Albern & Lily

Albern & Lily
Fakta Baru


__ADS_3

Tik ... Tik ... Tik ....


Lily memandangi jarum jam yang bergerak pada jam karakter Black Widow yang terletak di atas nakas. Hari ini kebetulan dia hanya ada kelas pagi saja, sehingga bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah makan siang, Lily beristirahat di kamarnya sembari menunggu Zivanna datang menjemputnya.


Adik Albern itu tadi menghubungi Lily dan mengatakan akan mengajak Lily melakukan perawatan tubuh di tempat langganan mamanya. Setelah mendapatkan persetujuan dari Carissa, Lily pun akhirnya setuju untuk ikut.


Sebenarnya Lily masih merasa malu pada mamanya itu. Kejadian kemarin dimana Albern hampir mengusap kepalanya membuatnya canggung dan tidak enak. Dia tak ingin sang mama berpikir macam-macam.


Benar saja. Semalam suntuk Lily mendapatkan nasehat dari Carissa. Perempuan paruh baya itu terus menekankan pada Lily agar putrinya itu bisa menjaga kehormatannya, dan hanya memberikan hal itu pada lelaki yang telah resmi menjadi suaminya saja. Dia juga mengingatkan Lily, jika lelaki yang benar-benar mencintai seorang perempuan tidak akan berani menyentuh perempuan tersebut sebelum menikahinya.


"Lily." Suara panggilan Carissa membuyarkan lamunan Lily.


"Zivanna sudah datang," tambah Carissa lagi.


"Iya, Ma. Suruh Kak Zi tunggu sebentar."


Lily beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas mengganti pakaiannya. Setelah dirasa penampilannya sudah cukup, Lily pun keluar untuk menemui Zivanna yang sudah menunggunya di ruang tamu.


Kedua gadis itu lalu berpamitan pada Carissa, dan masuk ke dalam mobil yang tadi mengantar Zivanna.


"Hati-hati." Ujar Carissa sembari melambaikan tangannya saat Lily masuk ke dalam mobil itu.


"Iya, Ma." Lily membalas lambaian tangan Carissa sebelum akhirnya menutup pintu mobil.


"Darrel?" Lily agak terkejut saat mendapati ada Darrel juga di dalam mobil itu. Pemuda itu duduk bersebelahan dengan sopir pribadi Zivanna yabg duduk di belakang kemudi.


Pemuda itu menoleh.


"Kamu juga ikut?" Tanya Lily heran. Bukan apa-apa, saat ini ia dan Zivanna akan melakukan perawatan tubuh. Mungkinkah Darrel juga akan ikut melakukan hal itu?


"Nyonya memintaku untuk menjaga Nona Muda." Jawab Darrel sopan.


Lily melirik sekilas sopir pribadi Zivanna yang kini mulai melajukan mobil yang mereka tumpangi. Sepertinya lelaki paruh baya tersebut yang membuat Darrel bersikap formal terhadap Zivanna, mengingat sopir pribadi tersebut adalah salah satu orang kepercayaan Aaron.

__ADS_1


Jika Darrel adalah bodyguard terselubung untuk Zivanna, maka sopir pribadi Zivanna adalah mata-mata terselebung yang akan memberi laporan secara berkala pada Aaron terkait kegiatan Zivanna selama berada di luar rumah.


"Oh, kalau begitu jaga Nona Mudamu baik-baik, ya. Jangan sampai diambil sama orang lain." Ujar Lily kemudian pada Darrel.


Seketika Zivanna dan Darrel menatap ke arah Lily secara bersamaan.


"Astaga, kalian serius sekali. Aku kan cuma bercanda." Lily memutar bola matanya jengah. Kedua orang itu tampak sedang menutupi sesuatu agar tak disadari oleh sopir pribadi Zivanna. Entah apa yang telah terjadi pada mereka berdua.


Mobil pun akhirnya berhenti di pelataran sebuah tempat yang Lily tahu sebagai tempat spa. Dan dilihat dari tampilan gedungnya, tampaknya tempat itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang kalangan atas saja.


Zivanna melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut, diikuti oleh Lily. Darrel juga ikut masuk, sedangkan sopir pribadi Zivanna memilih untuk menunggu di tempat lain.


