Albern & Lily

Albern & Lily
Amarah


__ADS_3

"Apa maksud Tante?" Albern terlihat menautkan kedua alisnya.


Carissa Terlihat menghela nafasnya sejenak.


"Tante tahu kamu punya kemampuan untuk menghapus seluruh pemberitaan tentang Lily. Tapi yang kamu lakukan itu, ibarat memberi obat pereda nyeri di saat sakit tanpa mengatasi sumber penyakitnya itu sendiri. Tante tahu perasaanmu pada Lily tidak diragukan lagi, Albern. Tapi saat ini Lily benar-benar belum siap untuk berdiri di sampingmu. Dia butuh waktu untuk mendewasakan diri. Dia juga perlu ruang untuk mewujudkan mimpinya menjadi seseorang yang hebat. Dia harus fokus pada pendidikan dan upaya meraih mimpinya. Untuk itulah, Tante dan Papanya Lily akan mengirim Lily ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan bisnisnya. Dia juga akan banyak belajar tentang bisnis secara langsung dan mungkin juga dia bisa memulai membangun bisnisnya di sana," jelas Carissa.


Albern terlihat tak setuju.


"Kenapa harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Tante? Bukankah dia bisa tetap kuliah di sini? Lagipula, jika Lily ingin belajar bisnis secara langsung, aku bisa mengajarinya. Aku juga bersedia membantu jika dia ingin membangun bisnisnya di sini. Kenapa dia sampai harus pergi ke luar negeri?"


Carissa tersenyum tipis. Meskipun ia juga cukup merasa emosional, tapi tetap bisa bersikap tenang.


"Bukankah kamu juga menempuh pendidikan bisnis di luar negeri?" Carissa balik bertanya.


Albern tertegun sejenak.


"Ya, benar. Tapi itu bisa dibilang sekedar tradisi keluarga yang sudah dilakukan sejak jaman kakekku dulu. Jadi aku harus melakukannya seperti itu juga," jawabnya kemudian.


"Albern, jika Lily ingin bersanding denganmu tanpa cibiran dari banyak orang, maka dia harus setara denganmu. Dia harus menjadi sosok luar biasa yang sukses tanpa bayang-bayangmu," ujar Carissa.


Albern terdiam.


"Jika dia belajar darimu, maka seumur hidupnya, Lily akan dicap seperti apa yang tertulis di pemberitaan itu. Walaupun nantinya dia sukses, maka semua orang akan mengaitkan kesuksesannya itu dengan nama besarmu. Itu akan menjadi beban tersendiri bagi Lily. Sebagai orang tua, kami tidak ingin putri kami satu-satunya diremehkan seperti itu. Tante yakin, kamu juga tidak terima jika ada yang merendahkan Lily," ujar Carissa lagi.


"Tante tahu, agak berat bagimu untuk menunggu Lily. Kamu pasti sudah didesak oleh orang tuamu untuk segera menikah. Tapi jika keadaannya seperti sekarang ini, jangankan memberikan restu untuk menikah, memberi restu hanya untuk sekedar kalian menjalin hubungan saja akan sangat sulit bagi kami. Lily putri kami satu-satunya, Albern. Kami tidak ingin jika saat ini dia memaksakan diri untuk bersamamu, dia justru menjadi kehilangan jati dirinya, kemudian terpuruk dan hancur."


Albern masih terdiam dan tampak berpikir.


"Apa Tante dan Paman Evan sudah memberitahu Lily tentang hal ini?" tanya Albern kemudian.

__ADS_1


"Belum," jawab Carissa.


"Kami baru membicarakannya saat kembali dari rumahmu tadi. Setelah ini kami akan membicarakannya juga pada Lily. Lily mungkin tidak akan langsung menerima, tapi setelahnya dia akan sadar jika itulah yang harus dia lakukan saat ini," lanjut Carissa lagi.


Albern kembali terdiam. Meski hatinya berat dan ingin menolak, tapi tak Albern pungkiri, Lily memang masih belum terlalu dewasa. Pikirannya seringkali masih kekanakan dan dia juga masih harus belajar banyak hal.


"Dan jika kamu memang tulus serta menginginkan yang terbaik untuk Lily, kamu pasti tidak berkeberatan menunggu sedikit lagi," ujar Carissa sekali lagi sambil bangkit dari duduknya.


