
Sudah tiga hari Albern berada di New York, dan selama itu pula dia tak pernah lupa mengabari Lily tentang keadaannya di sana. Kapanpun Albern ada waktu luang, dia akan menghubungi kekasih labilnya itu hanya sekedar untuk membicarakan hal remeh-temeh. Bahkan tak jarang mereka sampai melakukan video call jika Albern sudah tak ada jadwal lagi. Tampaknya Albern benar-benar takut jika Lily sampai sungguh-sungguh menyusulnya jika ia tak menghubungi gadis itu.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Albern, dia merasa takut dan cemas akan sesuatu. Dan itu semua dikarenakan seorang Lily saja.
Siang itu, seperti biasa, Three Musketeers berkumpul di markas tempat mereka biasa melakukan diskusi, kantin kampus. Di meja mereka terhidang beberapa makanan kecil dan minuman kesukaan mereka masing-masing. Sebelumnya, Lily bahkan sudah menghabiskan satu mangkuk mi ayam spesial, dengan toping tambahan bakso dan ceker, serta satu porsi es teler yang ditambah buah durian. Gadis itu terlihat seperti orang yang tiga hari tidak makan, pasalnya setelah itu dia juga mengambil sebungkus keripik kentang dan langsung memakannya.
Zivanna dan Darrel hanya saling melirik satu sama lain sambil sama-sama mengangkat bahu mereka.
"Kamu tidak di kasih makan sama Mamamu, ya?" Tanya Zivanna heran.
"Aku stres, Kak Zi, makanya rasanya jadi lapar terus." Jawab Lily sambil terus mengunyah keripik kentangnya.
"Stres kenapa?" Tanya Zivanna lagi.
Lily mengambil minumannya, lalu menyesap minuman itu hingga hampir tandas.
"Kak Al ingin kami menemui Papaku sekembalinya dia dari New York nanti." Ujar Lily akhirnya.
"Bagus, dong. Berarti Kak Al benar-benar serius dengan mu." Zivanna menanggapi dengan santai, meskipun sebenarnya dia tahu jika itu adalah awal dari sebuah peperangan.
Lily menghela nafas panjang dan sedikit mendesah. Zivanna hampir tertawa melihatnya. Baru kali ini dia melihat gadis ajaib yang biasanya selalu berceloteh itu mati kutu seperti ini.
"Kenapa kamu galau begitu? Apa jangan-jangan kamu yang tidak serius dengan Kak Al?" Tanya Zivanna pura-pura terkejut.
"Sembarang." Ujar Lily cepat. Wajahnya cemberut dengan bibir yang manyun beberapa senti. Dia terlihat tak terima mendengar Zivanna menuduhnya tak serius menjalin hubungan dengan Albern.
"Aku sangat serius, Kak Zi. Tapi Kan Kakak tahu sendiri bagaimana Papaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Papa mengetahui hubunganku dengan Kak Al. Membayangkannya saja aku sudah ngeri." Lily berujar dengan nada cemas.
"Ya sudah, anggap saja perjuanganmu meyakinkan Papamu adalah bentuk dari keseriusanmu. Iya, kan, Darrel?" Zivanna bertanya pada Darrel yang sedari tadi hanya diam. Pemuda itu tak menjawab dan hanya mengangkat bahunya dengan acuh.
Zivanna sedikit memperhatikan Darrel. Entah mungkin hanya perasaannya saja, tapi sepertinya ada yang sedikit aneh dengan pemuda ini. Belakangan dia menjadi acuh pada Lily.
"Kalau aku di paksa pisah dengan Kak Al bagaimana? Bisa gila aku..."
"Ya jangan pisah. Lagian bahasanya pisah. Kalian juga belum menikah." Zivanna kembali menanggapi dengan entengnya.
__ADS_1
Lily mencebik.
"Lalu kalau Papaku bilang begini, 'Lily, pilih Papa atau pilih Albern?' Bagaimana, Kak Zi?"
Minuman yang baru saja disesap oleh Zivanna hampir saja menyembur karena menahan tawa.
"Lily, kamu itu terlalu banyak nonton drama, hidupmu pun jadi penuh drama. Masa iya Papamu akan bilang seperti itu?" Zivanna terkekeh dengan sedikit menggerutu.
"Tapi, Paman Evan sepertinya memang tidak terlalu suka dengan Kak Al. Setiap mereka bertemu, Paman Evan selalu melihat Kak Al dengan tatapan tajam dan wajah tak bersahabat. Padahal kan kalau dengan orang lain dia sangat ramah."
