Albern & Lily

Albern & Lily
Hadiah Istimewa


__ADS_3

Albern mengajak Lily memasuki butik. Didalam sana terpajang beberapa gaun indah hasil rancangan seorang desainer kenamaan yang biasa dikenakan oleh orang-orang kelas atas saja. Lily memperhatikan gaun-gaun tersebut dengan tatapan takjub.


"Selamat datang, Tuan Muda Brylee." Dua orang pegawai butik tersebut menyambut kedatangan Albern dengan hormat.


"Gaun yang saya pesan khusus tempo hari, apa sudah selesai?" Tanya Albern.


"Tentu saja, Tuan. Kami juga sudah menyiapkan sepatu dan satu set perhiasan yang cocok untuk gaun tersebut." Jawab salah satu pegawai butik.


"Mari." Kedua pelayanan tersebut mengajak Albern dan Lily untuk mengikuti mereka memasuki ruangan lain dari butik tersebut.


Albern kembali menarik tangan Lily dan melangkah mengikuti kedua pegawai butik tadi, hingga sampailah pada sebuah ruangan yang hanya memajang satu gaun saja. Gaun yang sangat indah berwarna perpaduan antara biru laut dan putih. Ada tambahan aksen batu mulia pada beberapa bagian gaun tersebut.


Lily sampai sedikit terperangah melihat gaun tersebut.


"Mari, Nona, saya akan membantu Anda mencoba gaunnya." Salah satu pegawai butik mempersilahkan Lily untuk masuk ke ruang ganti.


"Sa-saya?" Lily melihat ke arah pegawai butik tersebut dengan agak terkejut.


"Benar. Gaun ini dipesan khusus oleh Tuan Muda Brylee untuk Anda, Nona Lily Bramasta." Ujar pegawai butik itu lagi.


'Eh? Kenapa dia tahu namaku?'


Lily sedikit terkesiap, lalu menoleh ke arah Albern.


"Yang dikatakannya benar. Aku memang memesan gaun itu untukmu. Dicoba dulu, aku ingin lihat apa gaunnya cocok kamu kenakan." Ujar Albern memberi penjelasan.


"Kenapa Kak Al pesan gaun untukku?" Tanya Lily.


"Coba saja dulu gaunnya. Nanti aku jelaskan."


Lily akhirnya tak bertanya lagi dan mengangguk mengiyakan. Ia pun mengikuti salah satu pegawai butik yang mempersilahkannya tadi ke ruang ganti. Sedangkan pegawai butik yang satunya membawakan gaun yang akan dicoba bersama sepatu dan perhiasannya juga.


Albern menunggu selama beberapa saat, sebelum akhirnya Lily kembali keluar dari kamar ganti dengan mengenakan gaun, sepatu dan perhiasan yang sudah dipersiapkan.


"Kak Al." Lily memanggil Albern yang sedang berdiri membelakanginya.


Albern pun menoleh. Seketika dia membeku melihat sosok anggun yang kini tengah berdiri tak jauh darinya. Segera ia membalik badannya, lalu mendekat ke arah Lily perlahan sembari tersenyum tipis.


"Sangat cantik. Benar-benar cocok denganmu." Albern memberikan komentar.

__ADS_1


"Benarkah?" Lily sedikit mengangkat gaunnya. Jujur saja, sejak kecil dia sangat tidak nyaman mengenakan gaun seperti ini. Dulu dia akan menangis jika mamanya memaksa menggunakan sebuah gaun untuk menghadiri sebuah acara. Tapi karena Albern yang memesan gaun itu khusus untuknya, tentu saja Lily tak ingin membuat lelaki itu merasa kecewa.


Albern kembali tersenyum, seakan memahami apa yang sedang Lily pikirkan saat ini.


"Aku memesan gaun ini khusus untukmu, agar bisa kamu kenakan saat menghadiri pesta yang akan diadakan oleh Brylee Group." Ujar Albern menerangkan.


"Pesta perusahaan?"


"Iya. Seminggu lagi Brylee Group akan mengadakan pesta untuk merayakan kerja sama yang baru ditandatangani bersama perusahaan besar dari Amerika tempo hari."


Lily sedikit melebarkan matanya.


"Maksud Kak Al, pesta untuk merayakan kerja sama dengan perusahaan orang tuanya Briana?"


Albern mengangguk.


"Proyek yang akan kami kerjakan bernilai sangat fantastis."


"Itu artinya di sana akan ada Briana juga?" Tanya Lily, melenceng dari cakupan bisnis.


