
Sudut bibir Zivanna berkedut menyaksikan raut wajah pias Darrel. Sebisa mungkin ia menahan tawa dan tetap memasang wajah seriusnya. Kali ini ia ingin memberikan sedikit pelajaran pada pemuda di hadapannya itu.
"Mungkin Papa akan sedikit menentang keputusanku untuk menikah muda. Tapi aku yakin setelah melihat kamu memperjuangkanku, Papa pasti akan luluh dan mengizinkan kita untuk segera menikah," ujar Zivanna lagi.
Raut wajah Darrel semakin tak terlihat bagus. Pemuda itu juga terlihat menelan ludahnya dengan agak kesusahan. Selama ini Darrel telah cukup mengenal dengan baik kedua orang tua Zivanna, termasuk Papa gadis itu, Aaron Brylee.
Aaron adalah sosok yang sangat mengagumkan menurut Darrel. Seseorang yang sangat besar jasanya terhadap papanya, Dean. Jika saat ini Darrel bisa berada dalam keluarga yang dikenal cukup terpandang, semua itu tak lain berkat kebaikan Aaron Brylee yang mempercayakan salah satu anak perusahaannya untuk dikelola oleh papanya. Belum lagi Zaya, mama Zivanna yang merupakan sahabat dari mama Darrel, juga mempercayakan bisnisnya di luar dari Brylee group kepada mama Darrel. Intinya, kedua orang tua Zivanna adalah orang yang berjasa besar terhadap kedua orang tua Darrel. Apa yang dimiliki oleh keluarga Darrel saat ini, semua itu tak lepas dari kebaikan yang diberikan oleh keluarga Brylee.
Lalu sanggupkah Darrel yang saat ini belum memiliki apa-apa melamar putri kesayangan mereka?
Keringat dingin pemuda itu tiba-tiba saja keluar membasahi dahinya. Ini adalah sesuatu yang hampir mustahil ia lakukan untuk saat ini. Tentu saja tadi dia tak berbohong saat mengatakan ingin menjadikan Zivanna sebagai ibu dari anak-anaknya, tapi itu nanti saat ia sudah jauh lebih pantas, bukan sekarang.
"Zi, aku …." Darrel tampak berusaha mengatur kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Kenapa? Apa kamu berubah pikiran?" Zivanna menyela sebelum Darrel sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Bukan begitu, hanya saja …."
"Hanya saja apa? Masa baru beberapa menit saja kamu sudah berubah pikiran? Tadi saja kamu kelihatan sangat yakin," ujar Zivanna pura-pura kecewa.
"Zi, aku sangat yakin. Tapi benar katamu tadi, kita bahkan belum menyelesaikan kuliah," kilah Darrel.
Zivanna mencebik.
"Dasar plin-plan!" sergah Zivanna sambil bangkit dari duduknya.
Sontak Darrel juga ikut bangkit.
"Pokoknya kamu harus datang melamarku. Aku tidak mau tahu," ujar Zivanna lagi dengan agak memaksa.
Darrel menggeleng cepat.
"Lebih baik nanti saja, Zi, jangan sekarang. Percayalah," pinta Darrel dengan penuh harap.
"Bukannya tadi kamu sendiri yang mengatakan akan melamarku?"
"Maksudnya aku hanya ingin meyakinkanmu jika aku memang serius padamu."
"Ya sudah, kalau serius, ajak Mama dan Papamu datang melamar ku."
"Tidak, kamu pasti akan menyesal! Aku belum siap punya bayi. Aku masih suka main mobile legend!"
"Hah?"
__ADS_1
Zivanna dan Darrel sama-sama diam sesaat sambil saling menatap. Mata Darrel tampak bergerak kesana kemari karena salah tingkah, hingga sudut bibir Zivanna kembali berkedut dibuatnya. Seumur hidup Zivanna, baru kali ini ia melihat Darrel sampai mati kutu seperti ini.
"Pfftt … Hahahaha …." Tawa Zivanna akhirnya pecah juga. Dia tak sanggup menahannya lebih lama lagi. Raut wajah Darrel yang tampak sangat cemas membuat perut Zivanna kram karena menahan tawa sejak tadi.
"Zi?" Darrel menatap gadis itu tak mengerti.
