
"Sayang ...." Carissa hanya bisa bergumam dengan nada yang sangat lirih. Dia menatap Evan dengan dada yang mulai bergemuruh. Kilatan kemarahan di netra suaminya itu membuat hati Carissa mulai dihinggapi perasaan takut.
"Kamu baru sampai, istirahatlah dulu sebentar, setelah itu baru kita jemput Lily bersama-sama," pinta Carissa lagi dengan segenap keberaniannya.
Evan menghembuskan nafas kasar, lalu melangkah berlalu dari hadapan Carissa masih dengan wajah yang mengeras. Buru-buru Carissa menyusul suaminya itu. Tenyata Evan mengambil sendiri kunci mobil mereka dari tempat benda itu biasa diletakkan. Kemudian ia kembali melangkah menuju pintu utama rumah mereka.
"Sayang, tolong jangan begini. Tidak baik mengemudikan kendaraan jika kamu dalam keadaan marah. Aku mohon tenangkan dirimu dulu." Carissa meraih lengan Evan, berusaha untuk menahan suaminya itu.
Evan berhenti, lalu menoleh kearah Carissa.
"Aku marah? Benar sekali aku marah. Kamu tahu kenapa sekarang aku merasa sangat marah, Carissa? Itu karena istri yang sangat kupercayai sekarang sedang menyembunyikan sesuatu yang penting dariku," ujar Evan dengan sarkas.
Carissa terhenyak dengan ekspresi yang tidak bagus.
"A-apa maksudmu?" tanyanya dengan agak terbata.
"Tidak usah pura-pura tidak mengerti. Kamu memberi izin untuk Lily menjalin hubungan dengan Albern tanpa sepengetahuanku. Dan sampai aku berada di hadapanmu pun kamu mau terus menutupinya."
"Aku ...." Carissa seperti kehilangan kata-kata. Ia menatap Evan takut sembari menelan salivanya dengan agak kesusahan.
"Entah apa yang diberikan oleh keluarga Brylee padamu, sampai-sampai kamu sanggup membohongi suamimu sendiri seperti ini," tambah Evan dengan semakin sarkas.
Carissa langsung menggeleng dengan tegas.
"Kamu berpikir terlalu berlebihan. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya padamu. Aku tidak tega melihat Lily bersedih karena kita tidak merestui hubungannya dengan Albern. Mereka saling mencintai ...."
"Apa kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan, Carissa?" potong Evan sebelum Carissa menyelesaikan kata-katanya.
Carissa tampak tak mengerti dengan apa yang diucapkan Evan barusan.
"Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku hanya ingin melihat putriku bahagia. Albern mencintainya, Zaya dan Aaron juga menerima Lily dengan tangan terbuka. Memang apa masalahnya?"
__ADS_1
"Apa masalahnya? Tentu saja Albern sendiri yang menjadi masalahnya. Dia bukan orang biasa. Membiarkan Lily menjalin hubungan dengannya sama saja dengan menjerumuskannya ke dalam jurang tak berdasar. Lily masih sangat belia, tidakkah kamu berpikir jika sedikit saja tekanan karena berada di sisi Albern akan membuat dirinya hancur?"
Carissa menggelengkan kepalanya dengan alis yang sedikit bertautan.
"Kamu selalu begitu, selalu saja khawatir tanpa alasan," gumam Carissa pada Evan.
"Khawatir tanpa alasan katamu?" Evan terlihat semakin marah. Ia lalu mengeluarkan smartphone miliknya dan mengotak-ngatiknya sebentar, kemudian memperlihatkannya pada Carissa.
Masih dengan sedikit bingung, Carissa mengambil ponsel tersebut, lalu melihat apa yang ada di layar ponsel. Seketika mata Carissa membeliak saat membaca beberapa judul artikel berita online yang sedang trending saat ini.
[PEWARIS BRYLEE GROUP UMUMKAN GADIS MUDA SEBAGAI CALON ISTRI MASA DEPAN. SUGAR BABY NAIK KELAS?]
