
Usai memperkenslkam Lily dari atas podium, Albern kemudian mengajak Lily untuk berkenalan dengan beberapa koleganya. Awalnya terasa canggung bagi Lily. Gadis yang biasanya lincah dan sedikit jahil itu kini harus bersikap anggun.
Apalagi saat Albern mengajaknya menyapa orang-orang yang tergolong penting. Lily benar-benar harus mengerahkan seluruh kemampuannya demi untuk terlihat pantas berdampingan dengan Albern. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, maka reputasi Albern yang akan jadi taruhannya. Lily tak ingin jika kekasihnya ini sampai menanggung malu.
'Baru jadi calon istrinya saja sudah harus jaga image seperti ini, apalagi kalau nanti sudah jadi istrinya?' Lily mulai menggerutu dalam hati. Kakinya sudah terasa pegal sejak tadi karena terlalu lama berdiri dengan menggunakan high heels.
Siapa sangka jika menjadi pasangan Albern ternyata sulit juga. Selain harus berhati-hati dalam bersikap di depan banyak orang seperti saat ini, Lily juga harus betah berlama-lama menggunakan gaun seperti yang sekarang dia kenakan. Pakaian yang sangat tidak Lily sukai sejak kecil dulu. Lily bahkan sering menangis jika mamanya memaksa menggunakan pakaian itu demi untuk menghadiri sebuah pesta. Hal itu juga yang pada akhirnya membuat Lily tidak menyukai pesta.
"Aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Setelah berbincang dengan beberapa orang, Albern membawa Lily mendekat pada pasangan suami istri paruh baya yang sebelumnya tampak asyik berbicara dengan seorang.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Graham." Sapa Albern sopan dan ramah. Rupanya yang akan diperkenalkan Albern pada Lily kali ini adalah kedua orang tua Briana. Adrian Graham dan istrinya.
Pasangan paruh baya itu menoleh. Mereka tersenyum ramah pada Albern.
"Sudah aku katakan untuk tidak terlalu formal saat menyapaku." Tuan Graham protes.
Albern tersenyum.
"Baiklah, saya akan memanggil Anda Paman," ujar Albern Kemudian.
"Perkenalkan, ini Lily, gadis yang pernah saya ceritakan pada kalian." Albern memperkenalkan Lily pada pasangan paruh baya itu.
Lily tersenyum canggung.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Graham. Saya Lily." Ujar Lily sembari menyodorkan tangannya.
Adrian Graham menjabat tangan Lily sambil tersenyum.
"Senang mengenalmu, Nona Lily," ujarnya. Lalu berganti istrinya juga yang menyalami Lily.
"Kamu cantik sekali, Nona. Pantas saja Tuan Muda Brylee jatuh cinta padamu." Nyonya Graham memuji Lily.
"Anda terlalu memuji, Nyonya." Lily tersenyum menanggapi.
Pasangan paruh baya yang ada di hadapannya ini adalah kedua orang tua Briana, yang tempo hari pernah meminta Albern untuk menikah dengan anaknya, tapi Albern tolak karena Albern telah memiliki Lily. Sedikit banyak Lily mengerti bagaimana perasaan mereka. Pasti saat ini keduanya sedang menilai gadis yang membuat putri mereka yang nyaris sempurna itu ditolak. Meski di mulut mereka ramah, tapi entah celaan apa yang kini mereka ucapkan dalam hati, hanya Tuhan saja yang tahu. Dan Lily sendiri sebenarnya merasa kurang nyaman. Dia hanya berdoa, semoga itu hanya asumsinya saja.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tiba-tiba Tuan Graham melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Lily terkejut.
Albern tersenyum. Lelaki itu tampak lebih santai daripada Lily.
"Sebenarnya saya ingin secepatnya, tapi calon istri saya ini masih perlu waktu untuk membiasakan diri," jawab Albern.
Tuan Graham menanggapi dengan anggukan, sedangkan Nyonya Graham tampak menghela nafas sembari tersenyum, seolah ia merasa lega.
__ADS_1
Lily menautkan kedua alisnya. Apa jangan-jangan Nyonya Graham berpikir jika anaknya masih punya kesempatan?
"Tapi jika tidak ada halangan, kami akan menggelar pernikahan secepatnya," tambah Albern lagi sembari menoleh ke arah Lily. Lelaki itu seolah tahu apa yang sedang dicemaskan gadis itu saat ini.
Senyum Lily mengembang.
"Mohon doanya," timpal Lily sembari terus tersenyum dengan manis.
"Tentu saja." Nyonya Graham menjawab sambil tersenyum dengan agak dipaksakan. Ia terlihat pasrah.
Setelah berbincang-bincang selama beberapa saat, Lily dan Albern akhirnya pamit pada Tuan dan Nyonya Graham untuk menyapa tamu yang lain. Mereka pun berlalu dari hadapan pasangan paruh baya itu
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Albern pada Lily begitu mereka sudah berada agak jauh dari kedua orang tua Briana. Ia melihat Lily agak termangu dan tampak sedang memikirkan sesuatu.
Lily menoleh dan menggeleng pelan.
"Tidak ada." Jawabnya.
Albern tampak tak puas mendengar jawaban Lily. Jelas-jelas gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan dan Nyonya Graham tadi, tampaknya mereka benar-benar menginginkan Kak Al untuk menjadi menantu mereka." Ujar Lily akhirnya dengan nada agak lirih.