"Darrel, kamu sungguhan mau ikut sampai ke dalam?" Tanya Lily dengan sedikit bingung. Pasalnya ruang yang dipakai untuk melakukan spa diperuntukkan khusus untuk perempuan saja. Bahkan yang bekerja di sana pun semuanya perempuan.


"Ssstt ...." Darrel mengisyaratkan Lily agar tak berkomentar lagi. Sedangkan Zivanna tampak tak mempermasalahkan Darrel yang mengikuti mereka sampai ke dalam.


"Kak Zi?" Lily melihat ke arah Zivanna dengan penuh tanda tanya.


Eh? Kok rasanya ada yang aneh dari kata-kata Zivanna barusan. Sekali lagi Lily mengamati Zivanna dan Darrel secara bersamaan. Tapi belum sempat Lily berpikir lebih jauh, dua orang terapis datang untuk mulai melakukan spa pada tubuh Lily dan Zivanna.


Setelah berganti dengan pakaian khusus untuk spa, kedua gadis itu pun mulai dipijat, kemudian lanjut dengan diluluri dengan scrub khusus racikan tempat spa tersebut. Wajah mereka pun tak luput dari pijatan dan polesan masker khusus.


Keduanya melakukan perawatan dari ujung kaki hingga ujung rambut hingga tak terasa sudah menghabiskan waktu dua jam lebih.


"Wah, luar biasa." Lily bergumam kagum saat mendapati kini kulitnya jauh lebih cerah dan bersinar. Gadis itu terlihat sudah kembali mengganti pakaiannya dengan yang ia kenakan saat datang tadi.


"Ternyata enak juga habis melakukan spa, badanku jadi terasa lebih rileks." Zivanna juga menimpali.


Melihat Zivanna dan Lily yang sudah menyelesaikan perawatan tubuh mereka, Darrel bangkit dari duduknya dan menyimpan kembali ponsel yang sedari tadi ia mainkan.


"Sudah selesai?" Tanya Darrel pada Zivanna.


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. Lily kembali memperhatikan interaksi keduanya dengan sedikit memicingkan matanya.

__ADS_1


Tapi tak lama kemudian, mata Lily seketika membeliak saat Zivanna tersenyum pada Darrel dengan raut yang berbeda dari biasanya.


Belum hilang keheranan Lily, Kali ini Darrel yang membuatnya terkejut. Pemuda itu mengangguk sembari balas tersenyum malu-malu.


Eh, eh, eh? Apa-apaan ini? Apakah resep Krabby Patty milik Tuan Crab sudah berhasil dicuri oleh Plankton? Eh, maksudnya, apa sekarang dua orang ini sedang berubah haluan?


"Kalian?" Lily menunjuk dua orang di hadapannya itu.


"Ssstt ..." Lagi-lagi Darrel mengisyaratkan Lily untuk diam.


Plak! Lily memukul Darrel dengan tangannya hingga pemuda itu meringis kesakitan.


"Tidak usah sok misterius. Kalian ini kenapa? Teman jadi cinta? Pakai alasan disuruh Nyonya menjaga Nona Muda segala. Dasar!" Lily menggerutu.


"Haisss, bagaimana Tuan Muda bisa suka dengan gadis kasar seperti mu?" Darrel tampak kesusahan mengusap punggungnya yang dipukul Lily tadi.


"Kamu ini main pukul sembarang. Memangnya Darrel samsak tinju apa?" Zivanna membela Darrel.


Lily melipat kedua lengannya dibawah dada.


"Ckckck ... luar biasa." Lily menggelengkan kepalanya. Kedua orang di hadapannya ini tampaknya telah berhasil keluar dari lingkaran friend zone. Lumayan juga, tidak perlu sampai menunggu mereka berusia tiga puluhan atau menjalin hubungan dengan orang lain dulu.


"Apanya yang luar biasa?" Zivanna tampak tak terima, tapi berbunga dalam waktu yang bersamaan.


"Sepasang burung merpati," jawab Lily enteng sembari meraih tas selempangnya.


"Kalian berhutang penjelasan padaku. Aku mau tahu apa yang terjadi pada kalian dengan cerita yang sedetail-detailnya," ujar Lily sambil berlalu dari hadapan kedua orang itu.


Bersambung ...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2