[CALON ISTRI ALBERN BRYLEE TERNYATA PUTRI DARI MANTAN PIANIS TERKENAL, CARISSA NUGRAHA. IBU TAK BERHASIL MASUK KELUARGA BRYLEE, ANAK MELANJUTKAN MISI]
[LILY BRAMASTA MEMBUAT IRI SELURUH GADIS. NITIZEN : CARA INSTAN HIDUP SENANG, TAMPIL CANTIK DAN GAET LELAKI KAYA]
[ALBERN BRYLEE DAN CALON ISTRI SELISIH UMUR SEMBILAN TAHUN. NITIZEN : JANGANKAN SEMBILAN TAHUN, SEMBILAN PULUH TAHUN PUN TIDAK JADI MASALAH SELAMA BANYAK UANGNYA]
Masih ada beberapa judul artikel lagi yang berseliweran terkait dengan pengumuman mengejutkan dari Albern di pesta perusahaannya semalam, tapi Carissa tak sanggup membaca lebih banyak lagi karena tulisannya semakin kejam dan tak berdasar. Tangannya tiba-tiba menjadi gemetar karena marah. Bagaimana bisa media online menuliskan sesuatu yang buruk tentang putrinya seperti ini, seolah-olah Lily adalah gadis materialistis yang sengaja menggoda Albern demi uang.
Evan segera mengambil kembali ponselnya miliknya dari tangan Carissa. Sedangkan istrinya masih terpaku dengan wajah pias.
"Sekarang kamu mengerti kenapa aku tidak suka Lily dekat dengan Albern, Carissa? Semuanya terjadi persis seperti apa yang aku khawatirkan. Aku yakin saat ini Lily belum tahu jika banyak orang yang sedang menghujatnya, jika tidak, aku khawatir dengan kondisi psikisnya. Aku harap dia jangan sampai tahu, tapi sepertinya hal itu akan sulit."
Carissa terdiam dengan raut wajah yang terlihat sangat tidak bagus. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Jika keluarga kita sehebat keluarga Brylee, mungkin aku tidak begitu mempermasalahkan hubungan mereka. Seandainya mereka terus menjalin hubungan, maka pihak yang akan terus ditekan dan dirugikan disini adalah putri kita sendiri. Dia masih sangat muda dan polos, bahkan terkadang masih suka menangis untuk hal sepele. Bagaimana jika sampai dia tahu saat ini hampir semua orang sedang membicarakannya, dan kebanyakan dari orang-orang itu memandang rendah padanya. Kamu pasti tidak bisa membayangkan seberapa besar dia terluka." Suara Evan terdengar lebih rendah daripada sebelumnya.
Carissa menghela nafasnya, lalu memberanikan diri melihat kearah Evan.
"Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Carissa kemudian dengan nada lirih.
__ADS_1
"Tentu saja pertama-tama yang harus kita lakukan sekarang adalah membawa Lily pulang. Kita harus memberikan pengertian padanya jika saat ini dia harus lebih fokus pada pendidikannya dan melupakan Albern," jawab Evan.
Carissa terdiam dan mencerna kata-kata suaminya itu. Meminta Lily melupakan Albern, apakah bisa?
"Lily putri kita satu-satunya, Carissa. Jika psikis Lily terganggu karena tidak kuat berdiri di samping Albern, Albern tidak akan kekurangan perempuan untuk menggantikan Lily, tapi kita akan menyesal seumur karena telah membiarkan putri kita hancur."
Mata Carissa tiba-tiba menjadi berkaca-kaca.
"Aku ... aku sungguh tak terpikirkan sampai sejauh itu, ujarnya lirih dengan suara yang agak tergetar.
"Maafkan aku ... aku seharusnya membicarakan hal ini lebih awal denganmu. Maafkan aku ...," ujar Carissa lagi dengan nada penuh penyesalan.
Evan menghela nafasnya sembari memejamkan mata. Sebenarnya dia masih marah pada istrinya ini, tapi dia juga tak bisa menyalahkan Carissa sepenuhnya. Kasih sayang Carissa sebagai seorang ibu telah membuatnya melakukan sesuatu yang bisa jadi akan membuat putrinya sendiri menjadi terpuruk.
"Sudahlah."" Evan akhirnya membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku hanya minta padamu kedepannya untuk lebih percaya padaku. Jika kamu ingin Lily bahagia, aku juga begitu, Carissa. Hanya saja, ada situasi yang harus disikapi dengan logika, bukan hanya dengan menggunakan perasaan," ujar Evan sembari mengusap lembut punggung istrinya itu.
"Iya, aku akan percaya padamu sepenuhnya. Maaf jika aku sempat berpikir jika kamu agak tak masuk akal" gumam Carissa.
Evan mengurai pelukannya, dan menatap istrinya itu.
"Kita jemput Lily. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut dan membuat putri kita semakin terluka nantinya," ujar Evan dengan nada lebih lembut.
Carissa membalas tatapan Evan dan mengangguk pelan. Mungkin benar jika dia harus lebih mempercayai suaminya ini mulai sekarang.
Bersambung...
Adakah yg kangen sama Albern da Lily? Mohon maaf, mereka berdua abis mudik lebaran jadi baru nongol sekarang😅
Makasih buat yg masih setia nunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️