
Setelah mendengarkan Lily bercerita, Albern kembali melanjutkan laju mobil yang dikendarainya, sampai kemudian mobil tersebut masuk ke halaman sebuah rumah yang cukup mewah. Lily mengenali rumah tersebut. Itu adalah kediaman utama keluarga Brylee yang selama ini ditinggali oleh Nyonya Ginna, grandma Albern.
"Lho, bukannya kita mau menjenguk Grandma?" tanya Lily saat Albern turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Iya, kita mau menjenguk Grandma," sahut Albern.
"Kak Al bilang, Grandma sakit keras. Masa tidak dirawat di rumah sakit?" tanya Lily agak bingung.
"Grandma dirawat di rumah karena tidak mau dibawa ke rumah sakit," jelas Albern. "Ayo."
Lily tertegun sejenak, sebelum akhirnya dia turun dari mobil meski masih dengan sedikit bingung. Dia pun melangkah di belakang punggung Albern, masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Di ruang keluarga, Zaya sudah tak sendirian lagi. Zivanna telah kembali. Aaron juga telah tiba dari luar kota. Mereka semua duduk di sofa dengan harap-harap cemas, menunggu dokter yang memeriksa Ginna keluar dari ruang perawatan. Barusan mata Ginna kembali terbuka setelah beberapa hari dia tak sadarkan diri, sehingga dokter yang menanganinya pun langsung memeriksa kondisinya.
Ketegangan keluarga Brylee menunggu hasil pemeriksaan dokter pun sedikit teralihkan saat mereka semua melihat Albern datang.
"Al, syukurlah kamu cepat pulang. Grandmamu sudah sadar. Dia pasti akan langsung menanyakanmu," ujar Zaya melihat kedatangan putranya itu.
"Grandma sudah sadar?" tanya Albern.
"lya." Zaya mengangguk mengiyakan. Dia kembali hendak mengatakan sesuatu, namun ucapannya tertahan di kerongkongan saat melihat sosok yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Albern.
Zaya tampak sangat terkejut melihat kehadiran gadis itu, begitu pun Aaron dan Zivanna. Adik perempuan Albern itu bahkan sampai bangkit dari duduknya tanpa sadar saking tak percayanya dengan penglihatan sendiri.
"Lily?' gumam mereka semua hampir bersamaan.
"Halo, semuanya. Apa kabar?" Lily yang tak tahu harus berkata apa, akhirnya menyapa dengan sangat canggung.
"Lily? Kamu sungguhan Lily?" Zivanna yang masih tak percaya langsung mendekati Lily dan memandangi gadis itu dengan seksama, dari atas sampai bawah.
"Iya, Kak Zi," sahut Lily dengan agak kikuk. Dipandangi Zivanna seperti sekarang ini benar-benar membuatnya kikuk.
__ADS_1
Zivanna tertegun sejenak, tapi sejurus kemudian matanya melotot tak suka ke arah Lily. Tentu saja hal itu membuat Lily semakin kikuk.
Belum sempat Lily mengucapkan sesuatu untuk menyapa Zaya dan Aaron dengan benar, dokter yang memeriksa Ginna akhirnya keluar. Terang saja semua orang langsung menghampirinya, termasuk Albern. Lily pun akhirnya mengikuti dari belakang.
"Bagaimana kondisi Mama?" tanya Aaron pada dokter tersebut.
"Kondisi Nyonya Besar saat ini cukup stabil, Tuan. Tapi tentu masih belum terlalu baik. Setidaknya, sekarang Nyonya besar sudah bisa diajak berkomunikasi," sahut dokter tersebut.
"Apa kami boleh menemuinya?" Kali ini Albern yang bertanya.
"Boleh, tapi saya sarankan untuk menemui beliau secara bergantian, jangan bersamaan. Maksimal dua orang saja. Dan juga jangan terlalu lama karena Nyonya Besar butuh suasana yang tenang," jawab dokter itu lagi.
Albern mengangguk paham. Dia menarik tangan Lily hingga mau tak mau gadis itu mendekat padanya.
"Aku akan menemui Grandma lebih dulu," ujar Albern pada kedua orang tuanya dan Zivanna.
Tanpa menunggu tanggapan dari mereka semua, Albern pun masuk ke dalam ruang perawatan Ginna sambil mengisyaratkan Lily untuk mengikutinya. Di dalam ruangan tersebut, perlahan Albern mendekati Ginna yang terbaring di atas tempat tidur, diikuti Lily dari belakang. Mata Grandmanya itu sudah terbuka, tidak lagi terpejam seperti hari-hari sebelumnya. Namun tentu saja terlihat begitu sayu. Alat-alat penunjang kehidupan masih terpasang di tubuh perempuan renta itu, menandakan jika kondisinya masih jauh dari kata baik.
