
Lily dan Albern tampak membeku, tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Sebuah pemandangan yang sebelumnya hanya mereka bayangkan dalam angan, kini ada di depan mata, yaitu kedua orang tua mereka masing-masing duduk berdampingan dalam nuansa damai. Tapi kemudian, sebuah pertanyaan pun muncul, kenapa tiba-tiba kedua orang tua Lily ada di kediaman utama keluarga Brylee?
"Kalian baru kembali dari kantor?" Pertanyaan Zaya membuyarkan pikiran Lily maupun Albern.
Keduanya tampak agak salah tingkah dan saling menarik tangan masing-masing yang sebelumnya saling bergandengan.
"Paman, Tante." Albern langsung memberi salam pada kedua orang tua Lily.
Evan dan Carissa mengangguk menanggapi sapaan Albern. Tapi jika Carissa tersenyum, Evan hanya menunjukkan raut wajah datar yang tak asing lagi di mata Albern.
"Kapan Paman dan Tante sampai?" tanya Albern sambil duduk di salah satu sofa yang masih kosong. Lily pun menyusul duduk di samping Albern, tapi dengan jarak yang cukup jauh pastinya.
"Sore tadi," sahut Carissa.
"Lalu siapa yang menjemput ke bandara?" tanya Albern. Dia berusaha untuk perhatian karena kedua orang tua Lily tak lama lagi akan menjadi kedua orang tuanya juga.
"Kami datang bersama kedua orang tuamu," sahut Carissa.
"Maksudnya, bertemu dengan Mama dan Papa di bandara?"
"Tidak. Kami kan memang berangkat dari Singapura bersama-sama."
Albern tampak sedikit terkejut, begitu juga dengan Lily. Keduanya saling pandang sebelum kemudian menatap ke arah orang tua masing-masing.
"Jadi yang Mama dan Papa bilang ke luar kota itu ke Singapura?" tanya Albern pada kedua orang tuanya.
"Begitulah." Kali ini Aaron yang menjawab.
Albern tampak kehabisan kata-kata. Kalau ke Singapura, itu namanya ke luar negeri, bukan lagi ke luar kota. Entah apa yang kedua orang tuanya ini rencanakan dengan pergi menemui orang tua Lily secara diam-diam, bahkan sampai memboyong mereka kemari.
"Mama dan Papa kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang ke sini?" tanya Lily pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Semuanya tidak direncanakan. Kami berangkat begitu saja," jawab Evan. "Lagipula, Papa tidak menghubungimu karena tahu kalau sekarang kamu sedang sangat sibuk. Papa takut nanti malah merepotkan."
Lily menelan ludahnya dengan agak kurang nyaman. Nada bicara Evan padanya tetap lembut seperti biasa, tapi entah kenapa kali ini terdengar cukup sarkas. Mungkinkah papanya ini merasa terabaikan karena belakangan dia jarang menelepon kedua orang tuanya karena alasan sibuk.
"Maaf ...," gumam Lily kemudian sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tidak apa-apa. Papa tahu kalau proyek yang sedang kamu kerjakan bersama Albern adalah proyek yang besar. Pasti sangat melelahkan, sampai jam segini baru pulang," sahut Evan masih dengan nada lembutnya yang menusuk.
"Hari ini kami melakukan survei lahan di beberapa tempat untuk dijadikan tempat pembangunan pabrik, makanya pulang terlambat," ujar Albern menanggapi.
Evan menoleh ke arah Albern, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalian menyurvei lahan sampai malam begini? Apa tidak berbahaya?" tanya Evan.
"Survei lahannya tidak sampai malam, kok. Tapi tadi ...." Lily yang hendak menjawab tiba-tiba menghentikan kata-katanya sejenak sambil menoleh ke arah Albern. Dia memang berniat memberitahukan pada kedua orang tuanya jika Albern telah melamarnya, tapi apakah harus secepat ini?
"Tadi saya membawa Lily mampir dulu ke suatu tempat, lalu kami juga makan malam dulu, baru kemari." Albern meneruskan kata-kata Lily.
"Tidak, kok, Pa. Kak Al selalu pergi dengan Asisten Dhani dan sopirnya. Aku juga bersama asisten dan sopirku. Tadi saja kami pergi berdua. Itu karena ...." Kalimat Lily kembali menggantung di udara.
