
Setelah puas menumpahkan semua kegundahannya, Lily akhirnya kelelahan dan ketiduran. Albern menyelimuti tubuh gadis itu dengan hati-hati. Sesekali masih terdengar suara Lily sesegukan. Yang bisa Albern lakukan hanyalah menghela nafasnya sembari menatap ke arah Lily dengan sendu.
Selang beberapa saat, Albern mengeluarkan ponselnya, kemudian terlihat menghubungi seseorang. Setelah itu, dia kembali duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandangi Lily yang sedang terlelap.
Tok! Tok! Tok!
Lamunan Albern terbuyar karena suara ketukan di pintu kamar penginapannya.
Segera Albern bangkit dan membuka pintu. Tampak berdiri di balik pintu itu dua orang yang sebelumnya Albern hubungi, kedua orang tua Lily.
"Di mana Lily?" tanya Carissa dengan wajah panik.
Albern tak menjawab. Dia hanya merespon dengan menyingkirkan tubuhnya dari ambang pintu agar Carissa dan Evan bisa melihat keberadaan Lily di atas tempat tidur.
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya, Albern?" tanya Carissa lagi dengan agak marah. Dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar penginapan itu mendekati tempat tidur yang digunakan oleh Lily. Sedangkan Evan masih berdiri di hadapan Albern dengan raut wajah murka. Jari-jarinya mengepal dengan rahang yang mengeras. Kelihatannya lelaki paruh baya itu telah siap untuk menghajar Albern.
"Saya tidak melakukan apapun pada Lily. Dia tertidur karena kelelahan setelah terlalu banyak menangis," jawab Albern dengan tenang.
Evan dan Carissa pun secara bersamaan memandang Albern dengan tatapan tak yakin.
"Saat kami bertemu tadi, Lily terlihat kacau. Dia menangis sambil menceritakan kesedihannya. Dia juga mengatakan beberapa hal yang tidak masuk akal, sehingga saya membawanya kemari untuk menenangkannya," ujar Albern lagi menjelaskan.
Carissa beralih menatap ke arah Evan, begitu pun sebaliknya.
"Biarkan Lily tidur dulu sebentar, Tante Carissa, tampaknya dia sangat tertekan. Mungkin setelah beristirahat, keadaannya akan jauh lebih baik." Albern menambahkan.
__ADS_1
Carissa beralih memandang kearah Lily. Diperhatikannya wajah putrinya itu dengan seksama. Hidung Lily masih memerah, sedangkan bagian matanya juga agak membengkak. Sepertinya benar jika tadi Lily banyak menangis.
Hati Carissa pun tiba-tiba menjadi terenyuh. Tak pernah sebelumnya Lily sampai seperti ini. Mungkin berpisah dengan Albern benar-benar hal yang sulit baginya.
"Kami sudah di sini, sekarang kamu boleh pergi. Terima kasih karena sudah menjaga Lily," ujarnya Evan kemudian dengan nada datar.
Albern tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Paman, berdua saja," balas Albern.
Evan menatap Albern sejenak, kemudian melihat ke arah Carissa yang sedang memandangi Lily dengan ekspresi sedih.
"Hanya kita berdua, Paman. Urusan antar dua lelaki. Saya harap Paman bersedia jika memang Paman benar-benar menyayangi Lily," pinta Albern lagi dengan nada yang lebih tegas.
"Baiklah, ayo!" Evan akhirnya bersedia. Lelaki paruh baya itu lebih dulu membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan tempat itu, lalu disusul oleh Albern. Sedangkan Carissa hanya memandangi kepergian keduanya dengan tatapan sendu, berharap keadaan tidak menjadi semakin buruk.
Albern dan Evan akhirnya duduk di sebuah bangku taman yang ada di pelataran penginapan tersebut. Untuk pertama kalinya, kedua lelaki berbeda generasi itu duduk secara berdampingan.
"Saya sangat mencintai Lily, Paman." Albern membuka percakapan.
Evan tak menjawab. Dia hanya merespon dengan menatap Albern tajam.
"Saya sungguh merasa sakit melihat Lily menangis sedih seperti tadi," gumam Albern lagi sambil menghela nafasnya.
"Tahu apa kamu tentang Lily?" tanya Evan dengan agak sinis.
__ADS_1
"Saya tahu, hal sekecil apapun tentang Lily, saya sangat tahu. Bahkan saya mengetahui semua hal yang tidak Paman ketahui, karena saya sudah mencintainya sejak lama."
Evan kembali terdiam dengan tatapan yang semakin tajam.
"Tapi tentu saja, perasaan saya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan besarnya kasih sayang Paman sebagai orang tua," tambah Albern lagi.
"Saya tahu, yang Paman lakukan saat ini adalah untuk kebaikan Lily. Saya akan mendukung apapun tindakan Paman jika itu demi kebaikan Lily, bahkan jika saya sendiri harus menderita sekalipun."
Albern menghela nafasnya sejenak, berusaha menetralkan dadanya yang mulai bergemuruh.
"Saya akan membuat Lily setuju untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri seperti yang Paman inginkan. Dia juga pasti akan berhasil meraih impiannya dan menjadi sosok yang luar biasa. Jika saat itu dia melupakan saya dan memilih untuk bersama orang lain, maka saya akan melepaskannya. Tapi jika dia masih datang pada saya, maka tidak ada alasan bagi Paman untuk tidak merestui kami. Seandainya saat itupun Paman masih tidak menyetujui hubungan kami, maka saya pastikan akan merebut Lily dari Paman, dengan cara apapun!"
Albern menatap Evan yang juga sedang menatapnya tajam, lalu bangkit dari duduknya.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan, saya permisi," pamit Albern sambil berlalu meninggalkan Evan yang masih tak bisa berkata-kata.
Bersambung ...
Yang nanya apa Albern Lily udah stop, jawabannya tetep lanjut meskipun slow update. Untuk kesekian kalinya emak cuma bilang buat sediain stok sabar yg banyak, okeh.
Btw, lama ga update karena masih recovery ini, yg di sebelah juga sempat mangkrak karena badan down lagi.
Sehat-sehat, ya, semuanya 😘😘😘
Happy reading ❤️❤️ ❤️
__ADS_1