Ginna tampak mengangkat satu tangannya dengan susah payah, lalu memberi isyarat agar Albern mendekat padanya. Alat bantu pernafasan yang menutupi mulut dan hidungnya membuat Ginna kesulitan untuk berbicara dengan benar.
"Iya, Grandma," ujar Albern sambil mendekat dan sedikit menunduk di sisi Ginna.
"Lily ...." Dengan susah payah Ginna menyebutkan nama gadis yang berdiri mematung di belakang Albern.
"Iya, ini Lily." Albern mengisyaratkan untuk mendekat pada Ginna. "Dia sudah kembali. Sekarang aku akan menuruti keinginan Grandma untuk menikah. Grandma harus sehat dan menyaksikan pernikahanku," ujar Albern dengan mata yang agak berkaca-kaca.
Ginna mengangguk senang dengan mata yang juga mengembun. Detik berikutnya, tampak cairan bening hangat meleleh dari sudut mata perempuan renta itu.
"Lily ...." Sekali lagi Ginna memanggil nama Lily dengan segenap kemampuannya.
"lya, Grandma," sahut Lily sambil mendekatkan dirinya pada Ginna.
__ADS_1
Tangan Ginna melambai ke arah Lily, meminta gadis itu untuk lebih mendekat lagi, yang tentu saja langsung dituruti oleh Lily.
"Lily ...." Ginna menyentuh wajah Lily lembut. "Jangan tinggalkan Albern lagi ...."
Lily mengangguk cepat, secepat air mata yang lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Gadis itu menggenggam tangan Ginna dengan erat dan menciumnya dengan segenap perasaan yang ada.
"Maafkan aku, Grandma. Aku sama sekali tidak berniat membuat Kak Al menderita," ujar Lily dengan agak terisak.
Ginna kembali mengangguk. Jika saja dia sehat dan masih memiliki banyak energi, mungkin dia akan sedikit mengocehi Lily. Tapi kini dia benar-benar tak berdaya untuk melakukan itu. Lily sudah kembali saja sudah seperti anugerah baginya. Karena dengan begitu, maka cucu keras kepalanya itu akhirnya setuju untuk menikah.
"Cepatlah menikah. Albern sudah mulai tua," ujar Ginna lagi dengan susah payah.
Mau tak mau Lily tersenyum meringis di sela isakannya.
"Siapa bilang aku tua, Grandma. Aku ini dewasa dan matang, bukannya aku sudah sering bilang pada Grandma," protes Albern.
Ginna tampak mengibaskan tangannya ke arah Albern.
"Dasar tidak tahu diri." Ginna menggerutu dengan suara yang lirih, tapi terdengar jelas di telinga Lily dan Albern.
Albern tersenyum dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Berganti dia yang menggenggam tangan Ginna dan menciumnya takzim seperti yang dilakukan oleh Lily tadi.
"Maaf, Grandma. Selama ini aku telah banyak menguji kesabaran Grandma," gumam Albern dengan suara yang agak bergetar. Perasaannya kini bercampur aduk antara bahagia dan sedih, membuatnya tak tahu harus mengungkapkannya seperti apa.
"Aku tidak ingin apa-apa, Al. Aku hanya ingin melihatmu menikah ...," sahut Ginna dengan suara yang lebih lirih daripada sebelumnya.
"Aku ingin melihatmu mendapatkan teman hidup, agar saat aku menyusul Grandpamu nanti, aku bisa mengatakan padanya jika cucu kesayangan kami sudah hidup bahagia." Ginna kembali menambahkan.
Kali ini air mata Albern yang menjadi tak terbendung. Lelaki itu kembali mencium tangan Grandmanya dengan agak menahan isakan.
"Aku akan menikah, Grandma. Tapi kumohon, jangan mengatakan kalau Grandma akan pergi. Aku ingin Grandma hidup lebih lama lagi dan melihat anak-anak kami lahir. Grandma harus kuat dan kembali sehat...," pinta Albern dengan beruraian airmata. Seumur hidupnya setelah menjadi seorang lelaki dewasa, ini kali pertama dia menangis tersedu tanpa sedikitpun merasa malu. Hanya Ginna saja yang membuat Albern tak ragu memperlihatkan kelemahannya.
__ADS_1
Bersambung ....