"Karena apa?" desak Evan. Kali ini bukan hanya papa posesif Lily itu saja yang ingin mendengar kelanjutan kata-kata kalimat yang diucapkan gadis itu, tapi juga semua yang ada di sana.
"Karena ... karena ...." Sekali lagi Lily menatap ke arah Albern, seakan sedang meminta bantuan.
"Karena saya menyiapkan kejutan untuk Lily, Paman. Saya melamar Lily," ujar Albern akhirnya.
Suasana hening sejenak. Semua orang membeku seolah ada yang mengaktifkan mesin penghenti waktu. Namun begitu, tak ada yang memperlihatkan raut terkejut, seolah mereka semua sudah tahu, atau minimal sudah menebak apa yang dilakukan Albern hari ini.
"Sebenarnya saya dan Lily juga berencana pergi menemui Paman dan Tante dalam minggu-minggu ini, tapi rupanya Paman dan Tante yang datang kemari lebih dulu," tambah Albern lagi.
"Begitu." Evan akhirnya menanggapi sambil menyesap teh yang tersaji di hadapannya.
__ADS_1
Sekali lagi Lily dan Albern saling pandang. Tanggapan Evan terlalu santai sampai mereka berdua menjadi agak bingung dibuatnya.
"Jadi, kali ini Paman akan memberikan restu pada kami, kan?" tanya Albern dengan agak harap-harap cemas.
"Meskipun aku tak memberi restu, kalian juga tetap akan bertemu diam-diam di belakangku. Lagipula, kamu juga pernah mengatakan akan merebut Lily dariku dengan paksa kalau aku tetap tak menyetujui hubungan kalian setelah Lily berhasil mencapai impiannya. Iya, kan?" Evan menatap Albern dengan agak intens.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Albern, dia menjadi agak gugup dipandangi orang seperti itu. Biasanya dia hanya merasa risih jika ada yang menatap ke arahnya.
"Iya, saya pernah berkata seperti itu pada Paman. Maaf kalau terkesan kurang sopan. Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan pada Paman kalau saya sangat mencintai Lily dan hanya ingin menghabiskan hidup saya bersama dia saja. Dan Lily juga begitu," sahut Albern akhirnya dengan jujur.
"Kalau kamu dan Lily sudah seperti itu, aku bisa apa," sahut Evan lagi-lagi dengan nada santainya.
Untuk ke sekian kalinya Albern dan Lily saling pandang. Mereka sampai kehabisan kata-kata mendengarkan tanggapan Evan yang agak di luar prediksi itu. Meski kali ini mereka sudah pasti direstui, tapi ini tetap saja terlalu mudah.
Belum sempat ada yang membuka mulut lagi, ruang perawatan Ginna terbuka. Tampak dokter yang biasa merawat Ginna keluar dari sana.
"Nyonya Besar sudah bisa ditemui. Beliau bilang, ingin bicara dengan Tuan Aaron, Nyonya Zaya serta kedua orang tua Nona Lily secara bersama-sama," ujar dokter tersebut.
"Kami berempat?" tanya Aaron meyakinkan.
"lya, Tuan."
Mereka semua pun saling pandang, sebelum akhirnya menuruti apa yang Ginna inginkan. Aaron, Zaya, Evan dan Carissa bersama-sama menemui Ginna, sedangkan dokter dan perawat yang sebelumnya memeriksa Ginna, kembali ke ruang kerja mereka yang masih bersebelahan dengan ruangan tempat Ginna dirawat. Hanya tinggal Albern dan Lily di ruang keluarga yang tampak masih berusaha mencerna situasi yang mereka hadapi saat ini.
Entah berapa lama kedua orang tua Albern dan Lily berada di ruang perawatan Ginna, akhirnya mereka semua pun keluar dari sana dan kembali ke ruang keluarga.
"Kami sudah berbicara dengan Grandma, lalu sepakat mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kondisi Grandma saat ini. Aku harap kalian berdua menerimanya tanpa banyak protes." Aaron membuka percakapan dengan nada yang sangat serius, sehingga Albern dan Lily mau tak mau jadi merasa agak tegang.
"Kalian ..." Aaron menatap Albern dan Lily secara bergantian. "Pernikahan kalian akan diadakan tiga hari lagi."
Bersambung ....
__ADS_1