
Seketika Lily membeliakkan matanya dan menoleh ke arah Evan dengan raut wajah terkejut. Tubuhnya bau parfum laki-laki? Parfum yang digunakan Albern memangnya bisa menempel lewat udara, kah? Tapi bukankah sebelum menghubungi Evan tadi dia juga sudah lebih dulu berganti dengan pakaian yang dia kenakan dari rumah, bukan lagi pakaiannya saat pergi dengan Albern tadi. Dia juga bahkan telah menghapus make up-nya hingga tak bersisa. Harusnya kebohongannya hari ini sudah sangat sempurna, kan? Bagaimana bisa papanya bisa mencium bau parfum laki-laki dari tubuhnya?
Tanpa sadar Lily mengendus-endus tubuhnya sendiri. Aneh sekali. Padahal dia sama sekali tak menempel pada Albern.
"Oh My God ...." Lily bergumam lirih dengan ekspresi wajah yang sulit dilukiskan.
Entah parfum jenis apa yang digunakan Albern. Bagaimana bisa aromanya bisa tercium dari rambutnya? Apa karena tadi Albern sempat mengusap rambutnya itu?
"Lily?" Evan masih menatap Lily tajam, seakan sedang menunggu penjelasan dari putrinya itu.
"Ini aroma parfum Darrel, Pa." Jawab Lily cepat. Dalam hati dia meminta maaf pada Darrel karena telah melibatkan pemuda itu untuk yang ke sekian kalinya.
Evan tampak menautkan kedua alisnya.
"Tadi Darrel membeli parfum baru. Kami juga ikut mencobanya di pergelangan tangan. Tapi lalu Kak Zi jahil dan menyemprotkannya padaku."
Ya Tuhan, semakin lama semakin pandai saja Lily berbohong. Betul kata pepatah, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan yang lain. Lily berbohong dengan berpacaran secara diam- diam, dan kini tampaknya dia harus lebih banyak lagi berbohong demi untuk menutupi kebohongannya yang pertama.
Evan terdiam sesaat, seolah sedang mencerna dan menimbang-nimbang perkataan Lily barusan.
"Betul hanya Darrel pemuda yang ada bersama kalian tadi?" Tanya Evan lagi.
"Cuma Darrel, memangnya mesti ada siapa lagi?" Lily balik bertanya.
Evan tampak menghela nafasnya, lalu menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraannya itu. Sementara itu, Lily sedikit melirik kearah Evan. Dia agak bertanya-tanya, apakah alibinya kali ini bisa diterima oleh Sang Papa?
Astaga. Lily sebenarnya sangat tidak ingin berbohong seperti ini. Tapi jika dia jujur, hubungannya dengan Albern yang masih hitungan hari pasti akan berakhir. Papanya ini pasti akan memaksa Lily untuk mengakhirinya.
"Kalian tadi pergi kemana saja setelah dari perpustakaan kota?" Evan kembali bertanya sambil fokus menyetir.
"Kami nonton ke bioskop, lalu makan siang. Setelah itu jalan-jalan sebentar, dan terakhir ke kafe tempat Papa jemput tadi." Jawab Lily sambil tersenyum.
Oke, sepertinya penghargaan untuk akting terbaik tahun ini akan dijatuhkan pada Lily Bramasta, yang sekarang sedang berakting dengan sempurna dihadapan Papanya sendiri. Jika saja Zivanna mendengar setiap kebohongan yang Lily ucapkan, pasti gadis itu akan kembali menyebut Lily anak durhaka.
'Mama, Papa, maaf...' Sebongkah penyesalan bercokol di hati Lily, tapi Lily juga sangat mencintai Albern dan tidak rela jika harus melepaskan lelaki itu begitu saja.
__ADS_1
"Kalian nonton film apa?"
Lily sontak menoleh. Dia agak terkejut karena Evan bahkan menanyakan film apa yang dia tonton tadi.
'Film apa? Astaga...aku nonton film apa, ya?' Lily merutuki dirinya sendiri karena sebelumnya tak memikirkan judul film apa yang akan dia gunakan sebagai jawaban dari pertanyaan Papanya ini.
"Itu ... tadi ... kami nonton film Black Window." Akhirnya judul film terbaru dari para Avangers itu yang keluar dari mulut Lily.