"Lalu?"
"Apa Kak Al sungguh tidak mau mempertimbangkan tawaran mereka itu. Kak Al sungguh tidak tertarik dengan Briana sedikitpun?"
"Ada begitu banyak orang tua yang anak gadisnya menyukaiku, kemudian menginginkan aku menjadi menantu mereka. Lalu haruskah aku mempertimbangkan mereka satu persatu?" Albern balik bertanya pada Lily.
"Dan lagi, jika aku tertarik pada Briana, apa menurutmu sekarang aku akan di sini dengan mengajakmu sebagai pasanganku, bahkan memperkenalkanmu pada semua orang jika kamu adalah calon istriku?"
Lily mengangkat wajahnya dan menggeleng pelan.
Albern pun tersenyum.
"Berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya jika aku hanya menginginkanmu saja," ujarnya lembut sembari tersenyum.
Lily menatap manik hitam Albern yang kini juga sedang menatap ke arahnya. Senyuman pun mengembang di wajah Lily. Gadis itu kemudian mengangguk mantap.
"Tuan Muda Brylee ... maksudku Tuan Albern." Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan menyapa, hingga membuat Lily dan Albern menoleh bersamaan.
Melihat sosok yang menyapanya tadi, Albern tersenyum sopan.
"Nona Briana, apa kabar?" Albern menyapa perempuan itu.
__ADS_1
Lily membeku seketika. Perempuan yang bahkan suaranya saja terdengar sangat merdu, ternyata inilah Briana yang akun media sosialnya pernah Lily stalking tempo hari. Perempuan cantik yang pernah membuat Lily galau hanya dengan melihat fotonya saja. Dan ternyata, orang aslinya jauh lebih menawan daripada yang dilihat di foto. Cantik, elegan dan berkelas. Penampilan khas perempuan kelas atas.
Entah kenapa, hati Lily tiba-tiba terasa menciut.
"Senang sekali bisa bertemu dan menyapa Anda lagi." Briana kembali mengeluarkan suaranya.
"Saya juga. Ah, iya, kenalkan, ini calon istri saya yang pernah saya ceritakan." Albern memperkenalkan Lily pada Briana.
"Lily." Mau tak mau Lily menyodorkan tangannya.
"Senang bertemu denganmu, Nona Lily. Saya Briana." Briana menyambung uluran tangan Lily untuk berjabat tangan.
"Apakah ini anak kucing manis Anda itu, Tuan Albern?" tanya Briana kemudian dengan agak berbisik.
Albern hanya mengiyakan sambil sedikit tertawa. Sedangkan Lily tak mengerti dengan perkataan Briana barusan. Dan Briana sendiri tampak tertegun sesaat. Ia tak menyangka jika sosok yang berhasil menaklukkan seorang Albern Brylee adalah seorang gadis muda yang terlihat masih sangat polos, sangat jauh dari kata 'berpengalaman' yang ada dalam bayangan Briana sebelumnya.
"Ternyata Anda menyukai daun muda." Briana sedikit berseloroh.
Sekali lagi Albern tertawa. Lily melihat Albern tidak bersikap dingin pada Briana, seperti saat dia berhadapan dengan perempuan lain.
"Benar, saya memang suka daun muda supaya tetap menjadi muda," jawab Albern dengan berseloroh juga.
"Saya jadi sedikit menyesal karena sudah lahir lebih awal. Tapi Anda benar juga, menjadi muda memang menyenangkan. Iya, kan Nona Lily?" Briana bertanya pada Lily.
"I-iya, benar." Karena tak tahu harus merespon seperti apa, Lily hanya mengiyakan saja.
Diluar dugaan, Briana malah tertawa.
"Sekarang saya mengerti kenapa Tuan Albern menyukai Nona. Nona Lily ternyata sangat menggemaskan."
Hei? Apa katanya? Menggemaskan?
"Semoga hubungan kalian langgeng, Tuan Albern. Sepertinya saya juga harus mencari daun muda supaya ikut muda seperti Anda," ujar Briana lagi sebelum akhirnya pamit untuk undur diri dari hadapan Lily dan Albern.
Lily sedikit termangu memandangi kepergian Briana. Dia pikir sebelumnya Briana adalah gadis kelas atas yang congkak dan tak bersahabat. Dia tadi juga agak was-was seandainya Briana berusaha untuk mempermalukannya karena menganggapnya tak pantas berdampingan dengan Albern. Ternyata itu hanyalah pikiran negatifnya saja.
Benar kata Albern, imajinasi Lily terlalu tinggi. Mungkin efek dari terlalu banyak menonton atau membaca sesuatu yang terlalu didramatisir. Ah, Lily jadi merasa sedikit bersalah karena telah berburuk sangka pada Briana.
"Briana adalah partner kerja yang baik dan juga sangat profesional. Itulah kenapa aku bersikap lebih bersahabat padanya." Suara Albern membuyarkan lamunan Lily.
Lily mengiyakan sambil tersenyum tak enak. Tampaknya setelah ini dia harus mengurangi bacaan dan tontonan yang memberikan pengaruh negatif padanya.
Bersambung...
__ADS_1
Buat yg ga sabar Evan pulang, next chapter dia bakal pulang. Berdoa aja biar ga sampe ada pertumpahan darah😅🤭
Happy reading ❤️❤️❤️