
Zivanna meninggalkan Darrel begitu saja dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Tak dihiraukannya Darrel yang mengejar dan menggedor-gedor kaca jendela mobilnya itu. Dia melajukan kendaraan tersebut tanpa peduli Darrel akan terluka.
Air mata Zivanna jatuh tak tertahankan. Sambil mengemudi, sesekali dia menyeka pipinya yang basah. Semakin keras Zivanna berusaha untuk tak menangis, semakin deras pula air mata yang mengalir dari kedua matanya. Gadis itu tak kuasa menahan rasa perih yang kini menghujam di setiap sudut hatinya. Setelah hampir delapan tahun lamanya, akhirnya dia mesti menyudahi hubungannya dengan Darrel seperti ini. Rasanya tidak rela, tapi inilah yang harus dia lakukan agar tak terus-menerus terbelenggu dalam ketidakpastian.
Sesampainya di rumah, buru-buru Zivanna masuk ke kamarnya dan mengunci ruangan tersebut dari dalam. Dia tak ingin kedua orang tuanya melihat keadaannya yang begitu berantakan, apalagi sampai mengetahui kalau penyebabnya adalah Darrel. Zivanna tak mau hubungan orang tua mereka yang sudah seperti keluarga menjadi hancur berantakan hanya karena dia dan Darrel putus. Sejak awal, dialah yang meminta Darrel menjalin hubungan dengannya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu seperti apa perasaan lelaki itu terhadapnya. Jadi dia tak ingin menyalahkan orang lain atas luka yang dia undang sendiri kedatangannya.
Berkali-kali Darrel menghubungi lewat panggilan telepon, tapi Zivanna menolaknya. Sampai kemudian, Zivanna memutuskan untuk memblokir nomor kontak lelaki itu karena terus saja berusaha untuk menghubunginya. Semuanya berakhir. Ini bukanlah tindakan impulsif, tapi sudah Zivanna pikirkan matang-matang sebelum tadi dia membicarakan tentang masa depan bersama Darrel. Jika Darrel tetap mengelak, maka Zivanna akan mengakhiri saja semuanya. Itulah tekadnya.
Untung saja tak ada mencari Zivanna semalaman sehingga gadis itu punya cukup waktu untuk menenangkan diri. Pagi harinya, semua terasa jauh lebih baik meski hatinya masih sangat sedih. Zivanna sarapan bersama kedua orang tuanya seperti biasa. Sebisa mungkin dia tak memperlihatkan wajah sedih agak tak memancing perhatian. Setelah itu, cepat-cepat dia pergi ke kantor dengan alasan ada meeting pagi.
"Darrel?" Zivanna bergumam pada dirinya sendiri saat mendapati sebuah mobil yang sangat dia kenali terparkir di pelataran kantor. Mobil itu milik Darrel. Tapi untuk apa lelaki itu pagi-pagi datang kemari? Bukankah jarak antara kantornya dengan kantor pusat Brylee Group cukup jauh?
Zivanna segera turun dari mobilnya karena merasa penasaran. Tapi kemudian, dia terkejut tatkala seorang lelaki langsung turun dari mobil tersebut persis setelah dirinya. Benar saja, lelaki itu adalah Darrel.
Zivanna tertegun sejenak, tapi buru-buru membalik badannya saat Darrel melangkah cepat ke arahnya.
"Zi." Darrel langsung menahan ujung lengan baju Zivanna.
Zivanna menoleh dan membeliak ke arah lelaki itu, lalu menghempaskan tangan Darrel dengan kasar.
__ADS_1
"Mau apa kamu kemari?" tanya Zivanna ketus.
"Kita perlu bicara," sahut Darrel.
"Bicara? Bicara apalagi? Bukankah sudah aku bilang, hubungan kita berakhir. Kamu bebas!" Zivanna hendak berlalu, tapi lagi-lagi Darrel menahannya.
"Kamu salah paham, Zi. Kita perlu bicara. Aku kemarin memang mengatakan belum siap melamarmu, tapi tidak seperti yang kamu pikirkan juga," ujar Darrel.
Zivanna menghela nafasnya sejenak, lalu menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan yang tak pernah dia perlihatkan sebelumnya. Antara marah, kecewa, sedih dan entah apalagi. Sepertinya semua perasaan buruk yang tertahan selama ini, kini menggunung dan meledak tanpa ampun. Benar kata orang, kecewanya orang yang sabar dan tak banyak menuntut sungguh mengerikan.