Zivanna dan Lily sama-sama termangu memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika hubungan Albern dan Lily diketahui oleh Dokter Evan, mengingat Papa Lily itu memang sedikit sentimen terhadap Albern.
"Darrel, ikut berpikir juga bagaimana supaya Lily dan Kak Al bisa membujuk Paman Evan." Zivanna kembali mengajak bicara Darrel yang sedari tadi terlihat mengabaikan pembicaraan mereka.
Darrel menyesap minumannya dengan santai.
"Pikir sendiri saja." Jawab Darrel singkat sambil melihat kearah lain. Zivanna terlihat agak terkejut mendengarnya. Meski memang Darrel sering berkata dingin dan terkesan tak peduli, tapi tak pernah sebelumnya ia acuh seperti itu pada Lily. Biasanya Darrel akan selalu membantu terlepas dari apapun permasalahannya.
"Darrel?" Zivanna bergumam tak percaya. Lily juga terlihat sedikit heran dengan sikap Darrel yang terasa agak aneh.
"Sudah selesai makannya, kan? Kalau begitu aku mau ke perpustakaan dulu." Darrel bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Zivanna dan Lily yang menatapnya bingung. Pemuda itu berlalu begitu saja, tanpa menghiraukan panggilan Zivanna.
'Dia kenapa?" Tanya Lily pada Zivanna.
"Harusnya aku yang bertanya padamu dia kenapa. Dia aneh akhir-akhir ini jika sudah berada dekat denganmu, waktu kamu tidak ada dia tidak begitu. Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" Zivanna balik bertanya pada Lily dengan sedikit tajam.
Lily tampak menautkan kedua alisnya.
"Sesuatu apa?" Gumamnya tak mengerti.
"Maksudku apa kalian bertengkar?"
"Tidak." Lily menjawab cepat.
Zivanna terdiam, lalu menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku pikir kalian bertengkar dan Darrel masih marah padamu. Jika tidak terjadi apa-apa, lalu kenapa dia aneh begitu?" Gumam Zivanna seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Lily juga ikut terdiam.
"Apa dia begitu hanya saat ada aku saja?" Tanyanya kemudian.
"Sebelum kamu datang tadi dia terlihat seperti biasanya. Beberapa hari ini pun begitu, setiap kamu datang dia jadi aneh." Ujar Zivanna.
Lily kembali terdiam. Gadis itu tampak berpikir sambil sedikit menautkan kedua alisnya.
"Memangnya aku salah apa sama dia?" Kali ini Lily yang bergumam pada dirinya sendiri.
"Sebelumnya Darrel tidak pernah seperti ini. Pasti ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya. Kamu tidak menindasnya kan akhir-akhir ini?" Zivanna kembali bertanya sambil menatap Lily penuh selidik.
"Kak Zi ada-ada saja. Memangnya kapan aku pernah menindas orang?" Lily terlihat memasang wajah sok baiknya.
Zivanna mencebik melihat wajah sok polos Lily.
"Memangnya kapan aku menindas orang?" Zivanna meniru kata-kata Lily.
"Setiap saat." Zivanna juga menjawabnya sendiri.
"Ih, Kak Zi. Aku mana pernah begitu." Lily tak terima.
"Tapi, aku mesti mencari tahu kenapa Darrel jadi aneh jika sedang berada di dekatku. Kalau aku memang sudah bersalah padanya meski tanpa disengaja, tentu saja aku harus minta maaf.' Ujar Lily lagi. Kali ini kata-katanya terdengar lebih serius.
Lily terdiam dan mengingat-ingat, apa yang sekiranya hal yang dia lakukan tak berkenan bagi Darrel. Apa karena tempo hari dia meminta Darrel menemaninya menyusup ke rumah keluarga Brylee? Ah, tunggu dulu, sepertinya Lily ingat Darrel mengatakan sesuatu di dalam taksi padanya.
"Aku tidak menyangka kamu seperti itu.."
Lily tertegun. Apa maksud dari perkataan itu? Apakah saat di rumah keluarga Brylee malam itu, Lily sudah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebenarnya apa yang begitu mengganggu pemuda itu hingga saat ini dia terlihat seperti sedang menghindari Lily? Apa yang salah? Perasaan waktu itu dia tidak melakukan yang aneh-aneh?
Bersambung...
Darrel kenapa? Jawabannya ada di part selanjutnya. Tapi kalo mau tebak2an silahkan...
__ADS_1
Happy reading❤️❤️❤️