Albern & Lily

Albern & Lily
Cita-Cita Masa Kecil


__ADS_3

Lily mengakhiri panggilan telponnya tanpa menunggu tanggapan dari Darrel. Dia sudah paham dengan tipikal pemuda itu. Darrel tidak akan pernah mengiyakan saat diminta bantuan, seakan tak peduli. Tapi pemuda itu akan muncul kemudian untuk membantu. Jiwa penolongnya tak bisa dia redam meski berusaha untuk tak menghiraukan permintaan tolong orang lain terhadapnya. Dan saat ini pun Lily sangat yakin jika Darrel tengah bersiap untuk datang menemuinya.


Lily segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu mencari-cari sesuatu di lemari pakaian. Tak lama kemudian, apa yang dicari Lily berhasil ia temukan. satu set pakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah yang hanya memperlihatkan bagian matanya saja.


Gadis itu tersenyum simpul sambil mengambil pakaian itu dari lemari. Langsung dikenakannya kostum tersebut sebelum Darrel datang.


"Untung masih pas." Gumam Lily sambil melihat pantulan dirinya melalui cermin. Pakaian serba hitam itu adalah kostum yang dulu sering dia gunakan bersama Darrel saat akan kabur sebentar dari rumah di malam hari. Biasanya, hal itu ia lakukan karena ingin pergi ke suatu tempat, namun tak diberi izin oleh orang tuanya. Terakhir kali mereka bahkan menculik Zivanna dari kediaman keluarga Brylee dengan menggunakan kostum ninja itu, lalu membawa sang nona muda pergi ke pesta tahun baru yang diadakan di pusat kota.


Lalu ide bermain ninja-ninjaan sendiri tentu saja datangnya dari Darrel. Pemuda itu memang sangat terobsesi pada ninja dan yang berkaitan dengan hal itu sejak kecil. Darrel bahkan punya seorang guru yang mengajari dan melatihnya menguasai ninjutsu, seni beladiri dan strategi yang digunakan oleh para kaum ninja. Bahkan Lily juga ikut-ikutan mempelajarinya dengan dalih belajar bahasa Jepang. Dan praktek dari ilmu ninja itu sendiri paling sering mereka terapkan saat mereka mencuri buah mangga yang pohonnya tumbuh di pekarangan rumah orang.


Lily tersenyum simpul saat mengingat itu semua. Setelah sekian lama, ia tak menyangka akan mengulang kembali kenakalannya saat remaja demi untuk bertemu dan berbicara dengan Albern.


Tiba-tiba ingatan Lily tertuju pada momen saat berlangsungnya pesta ulang tahun Zivanna yang ke delapan, waktu pertama kali ia bertemu dan berteman dengan Darrel.


Flashback on


"Lily, Lily, cepat sini. Aku mau kenalkan kamu dengan temanku." Zivanna yang mengenakan gaun indah dan dirias dengan sangat cantik langsung berhambur menyambut Lily begitu gadis kecil itu datang ke pesta ulang tahunnya. Lily bahkan belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kadonya pada Zivanna.


"Bukannya teman Kak Zi cuma aku?" Lily yang saat itu baru berusia enam tahun tampak terlihat tidak senang mendengar Zivanna punya teman lain selain dirinya. Lily bahkan meletakkan begitu saja kadonya untuk Zivanna dan berniat untuk berbalik pergi.


"Hei, mau kemana? Aku kan mau mengenalkanmu pada temanku." Zivanna menahan lengan Lily.


"Aku mau pulang lagi saja. Kak Zi sudah punya teman lain, berarti Kak Zi sudah tidak mau main denganku lagi." Ujar Lily dengan wajah cemberut. Tampaknya gadis kecil itu sedang merajuk pada Zivanna.


"Bukan begitu. Kamu temenku, dia juga temanku. Kita bertiga berteman dan main sama-sama." Ujar Zivanna menjelaskan.


Lily terdiam sesaat, terlihat seperti sedang mencerna apa yang dikatakan Zivanna barusan.


"Ayo." Zivanna menggandeng tangan Lily dan mengajak gadis kecil itu menemui seorang anak lelaki.


Lily memandang sekilas bocah lelaki yang ingin dikenalkan Zivanna padanya. Bocah berkulit putih pucat dan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia tampan, tapi terlihat kejam dan menyeramkan bagi Lily.


"Lily, ini Darrel." Zivanna mendorong tubuh Lily ke depan agar lebih dekat pada Darrel.


"Darrel, kenalkan ini Lily." Ujar Zivanna lagi, kali ini dia berbicara pada Darrel.

__ADS_1


Darrel menatap Lily intens, lalu mengulurkan tangannya.


"Darrel." Ujarnya mengajak Lily berkenalan.


Bukannya menyambut uluran tangan Darrel, Lily justru mundur beberapa langkah.


