
Beberapa bulan kemudian ....
Di sebuah ruang perawatan rumah sakit, tampak seluruh anggota keluarga Brylee sedang berkumpul dalam suasana haru. Mereka semua terlihat begitu bahagia atas kelahiran putra pertama Albern dan Lily yang beberapa hari lebih cepat daripada perkiraan. Sebelumnya, dokter kandungan Lily memperkirakan jika Lily baru akan melahirkan sekitar seminggu lagi. Tapi rupanya bayi yang ada di dalam kandungan menantu keluarga Brylee tersebut ingin cepat-cepat bertemu dengan semua orang yang memang telah sejak lama menantikannya.
Kini semuanya berkumpul untuk melihat secara langsung calon pewaris keluarga Brylee tersebut. Aaron dan Zaya yang sebelumnya sedang berada di luar kota untuk sebuah acara amal pun langsung kembali saat mendengar kelahiran cucu mereka. Nyonya Ginna juga mendadak merasa sehat dan bisa diajak keluar untuk melihat cicitnya. Bahkan, Zivanna dan Darrel yang sedang berbulan madu setelah menikah dua bulan yang lalu, terpaksa harus menyudahi perjalanannya itu lebih cepat karena tak sabar ingin bertemu dengan keponakan pertamanya itu.
"Honey, lihatlah cucu kita. Kenapa dia bisa sangat mirip dengan Albern saat baru lahir dulu," ujar Zaya ketika menggendong sang cucu yang sedang terlelap. Perempuan paruh baya itu terlihat hampir meneteskan air matanya karena haru. Wajah cucunya itu membuatnya terkenang saat dirinya dulu melahirkan Albern.
"Iya, dia sangat mirip dengan Albern," sahut Aaron menanggapi. Sama seperti sang istri, Aaron juga merasakan luapan emosi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia seperti terlempar ke masa puluhan tahun yang lalu, masa di mana saat pertama kalinya dia menyambut Albern lahir ke dunia ini.
"Bawa dia ke sini, Zaya. Aku juga ingin melihat seperti apa wajah cicitku." Kali ini suara lemah Nyonya Ginna yang terdengar. Dari semua orang yang berada di ruangan tersebut, sepertinya perempuan renta itulah yang paling merasa terharu. Bagaimana tidak, di usianya yang telah teramat sangat senja, dia rupanya masih diberi kesempatan untuk melihat putra dari cucu kesayangannya.
"Ini, Ma. lihatlah. Dia mirip sekali dengan Albern, bukan?" Zaya mendekat pada sang ibu mertua dan memperlihatkan wajah bayi yang baru dilahirkan oleh Lily itu.
Ginna terdiam, tak menyahut. Hanya matanya saja yang tampak menatap ke arah cicitnya dengan segenap perasaan yang ada. Sesaat kemudian, air mata jatuh dari kedua mata tuanya.
"Dia ... sangat tampan," gumam Ginna kemudian dengan suara yang terdengar agak parau.
"Benar, dia sangat mirip dengan Albern," ujar Ginna lagi.
Zaya tersenyum lembut ke arah sang ibu mertuanya.
"Mama mau memangkunya?" tanya Zaya. Dia sangat tahu jika Ginna sangat ingin menggendong putra Albern dengan kedua tangannya, namun tubuh mertuanya itu kini sudah sangat lemah sehingga sangat tak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.
"Mana kuat aku memangkunya. Bisa-bisa dia jatuh," sahut Ginna sembari menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa. Aku akan menahannya," ujar Zaya meyakinkan.
Ginna akhirnya mengangguk setuju. Zaya pun langsung membaringkan putra Albern ke pangkuan ibu mertuanya sambil masih sedikit menahan bobot tubuh bayi mungil tersebut. Sekali lagi, Ginna tak dapat menahan tangisan haru. Nyonya besar yang semasa mudanya adalah perempuan tangguh tak terkalahkan, kini hatinya begitu terenyuh saat melihat wajah polos yang berada di pangkuannya. Dalam hati dia teramat sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan melihat cicitnya lahir.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut ikut terharu, termasuk Albern dan Lily. Pasangan suami istri itu kini tampak saling berangkulan, menikmati betapa syahdunya suasana saat ini. Kelahiran putra mereka bukan hanya menjadi kebahagiaan untuk mereka berdua, tetapi juga untuk seluruh keluarga mereka.
__ADS_1
"Cukup, Zaya. Berikan dia pada ibunya. Mungkin dia lapar dan mau menyusu," ujar Ginna setelah puas memperhatikan wajah sang cicit.
