Albern & Lily

Albern & Lily
Shock Therapy


__ADS_3

Albern membeliakkan matanya sambil menatap Lily tak berkedip, seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Jika aku hamil anak Kak Al, mungkin Papa tidak akan terlalu keras kepala. Mungkin beliau akan memberikan restunya meskipun dengan terpaksa." Lily berujar dengan nada putus asa. Wajahnya terlihat begitu sendu hingga hati Albern tiba-tiba terasa nyeri.


Albern memandang Lily dengan perasaan yang sulit dijabarkan, lalu diraihnya gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Apa yang kamu katakan, Lily? Melakukan hal itu sama dengan melempar kotoran ke wajah kedua orang tua kita. Mereka akan sangat malu dan kecewa. Bukannya merestui, Mama dan Papamu justru akan membenci kita," ujar Albern sembari membelai lembut punggung Lily.


Lily kembali terisak dan membalas pelukan Albern erat.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kak? Aku tidak mau pergi ke luar negeri seperti keinginan Papa. Aku tidak sanggup jika harus meninggalkan Kak Al. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana," gumam Lily serak di sela isakannya


Albern menghela nafasnya sambil masih terus mengusap lembut punggung Lily.


"Papa bersikeras untuk tetap menyuruhku pergi. Aku harus apa ... hiks ... hiks ...?" Lily terisak semakin memilukan, membuat Albern semakin tak kuasa menahan perasaannya.


"Meskipun nantinya kita berjauhan, tidak akan ada yang berubah, Lily. Kamu akan menjadi satu-satunya seseorang yang ada dalamnya hatiku. Aku akan menunggumu sampai kamu menjadi sosok yang diinginkan oleh keduanya orang tuamu," ujar Albern lembut, berusaha untuk menghibur Lily.


"Aku tidak bisa jika kita harus berjauhan. Aku tidak sanggup. Pokoknya aku tidak mau pergi, titik! Jalan satu-satunya agar kita bisa tetap bersama adalah dengan aku hamil anak Kak Al." Lily tetap bersikeras hingga Albern lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.


Albern paham jika saat ini Lily sedang sangat emosional dan perlu untuk menumpahkan semua kegundahan hatinya. Ia pun memilih tak menyangkal lagi setiap kata yang terucap dari bibir Lily. Yang dilakukannya hanyalah terus mengusap kepala Lily dan membiarkan Lily meracau sepuasnya.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Albern saat Lily tak lagi mengeluarkan suaranya. Ia sedikit mengurai pelukannya dan memandang wajah Lily yang kini terlihat sembab.

__ADS_1


Lily menggeleng. Meskipun sudah menumpahkan semua keluh kesahnya pada Albern, nyatanya dia tetap saja merasa buruk, seakan ada yang masih mengganjal dalam hatinya saat ini.


"Ikut aku," titah Albern kemudian.


Lily menurut. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti Albern masuk ke dalam mobil.


"Kak Al mau mengajakku kemana?" tanya Lily saat Albern menyalakan mesin mobilnya.


"Nanti kamu akan tahu," jawab Albern sambil melajukan mobilnya. Mereka pun meluncur meninggalkan tempat itu menuju suatu tempat di pinggiran kita.


"Kak Al? Untuk apa kita ke sini?" tanya Lily heran saat menyadari Albern menghentikan mobilnya di pelataran sebuah penginapan.


Albern tak menjawab. Ia langsung turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Lily. Mau tak mau, Lily pun akhirnya ikut turun dari mobil meski dengan hati yang bertanya-tanya.


"Kak Al?" Lily tampak semakin keheranan saat Albern menutup dan mengunci pintu kamar penginapan. Seketika Lily bertanya-tanya, apa yang akan Albern lakukan.


"Kak Al mau apa?" tanya Lily lagi. Tiba-tiba dia merasa cemas. Dia takut Albern macam-macam padanya. Padahal sebelumnya dialah yang meminta hal yang macam-macam pada Albern.


"Kenapa? Bukannya tadi kamu meminta supaya aku membuatmu hamil anakku?" tanya Albern.


"Tapi ... bukan begini. Tetap saja kita harus menikah dulu ...." Lily menyahut dengan gugup.


"Menikah tanpa wali dari papamu, apa itu sah? Apa itu bisa disebut pernikahan?"

__ADS_1


Lily menundukkan wajahnya sambil memeluk dirinya sendiri. Ia kembali terisak bersamaan dengan tubuhnya yang luruh ke lantai. Gadis itu tersedu dengan sangat menyedihkan.


Albern kembali menghela nafasnya dan memandang Lily sendu. Albern tahu, ucapan Lily yang meminta kawin lari dan membuatnya hamil tadi tak lebih dari sekedar kata-kata putus asa yang terucap tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Lily bukanlah gadis seperti itu. Albern tak pernah meragukannya.


Dengan perasaan yang juga berkecamuk, Albern membimbing Lily agar duduk di pinggiran tempat tidur.


"Maaf karena sudah membuatmu takut. Aku mengajakmu kesini hanya untuk meyakinkanmu, jika kamu sebenarnya tidak ingin kita melakukan apa yang kamu katakan tadi." Albern menenangkan Lily.


"Tidak, Kak. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku benar-benar konyol dan kekanakan," ujar Lily di sela isakannya.


"Seharusnya tidak aku berpikiran picik seperti itu. Bukannya menyelesaikan permasalahan kita, yang ada kita akan mendapatkan masalah baru," tambah Lily lagi.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak akan berpikir pendek seperti itu lagi." Lily menyeka air matanya.


Albern tersenyum mendengar penuturan Lily. Tanpa Lily menjelaskan pun, dia tahu jika gadis itu hanya sedang merasa gusar hingga tak bisakah berpikir dengan jernih.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan bertindak impulsif lagi. Pikirkanlah dengan matang setiap hal yang ingin kamu lakukan, agar kamu tidak perlu menyesal di kemudian hari. Mengerti?" Albern bertanya.


Lily pun mengangguk sembari berusaha menghentikan isakannya. Dalam hati dia bersyukur, untung lelaki yang dia ajak kawin lari adalah Albern, coba saja kalau itu lelaki lain, Lily tidak tahu apa yang terjadi dengannya saat ini. Yang pasti, dia tak akan punya muka lagi untuk menegakkan kepala di hadapan kedua orang tuanya.


Bersambung ....


Ibu-ibu komplek, apa kabarnya? semoga masih betah nungguin kelanjutan Albern dan Lily walaupun lama.

__ADS_1


__ADS_2