Albern & Lily

Albern & Lily
Terluka


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Asisten Dhani, Albern kembali ke ruang keluarga, tempat semua anggota keluarganya saat ini sedang berkumpul bersama Lily.


Asisten Dhani langsung pamit undur diri. Kemudian Lily juga meminta pada Albern untuk segera mengantarnya pulang. Tampaknya kedatangan mama dan papanya tadi sudah membuat mood gadis itu turun drastis, pasalnya wajah cantik Lily sudah terlihat tidak terlalu bersemangat seperti saat baru sampai tadi.


Setelah pamit undur diri pada seluruh anggota keluarga Brylee, Lily akhirnya pulang dengan diantar oleh Albern. Nyonya Ginna memandangi kepergian cucu dan calon cucu menantunya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Perempuan renta itu menghela nafas panjang, lalu menyadarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memejamkan matanya. Semua tahu, dia pasti sedang memikirkan nasib percintaan cucu kesayangannya yang tampaknya tak akan berjalan mulus.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Ma. Albern pasti bisa menyelesaikan permasalahan dengan Dokter Evan," ujar Aaron menenangkan Ginna.


"Ada begitu banyak gadis yang menginginkannya, tapi dia tolak mentah-mentah. Dan saat dia begitu menginginkan seorang gadis, ayah gadis itu malah tak memberikan restu ...." Ginna bergumam sambil mendesah.


"Apa mungkin kau dan Dokter Evan masih punya dendam pribadi di masa lalu, sehingga dia tidak mau putrinya menjadi menantumu?" tanya Ginna pada Aaron tiba-tiba.


Aaron tampak agak membeliak mendengar pertanyaan mamanya itu, sedangkan Zaya hampir saja tersedak liurnya sendiri karena terkejut.


"Tentu saja tidak. Memangnya kenapa Dokter Evan dan aku sampai harus punya dendam pribadi?" kilah Aaron.


"Bukankah di masa lalu dia pernah mengejar Zaya, tapi Zaya justru memilih untuk kembali padamu? Mungkin karena hal itu dia tidak ingin putrinya bersama dengan Albern?"


Zivanna yang sedari tadi hanya diam menyimak, langsung menegakkan punggungnya.


"Papanya Lily pernah mengejar Mama?" tanya Zivanna dengan wajah terkejut.


Sontak Aaron, Zaya dan Ginna menoleh ke arah gadis itu. Mereka semua baru menyadari jika Zivanna masih berada di tengah-tengah mereka.


"Zi ...." Zaya mendekat ke arah putrinya yang tampak syok.


"Benar, Ma, Paman Evan pernah mengejar Mama? Bukannya Mama bilang kalau Paman Evan itu kakak angkat Mama?" tanya Zivanna lagi.


"Sudahlah, kenapa juga harus membicarakan masa lalu. Itu terjadi sebelum Dokter Evan bertemu dan menikah dengan Carissa," Aaron akhirnya menjawab pertanyaan Zivanna.


"Ya ampun ... Mama dan Paman Evan?"


"Hei, berhentilah berpikiran yang tidak-tidak. Dokter Evan itu hanya punya perasaan sepihak pada Mamamu. Satu-satunya lelaki yang dicintai Mamamu ini tentu saja hanya Papamu ini," ujar Aaron sambil menarik Zaya untuk merapat padanya.


Zaya hanya bisa menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi benar, Pa?" Zivanna beralih ke arah Aaron.


"Mamamu hanya menganggap Dokter Evan sebagai kakak, tapi Dokter Evan justru punya perasaan lain pada Mamamu. Mamamu tidak bersalah sama sekali. Jika Dokter Evan masih menyimpan dendam, itu masalahnya sendiri," Aaron membela istrinya.


"Kak Evan bukan orang yang seperti itu. Dia sangat baik dan tulus. Jika dia tidak merestui hubungan Albern dan Lily, itu pasti karena hal lain, bukan karena dia menyimpan dendam," kali ini Zaya yang angkat bicara.


"Sayang, aku membelamu, tapi kenapa kau malah membela lelaki lain?" protes Aaron.


"Aku tidak sedang membela siapapun, Honey. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," Zaya berujar lembut sambil mengusap pundak Aaron. Cara yang sangat ampuh untuk menjinakkan suaminya itu.


Zivanna yang melihat adegan drama yang ditampilkan kedua orang tuanya itu tampak memutar bola matanya malas. Ada kalanya kemesraan antara Mama dan papanya membuatnya merasa jengah. Ah, jika begini 'kan dia jadi merindukan Darrel.


"Sudahlah, lebih baik antarkan aku pulang. Tadinya aku datang kemari karena ingin membicarakan beberapa hal dengan Lily, tapi rupanya tidak bisa," Ginna menginterupsi hingga Aaron dan Zaya terpaksa menghentikan drama romantis mereka.


