Albern & Lily

Albern & Lily
Penantian yang Menyakitkan


__ADS_3

Di sebuah ruangan khusus yang diatur menjadi seperti ruang perawatan intensif di rumah sakit, tampak sesosok tubuh perempuan renta sedang terbaring dengan alat-alat penunjang kehidupan. Matanya terpejam rapat dan nafasnya tak terlalu ketara, seperti seseorang yang tak lagi memiliki nyawa. Alat monitor yang sedang memantau detak jatungnya saat ini adalah satu-satunya indikator yang memperlihatkan jika tubuh tak berdaya itu masih hidup.


Albern duduk di samping tempat tidur orang yang sedang terbaring itu sembari menatapnya dalam. Raut wajah sedih tak bisa Albern sembunyikan. Matanya berkaca-kaca, hingga terpaksa Albern menengadahkan wajahnya agar cairan bening hangat itu tak sampai jatuh membasahi pipinya.


"Grandma," sapa Albern lirih sambil menyentuh lembut punggung tangan kurus dan pucat milik sosok yang tak bergerak itu. Sosok yang begitu dekat dengannya melebihi siapapun, sang nenek tercinta.


Kondisi Nyonya Ginna belakangan semakin memburuk setelah sebelumnya dinyatakan mengidap penyakit komplikasi seperti yang dulu diderita oleh mendiang suaminya. Namun begitu, dia selalu menolak untuk dirawat di rumah sakit, juga tak mau tinggal di kediaman Aaron sehingga Albern yang kini menemani neneknya itu tinggal di kediaman utama keluarga Brylee.


Albern juga meminta pada dokter pribadi mereka untuk menyulap sebuah ruangan di rumah mewah tersebut menjadi ruangan yang dilengkapi peralatan medis seperti yang ada di rumah sakit, sehingga memungkinkan Nyonya Ginna untuk mendapatkan perawatan intensif. Beberapa tenaga medis yang terdiri dari perawat dan dokter spesialis handal pun Albern datangkan untuk merawat neneknya itu.


Telah banyak usaha yang Albern maupun Aaron lakukan untuk mengobati penyakit Nyonya Ginna, tapi tetap saja perempuan renta itu tak bisa benar-benar sembuh. Usianya yang telah senja membuat Nyonya Ginna yang tangguh akhirnya perlahan kehilangan kekuatannya. Yang dilakukannya saat ini hanyalah bertahan karena masih ada impiannya yang belum kesampaian, yaitu menyaksikan cucu kesayangannya membangun rumah tangga.


"Maafkan aku, Grandma," gumam Albern lirih. Suaranya terdengar lirih dan agak bergetar.


Sehari sebelumnya, saat Nyonya Ginna masih sadar dan masih bisa diajak berkomunikasi, dia kembali bertanya pada Albern, kapan cucunya itu akan menikah. Saat itu Albern tak memberikan jawaban yang memuaskan untuk sang nenek sehingga sekarang dia benar-benar merasa bersalah dibuatnya.


Sudah jelas Albern tak terlalu menanggapi pertanyaan neneknya itu, karena sampai detik ini masih setia menunggu Lily kembali padanya. Dia sungguh tak tahu jika setelah itu kondisi Ginna akan drop dan tak sadarkan diri seperti sekarang. Jika sampai terjadi apa-apa, sudah pasti Albern akan sangat menyesali semuanya.


Kesedihan Albren pun agak terbuyar saat seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Ginna, sehingga dengan sangat terpaksa, Albern pun keluar dari sana.


"Bagaimana kondisi Grandmamu sekarang?" tanya Zaya pada Albern. Dia ikut menginap di rumah mertuanya saat mendapatkan kabar dari Albern jika kondisi Ginna memburuk, sedangkan Aaron dan Zivanna sedang berada di luar kota dan sedang dalam perjalanan pulang.


"Dokter sedang memeriksanya," jawab Albern singkat.

__ADS_1


Zaya tak bertanya lagi. Dia bisa merasakan kesedihan Albern saat ini sehingga tak ingin membuat putranya itu semakin sedih. Mereka pun lalu sama-sama menunggu hasil pemeriksaan dokter sambil duduk di sebuah sofa yang ada di dekat ruangan Ginna dirawat.


"Beberapa hari yang lalu, Grandmamu mengatakan sesuatu pada Mama, Al," ujar Zaya setelah terdiam selama beberapa saat.


"Mengatakan apa?" tanya Albern tanpa menoleh.


Zaya menghela nafasnya sejenak, baru kemudian membuka mulutnya kembali.


"Dia ingin sekali melihat kamu menikah...."


"Ma, please. Kita sudah membahas hal ini berulangkali dan jawabanku akan tetap sama," potong Albern sebelum Zaya menyelesaikan ucapannya.