Albern terdiam sesaat.


Lily membeku dengan tatapan yang sulit dilukiskan.


"Itulah kenapa aku mempersiapkan ini untukmu." Albern kembali tersenyum, seolah tahu dengan jalan pikiran Lily saat ini.


"Selama ini, setiap menghadiri pesta aku tidak pernah membawa pasangan. Biasanya akan ada beberapa perempuan dari kolega bisnis yang mendekat. Makanya kali ini aku akan datang bersamamu." Ujar Albern lagi.


Lily membeku. Albern akan membawanya ke pesta perusahaan sebagai pasangan?


"Aku akan membawamu kesana dan memperkenalkan pada para kolegaku jika kamu adalah calon istriku. Dengan begitu, kamu juga tidak perlu merasa khawatir lagi dengan kehadiran Briana, atau kehadiran perempuan lain disekitarku. Mereka akan tahu jika aku sudah menjadi calon suami seseorang."


Lily masih tak bisa berkata-kata. Dadanya terasa penuh dan hampir membuncah. Semua perasaan bercampur menjadi satu di dalam hatinya hingga ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Tapi tentu saja, sebelum itu kita harus memberi tahu prihal hubungan kita pada Papamu dulu. Kita akan memberitahu beliau bersama-sama."


Lily masih terdiam dan menelan salivanya dengan agak kesusahan.


"Kak Al, aku..." Lily tercekat dan tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia tak menyangka Albern akan memperkenalkan dirinya sebagai calon pendamping hidup lelaki itu dihadapan para koleganya. Tidak takutkah dia jika itu mungkin saja akan berpengaruh pada perusahaannya? Atau mungkin akan berpengaruh pada kerjasama yang baru saja akan dimulai, mengingat jika Briana terlihat jelas menaruh hati pada Albern.

__ADS_1


"Tidak perlu memikirkan apapun, aku tahu apa yang harus dilakukan terhadap perusahaan." Albern mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Lily.


"Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana caranya mendapatkan restu dari Papamu." Tambah Albern lagi.


Lily masih berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Benar yang dikatakan Albern, saat ini mendapatkan persetujuan Papanya jauh lebih penting. Urusan perusahaan, biarlah itu menjadi tanggung jawab Albern. Lily harus percaya padanya karena lelaki itu memang selalu bertindak dengan banyak pertimbangan.


Setelah dirasa tak ada yang kurang dengan gaun yang dicoba Lily tadi, Lily pun berganti kembali dengan pakaiannya semula. Gaun, sepatu dan perhiasan itu juga langsung di kemas. Albern langsung menyelesaikan pembayaran sebelum akhirnya mereka kembali kedalam mobil.


"Mau langsung pulang?" tanya Albern pada Lily.


Lily mengangguk. Sebenarnya dia masih belum terlalu puas melepas rindu bersama Albern, tapi Lily tak punya alibi yang harus dikatakan pada Papanya jika nanti dia pulang terlambat.


"Gaunnya Kak Al dulu yang simpan, ya. Aku agak sulit menjelaskan pada Mama dan Papa jika sekarang membawa pulang barang semahal ini." Ujar Lily.


"Baiklah," jawab Albern.


"Nanti aku akan mengirimkannya padamu jika sudah dekat dengan hari diadakannya pesta."


Lily mengangguk.


"Tapi kamu tidak boleh menolak yang ini." Albern mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah kotak perhiasan berbentuk persegi berwarna biru.


Lily kembali terkesiap saat Albern membukanya. Tampak sebuah kalung dengan hiasan serpihan berlian pada liontinnya yang berbentuk hati. Albern mengambil kalung itu dan membantu memakaikannya ke leher Lily.


"Di sini, di dalamnya ada nama kita berdua." Albern membuka liontin pada kalung tersebut, dan ternyata terukir nama mereka pada masing-masing belahan liontin.


"Liontin ini seperti kita. Dua hati yang menjadi satu," ujar Albern sembari kembali menangkup kedua belahan liontin tersebut hingga kembali memperlihatkan serpihan berliannya.


"Jaga ini selalu bersamamu," pinta Albern lagi.


Lily menatap lelaki itu dengan tatapan haru sembari mengangguk samar.


"Terima kasih," lirihnya sembari tersenyum tipis.


Albern membalas senyuman gadis itu dan mengusap lembut pucuk kepalanya. Senyumnya mengembang. Ia berharap gadis yang ada di hadapannya ini kelak benar-benar menjadi partner hidupnya yang terikat dalam ikatan pernikahan.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2