Albern & Lily

Albern & Lily
Angin Segar


__ADS_3

"Bagaimana persiapan untuk pesta perusahaan?" Aaron bertanya pada Albern sembari menyesap teh herbal kesukaannya.


Sore itu, Albern pulang lebih cepat daripada biasanya. Dan saat ini dia tengah bergabung bersama kedua orang tua dan adik semata wayangnya di ruang keluarga.


"Tidak ada kendala. Sudah hampir rampung semua." Jawab Albern.


"Lalu bagaimana dengan rencana mu yang ingin memperkenalkan Lily di pesta itu?" Tanya Aaron lagi.


Albern tak langsung menjawab. Ia menghela nafas panjang.


"Ada apa?" Aaron menautkan kedua alisnya saat melihat perubahan di raut wajah Albern.


Zaya yang sedari tadi sibuk mengupas buah tampak ikut beralih memperhatikan Albern. Begitu pula dengan Zivanna.


"Ada apa, Sayang? Apa ada yang tidak berjalan sesuai dengan rencana?" Tanya Zaya lembut pada putranya itu.


"Ya. Takutnya Lily tidak bisa ikut hadir di pesta perusahaan kita. Jadi mungkin aku batal memperkenalkannya sebagai calon istriku." Jawab Albern dengan agak kecewa.


"Kenapa begitu?" Tanya Zaya lagi.


Albern kembali menghela nafasnya.


"Aku dan Lily sudah sepakat untuk menemui Paman Evan dan memberitahukan tentang hubungan kami pada beliau. Lily juga baru menyetujui hubungan kami diekspos jika sudah mendapatkan restu dari Papanya. Rencananya kami mau meminta restu pada orang tua Lily sebelum pesta. Tapi sekarang semuanya jadi agak kacau. Paman Evan justru pergi ke Singapura karena terjadi sesuatu dengan rumah sakit miliknya. Dan kemungkinan besar akan kembali pulang setelah pesta perusahaan kita selesai diadakan."


Berganti Zaya yang tertegun mendengar penuturan Albern. Begitu pula dengan Aaron dan Lily.


"Aku bisa saja menghubungi Paman Evan melalui telpon, tapi rasanya itu sangat tidak sopan. Aku juga tidak mungkin datang ke Singapura dan muncul secara tiba-tiba. Yang ada beliau akan merasa terganggu. Lagipula Paman Evan juga pasti sedang sibuk mengurus permasalahan rumah sakitnya, jadi mungkin tidak akan ada waktu untuk mendengarkan kata-kataku." Albern terlihat sedikit sedih.


"Lalu bagaimana dengan Mama Lily?" Sekali lagi Zaya bertanya.


"Tante Carissa bilang dia tidak bisa membantu apa-apa. Meskipun beliau sudah menyetujui hubungan kami, tapi beliau tidak bisa mengizinkan apapun tanpa persetujuan dari suaminya."


Semuanya kembali hening dan larut dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat.


"Seandainya kau tidak memperkenalkan Lily di pesta itu, memangnya apa yang akan terjadi?" Suara Aaron akhirnya memecah keheningan.


"Tidak ada yang akan terjadi. Tapi aku merasa agak tidak enak saja pada Tuan dan Nyonya Graham. Saat mereka mengutarakan keinginannya untuk menjadikan ku sebagai menantu di New York tempo hari, aku menolak dengan alasan sudah punya calon istri. Aku juga sudah berjanji akan memperkenalkan calon istriku pada mereka. Jika aku tidak menepatinya, pasti terlihat jika aku sedang membual dan hanya beralasan menolak putri mereka. Takutnya ini akan berimbas pada kerjasama perusahaan." Albern pun sedikit mendesah.


Aaron tampak sedikit tertegun.


"Adrian adalah orang punya pemikiran terbuka. Dia dan istrinya juga sangat profesional. Jadi, mereka tidak akan mencampur-adukkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi." Ujar Aaron akhirnya.

__ADS_1


"Tapi tetap saja, jika Lily bisa hadir ke pesta, aku akan lebih tenang. Setidaknya aku tidak perlu membuat-buat alasan untuk menolak para gadis yang disodorkan padaku. Dan yang terpenting, rumor kejam yang mengatakan jika aku tidak menyukai perempuan akan hilang."


Seketika Aaron terkekeh.


"Bagaimana bisa sebuah rumor sampai mengganggumu seperti itu? Sejak kapan kau peduli pada penilaian orang padamu?" Tanya Aaron.


"Tadinya aku tidak peduli. Tapi sejak Mama ingin aku memeriksakan diri ke dokter, sepertinya aku harus mengembalikan reputasi ku." Jawab Albern sembari melirik kearah Zaya.