"Kak Zi, dia pasti orang jahat." Gumam Lily dengan agak takut. Raut wajah Darrel yang dingin tanpa senyuman membuat Lily beranggapan jika Darrel adalah orang jahat.


Mendengar itu, Darrel menautkan kedua alisnya sambil menarik kembali uluran tangannya.


"Hei, sembarang. Darrel itu anak sahabat Mamaku, bukan orang jahat." Sergah Zivanna tak terima.


"Tapi kenapa wajahnya mirip orang yang suka menghisap darah?" Tanya Lily dengan polosnya.


Berganti Zivanna yang menautkan kedua alisnya. Wajah Darrel mirip orang yang suka menghisap darah? Maksudnya vampir?


Zivanna menoleh kearah Darrel. Dia merasa tidak enak dengan sikap Lily pada bocah lelaki itu. Tapi diluar dugaan, Darrel justru tersenyum mendengar kata-kata Lily barusan. Seketika Zivanna terkesiap melihat senyuman Darrel yang selama ini belum pernah dia lihat.


"Nah, kalau begitu sudah tidak seperti orang yang suka menghisap darah lagi. Sekarang aku mau berteman dengan kamu." Suara Lily membuyarkan lamunan Zivanna.


"Namaku Darrel." Sekali lagi dia memperkenalkan diri.


"Aku Lily. Kata Mama, Papaku memberiku nama Lily karena aku cantik seperti bunga Lily." Lily menjabat tangan Darrel sambil memperkenalkan diri juga dengan panjang lebar.


Darrel menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, ketiga bocah itupun tampak telah bermain bersama di suasana pesta.


Setelah puas bermain, mereka kemudian menghampiri orang tua masing-masing yang saat itu sedang berbincang. Perbincangan mereka pun berubah menjadi celotehan karena anak-anak telah bergabung.


"Zivanna, cita-citanya kalau besar nanti mau menjadi apa?" Carissa bertanya pada Zivanna yang sedang duduk manja di pangkuan Mamanya.


"Aku mau jadi Bu Bos seperti Mama." Jawab Zivanna.


Sontak semua yang mendengar langsung tertawa. Para karyawan kafe Zaya memang memanggil istri Aaron itu dengan panggilan Bu Bos, sebuah panggilan yang awalnya hanya dilontarkan oleh salah satu karyawan saja, tapi lalu diikuti oleh karyawan yang lain. Dan ternyata diam-diam Zivanna menyukai panggilan itu.


"Memangnya kenapa mau jadi Bu Bos?" Tanya Carissa lagi.

__ADS_1


"Tante Kara bilang, Bu Bos itu punya uang banyak. Setiap hari Tante Kara selalu kasih uang buat Mama." Jawab Zivanna lagi. Kara yang maksud Zivanna adalah Mamanya Darrel, orang yang menjadi kepercayaan Zaya dalam mengelola bisnisnya.


Semua orang kembali tertawa mendengar jawaban Zivanna.


"Honey, kenapa putri kita jadi suka uang?" Zaya menoleh pada Aaron dengan agak meringis.


"Entahlah..." Gumam Aaron.


"Kalau banyak uang kan kita bisa membantu orang yang sedang kesusahan, Ma." Ujar Zivanna meluruskan.


"Oh, baiklah." Zaya tertawa sambil memeluk putrinya itu.


"Kalau Lily, cita-citanya mau menjadi apa?" Kali ini Zaya bertanya pada Lily.


Lily tampak berpikir sejenak.


"Aku mau jadi dokter seperti Papa supaya bisa mengobati orang sakit. Aku juga mau jadi pemain piano supaya bisa jalan-jalan ke luar negri terus seperti Mama. Tapi aku mau jadi Bu Bos juga supaya punya banyak uang seperti Mama Kak Zi." Ujar gadis kecil itu akhirnya. Sedari kecil Lily memang sudah banyak maunya.


"Tidak boleh ikut-ikutan, Lily!" Zivanna tak terima karena Lily mau mengikuti cita-citanya.


Sekali lagi semuanya tertawa mendengar kata-kata polos yang keluar dari mulut anak-anak mereka.


"Lalu kalau Darrel, cita-citanya mau menjadi apa?" Zaya kemudian bertanya pada Darrel yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan orang-orang.


Darrel tampak sedikit terkejut. Melihat semua mata yang saat ini tertuju kearahnya dan tengah menunggu jawaban, bocah lelaki itupun mau tak mau harus mengutarakan cita-cita mulia yang selama ini hanya terpendam dalam hatinya saja.


"Aku mau menjadi seorang Hokage." Ujarnya lantang.


Seketika suasana menjadi hening. Mereka semua tidak tahu harus merespon seperti apa.


Flashback off


Bersambung...


Yang ga tahu apa itu hokage, langsung tanya sama Pak Jokowi, Insya Allah beliau paham🤣🤣🤣

__ADS_1


Happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2