"Ya ampun, Darrel. Baru kali ini aku melihat kamu panik begitu. Andai sekarang aku bawa cermin, kamu bisa lihat seperti apa wajahmu," ujar Zivanna sambil terbahak-bahak. Kedua tangannya bahkan sampai memegangi perutnya sendiri saking kerasnya ia tertawa.
Darrel masih tertegun tak mengerti. Tanpa sadar tangannya terangkat memegangi wajahnya sendiri.
"Iya, benar, wajahmu itu kelihatan lucu sekali." Zivanna tampak kesusahan menghentikan tawanya.
"Merah, kuning, hijau, seperti pelangi. Ah, tidak, maksudku seperti bunglon."
"Jadi kamu sedang mengerjaiku?" tanya Darrel.
Zivanna hanya menjawab dengan kekehan.
"Astaga … Perutku sampai sakit … Hahaha …."
Darrel membuang nafasnya kasar. Dia sudah merasa sangat cemas, tapi ternyata Zivanna hanya sedang mengerjainya saja. Dalam hati Darrel lega karena tidak harus benar-benar melamar Zivanna. Tapi di sisi lain, dia juga merasa kesal meski tak terlalu tahu kesal karena apa.
"Sepertinya kamu sudah ketularan Lily," gerutu Darrel akhirnya.
Ah, Lily. Zivanna baru teringat jika saat ini harusnya dia berbicara dengan gadis itu, sesuai dengan permintaan Albern. Gara-gara berdebat dengan Darrel, dia sampai melupakan hal penting yang dipercayakan kakaknya itu padanya.
"Ah, iya, aku harus bicara pada Lily," gumam Zivanna kemudian.
Zivanna menoleh ke arah Darrel.
"Darrel, ayo kita temui Lily di perpustakaan," ajaknya sambil meraih lengan pemuda itu.
Darrel tampak membuang nafasnya kasar.
"Kamu sendiri saja," jawabnya malas.
Zivanna menautkan kedua alisnya.
"Kamu marah?" tanya Zivanna.
Darrel tak menjawab.
"Astaga, Darrel, sejak kapan kamu suka merajuk begini? Masa begitu saja marah?"
__ADS_1
Darrel masih diam, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Sontak Zivanna membeliakkan matanya tak percaya, pasalnya saat ini ekspresi Darrel persis seperti anak kecil yang tak diperbolehkan memakan permen.
"Kamu lucu sekali," gumam Zivanna sambil mengulum senyumnya. Tentu saja Darrel kembali menoleh ke arahnya sambil sedikit mengerutkan kening.
"Oke, oke, maaf. Aku janji tidak akan mengerjaimu lagi," Zivanna tersenyum sambil mengacungkan dua jari tanda damai.
Darrel menghembuskan nafasnya dengan agak kasar sambil masih memasang wajah jutek.
"Hei, ternyata kamu pendendam, ya?" Zivanna mencubit lengan Darrel hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Sakit, Zi," protes Darrel.
"Makanya jangan marah lagi!" sergah Zivanna tak mau kalah.
"Memangnya seperti itu membujuk orang yang sedang marah?" tanya Darrel kesal.
"Memangnya harus seperti apa?"
"Pikirkan sendiri, apa yang kira-kira bisa membuat orang tidak marah lagi."
Zivanna terdiam sesaat sambil memandang Darrel dengan agak cemberut.
"Darrel," panggil Zivanna kemudian.
"Apa?"
"Mau aku belikan es krim?" tanya Zivanna.
"Apa?" Darrel menautkan kedua alisnya.
"Maaf, ya, Darrel. Itu yang dilakukan Mamaku saat Papaku sedang kesal. Mungkin saja kamu juga mau es krim," ujar Zivanna dengan agak menggoda.
Darrel masih terus memandangi gadis itu. Sejurus kemudian bibirnya menipis menyerupai sebuah senyuman. Tampaknya dia menyadari jika saat ini Zivanna tengah berusaha untuk membalasnya.
"Sejak kapan Tuan Aaron suka es krim?" gumam Darrel sembari memutar matanya jengah.
Terang saja hal itu membuat Zivanna terkekeh renyah. Hilang sudah rasa kesal gadis itu pada Darrel.
Bersambung ….
Tadinya mau nulis part Lily, tapi kok tenyata masih Darrel sama Zivanna. Mana gaje lagi🙄 Dahlah, next part baru beneran Lily sama Albern.
Happy reading❤️❤️❤️
__ADS_1