"Apa tidak sebaiknya Mama menginap di sini saja?" tanya Aaron.


"Benar, Ma. Sudah lama Mama tidak menginap di sini," Zaya menambahkan.


"Aku sulit tidur jika tidak di tempat tidurku sendiri. Lagipula, melihat kalian berdua yang sering tidak sadar umur membuat kepalaku agak pusing,"


"Maaf, Ma," ujar Zaya sambil menjauhkan dirinya dari sang suami.


"Baiklah, kalau Mama memang bersikeras ingin pulang. Aku akan menyuruh sopir untuk mengantar Mama," Aaron menyerah. Ginna memang seringkali tidak mau jika disuruh menginap di rumahnya.


Ginna pun akhirnya pulang dengan diantar oleh sopir pribadi Aaron. Sedangkan Zivanna juga pamit dari hadapan kedua orangtuanya untuk masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu masih terpikirkan hal yang baru diketahuinya tadi, fakta jika papanya Lily pernah mengejar mamanya. Dia jadi bertanya-tanya, apakah Lily juga sudah mengetahui hal ini?


Sementara itu, Albern yang sedang dalam perjalanan mengantarkan Lily pulang, beberapa kali menoleh gadis itu. Lily sendiri menatap lurus ke depan, terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Seumur hidup Albern, baru kali ini dia melihat Lily terdiam tanpa suara dalam waktu yang cukup lama. Tampaknya ada hal yang begitu mengusik pikirannya hingga keceriaannya hilang tak bersisa.


Albern melirik arloji yang melekat di lengan kirinya, lalu menepikan mobilnya di pelataran sebuah pertokoan. Masih tersisa waktu setengah jam dari waktu dua jam yang diberikan Evan tadi, hingga Albern memutuskan untuk berbicara dulu dengan Lily.


"Kenapa?" tanya Lily saat menyadari mobil yang Albern kendarai telah berhenti.


Albern menghela sejenak.


"Aku yang harusnya bertanya padamu, kamu kenapa?" Albern balik bertanya.

__ADS_1


"Hah?" Lily terlihat tidak mengerti.


"Kamu terlihat sangat sedih. Apa karena kedatangan mama dan papamu tadi?"


Lily agak terkejut. Ia tak menyangka jika Albern memperhatikannya selama perjalanan tadi.


"Tidak ada apa-apa,-" kilahnya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Lily, kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Katakanlah apa yang saat ini sedang mengganggu pikiranmu supaya aku bisa lebih mudah membantu," bujuk Albern.


Lily bergeming, enggan untuk bersuara.


"Pasangan itu harus berbagi dalam segala hal. Tidak adil jika salah satu ada yang menderita sendirian, karena itu akan jadi sebuah alasan dari lemahnya sebuah hubungan."


Lily masih terdiam, lalu menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku mencintai Kak Al bukan karena semua yang Kak Al miliki. Meskipun Kak Al bukan pewaris Brylee Group, aku tetap mencintai Kakak. Aku bermimpi menikah dengan Kak Al bukan karena ingin menjadi Nyonya Brylee. Tidak pernah ada pikiran seperti itu sedikit pun terlintas di benakku," ujar Lily akhirnya dengan suara serak dan agak bergetar.


"Aku mencintai Kak Al bagaimana pun keadaan Kakak. Perasaanku tidak akan berubah meskipun Kak Al tak memiliki apa-apa lagi. Apa Kak Al percaya padaku?" tanya Lily sambil mengangkat wajahnya.


Albern terhenyak. Wajah yang biasanya selalu menyinggung senyuman itu terlihat begitu sendu. Matanya yang biasanya selalu berbinar juga terlihat begitu sedih, seakan ada yang membuat gadis di hadapannya ini begitu terluka.


"Lily..." Albern mengambil tisu dan menyeka air mata Lily yang hampir terjatuh. Lelaki itu merasa bukan kedatangan orang tuanya yang membuat Lily seperti ini.


"Lily, apa mungkin kamu habis membaca artikel sampah di berita online?" tanya Albern.


Lily tak menjawab, tapi diamnya itu sudah menjadi jawaban untuk Albern. Sepertinya Lily memang telah membaca pemberitaan buruk tentang dirinya sebelum sempat Asisten Dhani membereskan semua artikel-artikel tak bertanggung jawab itu. Dan terlihat jelas jika gadis itu kini begitu terluka.


Bersambung...


Semoga masih sabar nungguin kelanjutannya. Yang ga sabar dan milih buat ga nungguin lagi juga ga apa-apa, emak ngerti kalo menunggu itu berat.


Terima kasih buat buat yg udah bertahan dalam ketidakpastian update-an emak. (sok puitis)😅


Happy reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2