"Kenapa jadi Mama?" Gerutu Zaya sembari memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


"Jadi sejauh ini belum ada cara supaya Lily bisa ikut menghadiri pesta?" Tanya Zaya kemudian.


"Belum. Lily tidak mau menghadiri pesta secara diam-diam. Dia tidak mau jika sampai Papanya marah dan menyalahkan Mamanya."


"Oh, pantas saja selama di kampus tadi Lily terlihat sedih dan tidak bersemangat. Mungkin dia juga sangat ingin pergi ke pesta perusahaan nanti sebagai pasangan Kak Al, tapi tidak tahu bagaimana cara memberitahu Papanya." Kali ini Zivanna yang berkomentar.


"Dia kelihatan sedih?" Ulang Albern dengan nada khawatir.


Zivanna mengangguk.


"Bahkan dia jadi sangat sedikit berbicara. Baru kali ini aku melihat Lily tidak cerewet."


"Albern, apa kau sungguh berpikir jika Lily adalah yang terbaik untukmu? Kau benar-benar tidak mau mempertimbangkan Briana?" Tanya Aaron dengan nada serius.


Sontak Albern melihat kearah Papanya itu dengan ekspresi wajah yang berubah tak suka. Begitu pula dengan Zivanna.


"Kenapa Papa masih bertanya? Bukankan jawabannya sudah sangat jelas?" Albern menjawab dengan nada tak kalah serius.


"Tapi menurutku Briana juga gadis yang baik."


"Aku tidak peduli Briana seperti apa. Yang aku inginkan hanya Lily. Jika Papa begitu menyukai Briana, kenapa tidak Papa saja yang menikah dengan Briana?"


Eh?


Albern kelepasan berbicara. Buru-buru ia menoleh kearah Zaya yang terlihat sedang menatapnya tajam. Mamanya itu terlihat tidak suka dengan kata-kata Albern tadi.


"Sembarang saja kau bicara." Gumam Aaron sambil merangkul bahu Zaya. Lelaki paruh baya itu diam-diam tersenyum melihat istrinya marah.


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu di hadapan Mamamu?" Aaron mengusap punggung Zaya sembari menahan senyum. Entah kenapa, dia selalu senang jika istrinya merasa cemburu seperti ini.


"Maaf, Ma. Aku cuma asal bicara." Ujar Albern dengan nada menyesal sembari membuang muka kearah lain.

__ADS_1


"Papa juga, sih. Sudah tahu Kan Al sedang galau, malah memancing keributan." Gumam Zivanna menggerutu.


"Sudahlah, Mama tidak marah." Zaya mengurai rangkulan Aaron, dan melihat kearah Albern.


"Jadi, hatimu benar-benar sudah mantap pada Lily, ya?" Tanya Zaya kemudian.


Albern mengangguk.


"Ya. Aku hanya menginginkan Lily, seperti halnya Papa yang hanya menginginkan Mama."


Semuanya tertegun mendengar penuturan Albern. Mereka tak mengira jika ternyata perasaan Albern terhadap Lily sampai sedalam itu.


"Baiklah..." Aaron kembali memecah kesunyian.


"Jadi sebenarnya ada masalah apa Dokter Evan pergi ke Singapura?"


"Lily tidak mengatakan padaku secara detail, tapi dari informasi yang kuterima, salah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit Paman Evan melakukan malpraktek. Pasiennya mangajukan gugatan. Paman Evan datang ke sana karena pihak penggugat menolak jalan damai."


Aaron terdiam sejenak, terlihat sedang berpikir.


"Dan sepertinya keluarga pasien adalah orang penting di sana, itulah kenapa situasinya agak sulit untuk diatasi." Tambah Albern lagi.


Aaron menatap wajah khawatir Albern sejenak, lalu menghela nafasnya. Sehebat apapun Albern saat ini, dia tetaplah seorang putra yang terkadang membutuhkan bantuan ayahnya.


"Beberapa tahun yang lalu, aku pernah membantu seorang pengusaha asal Singapura. Dia punya banyak kerabat orang penting. Jika sekarang aku meminta bantuannya, dia akan dengan senang hati membantu."


Albern menoleh kearah Papanya.


"Jangan khawatir, aku akan membantu Dokter Evan menyelesaikan masalahnya di Singapura, dan memastikan Lily akan hadir sebagai pasanganmu di pesta perusahaan nanti." Aaron menepuk bahu Albern.


Dengan ekspresi yang sulit dilukiskan, Albern menatap Papanya itu. Lelaki paruh baya yang seringkali bersikap menyebalkan, tetapi tetap menjadi sosok yang paling Albern kagumi.


Albern terdiam sejenak, lalu terlihat menghela nafas lega.


"Terima kasih, Pa." Gumam Albern sembari tersenyum tipis.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2