapun. Jadilah partnerku dalam segala hal. Oke?"


Lily tampak membekap mulutnya dengan ekspresi haru yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata, terlebih saat Albern membuka kotak cincin yang dia keluarkan tadi dan menyodorkan benda itu padanya.


"I love you so much that i don't know how much it feels. So, Lily ..."


Albern menghela nafasnya sejenak.

__ADS_1


"Will you marry me?"


__ADS_2