"Masih ada yang harus Tante lakukan di dalam. Tante harus masuk dulu."


Albern juga ikut bangkit dari duduknya, karena tampaknya Carissa sudah memintanya pulang secara halus.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tante," ujar Albern sopan.


Carissa menganggukkan kepalanya.


"Albern," panggil Carissa saat Albern hendak berlalu.


Albern menoleh dan memandang kearah Carissa.


"Satu-satunya perempuan yang saya inginkan untuk menemani saya dalam semua keadaan adalah Lily. Saya tidak menginginkan siapapun itu selain Lily," ujar Albern dengan tegas.


"Tentu saja apapun yang yang Tante dan Paman Evan rencanakan untuk kebaikan Lily, saya akan mendukungnya. Saya pasti akan menunggu Lily. Tapi sebelum itu, saya harus berbicara dengan Paman Evan. Saya harus memastikan sesuatu sebelum Lily benar-benar melanjutkan kuliahnya di luar negeri,"


Berganti Carissa yang terdiam.


"Tolong sampaikan pada Paman Evan jika saya ingin bicara dengan beliau. Beritahu saya jika Paman Evan ada waktu, saya akan datang," pinta Albern.


Carissa tak langsung menjawab. Ditatapnya lekat wajah Albern yang terlihat sangat serius itu. Carissa tahu jika Albern benar-benar memiliki perasaan yang dalam untuk Lily. Dia juga dalam merasakan kesungguhan dan ketulusan dari kata-kata Albern tadi. Tapi identitas Albern yang memiliki latar belakang luar biasa, membuat perasaan cinta yang tulus saja terhadap Lily tidaklah cukup. Karena cinta bisa saja pudar seiring berjalannya waktu jika tidak ada kesinambungan diantara keduanya.

__ADS_1


"Baiklah, nanti akan Tante sampaikan pada Papanya Lily jika kamu ingin bicara dengannya," ujar Carissa akhirnya.


Albern mengangguk, lalu pamit undur diri. Lelaki itupun berlalu dari hadapan Carissa. Tak lama kemudian, terlihat mobilnya melaju meninggalkan pelataran kediaman Dokter Evan.


Carissa akhirnya beranjak dari ruang tamu setelah sempat tertegun selama beberapa saat. Dan mendadak ia terkejut saat hampir menabrak Lily yang berada di balik dinding penyekat ruang tamu.


"Lily?" Carissa memandang putrinya itu dengan agak mengerutkan dahi.


Lily tampak berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding. Matanya menatap ke arah Carissa dengan agak berkaca-kaca.


"Kenapa aku harus pergi ke luar negeri, Ma?" tanyanya dengan sendu.


Carissa tak menjawab. Tampaknya Lily mendengar percakapannya dengan Albern tadi. Dia sedikit bingung bagaimana harus menjelaskannya pada putrinya itu.


"Jawab, Ma. Kenapa aku harus pergi ke luar negeri? Aku masih bisa kuliah dan mewujudkan impianku di sini. Kenapa aku harus pergi jauh dari sini?" tanya Lily lagi.


Carissa mendekat pada Lily dan berusaha menyentuh pundak putrinya itu, tapi Lily justru menghindar.


"Aku kira Mama akan mendukung dan membantuku. Tapi rupanya Mama juga ingin menjauhkan ku dari Kak Al. Memangnya apa salah kami? Kami saling mencinta dan bukan sedang menjalani hubungan terlarang. Kenapa Mama dan Papa membuat situasinya menjadi sulit?" tanya Lily lagi.


"Sayang, bukan seperti itu. Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik untukmu," bujuk Carissa.


"Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang Mama dan Papa pikirkan. Yang aku tahu, setiap orang tua itu ingin anaknya bahagia. Kenapa kalian justru ingin memisahkan aku dengan Kak Al? Kenapa kalian justru ingin menyiksa perasaanku? Kenapa, Ma?" Lily terlihat semakin emosional.


"Lily ..." Carissa mendekat dan ingin memeluk Lily, tapi gadis itu justru mendorong tubuh Mamanya.


"Aku benci Mama. Aku benci Papa. Kalian kejam!" Lily berseru dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.


"Lily!" Terdengar suara Evan menggelegar mengejutkan Lily dan juga Carissa.

__ADS_1


Bersambung...


Jgn tanya kenapa udah up, emak lagi khilaf😅


__ADS_2