Tapi tunggu dulu, bukankah film itu baru dirilis teasernya saja, sedangkan tayangnya sendiri baru bulan depan nanti.
'Mati aku.' Lily kembali merutuki dirinya sendiri sembari membuang wajahnya kearah lain. Ia memejamkan matanya dengan sedikit meringis. Semoga saja Papanya tak terlalu mengikuti berita tentang film-film terbaru, sehingga dia tidak ketahuan jika sedang berbohong.
Evan akhirnya tak menanyakan apa-apa lagi. Lelaki paruh baya itu kembali terdiam sambil fokus menyetir. Tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai dirumah. Seperti biasa, Evan kembali membukakan sabuk pengaman Lily layaknya putrinya itu adakah seorang gadis kecil yang duduk di bangku taman kanak-kanak.
"Lain kali jangan sembarang memakai parfum laki-laki, meski milik Darrel sekalipun. Itu bisa menimbulkan kesalahpahaman." Ujar Evan saat Lily handak turun dari mobil.
Lily tertegun sejenak.
Lily bergegas turun dari mobil Papanya dan langsung masuk ke dalam rumah, begitu juga dengan Evan. Rumah tampak sepi dan tak ada tanda jika Mama Lily sedang berada di dalam rumah.
"Mama kemana, Pa?" Tanya Lily.
"Mamamu keluar, ada reuni yang diadakan oleh kantor manajemennya dulu." Jawab Evan.
"Istirahatlah dulu, kamu pasti lelah." Ujar Evan lagi.
Lily mengiyakan perintah Papanya dan masuk kedalam kamarnya dengan patuh.
"Selamat ...." Lily mengusap-usap dadanya sendiri sambil menghela nafas nafas lega. Hari ini dia lolos dari kecurigaan Papanya, tapi tidak tahu nanti.
Tak lama kemudian, ponsel Lily berdenting. Tampak sebuah pesan dari seseorang yang seharian ini telah memacu jantung Lily hingga terus berdetak kencang dari biasanya.
'Sudah sampai rumah?' Begitulah isi pesan tersebut. Singkat, dalam arti yang sesungguhnya, tapi entah bagaimana bisa membuat Lily seakan melayang ke awan.
__ADS_1
'Sudah.' Lily juga membalas tak kalah singkat. Tapi dia tak lupa menambahkan emoticon hati dan kecupan. Ah, Lily, dia tidak menyadari jika sekarang sudah mulai bertingkah centil.
Tak ada jawaban pesan lagi dari Albern. Lily merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menunggu pesan selanjutnya dari pacarnya itu. Atau mungkin lebih tepatnya menunggu Albern menelponnya seperti janji lelaki itu tadi.
Tanpa sadar, mata Lily perlahan terpejam. Mungkin karena agak kelelahan, Lily pun akhirnya tertidur dan bermimpi kembali menghabiskan waktunya bersama Albern.
"Kak Al ..." Saking indahnya mimpi itu, Lily sampai mengigau menyebut nama Albern.
Lily merasa ada tangan yang mengusap pucuk kepalanya lembut.
"Kak Al ..." Lily kembali menggumamkan nama Albern sembari membuka matanya perlahan.
"Astaga!' Sontak Lily terkejut tatkala mendapati Mamanya lah yang saat ini mengusap pucuk kepalanya sambil menatap kearahnya tajam.
"Kelihatannya anak Mama ini sangat kelelahan. Jadi pergi kemana saja kamu dan Albern hari ini?" Tanya Carissa lembut, namun terdengar sarkas.
Lily langsung bangkit karena semakin terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Sang Mama.
"A-apa maksud Mama?" Tanya Lily dengan agak terbata.
Carissa tersenyum, tapi entah kenapa senyuman itu terlihat sangat menakutkan di mata Lily.
"Bukankah hari ini kamu jalan-jalan bersama Albern?" Tanya Carissa lagi dengan nada tak kalah sarkas.
Lily membeku dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Katakan pada Mama, selain berbelanja ke supermarket berdua, kalian pergi kemana saja?"
Gleg! Lily menelan salivanya dengan agak kesusahan. Mamanya tahu jika tadi dia dan Albern berbelanja di minimarket, apakah ini artinya dia sudah ketahuan?
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading ❤️❤️❤️
__ADS_1