Zaya tersenyum dan mengiyakan ucapan Ginna. Dia kembali mengangkat cucunya itu untuk kembali diberikan pada Lily.
"Dia masih tidur, Ma, sepertinya belum lapar. Aku juga mau melihat wajah keponakanku." Zivanna protes.
Zaya kembali tersenyum. Hampir saja dia melupakan putrinya yang bergegas datang dari perjalanan bulan madunya.
"Oh, ya ampun, Sayang. Oma hampir saja lupa kalau ada Tante Zi," ujar Zaya menggoda Zivanna yang saat ini sedang duduk di samping Darrel.
Bibir Zivanna tentu saja sedikit mencebik. Meski sudah menikah, dia masih saja suka merajuk di hadapan sang mama.
Zaya lalu memberikan putra Albern kepada Zivanna, yang tentu saja langsung disambut Zivanna dengan antusias. Raut wajah kesalnya tadi juga langsung hilang seketika. Dalam sesaat, Zivanna terhipnotis pada wajah yang terlelap di pangkuannya itu, begitu juga dengan Darrel.
"Apa sungguhan Kak Al seperti ini wajahnya sewaktu baru lahir dulu, Ma?" tanya Zivanna.
"Iya," sahut Zaya. "Dia benar-benar mirip kakakmu."
"Sembarangan." Albern yang sedari tadi diam pun langsung menanggapi.
Tentu saja Zivanna sedikit terkekeh dibuatnya. Dia selalu suka melihat wajah tak terima Albern setiap kali dirinya menyebut kakaknya itu jelek di depan Lily.
Albern hendak membalas ejekan Zivanna tapi hal itu urung dia lakukan karena Lily tiba-tiba saja mendapatkan pangglan video dari kedua orang tuanya.
"Halo, Mama, Papa," sapa Lily sesaat setelah menerima panggilan video tersebut. Dia melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya yang berada di layar ponsel.
"Hai, Sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu sehat, kan?" tanya Evan.
"Mama agak terkejut saat mama mertuamu tadi mengabari kalau kamu sudah melahirkan. Bukannya HPL-nya minggu depan?" Carissa juga langsung bertanya sebelum Lily menjawab pertanyaan sang papa.
"Aku sehat, Pa, Ma. Kelahirannya memang lebih cepat dari perkiraan, tapi tidak ada masalah, kok," sahut Lily sembari tersenyum. Dia berusaha meredam kekhawatiran kedua orang tuanya. Toh, memang tak ada yang perlu dikhawatirkan.
__ADS_1
"Cucu kita mau lebih cepat bertemu dengan oma opa-nya, Carissa." Kali ini Zaya yang menanggapi ucapan besannya itu. Dia telah mengambil kembali putra Albern dan Lily dari pangkuan Zivanna dan membawanya menghadap ke depan layar ponsel Lily agar Carissa dan Evan bisa melihat juga cucu mereka.
"Ya ampun, cucuku ...." Carissa juga tak bisa menahan rasa harunya saat melihat anak yang baru saja Lily lahirkan.
"Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Evan. Saat mengabari tadi, Zaya memang tak sempat mengatakan jenis kelamin cucu mereka itu.
"Laki-laki, Pa," sahut Lily.
"Wah, jagoan." Evan tersenyum senang. Dia dulu juga sempat sangat menginginkan seorang anak lelaki, tapi sampai akhir dirinya cuma ditakdirkan punya seorang putri saja.
"Apa sudah diberi nama?" Sekali lagi Evan bertanya.
"Ah, iya ...." Lily baru tersadar jika sejak tadi dia dan Albern belum memberitahukan nama putra mereka.
"Sudah, Pa. Kami sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari." Kali ini Albern yang menanggapi.
"Namanya Austin," ujar Albern kemudian sembari membelai pipi putranya dengan jari.
"Austin Brylee."
Semua orang yang ada di sana tampak menggumamkan dalam hati nama yang disematkan Albern untuk sang putra.
"Nama yang bagus. Artinya juga bagus," ujar Aaron setelah sejak tadi hanya menyimak.
Albern dan Lily sama-sama menoleh satu sama lain dan saling pandang sejenak. Keduanya pun saling tersenyum, sebelum akhirnya kembali melihat ke arah layar ponsel.
"Benar, Austin nama yang bagus. Semoga cucuku kelak tumbuh seperti namanya." Evan menyahut sembari tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Aaron, dia setuju dengan yang diucapkan oleh lelaki itu.
Bersambung ....
Cucu pemersatu bangsa, wkwkwwk ...
__ADS_1
Btw, Austin artinya mulia, besar dan tampan. Kata mbah gugel sih gitu.