"Sudah tujuh tahun, Albern. Kamu sudah menunggu Lily selama tujuh tahun dan selama ini tidak ada tanda-tanda jika dia akan kembali." Zaya membalas putranya itu dengan nada tegas yang tak pernah dia perdengarkan sebelumnya, sehingga Albern pun jadi membeku seketika.


"Bahkan Zivanna pun tidak pernah mendengar kabar dari Lily sama sekali. Kamu di sini menunggunya, tapi apa benar di sana dia masih ingat padamu?" tanya Zaya dengan nada ironis.


Sejak Lily pergi ke Amerika tujuh tahun yang lalu, tak lama setelahnya, Carissa dan Evan juga pindah ke Singapura karena kedua orang tua angkat Evan mengalami kecelakaan dan meninggal secara bersamaan. Evan mengambil alih kepengurusan rumah sakit orang tua angkatnya dan tak kembali lagi ke Indonesia. Lily pun tak ada kabar sama sekali bak ditelan bumi. Kedua keluarga yang awalnya saling berteman baik, kini benar-benar tak saling berinteraksi sama sekali bak orang asing.


"Umurmu sudah tidak muda lagi, Al. Sudah saatnya kamu mengakhiri semua ini. Kamu mungkin punya waktu banyak untuk menunggu Lily lebih lama lagi, meskipun entah sampai kapan. Tapi lihatlah grandmamu, dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Mama dan Papa juga begitu. Kamu satusatunya penerus lelaki keluarga ini. Kamu tentu tidak mau silsilah keluarga Brylee terhenti sampai di sini, kan?" Zaya kembali berujar dengan nada yang terdengar sedih.


Tentu Zaya ingin putra tercintanya menikah dengan perempuan yang dicintai, tapi keadaannya sekarang membuat Zaya tak yakin lagi untuk terus mendukung Albern.


"Beri aku waktu sedikit lagi, Ma," ujar Albern kemudian setelah terdiam cukup lama.

__ADS_1


"Sampai kapan, Al? Kamu sudah banyak melewatkan kesempatan menikah dengan perempuan yang baik demi Lily. Tapi apa kamu tahu kapan Lily akan kembali padamu? Kamu yakin jika Lily sungguh akan kembali?" tanya Zaya lagi.


Terang saja Albern langsung menoleh ke arah mamanya itu dengan raut wajah yang tak terlukiskan.


"Lily pasti akan kembali ...." Suara Albern seperti menggantung di udara.


"Kapan?"


Sekali lagi Albern mengembuskan nafasnya kasar sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku tidak tahu kapan, tapi yang jelas Lily pasti akan kembali. Aku sudah berjanji untuk menunggunya," jawab Albern dengan nada yang rendah dibandingkan sebelumnya.


Kali ini Zaya yang menghela nafasnya dalam. Dia sangat tahu sebesar apa perasaan putranya ini pada Lily. Awalnya Zaya juga mendukung sepenuhnya keputusan Albern yang akan menunggu Lily ,kembali. Tapi tujuh tahun telah berlalu dan Lily tak juga muncul, atau sekedar memberi kabar pada Albern.


Situasi telah banyak berubah. Sudah begitu banyak yang Albern korbankan demi memenuhi janjinya untuk menunggu gadis itu kembali. Dan kini sungguh Zaya tak sanggup melihat Albern menderita lebih lama lagi.


"Al, mungkin sudah saatnya kamu berhenti menunggu Lily." Zaya kemudian kembali berujar dengan nada ironi. Sebuah kalimat yang dia tahu pasti akan membuat hati Albern hancur saat mendengarnya.


Albern kembali mengangkat wajahnya dan memandang Zaya sendu. Dia kecewa, tentu saja. Sang mama yang sejauh ini selalu mendukungnya, kini memintanya untuk menyerah. Tapi Albern jiga tak bisa menyalahkan Zaya sepenuhnya karena dia tahu mamanya itu hanya tidak ingin dia terus menderita.


"Tidak, Ma. Mama, Papa dan Grandma bersabarlah sebentar lagi. Lily akan kembali. Dia tidak mungkin lupa pada janjinya. Dia akan datang padaku sebentar lagi, percayalah ...," sahut Albern lirih.


Zaya tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Menekan Albern di saat seperti ini juga bukan hal yang bijak. Dia hanya bisa berharap dalam hati agar apa yang dikatakan oleh Albern barusan benar-benar menjadi kenyataan. Dia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika gadis itu tak pernah kembali dalam hidup Albern untuk selamanya.

__ADS_1


Bersambung ....


Next part ketemu, mudah-mudahan aja😅


__ADS_2