"Pergi dari sini. Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu. Sudah cukup selama ini aku berusaha mengerti. Aku memang sangat mencintaimu, tapi aku tidak akan lagi memohon padamu seperti orang bodoh, Darrel. Apa yang dikatakan Mamaku benar. Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir dengan sangat menyakitkan. Tapi aku tidak akan menyalahkanmu karena aku yang sudah memaksamu untuk menjalin hubungan denganku." Zivanna menjawab dengan tegas.
"Zi, lima menit saja," pinta Darrel kemudian dengan suara yang lebih rendah daripada sebelumnya.
"Tidak. Hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada lagi yang mesti kita bicarakan. Aku juga bukan manusia berhati malaikat yang bisa tetap berteman dengan lelaki yang telah melukaiku. Harusnya kamu merasa senang karena bisa bebas," tolak Zivanna.
"Aku tidak mau kita berakhir seperti ini, Zi. Dengarkan dulu apa yang mau kukatakan. Kamu salah paham," pinta Darrel lagi. Kali ini wajahnya terlihat memohon.
Zivanna tersenyum kecut.
__ADS_1
"Salah paham terhadap apa? Apa kamu takut Paman Dean akan terkena imbas dari hubungan kita yang berakhir? Kalau itu yang kamu khawatirkan, tidak perlu merasa khawatir lagi. Aku pastikan kamu dan orang tuamu tidak akan mendapatkan imbas apapun. Sudah kubilang kamu bebas. Kamu mau langsung menjalin hubungan dengan gadis yang kamu sukai pun tidak masalah. Itu hakmu." Zivanna kembali berujar dengan nada ironi.
Darrel semakin membeku mendengar apa yang Zivanna ucapkan. Lelaki itu terlihat tak mampu mengatakan apapun.
"Kita berdua berhak bahagia, Darrel. Aku yang selama ini egois karena telah menahanmu agar terus berada di sisiku. Aku tidak memikirkan kalau kamu mungkin saja tak memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi sekarang semuanya belum terlambat. Kamu masih punya cukup waktu untuk mulai menjalin hubungan dengan siapapun gadis yang kamu sukai itu. Aku juga sepertinya akan mulai membuka diri dengan lelaki yang menyukaiku. Karena katanya, perempuan itu lebih baik dicintai daripada mencintai jika ingin bahagia." Zivanna kembali menambahkan dengan nada yang tak kalah ironi.
Zivanna pun berlalu dari hadapan Darrel, dan kali ini Darrel hanya mematung tanpa mampu menahan Zivanna seperti sebelumnya. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, hanya Tuhan saja yang tahu. Dia pergi begitu saja setelahnya dengan raut wajah yang tetap tak terbaca.
Zivanna sedikit merasa lega karena Darrel tak memaksa untuk berbicara dengannya. Tapi di sisi lain, hatinya semakin terasa sakit karena hal itu seakan menyiratkan jika Darrel memang tak memiliki perasaan apapun terhadapnya.
Berulangkali Zivanna menghela nafas panjang untuk meredakan gemuruh di dadanya saat ini. Dia berusaha untuk kuat dan menelan rasa pahit itu sendirian. Dulu dia memang anak manja. Tapi Darrel telah perlahan mengubahnya menjadi sosok yang jauh lebih tangguh dan mandiri. Meski sakit, dia tetap harus berterima kasih pada lelaki yang pernah mengisi hari-harinya itu.
Waktu berlalu dengan cepat. Malam pun menjelang, tapi Zivanna tidak juga beranjak dari kantor dengan memberi alasan pada mamanya jika dia lembur. Sebenarnya dia hanya sedang ingin menenggelamkan diri dengan kesibukan yang membuatnya sedikit melupakan patah hatinya saat ini.
Namun kemudian, ponselnya tiba-tiba berdering. Sang mama yang belum lama dia hubungi, kini balik menghubunginya.
"Ada apa, Ma?" tanya Zivanna setelah menerima panggilan itu.
"Zi, pulang sekarang. Darrel dan orang tuanya datang ke rumah dan sekarang sedang berbicara dengan Papamu. Sepertinya mereka datang untuk melamarmu," ujar Zaya di seberang sana.
__ADS_1
Bersambung ....